Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayan yang Berkhianat
Langkah kaki Aurelia terdengar mantap menelusuri koridor kayu cedar Pavilion Timur. Di belakangnya, Marta melangkah dengan kepala menunduk, meremas kotak kayu kecil berisi teh herbal pemberian Selir Evelyn. Setiap ketukan tumit sepatu Aurelia di atas lantai seolah mengirimkan getaran dingin yang membuat tengkuk Marta meremang.
Aurelia mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu ganda berukir rumit ruang penerima tamu pribadi di pavilionnya. Tanpa menoleh, ia bersuara tenang.
"Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Marta."
Marta tersentak, tetapi segera mematuhi perintah itu. Suara gerendel besi yang beradu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi. Ketika Marta berbalik, ia menemukan Aurelia sudah duduk anggun di atas kursi berpelapis beludru merah, menatapnya dengan sepasang mata cokelat gelap yang tak menyorotkan kehangatan sedikit pun.
"N-Nona Muda... ada apa?" tanya Marta gagap, memeluk kotak teh itu lebih erat ke dadanya.
Aurelia menyilangkan kakinya, menopang dagunya dengan jemari lentiknya yang tampak seputih pualam. "Letakkan kotak itu di atas meja. Lalu, berlututlah."
Jantung Marta serasa berhenti berdetak. "Nona Muda... apa salah hamba?"
"Berlutut, Marta. Jangan buat aku mengulanginya untuk ketiga kali." Nada suara Aurelia begitu datar, namun di dalamnya terkandung dominasi yang begitu kuat, sebuah wibawa yang bahkan tak pernah dimiliki oleh ayahnya, Duke Montclair.
Gemetar hebat menguasai kedua kaki Marta. Lututnya menumbuk lantai kayu dengan bunyi gedebuk pelan. Ia menundukkan kepalanya hingga dahinya hampir menyentuh sepatu berhias permata milik Aurelia.
Aurelia menatap kepala pelayannya itu dari atas. Di kehidupan lalunya, Marta adalah orang yang paling ia percayai di istana ini. Aurelia menganggap Marta sebagai saudarinya sendiri, membagikan rahasia terbesarnya, bahkan melindunginya ketika pelayan istana lain mencoba menindasnya. Namun, di hari ia tewas terbunuh oleh racun, Marta-lah yang memegang kunci pintu kamarnya. Marta yang menerima koin emas dari faksi barat untuk membiarkan pembunuh itu masuk tanpa suara.
Rasa pengkhianatan itu membakar dada Aurelia, lebih menyakitkan daripada racun yang membusukkan organ dalamnya di masa lalu.
"Marta," panggil Aurelia pelan. "Berapa banyak koin emas yang dijanjikan oleh pelayan Selir Evelyn padamu pagi ini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Aurelia, bagaikan petir di siang bolong yang menyambar ruang tamu yang sunyi. Body Marta seketika menegang kaku. Matanya melotot lebar menatap pola karpet di bawahnya.
"N-Nona Muda... apa yang Anda bicarakan? Hamba tidak... hamba tidak menerima koin apa pun!" seru Marta dengan suara melengking panik. Ia mendongak, mencoba memperlihatkan wajah paling polos dan tak bersalah yang ia miliki. "Hamba sangat setia pada Anda dan Kediaman Montclair! Hamba bersumpah demi Tuhan!"
Aurelia tidak berteriak. Ia bahkan tidak menunjukkan riak emosi di wajahnya. Ia hanya bangkit berdiri perlahan, melangkah mendekati Marta, lalu berlutut di hadapan pelayan yang gemetaran itu.
Jemari halus Aurelia mencengkeram dagu Marta dengan cengkeraman yang luar biasa kuat, memaksa mata Marta untuk menatap lurus ke dalam matanya yang sehitam jurang.
"Jangan pernah menyebut nama Tuhan di depan wajahku untuk menutupi kebohonganmu, Marta," bisik Aurelia tepat di depan wajah Marta. "Kaupikir aku tidak tahu? Kantong kain beludru biru di dalam lipatan apronmu... berapa isi koin emas di dalamnya? Lima? Atau sepuluh koin emas untuk menjual informasi tentang kebiasaan tidurku pada faksi Evelyn?"
Muka Marta seketika pucat pasi, kehilangan seluruh warnanya. Darahnya terasa membeku. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Nona Mudanya tahu tentang kantong beludru biru itu? Padahal ia menyembunyikannya sangat rapi sebelum memasuki kamar tadi pagi!
"A-Nona Muda... hamba..." Suara Marta tercekat di tenggorokan. Air mata ketakutan mulai menetes membasahi pipinya.
