Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 BERKUNJUNG
Langkah-langkah kaki kecil itu akhirnya berhenti di depan sebuah teras kayu berpelitur gelap. Vellora, Luna, dan Kenzi melepaskan sepatu mereka secara berjejer di pintu depan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Luna dan Kenzi mengekor ketat di belakang Vellora, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan yang bernuansa klasik.
Kenzi merinding. Ia menarik ujung seragam Luna. "Psst... Luna, rumahnya terlihat sangat menyeramkan," bisik Kenzi dengan mata membulat, membayangkan hantu-hantu Jepang kuno akan melompat dari balik dinding geser.
"Ihhh, mana ada! Mulutmu itu dijaga! Kamu saja yang kampungan tidak tahu seni desain kuno dan klasik. Makanya kamu bilang begitu," balas Luna dengan bisikan tajam, menyikut pelan rusuk sepupunya itu.
"Kakek! Vellora pulangg!" seru Vellora dengan senyum cerah, berlari kecil menghampiri Kakek Liam yang sedang menyapu di lorong utama dengan sapu lidi.
Kenzi meneguk ludahnya dengan kasar. Matanya menatap horor pada sosok Liam. "L-lihat... kakek tua itu terlihat sangat menyeramkan. Jangan-jangan dia makan anak kecil," bisik Kenzi lagi, tubuhnya gemetar melihat aura mafia yang tanpa sadar masih menguar dari postur Liam.
"Ihhh, kamu tidak boleh bicara begitu! Tidak sopan!" omel Luna, mencubit gemas lengan Kenzi sampai anak laki-laki itu meringis.
Liam menghentikan sapuannya, berbalik dengan wajah datarnya. "Wah, Tuan Putri Kakek sudah pulang. Pasti kamu sangat lapar, ya?" Liam menunda kalimatnya sejenak, menatap tajam ke arah dua bocah asing di belakang cucunya. "Dan... siapa dua anak kecil nakal itu? Kenapa kamu membawa anak kelinci pulang, Vellora?" goda Liam dengan suara berat yang sengaja dibuat mengintimidasi.
Mendengar itu, Vellora langsung mengerucutkan bibirnya, cemberut lucu. "Ihhh, Kakek! Mereka ini temanku, lho! Mereka sengaja datang untuk main di sini denganku. Jangan panggil mereka anak nakal, dong!" protes gadis kecil itu tak terima.
Luna, yang memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi langit, melangkah maju dan berkacak pinggang. "Iya, lho, Kakek! Kami ini sama sekali tidak nakal! Kami anak baik-baik!" pekik Luna membela diri.
Melihat keberanian anak sekecil itu, Liam tak kuasa menahan tawa. Tawa beratnya menggelegar. "Hemmm... hahahaha! Kalian lucu sekali. Kakek hanya bercanda, anak-anak."
"Jadi, mereka boleh main di sini, kan, Kakek?" tanya Vellora memastikan, matanya berkedip-kedip penuh harap.
"Tentu saja, Sayang. Boleh sekali," ujar Liam, tersenyum hangat hingga kerutan di sudut matanya terlihat.
"Yeeeeee! Terima kasih, Kakek!" seru Luna dan Vellora bersamaan sambil melompat-lompat kegirangan.
"Oh iya, Kakek, kenalin, aku Luna, teman sebangku Vellora! Dan cowok penakut ini sepupuku, namanya Kenzi," ujar Luna bersemangat. Ia lalu menyenggol lengan Kenzi dengan keras. "Kenzi, ayo kenalkan dirimu yang benar!"
Kenzi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menunduk takut-takut menatap lantai. "H-halo, Kek... aku Kenzi. H-heee..." jawabnya dengan tawa canggung dan senyum yang sangat malas dan terpaksa.
Luna tersenyum meringis ke arah Liam. "Maaf ya, Kek. Sepupuku ini memang agak-agak... yah, gimana gitu kelakuannya. Suka error."
"Tidak apa-apa," jawab Liam santai.
"Ya sudah, Kakek, aku dan mereka berdua mau main ke kamarku dulu, ya!" pamit Vellora.
"Dah, Kakek! Daaah!" seru Vellora dan Luna riang sambil berlari menuju lorong kamar, sementara Kenzi berjalan mengeret kakinya mengikuti dari belakang dengan wajah sekusut baju belum disetrika.
Liam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah tiga bocah itu. Pria tua itu pun bergegas menuju dapur, bersiap memasak makanan lezat dan menyiapkan camilan spesial untuk menyambut tamu pertama cucu kesayangannya.
Di dalam kamar, Luna menatap sekeliling dengan takjub. "Wahhh, kamarmu unik sekali, Vell! Walaupun terlihat kuno, tapi sangat luas dan rapi!" puji Luna.
