NovelToon NovelToon
DUA WAJAH SATU HATI

DUA WAJAH SATU HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:687
Nilai: 5
Nama Author: Kenzy Elbarra

Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.

Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Matahari sudah mulai naik, jam tepat menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ruang rapat lantai lima sedang riuh membahas proyek baru. Di ujung meja duduk Pak Arif, manajer divisi pemasaran — pria tampan, mapan, selalu rapi, dan tatapannya tajam. Dia sering memandang ke arah Shella saat berbicara, dan Shella membalas dengan sopan, walau agak menjaga jarak.

Maxy duduk di sisi lain, mencatat poin-poin pembahasan, tapi telinganya menangkap nada bicara Arif — yang selalu lembut saat menyapa Shella, yang selalu menawarkan bantuan sebelum Shella minta.

"Shella, data laporan proyek besok sudah siap?" tanya Arif, suaranya terdengar penuh perhatian yang berlebihan.

"Hampir, Pak. Sisa sedikit penyempurnaan," jawab Shella tenang.

"Kalau ada kendala, bilang ke saya. Bisa saya bantu, atau alokasikan staf buat bantu kamu. Kamu nggak harus kerjakan sendirian," ucap Arif sambil tersenyum.

"Terima kasih, Pak. Kalau butuh bantuan, saya kabari."

Maxy menunduk menatap buku catatannya. Jantungnya terasa berat.

Arif punya segalanya yang Aku tidak punya — jabatan, uang, kepercayaan diri, dan keberanian untuk menawarkan segalanya secara terang-terangan.

Sementara Aku? Cuma bisa duduk diam, menyembunyikan perasaannya, dan berharap Shella suatu hari nanti melihatnya.

Rapat selesai sekitar tengah hari. Shella berjalan keluar bersamaan dengan Maxy.

"Maxy, nanti makan bareng ya? Aku traktir," ajaknya seperti biasa.

Maxy menatap pakaian kerjanya yang sederhana, sepatu yang sudah mulai tipis solnya.

"Eh... Shella, kamu nggak capek makan di tempat yang sama terus? Mungkin kamu mau coba tempat yang lebih bagus? Aku dengar Pak Arif tadi nawarin kamu makan di restoran baru."

Shella berhenti melangkah, menatapnya bingung. "Kamu kenapa tiba-tiba bilang gitu? Aku mau makan bareng kamu, bukan bareng Pak Arif."

"Ya... cuma mikir aja. Mungkin kamu lebih cocok makan di tempat yang lebih bagus, yang suasana lebih mewah..." suara Maxy pelan, matanya tidak berani menatap mata Shella. "Aku cuma pegawai administrasi, Shella. Makan di kantin aja aku masih hitung-hitung. Mungkin kamu mesti cari teman yang selevel sama kamu."

Shella terdiam, lalu menatapnya lekat. "Maxy, kamu ngomong apa sih? Aku temenan sama kamu bukan karena selevel atau nggak. Aku temenan sama kamu karena kamu kamu. Karena kamu baik, kamu jujur, kamu bikin aku nyaman."

"Terima kasih," ucap Maxy pelan, dadanya terasa sesak. "Tapi kadang... terasa bedanya. Kalau aku bisa nawarin tempat bagus, kalau aku bisa bantu kamu kayak yang lain bisa... mungkin aku nggak akan ngerasa seberat ini."

"Kamu nggak perlu nawarin kemewahan buat jadi teman aku, apalagi buat dihargai," jawab Shella lembut tapi tegas. "Kalau kamu nggak mood hari ini, kita makan besok aja. Tapi tolong... jangan pernah ngerasa kurang di depan aku, oke?"

Maxy mengangguk pelan, menahan rasa bersalah sekaligus rasa minder yang tidak bisa dia hilangkan. Shella tersenyum sedih, lalu berjalan duluan menuju kantin.

DING!

Hubungan dengan Maxy: 22% (-1%)

Hubungan dengan Roxy: 24% (+1%)

Sumber: Keraguan diri dan penarikan diri. Bukan akibat perilaku buruk.

Sore harinya, pesan masuk ke ponselnya — untuk Roxy.

"Roxy, maaf ganggu. Ada hal yang bikin pikiran berat. Boleh ketemu di restoran biasa jam 8 malam? Aku butuh dengar pandangan kamu yang tenang." pesan dari Shella.

Aku menghela napas, tahu ini bukan salah Shella, bukan salah Roxy, bukan salah siapa pun.

Tapi kenyataannya tetap sama: sebagai Roxy dia bisa menawarkan apa saja yang Shella butuh, tanpa ragu, tanpa hitung uang. Sebagai Maxy, dia harus hitung setiap rupiah.

"Datang jam 8. Sampai ketemu."

Jam tepat pukul enam sore, dia berganti fase.

DING!

FASE BERGANTI

Mode malam dimulai.

Penampilan dioptimalkan.

Akses dana sistem tersedia.

Dia berubah jadi Roxy. Langkahnya mantap, tatapannya tenang. Di garasi, mobil mewahnya siap. Dia menyetir menuju restoran.

