NovelToon NovelToon
RED CROWS

RED CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: D'syam

"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."

Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.

Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.

Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petunjuk

Pukul sembilan malam tepat. Raungan mesin mobil sport bernada tinggi membelah kesunyian kawasan perumahan Grand Pavilion. Sebuah mobil convertible mewah berwarna biru metalik meluncur mulus, lalu berhenti tepat di depan gerbang utama rumah Daren.

Lingga menurunkan kaca mobilnya, memoles rambutnya melalui kaca spion tengah, lalu menekan klakson dua kali dengan gaya yang sangat menantang.

TIN! TIN!

Pintu gerbang bergeser terbuka. Daren melangkah keluar dengan postur tegapnya yang dominan. Dia mengenakan jaket kulit hitam tebal yang membungkus kaus polos bernuansa gelap, celana taktis pas badan, serta sepatu boots kulit tebal. Tato kanji vertikal Akuma no Urami di leher bagian kanannya mengintip tajam di balik kerah jaketnya yang terbuka tipis.

Namun, alih-alih melangkah mendekati pintu penumpang mobil sport Lingga, Daren justru berjalan santai menuju motor sport kustom miliknya yang terparkir di dekat pos samping. Daren menyambar helm full-face tambahan dari atas rak, lalu berbalik mendatangi Lingga.

SLAP!

Tanpa basa-basi, Daren melempar helm full-face berwarna hitam itu tepat ke pangkuan Lingga yang sedang duduk santai di balik kemudi.

"Aduh! Astaga, Daren!" jerit Lingga terkejut seraya memegangi helm tebal di tangannya. Dia menatap Daren dengan pandangan memprotes yang luar biasa heran. "Lu apa-apaan sih?! Gue udah bela-belain jemput lu pakai mobil sport termahal kepunyaan bokap gue, dan lu malah melempar helm ke muka gue?"

Daren tidak memedulikan protes tersebut. Dia sudah menaiki motor kustomnya, memutar kunci kontak hingga mesin bersilinder besarnya meraung bertenaga.

"Gue nggak mau naik mobil itu," kata Daren datar melalui balik visors helmnya. "Turun. Lu bonceng gue, atau lu berangkat sendiri."

Lingga melotot, menatap mobil mewahnya lalu beralih menatap motor kustom Daren yang tampak jauh lebih gila dan garang. Lingga menghela napas pasrah, menyadari bahwa membantah kemauan Daren hanyalah tindakan sia-sia yang membuang waktu.

"Sialan lu, Daren. Bener-bener nggak bisa diajak gaya!" umpat Lingga seraya mematikan mesin mobilnya, menguncinya, lalu melangkah keluar dengan pasrah seraya memasang helm ke kepalanya. "Awas ya kalau lu bawanya ugal-ugalan! Gue belum mau mati muda!"

Lingga melompat naik ke jok belakang motor Daren. Tanpa menunggu Lingga membetulkan pegangannya, Daren langsung menarik tuas gasnya dalam-dalam. Motor kustom berwarna hitam pekat itu melesat membelah kegelapan malam Kota Atlas bagaikan kilat.

Kelab Malam "Avernus" – Sektor Timur

Dentuman musik EDM berfrekuensi rendah menggetarkan lantai kaca dan dinding-dinding neon Kelab Malam Avernus. Tempat hiburan malam paling eksklusif di Sektor Timur Kota Atlas itu dipenuhi oleh kilatan lampu stroboskop, asap wewangian sintetis, serta kerumunan anak-anak muda kelas atas yang sedang menghabiskan uang orang tua mereka.

Pintu ganda berpenjaga ketat di area VIP terbuka. Daren dan Lingga melangkah masuk.

Kehadiran Daren secara instan menciptakan efek kejut sosial di dalam ruangan yang padat tersebut. Langkah kakinya yang tenang, postur tubuhnya yang tinggi tegap, garis rahangnya yang sangat tegas, serta aura dingin yang begitu intim memancar dari penampilannya membuat pandangan puluhan siswi dan wanita muda berselimut gaun malam seketika tertuju padanya. Bisik-bisik kagum dan tatapan terpesona memburu langkahnya.

