Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20— Gue Juga Sedang Sakit
Ruang tunggu poli itu dingin banget.
Clara duduk paling ujung. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Dingin, berkeringat.
Di sebelahnya, Mutiara megang botol minum Clara.
"Lo udah sarapan?" bisik Mutiara.
Clara ngangguk. Bohong. Dari semalam mual, kepala berat, hampir gak kuat bangun.
Tapi sekarang beda. Sejak 3 hari lalu di ruangan Dokter Hendra, semua orang akhirnya tau. Mama tau. Papa tau. Nenek tau. Seokjin tau.
Gak ada lagi amplop yang harus disembunyiin di bawah bantal.
HP Clara geter.
Mama Vania.
Mama: Clara, jangan lupa kontrol hari ini.
Mama: Kabarin Mama ya abis dari dokter.
Dulu Clara nungguin chat kayak gini bertahun-tahun. Sekarang pas beneran dapet, malah takut balesnya.
"Clara Nagendra?"
Suster manggil. Clara berdiri, lututnya agak goyah. Mutiara ikut.
Di dalem, Dokter Risa udah nunggu. Di depannya map biru tebal punya Clara. Bukan map donor Thea lagi. Map pasiennya Clara sendiri.
"Duduk, Ra," kata Dokter Risa.
Clara duduk. Mutiara di samping.
Dokter Risa gak buka dengan "kamu gak bisa jadi donor" lagi. Itu udah selesai di ruangan Dokter Maya kemarin. Sekarang langsung ke lembaran paling atas.
"Hasil ureum kamu yang barusan keluar tadi pagi. Naik lagi, Ra."
Clara langsung dingin.
"Naik berapa, Dok?"
"Lumayan tinggi. Makanya tadi suster minta kamu balik lagi sebelum pulang. Fungsi ginjal kamu yang kemarin dijelasin Dokter Maya masih sama, di bawah 20%. Tapi ureum yang naik ini yang bikin tubuh kamu kerja lebih berat. Makanya kamu mual terus, lemes, gak nafsu makan."
Mutiara ngeremas tangan Clara.
Dokter Risa ngelanjutin pelan, "Kita belum harus cuci darah hari ini. Tapi dengan ureum segini, kita harus siapin rawat inap observasi. Jangan tunggu sampai kamu beneran tumbang di sekolah."
Clara nunduk. Kata-kata itu udah pernah dia denger. Tapi dengernya pas udah semua orang tau, rasanya beda. Lebih berat, tapi juga lebih lega karena gak harus bohong lagi.
"Gue masih sekolah, Dok."
"Saya tau. Makanya kita atur biar sekolahnya gak berantakan. Tapi badan kamu dulu ya."
Dokter Risa natap Clara lama.
"Clara, kamu gak gagal cuma karena tubuh kamu sedang sakit."
Kalimat itu bikin mata Clara panas. Karena selama ini nilai dirinya dia ukur dari ranking, dari pinter, dari gak ngerepotin.
Di luar ruangan, Clara langsung duduk di kursi tunggu. Lemes.
"Lo denger kan, Mut? Ureum naik lagi," bisiknya.
"Iya. Tapi sekarang gak sendirian, Ra. Kemarin Mama Papa tau, sekarang dokter mau rawat lo. Bukan lo yang harus atur semuanya sendiri lagi."
HP Clara geter lagi. Mama Vania nelpon.
"Halo, Ma?"
"Clara, udah selesai? Dokter bilang apa?"
Clara tarik napas. Dulu dia bakal jawab "gapapa" otomatis. Sekarang dia coba jujur.
"Ureum gue naik lagi, Ma. Dokter bilang harus siap rawat inap."
Hening di seberang. Terus suara Mama agak geter.
"Mama di rumah ya? Mama kesana sekarang?"
"Gak usah, Ma. Aku sama Mutiara. Nanti aku pulang, kita ngomong di rumah ya."
"Clara... Ma masih marah gak sama aku?" Clara akhirnya nanya. Suara kecil.
Mama jawab pelan, "Mama sedih karena kamu sakit sendirian selama ini, Ra. Bukan marah. Mama belajar dengerin sekarang. Kamu gak perlu jadi kuat terus."
Clara nangis. Pelan. Di kursi tunggu RS yang rame itu.
Mutiara meluk dari samping. Gak ngomong "jangan nangis". Biarin aja nangis.
Suster keluar lagi bawa gelang pasien.
"Clara, Dokter Risa minta kamu masuk lagi ya buat persiapan observasi. Kita atur bednya dulu."
Clara berdiri. Kakinya masih goyah, tapi kali ini Mutiara papah, dan di HP-nya ada chat Mama yang bilang "Mama tunggu di rumah".
Dia jalan masuk ke ruang dokter bukan sebagai calon donor Thea. Bukan sebagai kakak yang harus ngalah.
Tapi sebagai Clara. Anak yang juga sedang sakit. Dan untuk pertama kalinya, dia ngizinin dirinya diselamatin.