Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 — Perjalanan ke Wilayah Barat
Kembali ke ibu kota setelah memastikan kondisi Zhou Feng stabil, Zhou Chen segera bertemu Zhou Ming untuk menyusun rencana final mengikuti kunjungan "resmi" Zhou Han ke wilayah barat—yang menurut jadwal istana, akan berlangsung dalam waktu lima hari.
"Waktu kita semakin sempit," kata Zhou Ming, menunjukkan peta wilayah barat yang telah ia tandai dengan berbagai titik penting. "Dan setelah peringatan langsung yang diberikan Zhou Han kepadamu, dia pasti akan jauh lebih berhati-hati kali ini."
"Justru karena itu," jawab Zhou Chen, "kita tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama seperti saat menyusup ke gudang Zhang. Kita butuh sesuatu yang lebih halus."
Setelah diskusi panjang, mereka menyepakati rencana yang lebih terukur: alih-alih mengikuti langsung rombongan Zhou Han, mereka akan menempatkan pengintai di titik-titik strategis sepanjang rute menuju wilayah barat, mengandalkan jaringan informasi Zhou Ming yang lebih luas dibandingkan pengamatan langsung yang berisiko.
Namun ada satu bagian dari rencana yang tetap membutuhkan kehadiran langsung—memastikan identitas orang yang ditemui Zhou Han di titik pertemuan akhir, sesuatu yang hanya bisa dipastikan dengan mata kepala sendiri.
"Aku akan pergi," kata Zhou Chen tegas.
"Terlalu berisiko, Yang Mulia," bantah Zhao Kai, yang hadir dalam pertemuan itu. "Setelah peringatan langsung dari Zhou Han, dia mungkin sudah menempatkan orang untuk mengawasi pergerakanmu."
"Karena itu, aku tidak akan pergi sendirian sebagai Zhou Li," jawab Zhou Chen. "Xiao Hei bisa menggantikanku dalam penyamaran sebagai pedagang biasa. Dengan kemajuan tenaga dalamnya belakangan ini, dia cukup mampu melindungi dirinya sendiri jika situasi memburuk, dan wajahnya belum dikenal luas di istana."
Xiao Hei, yang selama beberapa bulan terakhir telah berlatih keras di bawah bimbingan Zhou Chen, menerima tugas itu dengan campuran kebanggaan dan kegugupan.
"Yang Mulia yakin hamba mampu?" tanyanya, meski matanya menunjukkan tekad yang jauh berbeda dari pemuda kurus penuh keraguan yang dulu ditemukan Zhou Chen di bagian perdagangan.
"Aku yakin," jawab Zhou Chen tulus. "Kau sudah berkembang jauh sejak pertama kali kita bertemu. Ini kesempatanmu untuk membuktikan bukan hanya kepada orang lain, tapi kepada dirimu sendiri."
Malam sebelum keberangkatan, saat Xiao Hei berlatih terakhir kali di halaman belakang kediaman, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Ketegangan dan tekad yang membuncah dalam dirinya, dipadukan dengan fondasi teknik pernapasan yang telah disempurnakan berbulan-bulan lalu, tiba-tiba memicu sesuatu yang tidak terduga.
Tubuhnya bergetar hebat, aliran tenaga dalam yang selama ini mengalir lancar namun terbatas, tiba-tiba meledak dalam volume yang jauh lebih besar. Cahaya samar berwarna keemasan mulai menyelimuti tubuhnya, meridian-meridiannya yang dulu tersumbat kini terbuka sepenuhnya untuk pertama kalinya.
TEROBOSAN — Penguatan Tubuh Tingkat 1 Menuju Pembukaan Meridian
Zhou Chen, yang kebetulan menyaksikan momen itu dari beranda, menahan napas melihat perkembangan yang jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan sebelumnya.
Ketika cahaya keemasan itu akhirnya memudar, Xiao Hei terjatuh berlutut, napasnya terengah namun matanya berbinar penuh keajaiban.
"Yang Mulia..." katanya, suaranya bergetar antara lelah dan takjub. "Hamba... hamba bisa merasakannya. Kekuatan yang jauh berbeda dari sebelumnya."
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa untuk memeriksa kondisi barunya.
Xiao Hei Tingkat kultivasi baru: Pembukaan Meridian Tingkat 1 Terobosan terjadi lebih cepat dari perkiraan awal, kemungkinan dipicu tekanan emosional dan fondasi teknik yang sempurna Catatan: Tubuh masih perlu waktu adaptasi sebelum kekuatan baru bisa dikendalikan sepenuhnya dalam pertarungan nyata
"Kau baru saja mencapai terobosan," kata Zhou Chen, senyum bangga terukir di wajahnya. "Tapi ingat, tubuhmu masih perlu waktu untuk terbiasa dengan kekuatan barumu. Jangan terlalu memaksakan diri besok."
Perjalanan menuju wilayah barat berlangsung dua hari penuh, dengan Xiao Hei menyamar sebagai pedagang kain keliling, ditemani Yue Er yang berperan sebagai asistennya—penyamaran yang cukup meyakinkan mengingat pengalaman keduanya di bagian perdagangan dahulu.
Titik pertemuan yang telah diperkirakan Zhou Ming berdasarkan pola sebelumnya adalah sebuah kedai teh kecil di pinggiran kota wilayah barat, tempat yang cukup ramai untuk penyamaran namun cukup tenang untuk pertemuan rahasia.
Xiao Hei dan Yue Er tiba sehari sebelum jadwal perkiraan, memastikan mereka bisa mengamati situasi tanpa terburu-buru.
