Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setibanya di rumah, Mahardika langsung mendudukan Amel di atas kursi kayu di teras rumah mereka.
"Amel disini dulu ya nak, Papa mau bersih-bersih kadang di sebelah, Papa mau menanam tanaman herbal, biar bisa untuk mengobati orang sakit," kata Mahardika mengusap kepala Amel dengan penuh kasih sayang.
"Baik Papa, Amel lihat-lihat papa dari sini," kata Amel tersenyum.
Ia pun berdiri berjalan menuju di tengah sepetak tanah yang baru saja ia rapikan.
Mahardika menarik napas dalam-dalam, menyerap energi murni alam di sekitarnya.
Saat Mahardika sedang merencanakan langkah selanjutnya untuk memperkuat perlindungan di rumahnya,
Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa kembali terdengar dari arah gerbang.
Pak RT berlari kecil mendekatinya dengan napas terengah-engah dan raut wajah yang jauh lebih cemas dari sebelumnya.
"Dik! Dik Dika!" panggil Pak RT setengah berbisik.
"Ada apa lagi, Pak RT?" tanya Mahardika sambil mengangkat alisnya.
"Itu... di balai desa! Siska baru saja datang membawa beberapa orang berseragam hitam dan seorang pria memakai berdasi! Mereka membawa berkas dokumen tanah dan memanggil kepala desa! Siska bilang, dia mau melaporkanmu ke polisi atas tuduhan penguasaan lahan secara ilegal dan penganiayaan terhadap orang-orangnya Haryo tadi pagi!" kata Pak RT menyapu keringat di dahinya.
"Dia mau main hukum?" gumam Mahardika datar.
"Iya, Dik! Kepala desa minta kamu datang ke balai desa sekarang juga untuk klarifikasi. Kamu harus hati-hati, pria berdasi yang dibawa Siska itu sepertinya pengacara ternama dari kota!" lanjut Pak RT khawatir.
Mahardika melangkah ke arah Amel dan menggendong Amel, sedikit pun ia tak bisa jauh dari Amel.
"Mari kita ke balai desa, Pak RT. Sudah waktunya saya menyelesaikan masalah surat tanah ini langsung di depan kepala desa," ucap Mahardika mantap.
...*****...
Di Balai Desa, Kepala Desa duduk di kursi utamanya dengan raut wajah serba salah.
Di hadapannya, Siska berdiri, didampingi oleh seorang pria paruh baya berkacamata yang memegang dokumen tebal, dia adalah Pengacara Herdian.
"Pak Kades harus tegas! Mahardika itu sudah menghilang dua tahun! Dia menyerobot tanah yang sudah sah dibeli oleh klien pengacara saya! Bahkan tadi pagi dia memukuli orang-orang utusan Pembeli!" seru Siska dengan nada tegas.
"Sabar dulu, Mbak Siska... kita tunggu Mahardika datang untuk dengar penjelasannya," ujar Pak Kades mencoba menenangkan.
"Penjelasan apa lagi?! Secara hukum, klien kami memegang akta jual beli resmi dari Mbak Siska sebagai perwakilan keluarga. Jika saudara Mahardika tidak mau angkat kaki hari ini, kami akan langsung melayangkan gugatan pidana dan membawa aparat!" potong Pengacara Herdian dengan suara sedikit tinggi.
Brak!
Pintu balai desa terbuka pelan. Mahardika melangkah masuk dengan santai.
"Siapa yang mau membawa aparat?" tanya Mahardika dengan suara rendah.
Siska tersentak kaget, namun cepat-cepat menutupi rasa takutnya dengan senyum ejekan. "Nah! Ini dia si penjahatnya! Pak Pengacara, dialah orangnya!"
Pengacara Herdian berdiri, merapikan jasnya dan menatap Mahardika dengan pandangan merendahkan.
"Saudara Mahardika, saya saran Anda tidak usah berbelit-belit. Tanah itu sudah dijual oleh Mbak Siska. Surat-suratnya lengkap dan sah secara hukum!" ucapnya Herdian sambil mendongakkan kepalanya dengan sombong.
Mahardika menurunkan Amel dan mendudukkan di kursi. "Sayang, kamu duduk di sini dulu ya."
Amel hanya mengangguk ketakutan, karena trauma melihat Siska.
Lalu Mahardika berjalan mendekati meja, lalu berdiri tepat di hadapan pengacara tersebut.