Sesampainya di sana, Shella sudah duduk, menatap jendela dengan pandangan yang murung. Saat melihat Roxy, dia tersenyum tipis.

"Makasih udah datang," ucapnya pelan.

"Kamu terlihat berat dipikirin," kata Roxy sambil duduk. "Apa yang terjadi?"

Shella menghela napas panjang. "Banyak hal. Di kantor Pak Arif makin gencar deketin aku, nawarin ini itu, sampai rekan kerja pada ngomongin kami. Terus... tadi siang Maxy ngomong hal yang bikin aku sedih. Dia ngerasa nggak selevel sama aku, ngerasa nggak cukup. Padahal aku nggak pernah minta dia jadi orang lain."

Roxy menahan reaksi sebaik mungkin. "Kamu peduli sama pendapat dia?"

"Sangat. Dia orang yang baik, tulus. Tapi kenapa dia nggak bisa lihat dirinya kayak yang aku lihat?" Shella menatap mata Roxy. "Kadang aku ngerasa kalian berdua itu punya kesamaan. Cara mikir, cara dengerin orang. Tapi kamu lebih percaya diri. Kamu nggak ngerasa kurang."

Roxy diam sejenak, lalu menjawab lembut. "Mungkin karena setiap orang punya caranya sendiri untuk menghargai diri sendiri. Bukan berarti dia kurang, cuma belum waktunya dia sadar."

Pelayan datang membawa menu. Shella melirik sekilas, lalu menutup buku menunya. "Aku pesan ini aja, yang biasa."

Roxy menyadari gerakannya. "Kamu mau coba hidangan yang kamu sebutin suka minggu lalu? Yang agak mahal itu?"

Shella tersenyum malu. "Ah nggak usah, sayang uangnya. Harganya lumayan mahal."

"Kalau kamu mau, saya yang traktir. Anggap saja hadiah karena udah kerja keras minggu ini," ucap Roxy tenang.

"Eh nggak boleh, nggak enak banget!"

"Kamu berharga buat dirawat, Shella. Bukan soal harga makanannya, tapi soal kamu berhak menikmati hal yang kamu suka," jawab Roxy tulus. "Pesan aja ya?"

Shella menatapnya lama, lalu tersenyum tulus. "Makasih ya, Roxy. Kamu baik banget. Iya deh, aku pesan itu."

Saat makan tiba, Shella tersenyum lebar, menikmati setiap suapan. Roxy memperhatikannya — bahagia dengan hal sederhana yang sebagai Maxy dia belum mampu berikan tanpa mengirit kebutuhan sehari-hari.

DING!

Hubungan dengan Roxy: 26% (+2%)

Hubungan dengan Maxy: 21% (-1%)

Sumber: Perhatian yang terasa berupa tindakan nyata dan kemurahan hati. Bukan berarti Maxy kurang baik, hanya akses yang berbeda.

"Kamu tahu," kata Shella di sela percakapan. "Kadang aku bingung. Kenapa dua orang yang aku kenal — kamu dan Maxy — kenapa nggak bisa digabung jadi satu orang? Kamu percaya diri, dia tulus. Kalau jadi satu, itu orang paling sempurna buat aku."

Jantung Roxy terasa berhenti sejenak. "Mungkin semua orang punya sisi yang belum terlihat. Bukan berarti terpisah, cuma belum waktunya terlihat bersamaan."

Shella mengangguk pelan, seolah memikirkan kalimat itu dalam-dalam. "Mungkin juga ya."

Malam itu berakhir dengan perpisahan yang hangat. Roxy pulang bukan dengan perasaan menang, tapi dengan beban yang makin nyata. Arif di luar sana menambah tekanan, dan di dalam dirinya sendiri, perbedaan antara dua identitas makin terasa.

Besok pagi Aku akan kembali jadi Maxy. Dan Aku tahu, semakin lama dia menunda jujur, semakin berat konsekuensinya — dia belum siap. Bukan karena takut ditolak, tapi karena takut Shella memilih Roxy, bukan dirinya.

Dan di tengah semua itu, Pak Arif masih di sana — menunggu, mengamati, dan siap mengambil alih kapan saja.

Apa yang harus Aku lakukan besok???

1
Lylik Kurniawan
😍😍😍😍😍😍😍
Lylik Kurniawan
Bagus. beneran fresh.. aku ksih bintang 5
Lylik Kurniawan
bagus dan beda. like this!!!😍😍😍
Kenzy Elbarra
hehehe 😍😍😍
Salwina Riyani
mewek gw ... 🤣🤣🤣🤣🤣
Salwina Riyani
😍🤭😍🤭🤭😍🤭😍😍
Salwina Riyani
wadidawwww... 😍
Salwina Riyani
heran.. pdhl ini novel bagus.. knpa msh sepi ya
Salwina Riyani
nusuukkkm
Salwina Riyani
seruuuuu.....!!! bener bener beda dari yang lain.. byee bye CEO... bosen gw ma alur CEO wkwkwk
Salwina Riyani
seruuuu.... 😍😍😍😍😍😍
Ma Xy
gasssss terussss kak...
Ma Xy
lanjutkan kaka.. saya suka🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!