Daren tidak mengindahkan semua pandangan itu. Indera kewaspadaannya sibuk memetakan pintu darurat, posisi kamera pengawas, dan pergerakan orang-orang di sekitarnya.

"Gue bilang juga apa," bisik Lingga seraya merangkul bahu Daren dengan cengiran tengilnya. "Lu baru masuk aja udah bikin cewek-cewek di sini pada salah fokus. Yuk, kita duduk di tempat paling pojok biar lu nggak dikerubungi!"

Mereka berjalan menuju meja lingkaran di sudut ruangan yang agak remang—posisi paling strategis yang memberikan jarak pandang luas ke seluruh ruangan.

Seorang pelayan pria (waiter) berjas rapi melangkah mendekati meja mereka, meletakkan buku menu bersepuh emas. "Selamat malam, Tuan-tuan. Mau memesan wine tahun berapa atau whisky impor koleksi terbaik kami malam ini?"

Lingga baru saja hendak menyebutkan merek minuman keras mahal, namun Daren telah lebih dulu memotongnya dengan suara tebal dan tenang.

"Jus jeruk segar tanpa gula, dan air mineral dingin," ucap Daren datar.

Pelayan itu tersentak pelan, mengedipkan matanya heran karena sangat jarang ada pengunjung area VIP kelab malam yang memesan jus buah dan air mineral. Namun pelayan itu tetap mencatatnya dengan sopan. "Baik, Tuan. Segera disiapkan."

Setelah pelayan itu berlalu, Lingga mencondongkan tubuhnya ke atas meja, menatap Daren dengan raut wajah sangat heran bercampur tertawa.

"Bro! Lu seriusan?!" seru Lingga tak percaya. "Kita ini lagi di kelab malam paling eksklusif di Kota Atlas, dan lu cuma pesan jus jeruk sama air putih? Kenapa nggak mau minum alcohol sedikit aja?"

Daren menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menatap Lingga melalui sudut matanya yang kelabu.

"Minuman keras merusak sel otak, memperlambat refleks saraf, dan merusak organ hati," jawab Daren dengan alasan yang sangat terstruktur dan logis. "Lagipula, untuk saat ini aku masih hidup dan bersekolah menggunakan uang serta fasilitas orang tuaku. Tidak ada gunanya merusak tubuh dengan barang mahal yang belum sanggup kubeli dari hasil keringatku sendiri."

Jawaban yang sangat bijak, teratur, dan penuh prinsip itu keluar begitu mulus dari mulut Daren. Padahal, alasan sebenarnya jauh lebih sederhana: sebagai seorang petarung dari Red Crows, Daren dilarang keras menyentuh alkohol yang bisa menurunkan tingkat kewaspadaan intinya saat berada di wilayah luar markas.

Lingga terdiam selama beberapa detik, lalu meledak dalam tawa renyah yang tertahan.

"Gila... lu bener-bener beda dari semua anak kaya yang pernah gue kenal, Daren!" kata Lingga seraya menepuk mejanya gembira. "Jawaban lu bijak banget, berasa dengar nasihat dari pahlawan kebajikan! Tapi gue suka gaya lu!"

Waktu merambat perlahan mendekati tengah malam. Pukul satu dini hari, lampu stroboskop di lantai dansa makin redup, membiarkan sudut-sudut meja terselimuti bayangan tebal.

Daren yang sedang menyesap jus jeruknya mendadak merasakan pergeseran getaran di sebelah kanannya. Matanya yang tajam menangkap sesosok siswa berseragam sekolah yang ditutupi jaket parasut hitam melangkah canggung mendekati meja mereka.

Siswa itu berdiri di samping Lingga, melirik ke kanan dan kiri dengan raut wajah sangat tegang dan ketakutan.

"Lingga..." bisik siswa itu dengan suara gemetar. "Ini... barang pesanan khusus yang kamu tanyakan kemarin."