"Alah, jelek begini," gumam Kenzi pelan dengan wajah kusut, masih saja mencari celah untuk mengeluh.
Ketiga anak itu pun duduk melingkar di atas tatami. Mereka memutuskan bermain ular tangga. Aturannya sangat dramatis: siapa yang kalah dan turun dari kepala ular, wajahnya harus dicemong dengan bedak bayi! Meski awalnya Kenzi merengek tidak mau ikut, ia akhirnya dipaksa bergabung oleh Luna.
Sialnya, nasib Kenzi benar-benar buruk hari itu. Ia terus-menerus mendapat angka yang membuatnya turun ke ekor ular. Tak butuh waktu lama, seluruh wajah Kenzi sudah memutih tertutup bedak bayi, membuatnya terlihat seperti hantu tepung. Luna dan Vellora tertawa sampai berguling-guling memegangi perut mereka.
"Wahh... kalian sedang main apa, nih?"
Sebuah bisikan berat dan tiba-tiba terdengar sangat dekat di telinga mereka.
"KYAAAAA!!" Ketiga bocah itu menjerit kaget dan berlari berhamburan ke sudut kamar.
Di sana, Bara sudah berjongkok di dekat papan ular tangga dengan seringai usil. Kecepatannya bergerak memang tak perlu diragukan lagi.
"Kak Baraaa! Ihhh, ngagetin saja, tahu!" omel Vellora sambil merengut sebal, memukul lengan berotot pemuda itu dengan tangan mungilnya.
"Hahaha, ya maaf, maaf," seru Bara terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalanya.
Mata Luna seketika membulat sempurna. Ia menatap Bara dari atas ke bawah. "Vellora, d-dia siapa?" tanya Luna antusias, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lembut dan mendayu-dayu.
"Oh, itu Kak Bara," jawab Vellora santai.
Wajah Luna bersemu merah. "Wah... ganteng sekali kakak ini!" pekik Luna tanpa rasa malu, layaknya seorang putri melihat pangeran berkuda putih. Ia langsung berlari menghampiri Bara dan memegangi tangan besar pemuda itu dengan erat. "Kakak tampan, mau jadi pacarku tidak kalau aku sudah besar nanti?!"
Bara tertegun, matanya berkedip bingung dicampur geli.
Melihat kejadian itu, mata Kenzi yang cemong bedak langsung melotot. Tiba-tiba jiwa ksatrianya meronta! Ia berlari kencang dan menarik tangan Luna dengan paksa.
"Hee! Anak kecil tidak boleh punya pacar! Lepaskan!" bentak Kenzi dengan wajah garang.
Bara hanya tersenyum geli melihat tingkah laku ajaib anak-anak TK di depannya ini.
Luna merengut tak terima ditarik oleh Kenzi. "Tidak apa-apa tahu! Meskipun sekarang aku masih anak kecil, nanti kalau aku sudah dewasa dan tinggi, aku pasti akan menikahi Kak Bara!" tantang Luna dengan senyum percaya diri. Ia menatap Bara dengan mata berbinar. "Iya, kan, Kak Baraaa?"
Luna baru saja hendak mengulurkan tangannya lagi untuk memegang lengan Bara, namun dengan cepat Kenzi menepis tangan sepupunya itu.
Plak!
"Jangan pegang-pegang, ih! Gak boleh, Luna! Bahaya!" pekik Kenzi kegeraman, berdiri merentangkan tangan seperti tameng di depan Bara.
"Ahahahahaha!" Bara tak kuasa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan absurd anak-anak itu. "Kalian ini... dasar bocah-bocah ajaib. Ya sudahlah, kalian lanjut saja main ular tangganya. Aku ada urusan penting. Jangan bertengkar, ya!" pekik Bara. Dalam sekejap mata, dengan gerakannya yang bagai kilat, Bara melompat keluar dari pintu geser dan menghilang dari pandangan.
"Ehh... Kak Bara! Aku belum meminta nomor ponselmuuuu!" jerit Luna kecewa, menatap sedih ke arah pintu yang sudah kosong. Kenzi mendengus puas penuh kemenangan di sampingnya.
Waktu terus bergulir, tak terasa hari sudah beranjak malam. Pukul tujuh tepat, aroma harum masakan menyebar hingga ke lorong kamar.
"Vellora! Ayo makan malam! Ajak teman-temanmu ke ruang makan juga!" panggil Liam dari kejauhan.
"Ayooo!" Vellora berdiri, menepuk-nepuk roknya. "Kita makan malam dulu, masakan Kakek sudah matang!" ajak Vellora kepada dua temannya. Dengan perut yang sudah keroncongan sehabis bermain, ketiga bocah itu pun berlarian keluar dari kamar menuju ruang tamu, siap menyambut hidangan luar biasa dari kakek berwajah seram yang jago masak.