Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Penolong
Suasana di salah satu sudut taman kota yang luas itu begitu riuh. Beberapa mobil van dan truk logistik berjajar rapi di sepanjang pembatas jalan, sementara puluhan kru tampak sibuk berlarian ke sana kemari.
Ada yang memanggul lighting, menata reflektor rapi, hingga membentangkan green screen raksasa di antara pepohonan.
Rencananya, tim produksi akan menyulap latar belakang taman hijau itu menjadi visual lautan biru yang sangat indah untuk sebuah pemotretan terbuka berskala besar.
Namun, riuhnya aktivitas kerja itu mendadak tenggelam oleh gema bentakan yang sarat akan amarah. Suasana di pusat set langsung berubah mencekam dan jauh dari kata damai.
"Bagaimana bisa dia memutuskannya secara sepihak?!" bentak Sutradara Rou dengan wajah memerah menahan geram.
Napasnya memburu saat ia menatap tajam pria muda di hadapannya. "Pemotretan harus segera dilangsungkan! Tapi kau... kau malah datang ke sini dan dengan mudahnya bilang dia tidak akan datang?!"
Pria yang mengenakan kemeja rapi—yang tidak lain adalah manajer dari model pria utama mereka—hanya bisa meringis ketakutan. Ia memundurkan langkahnya sedikit, mencoba menghindari tatapan membunuh sang sutradara.
"Sutradara Rou... tolong tenang dulu. Saya di sini hanya menjalankan perintah langsung dari Tuan Muda Lin Zhaou. Anda tahu sendiri bagaimana wataknya, bukan? Saya tidak punya kuasa untuk mendebatnya," ucapnya dengan suara bergetar, berusaha membela diri.
Sutradara Rou berkacak pinggang, mendengus sinis. "Lalu apa maunya sekarang? Jangan bilang dia ingin membatalkan kontrak sepihak!"
"B-bukan begitu," sang manajer menelan ludah dengan susah payah, melirik kru lain yang mulai berbisik-bisik. "Tuan Muda Lin sebenarnya memberikan syarat jika dia memang harus datang ke set hari ini."
Mendengar itu, mata Sutradara Rou menyipit penuh selidik. "Syarat apa? Jangan aneh-aneh, ya!"
Dengan ragu-ragu dan suara yang semakin mengecil, sang manajer akhirnya berucap, "Dia... Tuan Muda Lin ingin Nona Liu Yue memakai pakaian seksi untuk sesi pemotretan kali ini."
"Kau gila?!" bentak Sutradara Rou seketika, matanya melotot sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang. "Latar belakang pemotretan ini bertema 'Pernikahan Impian'! Konsepnya suci, elegan, dan sakral! Tentu saja model wanitanya harus memakai gaun pengantin yang anggun! Otak Tuan Muda mu itu disimpan di mana, hah?!" Sutradara Rou benar-benar tidak habis pikir dengan kegilaan pewaris tunggal Keluarga Lin tersebut.
Sementara itu, tak jauh dari pusat keributan, sebuah mobil Van mewah dengan kaca segelap arang terparkir tenang.
Namun, atmosfer di dalam mobil itu justru berbanding terbalik. Suasananya begitu tenang namun tajam, diselimuti oleh aura dingin yang menusuk dari seorang wanita cantik yang duduk di kursi tengah.
"Kau bilang apa tadi? Coba ulangi sekali lagi," tanya Liu Yue dengan nada suara yang teramat datar, namun sanggup membuat asisten pribadinya yang duduk di kursi depan merinding ketakutan.
Sang asisten membalikkan badannya perlahan, menatap Liu Yue dengan tatapan memelas yang dipenuhi kehati-hatian. "Itu... Nona Liu... Tuan Muda Lin Zhaou baru saja mengirim pesan melalui manajernya. Dia menolak untuk datang jika Anda tidak bersedia mengganti gaun pengantin Anda... dengan pakaian yang lebih seksi."
Wajah Liu Yue yang semula tenang berangsur-angsur mengeras bak pahatan es. Sepasang matanya yang indah kini memancarkan kilatan emosi yang berbahaya.
"Pria bajingan itu—" desis Liu Yue, tangannya mencengkeram kuat buket bunga tiruan di pangkuannya hingga kelopaknya agak terkoyak. "Dia pikir, hanya karena dia berasal dari Keluarga yang kaya, dia bisa dengan mudah mengatur hidupku?"
Asistennya hanya terdiam, tidak berani menyela. Ia tahu betul siapa wanita di hadapannya ini. Di mata publik, Liu Yue hanyalah seorang model papan atas yang selalu naik daun.
Namun, tidak ada yang mengetahui identitas asli Liu Yue yang sebenarnya—sebuah identitas yang sangat berbahaya dan ditakuti oleh para penguasa bisnis.