Siswa itu dengan cepat menggeser sebuah kantong klip plastik berukuran kecil di atas meja menuju tangan Lingga, lalu menerima gulungan uang tunai dari Lingga sebelum akhirnya berbalik dan menghilang dengan cepat di antara kerumunan lantai dansa.

Daren tidak menggerakkan tubuhnya, namun seluruh perhatiannya telah terkunci pada kantong plastik kecil di atas meja tersebut.

Di dalam kantong klip transparan itu, terdapat tiga lembar tipis berbahan gel benang sintetis berwarna bening kemerahan. Barang itu tidak berbau dan berukuran sangat kecil—persis seperti deskripsi zat adiktif jenis baru yang sedang diburu oleh organisasi Red Crows.

Pencarian Daren yang diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu... kini membuahkan hasil hanya dalam hitungan hari.

Lingga menarik kantong klip itu, lalu menggesernya tepat ke hadapan Daren dengan wajah yang berubah menjadi agak serius.

"Nih, Daren," kata Lingga pelan. "Gue sengaja pesan barang ini bukan buat gue pakai atau dijual lagi. Gue pesan ini murni pakai uang gue sendiri buat dijadikan bahan bukti dan diteliti. Gue dengar dari orang dalam, barang ini sangat berbahaya bagi saraf."

Lingga menepuk pelan pundak Daren. "Lu ambil aja barang ini. Lu kan pinter dan punya pengawal pribadi di rumah. Coba lu periksain atau simpan buat bukti kalau ada apa-apa."

Daren meraih kantong klip plastik kecil itu, meremasnya tipis di dalam genggaman tangannya, lalu menyimpannya ke dalam saku dalam jaket kulitnya.

"Terima kasih, Lingga," ucap Daren datar, menyembunyikan kilatan rasa puas yang mendalam di dalam jiwanya.

Keesokan Harinya – Pukul 10.00 WIB

Suasana di SMA Bintang diwarnai kebingungan. Bangku di barisan belakang kelas XII-A tempat Daren biasa duduk tampak kosong melompong sejak bel pagi berbunyi. Daren tidak masuk sekolah tanpa memberikan kabar atau surat izin sedikit pun.

Lingga yang duduk di sebelahnya tak henti-hentinya memutar-mutar pensilnya jengkel, beberapa kali mencoba menghubungi nomor ponsel baru Daren namun tidak mendapatkan jawaban.

Alasan Daren tidak hadir di sekolah sangat jelas: sejak sebelum subuh, Daren telah bertolak menuju Markas Utama Red Crows di Sektor Zero untuk menyerahkan sampel zat adiktif tersebut secara langsung kepada Argus dan Dr. Anthony.

Pukul sepuluh pagi tepat, Daren baru saja mengendarai motor kustomnya kembali ke kediaman Mewahnya di Perumahan Grand Pavilion.

Namun, begitu Daren melangkah masuk menyeberangi pintu depan rumahnya, dia tertegun tipis.

Di atas sofa empuk ruang tamunya, terlihat Lingga sedang berbaring santai seraya menikmati camilan impor dan menonton televisi layar lebar. Tas sekolah Lingga tergeletak di atas lantai.

Pria itu bolos sekolah.

Daren menghentikan langkahnya, menatap Lingga dengan dahi terlipat heran. "Kenapa kau ada di sini?"

Lingga melompat bangun dari sofa, menyeringai lebar tanpa rasa salah sedikit pun. "Woi! Akhirnya pulang juga lu! Gue bingung dari pagi lu nggak ada di kelas tanpa kabar! Gue kira lu diculik komplotan Reno, makanya jam sembilan tadi gue langsung lompat pagar belakang sekolah buat kabur ke rumah lu!"

Daren melepas jaket kulitnya, melemparkannya ke atas sandaran kursi. "Kembali ke sekolah. Bolos hanya membuang waktu."

"Enak aja! Males banget balik jam segini!" tolak Lingga seraya melambaikan tangannya santai. Dia lalu melangkah mendekati Daren, raut wajah tengilnya mendadak berganti menjadi sangat serius dan berbisik kencang.

