Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Ancaman dari Masa Lalu
Atmosfer kampus pagi ini terasa jauh lebih sibuk dari biasanya. Umbul-umbul biru berlogo korporasi raksasa terpasang di sepanjang jalan utama menuju gedung auditorium. Hari ini, universitas mengadakan Seminar Nasional Kewirausahaan dan Teknologi Industri, dan pembicara utamanya adalah sosok yang paling dihindari Gavin: Ardian Dewantara.
Ardian adalah sepupu jauh Gavin. Pria itu terkenal dengan penampilannya yang selalu klimis, setelan jas desainer yang dirancang khusus, dan sifat arogansinya yang luar biasa. Sejak kecil, Ardian selalu bersaing ketat dengan Gavin untuk menarik perhatian sang kakek demi memperebutkan posisi di puncak takhta Dewantara Group. Jika Ardian melihat Gavin berada di kampus ini dengan pakaian lusuh dan motor bebek tua, rahasia penyamarannya akan hancur dalam hitungan detik.
Mengetahui risiko besar tersebut, Gavin mendadak bertingkah sangat aneh sejak keluar dari kamar kos.
Ia mengenakan masker medis berlapis tiga, kacamata hitam berbingkai besar, dan sebuah topi rajut tebal (beanie hat) yang ditarik rendah hingga menutupi batas alis dan telinganya. Padahal, cuaca di luar sedang sangat terik dan gerah.
"Lu kena penyakit menular apa gimana, Gav? Nyentrik banget gaya lu hari ini," tanya Rian keheranan saat mereka berjalan bersama melewati koridor luar aula utama.
"Gue lagi kena alergi debu kosan tingkat akut, Yan. Kulit muka gue bisa melepuh kalau kena sinar matahari langsung," sahut Gavin dengan suara yang sengaja dibuat serak dan berat di balik maskernya.
Sial bagi Gavin, keberuntungannya tampaknya sedang diuji hari ini. Tepat ketika mereka hendak berbelok ke arah kantin teknik, pintu kaca aula utama terbuka. Rombongan rektorat dan panitia berjalan keluar, mengawal Ardian Dewantara yang baru saja selesai memberikan sesi materi pertama. Pria itu berjalan dengan dagu terangkat, dikelilingi oleh jajaran dekan yang tampak sibuk melempar sanjungan.
Rombongan mewah itu berjalan berlawanan arah, tepat di jalur yang sama dengan Gavin dan Rian.
Gavin langsung menurunkan pandangannya ke arah lantai semen, memperlambat langkahnya, dan berusaha memosisikan tubuh kurus Rian sebagai tameng visual. Jantung Gavin berdegup kencang. Ia bisa mencium aroma parfum mahal Tom Ford milik sepupunya yang sangat familiar dari jarak beberapa meter.
Saat posisi mereka sejajar, langkah kaki bersepatu kulit mengilat milik Ardian mendadak terhenti. Pria itu menoleh tajam ke arah Gavin. Meskipun Gavin mengenakan masker dan kacamata hitam, postur tubuh tegap, tinggi badan, dan cara berjalan Gavin yang khas tidak bisa menipu insting kompetitif Ardian yang sudah terasah bertahun-tahun.
"Hei, kamu. Berhenti sejenak," suara bariton Ardian yang dingin memotong obrolan para dekan.
Rian ikut berhenti dan menatap bingung, sementara Gavin membeku di tempatnya. Suasana koridor mendadak menjadi sangat menegangkan.
Gavin tahu ia harus bertindak cepat sebelum Ardian menuntutnya melepas masker. Dengan otak taktisnya, Gavin langsung mengubah posisi tubuhnya menjadi sangat bungkuk, memegangi dadanya, lalu melepaskan suara batuk yang sangat keras, parah, dan dibuat-buat hingga tubuhnya bergetar hebat.
"Uhuk! Uhuk! Hwek! Maaf... maaf, Pak... saya... uhuk... lagi TBC akut... uhuk!" erang Gavin dengan suara parau yang sengaja dibuat menjijikkan, seolah-olah ia siap memuntahkan virus ke arah setelan jas mahal sepupunya.
Ardian langsung mundur dua langkah dengan wajah yang dipenuhi rasa jijik yang luar biasa. Ia mengeluarkan saputangan sutra dari sakunya untuk menutupi hidung. "Kalian ini panitia bagaimana? Kenapa mahasiswa berpenyakit dibiarkan berkeliaran di dekat tamu? Jauhkan dia dari saya," ketus Ardian kepada dekan di sebelahnya dengan nada angkuh.
"Maaf, Pak Ardian, mari kita lewat jalur sebelah sini saja," sahut sang Dekan dengan wajah panik sambil buru-buru mengarahkan rombongan berbelok ke koridor lain.
Setelah rombongan itu menghilang di balik tikungan, Gavin langsung menegakkan punggungnya kembali, menyeka keringat dingin yang membanjiri dahinya di balik topi rajut.
Rian menepuk pundak Gavin dengan pandangan ngeri. "Gila, Gav. Lu beneran TBC? Serem banget batuk lu tadi."
Gavin melepaskan kacamata hitamnya sejenak, melempar senyum miring di balik maskernya yang pengap. "Alergi doang, Yan. Tapi emang bener kata orang, orang kaya di Jakarta itu selain wangi, ternyata juga penakut banget sama kuman," seloroh Gavin sambil terkekeh renyah, melangkah kembali menuju warkop dengan perasaan lega karena ia baru saja berhasil menyelamatkan kebebasannya dari cengkeraman masa lalunya yang memuakkan.
________________________________________