NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Baru Di Lorong Sekolah

Perjalanan singkat dengan mobil Alaric berakhir di depan gerbang utama Raxenswood Academy yang megah. Begitu kendaraan berhenti, Claire langsung turun dengan anggun, menyapa beberapa murid populer yang lewat dengan senyum manis tanpa menoleh sedikit pun pada Clyrine. Seolah-olah mereka tidak datang dari mobil yang sama.

Clyrine turun menyusul dengan langkah santai. Tanpa membuang waktu, ia langsung berpisah arah dengan saudara tirinya, berjalan menuju sayap barat gedung sekolah tempat kelasnya berada.

Suasana pagi yang tadinya tampak biasa saja mendadak berubah saat Clyrine mendekati area loker kelasnya. Sekelompok siswi berkerumun di depan papan pengumuman, saling berbisik sambil sesekali melirik ke arah loker milik Clyrine yang terbuka lebar.

Clyrine mengerutkan kening. Ia mempercepat langkahnya.

Begitu tiba di depan lokernya, napas Clyrine tertahan. Seluruh isi lokernya telah berantakan; buku-buku pelajarannya berserakan di lantai dengan sampul yang sudah robek-robek. Lebih parah lagi, di pintu besi bagian dalam lokernya tertulis coretan cat semprot merah berukuran besar dengan kata-kata kasar: “SI PEMBUAT ONAR TENGIK, PERGI DARI SINI!”

Bisik-bisik dari kerumunan di sekitar koridor makin terdengar jelas.

"Eh, itu si Clyrine..." "Makanya, jangan sok jagoan kemarin-kemarin. Pasti ada yang kesel banget sama dia." "Katanya sih ulah geng sebelah..."

Clyrine mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang langsung membuncah di dadanya. Ia tahu betul, gaya pengerusakan murahan seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh orang sembarangan. Ini pasti ulah seseorang yang ingin menjatuhkan mentalnya di awal minggu.

Sebelum ia sempat melampiaskan emosinya pada barang-barang yang berserakan, sebuah suara lembut bernada mengejek terdengar dari belakang kerumunan.

"Ya ampun, Clyrine... ada apa sama loker kamu?"

Claire melangkah mendekat dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat begitu natural. Di belakangnya, Genevieve dan Victoria berdiri sambil menutup mulut dengan tangan, menyembunyikan senyum sinis penuh kemenangan.

Clyrine menoleh perlahan. Tatapan mata oranye-tembaganya menajam, menghujam tepat ke manik mata Claire.

Kerumunan di koridor mendadak menegang. Para murid yang berdiri di sekitar loker bergeser mundur beberapa langkah, bersiap menyaksikan ledakan amarah yang biasa ditunjukkan Clyrine setiap kali ia tersudut. Semua orang tahu reputasinya—Clyrine Elamora Rexander adalah gadis pembuat onar yang tidak akan berpikir dua kali untuk melayangkan tinjunya pada siapapun yang mencari gara-gara.

Claire berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca palsu, sengaja memasang ekspresi prihatin yang amat menyebalkan.

"Clyrine... siapa yang tega berbuat begini ke kamu?" bisik Claire lembut, suaranya terdengar begitu peduli di telinga orang-orang yang menonton. "Kalau kamu butuh bantuan buat bersih-bersih, bilang aja ya. Jangan sedih gitu..."

Genevieve dan Victoria di belakang Claire saling bertukar pandang, menahan tawa kemenangan yang hampir lolos dari bibir mereka. Mereka sangat yakin, dalam hitungan detik, Clyrine akan lepas kendali, menerjang Claire, dan kembali mendulang surat peringatan dari sekolah.

Namun, hal di luar perkiraan justru terjadi.

Clyrine tidak berteriak. Ia tidak mencengkeram kerah baju Claire, tidak pula menendang loker seperti biasa.

Ingatan tentang kalimat tegas Damien di parkiran beberapa hari lalu mendadak berkelebat di kepalanya: “Setiap kali lo pakai tinju, lo ngasih dia panggung gratis buat jadi korban dan bikin lo kelihatan kayak monster...”

Clyrine menarik napas panjang. Ia justru menegakkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada, lalu menyunggingkan senyum miring yang sangat tenang—bahkan terkesan meremehkan.