"Daren, dengar dulu! Gue ke sini bukan cuma mau bolos!" kata Lingga dengan mata berbinar penuh informasi penting. "Semalam setelah dari kelab, gue suruh orang-orang suruhan bokap gue buat melacak siapa penghubung yang menjual kantong plastik bening itu ke kita!"

Daren membeku sejenak, menatap Lingga secara mendalam. "Apa yang kau temukan?"

"Pengedar tingkat pertama di sekolah kita itu ternyata siswa kelas XII-D!" jawab Lingga bersemangat. "Namanya Firman! Dia anak kelas sebelah yang pendiam banget! Gue udah berencana mau mendatangi anak itu nanti sore, menyudutkannya di luar sekolah, dan memaksa dia membongkar siapa bandar besarnya!"

Mendengar rencana nekad Lingga, mata kelabu Daren seketika menyempit tajam. Aura intimidasi dingin memancar mendadak dari tubuhnya.

"Jangan pernah lakukan itu," potong Daren dengan nada suara yang sangat keras, tegas, dan membekukan. "Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan, Lingga. Jika kau mencoba menyudutkannya sendirian, kau hanya menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma."

"Tapi Daren, kita bisa mengungkap ini bareng-bareng—"

"Aku bilang tidak," sela Daren tanpa kompromi. Daren melangkah mendekati pintu depan, memukulkan telapak tangannya ke panel pintu kayu. "Keluar dari rumahku sekarang. Kembali ke rumahmu dan jangan lakukan gerakan apa pun tanpa persetujuanku."

melihat ketegasan dingin dan tatapan membunuh di mata Daren yang tidak bisa dibantah, Lingga akhirnya mengatupkan bibirnya rapat-rapt. Dia menghela napas pasrah, mengangguk pelan.

"Yaaah... ya udah deh. Jangan galak-galak napa," gumam Lingga seraya menyambar tas sekolahnya. "Gue pulang. Tapi lu janji jangan bergerak sendirian juga ya!"

Lingga melangkah keluar dari rumah Daren dengan wujud berpasrah.

Begitu punggung Lingga menghilang di balik pintu gerbang, Daren tidak membuang waktu satu detik pun.

Dia menarik gawai terenkripsi dari sakunya, menekan pintasan panggilan komunikasi langsung ke Sektor Zero.

BZZZZT!

"Joe," panggil Daren tanpa basa-basi begitu sambungan terhubung. "Aku butuh data lengkap atas nama Firman, siswa kelas XII-D SMA Bintang. Segera."

"Diterima, Daren. Beri aku tiga menit," sahut suara Joe diiringi ketukan papan ketik bernada cepat.

Tidak sampai tiga menit berlalu, proyeksi data biometrik tiga dimensi melayang keluar dari layar gawai Daren, menampilkan berkas siswa atas nama Firman.

Joe kembali bersuara melalui speaker gawai, suaranya dipenuhi nada antusiasme tinggi. "Daren... pencarianmu menemui titik puncak yang luar biasa. Data yang baru saja kutemukan adalah persis apa yang dicari oleh Tuan Argus selama bertahun-tahun."

Daren mengamati layar holografik tersebut.

Dalam berkas sipilnya, Firman adalah seorang siswa yatim piatu berusia delapan belas tahun. Kedua orang tuanya meninggal dunia tiga tahun lalu karena kecelakaan kerja, meninggalkannya hidup sendirian dalam kemiskinan di sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota.

Namun yang paling krusial: Firman adalah seorang anak jenius di bidang kimia sintetis. Kerelaannya menjadi kurir dan pengedar zat adiktif tersebut murni karena tuntutan ekonomi mendesak—dia membutuhkan dana ratusan juta untuk membayar utang-utang almarhum orang tuanya serta biaya pengobatan tunggal adik perempuannya yang sedang dirawat di rumah sakit.