Namun rencana yang telah disusun dengan matang itu mulai retak ketika hari pertemuan tiba.
"Ada yang tidak beres," bisik Yue Er kepada Xiao Hei, saat mereka duduk di sudut kedai teh, berpura-pura sibuk dengan barang dagangan mereka. "Jumlah penjaga di sekitar sini terlalu banyak untuk pertemuan dagang biasa."
Xiao Hei mengamati sekeliling dengan seksama, menyadari kebenaran dalam kekhawatiran itu. Setidaknya enam orang berpakaian sipil namun bergerak dengan kewaspadaan terlatih, tersebar di berbagai sudut kedai dan jalanan sekitarnya.
"Mereka mengantisipasi kemungkinan diawasi," gumam Xiao Hei. "Zhou Han pasti sudah mencurigai sesuatu setelah pertemuannya dengan Yang Mulia di wilayah utara."
Ketegangan semakin memuncak ketika Zhou Han akhirnya tiba, disertai rombongan resminya. Namun alih-alih memasuki kedai teh seperti yang diperkirakan, ia justru berhenti sejenak di pintu masuk, matanya menyapu ruangan dengan seksama—seolah mencari sesuatu, atau seseorang, yang tidak seharusnya berada di sana.
Pandangannya berhenti sejenak pada Xiao Hei dan Yue Er, cukup lama untuk membuat jantung keduanya berdegup kencang, sebelum akhirnya beralih ke arah lain.
"Kita perlu pergi," bisik Yue Er, suaranya nyaris tak terdengar. "Sekarang."
Namun sebelum mereka sempat bergerak, salah satu pengawal Zhou Han mendekat dengan langkah tenang namun penuh tujuan, berhenti tepat di samping meja mereka.
"Pedagang kain," katanya, nada suaranya datar namun mengancam. "Kalian bukan wajah yang biasa terlihat di sini. Bolehkah aku melihat surat izin dagang kalian?"
Xiao Hei, dengan ketenangan yang mengejutkan dirinya sendiri, mengeluarkan dokumen palsu yang telah disiapkan Zhou Ming sebelumnya. Namun pengawal itu memeriksanya lebih lama dari yang seharusnya, matanya sesekali beralih menatap wajah Xiao Hei dengan seksama.
"Dokumen ini terlihat baru," katanya akhirnya, nada curiganya semakin jelas. "Ikut aku. Kepala keamanan ingin memastikan semuanya sesuai prosedur."
Yue Er, menyadari situasi mulai berbahaya, segera membuat keputusan cepat. "Suamiku sedikit gugup bertemu pejabat besar," katanya cepat, tersenyum dengan sikap yang meyakinkan meski hatinya berdegup kencang. "Kami baru pertama kali berdagang di wilayah sejauh ini. Apakah ada masalah dengan dokumen kami?"
Taktik itu, meski berisiko, cukup berhasil mengalihkan sebagian kecurigaan pengawal itu. Namun sebelum situasi bisa sepenuhnya mereda, teriakan tiba-tiba terdengar dari arah pintu belakang kedai—salah satu anggota tim pengintai lain yang tanpa sengaja tertangkap basah oleh penjaga lain di posisi berbeda.
Kekacauan pun pecah.
Dalam kepanikan yang terjadi, Xiao Hei terpaksa menggunakan kekuatan barunya untuk pertama kalinya dalam situasi nyata—mendorong pengawal yang mencoba menahannya dengan tenaga dalam yang baru saja ia kuasai, sebuah gerakan refleks yang, meski berhasil membebaskan dirinya, juga secara tidak sengaja mengungkap bahwa dirinya bukan pedagang biasa.
"Dia bukan pedagang! Tangkap mereka!" teriak seseorang di tengah kekacauan.
Xiao Hei dan Yue Er berhasil melarikan diri di tengah kepanikan itu, namun dengan harga yang mahal—penyamaran mereka terbongkar, dan salah satu anggota tim pengintai lain, seorang pemuda yang direkrut Zhou Ming untuk misi ini, tertangkap sebelum sempat melarikan diri.
Ketika kabar itu sampai kepada Zhou Chen dan Zhou Ming keesokan harinya, suasana pertemuan mereka jauh lebih tegang dibandingkan sebelumnya.
"Kita kehilangan satu orang," kata Zhou Ming, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang terlihat sebelumnya. "Dan penyamaran kita sudah terbongkar. Zhou Han sekarang tahu pasti bahwa dia sedang diawasi—dan kemungkinan besar, dia mulai mencurigai keterlibatan kita secara langsung."
Zhou Chen menatap laporan itu dengan perasaan berat, menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak ia mulai membangun kekuatannya, sebuah rencana benar-benar gagal—dengan konsekuensi nyata yang harus mereka hadapi.
Ini bukan permainan tanpa risiko, pikirnya, rahangnya mengeras menahan campuran rasa bersalah dan tekad yang semakin kuat. Dan sekarang, nyawa seseorang yang mempercayai rencana kita berada dalam bahaya karena kesalahan kita sendiri.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk orang yang tertangkap itu?" tanyanya, suaranya tegas meski hatinya dipenuhi kekhawatiran.
Zhou Ming menghela napas panjang. "Aku akan mencoba mencari cara. Tapi Kakak Keempat, kau harus bersiap—kemungkinan besar, keadaan akan menjadi jauh lebih berbahaya sejak sekarang."
Bersambung ke Bab 21 — Harga Sebuah Kesalahan