Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Siang harinya Carol terlihat sedang mengecek beberapa berkas baru di mejanya namun tiba-tiba Jenn datang dan melempar lembaran kertas ke hadapannya.
"Laporan macam apa ini? Semuanya kacau, tidak sesuai!" wanita berpakaian super ketat itu nampak melotot marah.
"Apa kau bilang? Aku begadang semalaman untuk mengerjakannya." balas Carol tidak terima.
"Kau meragukan aku? Apa kau lupa kalau aku ini atasanmu?"
"Aku tidak lupa. Tapi aku yakin laporan ini sudah sesuai." kekeh Carol.
"Sudah kubilang laporan ini berantakan!"
"Pelajari dulu, aku bahkan memastikan beberapa kali kalau laporan ini sudah sesuai!"
"Aku yakin kau bahkan belum membukanya, kau mengada-ngada supaya bisa menyalahkan aku kan?" Carol mengeluarkan prasangkanya.
Jennie melotot, dia menarik rambut Carol, "Ingat posisimu! Beraninya kau melawanku yang sudah lama bekerja disini?"
Carol mencengkram tangan Jenn, "Lepaskan!"
"Tidak akan, sebelum kau bertekuk lutut dan meminta maaf padaku!"
Carol tersenyum miring, "Kau pikir aku peduli?" balasnya sengit.
"Brengsek!"
"Awhhh.." kali ini Jenn yang merengek sakit, Carol berhasil menarik rambutnya yang hanya sebatas bahu itu.
"Lepaskan aku j4lang!"
Carol semakin menguatkan jambakannya, sama seperti Jenn yang melakukan hal sama.
"Aku atau kau yang j4lang hah? Perlu kau ingat disini kantor, bukan club malam. Setiap hari kau datang dengan pakaian kurang bahan itu. Kau pikir tempat ini penampungan LC?"
Mendengar hinaan yang dilontarkan Carol, Jenn nampak semakin brutal. Mereka terlibat adu mulut, saling jambak dan saling dorong.
Sampai akhirnya Jenn berhasil mendorong Carol sampai terpental ke belakang dan bagian kepalanya terbentur tembok dengan sangat keras, membuat Carol terluka dan langsung tidak sadarkan diri.
"Ada apa disini??!!" seseorang muncul di ambang pintu.
"Carol!"
Pria itu berteriak, dia langsung berjongkok dan memeluk Carol. Darah segar keluar dari bagian belakang kepalanya membuat Andrew panik setengah mati, dia mencoba menepuk-nepuk pipi gadis itu.
"Bangun Carl bangun. Hei, buka matamu!"
Jenn pun tak kalah panik karena kelakuannya diketahui oleh Andrew, "Tuan, saya.."
Sebelum Jenn melanjutkan ucapannya Andrew lebih dulu mengangkat tubuh Carol dan membawanya pergi.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."
Dengan pikiran kacau Andrew menyetir mobilnya sendiri, dia tidak memanggil sopir terlebih dulu karena ingin cepat sampai di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Andrew juga tidak minta tolong pada siapapun, dia sendiri yang mengangkat Carol ke dalam ruang gawat darurat.
"Dia terbentur dan pingsan. Cepat periksa!"
"Baik, mohon tunggu di luar, Tuan."
Dengan berat hati Andrew pun keluar. Dia terus berdiri menunggu dokter keluar dan mengabarinya sesuatu. Padahal kursi tunggu di sampingnya terlihat kosong.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya seorang pria berpakaian dokter keluar dan menemuinya.
"Dia mengalami gegar otak ringan. Tidak usah khawatir, kami akan membantunya pulih. Satu jam lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat."
"Berapa lama lagi dia akan sadar?"
"Saya tidak bisa menentukannya, Tuan."
Raut wajah Andrew jelas kecewa, "Aku ingin dia cepat pulih, secepatnya."
"Pasti, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien."
Setelah berbincang dengan dokter dan memastikan jika ruang rawat yang akan ditempati Carol sudah sesuai, tanpa membuang waktu Andrew langsung menghubungi seseorang.
HRD di perusahaannya.
"Pecat Jennie secara tidak hormat, dia sudah melakukan penganiayaan terhadap sesama karyawan di lingkungan perusahaan."
Andrew langsung menutup teleponnya saat dia melihat sebuah brankar melewatinya dengan Carol yang terbaring lemah di atasnya.
Langkahnya terhenti saat para perawat itu membawanya masuk ke sebuah ruang perawatan. Andre berdiri di luar, sementara dalam sana aliran infus kembali dicek dan alat bantu pernafasan kembali di pasang.
Setelah dirasa semuanya sudah sesuai prosedur para perawat itupun pamit meninggalkan ruangan.
Andrew pun berjalan masuk, dia terduduk di kursi tepat di samping ranjang pasien.Tangan besarnya meraih tangan ramping Carol dan menggenggamnya erat.
Dia memandangi perban yang melihat di kepala gadis cantik itu.
"Cepatlah sadar."
"Maaf, aku gagal menjagamu." satu titik air mata seorang Andrew menunjukan seberapa kuat penyesalan di dalam dirinya.
Apalagi pagi tadi mereka baru saja bertengkar, hal itu membuat rasa bersalah Andrew semakin besar.
Tangannya terus menggenggam bahkan tidak satu detikpun dia beranjak meninggalkan kursi sampai akhirnya pria itu tertidur dan tangan Carol yang digenggamnya ia jadikan tumpuan kepala.