Aurelia merogoh apron Marta dengan gerak cepat dan menarik keluar sebuah kantong kecil berwarna biru tua. Ketika ia mengocoknya, bunyi denting koin emas yang berat terdengar sangat jelas.
Di kehidupan sebelumnya, aku menemukan kantong ini dua minggu setelah berada di istana, tetapi saat itu aku terlalu naif dan mempercayai kebohonganmu bahwa itu adalah uang tabungan keluargamu, batin Aurelia dingin. Tapi sekarang, aku tidak akan membiarkan ular bernapas di balik selimutku.
Aurelia melepaskan cengkeramannya pada dagu Marta, membiarkan pelayan itu tersungkur dan menangis histeris di lantainya.
"Ampun, Nona Muda! Ampunkan hamba!" teriak Marta sambil memegang kaki Aurelia. "Hamba terpaksa! Pelayan Lady Evelyn mengancam akan membunuh adik hamba di desa jika hamba tidak memberikan informasi tentang Anda! Hamba mohon, Nona Muda, jangan buang hamba! Jangan bunuh hamba!"
Aurelia menatap Marta yang meraung-raung di bawah kakinya tanpa sedikit pun rasa iba. Pengalaman mati secara tragis telah mengikis seluruh simpati yang pernah dimilikinya. Di istana ini, belas kasihan adalah tiket tercepat menuju liang kubur.
"Berdiri dan hapus air matamu," perintah Aurelia dingin.
Marta menyapu air matanya dengan kasar, berusaha menahan sedu-kayannya, dan menatap Aurelia dengan mata merah penuh ketakutan. "N-Nona Muda... apakah Anda akan mengusir hamba kembali ke Kediaman Duke?"
Jika dikirim kembali ke Kediaman Montclair karena tuduhan pengkhianatan, ayah Aurelia—Duke Montclair yang terkenal kejam pada pengkhianat—pasti akan menguliti Marta dan seluruh keluarganya hidup-hidup.
"Mengusirmu?" Aurelia terkekeh pelan. Ia berjalan menuju meja dan mengambil kantong emas itu. "Mengapa aku harus mengusir alat yang sangat berguna?"
Marta tertegun, tidak memahami arah pembicaraan majikannya.
Aurelia melemparkan kantong emas itu kembali ke pangkuan Marta. "Kau akan tetap menjadi pelayanku. Kau akan tetap bernapas, dan adikmu di desa akan tetap aman... dengan satu syarat."
Aurelia membungkuk sedikit, menatap Marta dengan pandangan mematikan.
"Mulai hari ini, kau adalah anjing perantara milikku. Kau akan tetap menerima koin emas dari pelayan Evelyn, atau siapa pun selir yang mencoba menyuapmu. Kau akan memberikan informasi pada mereka... tetapi hanya informasi salah yang sudah aku rancang."
Mata Marta melebar. Ia mulai menyadari perubahan mengerikan pada diri wanita di depannya ini. Nona Muda yang dulu manja, polos, dan selalu menangis jika keinginannya tak dituruti... telah berubah menjadi sosok ahli strategi yang begitu dingin dan penuh perhitungan.
"Kau akan membocorkan apa yang ingin KUSAMPAIKAN pada mereka," lanjut Aurelia, menekankan setiap kata. "Dan setiap kali mereka memberimu perintah atau hadiah, kau harus melaporkannya padaku sebelum matahari terbenam. Jika kau mencoba berkhianat sekali saja... aku tidak hanya akan mengirim kepalamu ke Kediaman Montclair, tetapi juga seluruh keluargamu."
Marta gemetar hebat, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga menyentuh lantai. Rasa takut yang menjalar di tubuhnya kini bukan lagi pada ancaman faksi Evelyn, melainkan pada sosok keturunan Montclair yang berdiri di hadapannya ini.
"H-hamba mengerti, Nona Muda! Hamba bersumpah akan setia pada Anda! Hamba akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan!" seru Marta dengan suara bergetar.
"Bagus," jawab Aurelia datar. Ia meraih kotak kayu berisi teh beracun itu dari atas meja. "Sekarang, berdirilah. Rapikan gaunku. Kita punya janji minum teh di taman dalam yang tidak boleh dilewatkan."
Aurelia melihat pantulan dirinya sekali lagi di cermin. Bidak papan catur pertamanya telah terpasang. Pelayan yang dulunya menjadi senjata musuh untuk membunuhnya, kini telah berbalik menjadi mata-mata tak terlihat di dalam genggamannya.
Sebuah senyuman tipis dan angkuh mengembang di wajah cantiknya.
"Mari kita lihat," gumam Aurelia pelan sembari melangkah menuju pintu yang kini dibuka oleh Marta, "seberapa manis rasa racun milik Selir Evelyn saat ia meminumnya sendiri."
~ To Be Continue