Dan yang paling mengejutkan dari riset Joe: laboratorium pembuatan zat tersebut ternyata berada di dalam sebuah gudang bahan kimia tua yang disewa atas nama Firman di pinggiran Sektor Selatan.

Hanya dalam waktu sepuluh menit pasca-penemuan data tersebut, gawai Daren kembali bergetar kencang.

Nama [ARGUS] terpampang terang di layar. Daren mengangkat panggilan tersebut.

"Tuan Argus," panggil Daren hormat.

"Hahaha! Luar biasa, Daren! Sungguh kerja yang luar biasa bersih dan efisien!" suara Argus bergema nyaring, dipenuhi oleh tawa puas dan kebanggaan yang mendalam. "Sampel yang kau kirim subuh tadi telah diuji oleh Dr. Anthony—itu murni zat sintetis tingkat tinggi yang kita cari. Dan sekarang, kau berhasil menemukan nama pengedar sekaligus lokasi pembuatannya hanya dalam waktu kurang dari dua hari!"

PING!

Notifikasi perbankan terenkripsi berbunyi di gawai Daren. Sebuah pesan transaksi masuk menampilkan penambahan saldo rekening pribadi Daren dengan nominal yang sangat fantastis—beberapa miliar rupiah dikirimkan langsung oleh Argus sebagai bentuk apresiasi atas kinerjanya.

Daren menatap angka nol yang berderet banyak di layar ponselnya dengan alis terlipat tebal.

Selama ini, uang pesangon dan dana operasional yang diberikan oleh Red Crows pada Daren sudah sangat lebih dari cukup—bahkan saldo lamanya saja baru berkurang sedikit untuk membeli bensin motor sport-nya dan membeli kopi. Melihat tambahan uang bernominal raksasa yang masuk begitu saja, Daren justru merasa sedikit jengkel karena menganggap Argus terlalu berlebihan.

"Tuan Argus..." umpat Daren pelan dengan nada bicara yang agak tidak sopan namun santai pada pimpinannya, "...apa-apaan uang raksasa ini? Dana operasional saya bahkan belum berkurang selain untuk beli bensin motor!"

Dari ujung telepon, Argus meledak dalam tawa terbahak-bahak yang sangat keras—terhibur oleh respons polos namun dingin dari murid kesayangannya itu.

"Hahaha! Anggap saja itu bonus kecil untuk senjata terbaikku, Daren!" sahut Argus seraya menghembuskan asap cerutunya. "Beli apa pun yang kau inginkan. Kau berhak mendapatkannya."

Daren menghela napas pendek, mengusap leher belakangnya yang bertato kanji merah. "Lalu... apa langkah kita berikutnya, Tuan?"

Tawa Argus mereda, berganti dengan nada suara yang tebal, dingin, dan sarat akan strategi bawah tanah.

"Jangan lakukan pergerakan militer atau penyerangan dulu, Daren," tegas Argus. "Anak bernama Firman itu hanyalah korban dari tuntutan ekonomi dan kejeniusan yang dimanfaatkan oleh pihak atas. Dia adalah mata rantai berharga. Jika kita langsung membunuhnya, kita akan kehilangan jejak pemasok bahan bakunya."

Argus memiringkan kepalanya sedikit, memberikan instruksi taktis yang sangat presisi.

"Dekati anak bernama Firman itu secara pribadi," perintahkan Argus. "Manfaatkan keadaan ekonominya, bantu dia, dan tarik dia menjadi bagian dari jaringan Red Crows. Kita butuh kejeniusan kimianya untuk organisasi kita, sekaligus menjadikannya umpankan untuk memancing sang bandar besar yang bersembunyi di balik jas mewahnya di Kota Atlas."

Daren mengepalkan tangannya rapat-rapt, menatap proyeksi foto Firman di udara.

"Diterima, Tuan Argus," jawab Daren tegas. "Saya akan mendekatinya."

Misi penyamaran sang Gagak Merah kini bergeser dari sekadar pembantaian... menuju perburuan taktis yang kian dalam di bawah bayang-bayang Kota Atlas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!