"Sedih?" gumam Clyrine pelan, memecah keheningan koridor. Suaranya terdengar dingin dan terkontrol sempurna. "Kenapa gue harus sedih cuma karena coretan cat semprot murahan kayak gini?"

Claire mengerjap kaget, sedikit terusik karena reaksinya sama sekali di luar skrip. "T-tapi Clyrine... buku-buku kamu rusak semua..."

"Buku bisa dibeli lagi, Claire. Lagian..." Clyrine melangkah pelan mendekati saudara tirinya, membuat Claire secara tidak sadar menarik satu langkah kecil ke belakang. "...cara-cara kekanak-kanakan kayak merusak loker orang lain waktu pemiliknya nggak ada, itu cerminan paling pas buat seseorang yang pengecut."

Mata Claire membelalak. "Kamu nuduh aku?!"

"Gue nggak sebut nama lho, Claire. Kenapa lo jadi kepanasan sendiri?" potong Clyrine cepat dengan nada santai, menatap lurus ke dalam mata saudaranya. "Kecuali kalau emang lo pelakunya di balik layar."

Bisik-bisik mulai terdengar dari kerumunan murid. Beberapa dari mereka mulai melirik curiga ke arah Claire, Genevieve, dan Victoria, menyadari betapa tenangnya Clyrine menghadapi situasi tersebut—sesuatu yang sama sekali tidak biasa.

Wajah Claire memerah, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang tertahan. Seluruh rencana provokasinya hancur berkeping-keping hanya karena Clyrine menolak untuk terpancing emosi.

"Terserah kamu kalau nggak mau percaya!" seru Claire dengan suara bergetar drama, lalu berbalik cepat meninggalkan koridor dengan langkah menghentak kesal, diikuti Genevieve dan Victoria yang buru-buru mengekor.

Clyrine memandang punggung mereka yang menjauh dengan senyum tipis penuh kemenangan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berhasil mengalahkan Claire bukan dengan otot dan air mata, melainkan dengan kepala dingin.

Makasih, Kak Damien, batin Clyrine sambil berjongkok untuk memunguti buku-bukunya yang berserakan. Pelajaran lo bener-bener berguna.

Setelah bayangan Claire dan antek-anteknya menghilang di tikungan koridor, Zerin dan Rebecca langsung berlari menghampiri Clyrine yang masih berjongkok memunguti buku-bukunya yang berserakan.

"Cly! Ya ampun, lo nggak apa-apa?" seru Rebecca panik, ikut berjongkok dan membantu merapikan buku-buku bersampul robek itu. "Gila ya, siapa sih yang berani banget ngotorin loker lo kayak gini? Jelas banget ini ulah si Claire sama gengnya!"

Zerin ikut mengangguk geram. "Iya, parah banget! Tapi, Cly... sumpah ya, tadi cara lo ngadepin dia itu keren banget! Gue kira lo bakal langsung mukul si Genevieve atau jambak rambut Claire kayak biasa. Kok bisa lo selow banget tadi?"

Clyrine berdiri sambil merapikan tumpukan bukunya di atas pelukan, lalu tersenyum tipis mendengar kekaguman kedua sahabatnya.

"Gue capek buang-buang tenaga buat orang nggak penting," jawab Clyrine santai, meski sisa-sisa emosi masih bergemuruh tipis di dadanya. "Kalau gue ngamuk, berarti gue masuk ke perangkap dia lagi. Biarin aja dia gigit jari sendiri karena rencana busuknya gagal total."

Rebecca dan Zerin saling berpandangan, lalu tertawa kecil penuh kelegaan.

"Wah, fix... lo ketularan energi positif dari cowok misterius yang nolongin lo kemarin ya?" goda Zerin dengan alis naik-turun menggoda. "Siapa namanya... Damien, kan? Baru sehari kenal, lo udah berubah jadi perempuan anggun yang mematikan."

Pipi Clyrine mendadak merona hangat mendengar nama Damien disebut. Cepat-cepat ia membuang muka, menepuk pelan lengan Rebecca agar menghentikan ledekan itu. "Apaan sih! Udah, ayo masuk kelas. Keburu bel masuk bunyi."

Meski ia berusaha menutupi rasa salah tingkahnya, bayangan wajah tegas dan tatapan tajam Damien tetap berputar di kepalanya sepanjang pelajaran pagi itu. Clyrine tahu, perubahan kecil yang terjadi pada dirinya hari ini adalah awal dari kendali baru atas hidupnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!