Liu Yue perlahan memejamkan matanya, mencoba meredam gejolak amarah yang siap meledak. Padahal saat ini tubuhnya sudah terbalut sempurna oleh gaun pengantin putih yang sangat indah dan elegan, dipersiapkan khusus untuk pemotretan bertema pernikahan ini.
Hari ini benar-benar berjalan di luar kendalinya. Sejak awal, ia sama sekali tidak sudi dipasangkan dengan model pria dari keluarga Lin itu.
Namun, nasib buruk menimpanya ketika model utama yang seharusnya menjadi partner kerjanya tiba-tiba jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit secara mendadak.
Pihak agensi langsung menggantinya dengan pria arogan itu, dan sekarang—pria itulah yang justru membuat kekacauan besar di lokasi syuting hingga membuat proses kerja berantakan.
"Aku sangat ingin melampiaskan amarahku sekarang juga!" gumam Liu Yue ketus.
Tanpa memedulikan asistennya, ia membuka pintu mobil lalu turun dengan langkah kaki yang menghentak kesal. Begitu kakinya memijak bumi, udara luar yang sangat sejuk dan segar langsung menerpa wajahnya.
Namun, kesejukan alam sama sekali tidak mampu memadamkan api di dadanya yang terasa seperti terbakar.
Liu Yue berjalan cepat tanpa arah menuju sisi lain taman yang sepi untuk menenangkan diri. Namun, baru beberapa meter melangkah, langkah kakinya mendadak terhenti. Telinganya yang tajam menangkap seutas suara parau yang terdengar begitu menyedihkan dari arah semak-semak.
"Kakak... aku sudah tidak kuat lagi... aku sangat lapar..." ucap suara lirih itu, bergetar menahan tangis.
Liu Yue mengernyitkan dahi. Ia menolehkan kepalanya ke pinggir jalan dekat batas taman. Di sana, di balik bayang-bayang pohon besar, terlihat dua orang pemuda yang terduduk lemas.
Penampilan mereka sangat memprihatinkan; mereka mengenakan pakaian dengan model yang sangat aneh—tidak seperti pakaian zaman modern pada umumnya—dan kainnya sudah robek di beberapa bagian.
"Aku ingin makan... satu suap saja... itu sudah cukup..." ratap pemuda yang lebih muda, yang ternyata adalah Yun Sharam.
Mendengar keluhan adiknya, Yun Shadom hanya bisa menghela nafas panjang dengan tatapan mata yang kosong menatap langit-langit jalan.
"Bukan hanya kau yang lapar, Sharam... aku juga sangat lelah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi di tempat asing ini," katanya dengan nada pasrah.
Awalnya, ego Liu Yue berbisik untuk mengabaikan kedua gelandangan aneh itu. Urusan pribadinya sudah cukup rumit hari ini tanpa harus ditambah mengurusi orang asing.
Namun, saat ia hendak membalikkan badan, entah mengapa ada secercah rasa kasihan yang mengetuk hatinya yang biasanya sedingin es.
Liu Yue menghela nafas panjang, merutuki kelembutan hatinya yang langka ini. Ia berbalik dan berjalan kembali menuju mobilnya.
Tanpa memedulikan tatapan bingung asistennya, ia mengambil kotak bekal makan siang miliknya yang belum sempat tersentuh, serta beberapa bungkus cemilan yang sempat ia beli di perjalanan tadi.
Dengan anggun namun pasti, Liu Yue kembali berjalan dan berhenti tepat di depan dua orang yang ia anggap gelandangan tersebut. Gaun pengantinnya yang mewah tampak sangat kontras dengan tanah kotor tempat kedua pemuda itu terduduk.
Seketika itu juga, tangisan Yun Sharam terhenti. Sementara itu, mata Yun Shadom yang tadinya tampak layu dan tak bertenaga, mendadak berubah menjadi tajam dan waspada.
Kedua pemuda itu mendongak perlahan untuk melihat siapa yang berdiri di hadapan mereka. Detik berikutnya, mata mereka seketika melebar sempurna, terpaku pada sosok yang berdiri di bawah sinar matahari.
Di mata mereka, wanita yang mengenakan pakaian putih megah dengan riasan wajah yang sempurna itu tidak tampak seperti manusia biasa.
"Cantik sekali..." gumam Yun Sharam spontan dengan mata berbinar, melupakan rasa laparnya sejenak.
Liu Yue yang merasa diperhatikan seperti itu langsung berdehem canggung untuk memecah keheningan. "Ambil ini," katanya datar sambil menyodorkan kotak makanan dan cemilan di tangannya. "Aku memiliki sedikit makanan untuk kalian. Makanlah."
Mendengar kata 'makanan' terucap dari bibir wanita cantik itu, seketika mata Yun Sharam menjadi berbinar penuh kebahagiaan yang begitu murni seolah-olah ia baru saja melihat malaikat turun dari langit.