" PLAAKK " Ester memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan dari seseorang yang ia sebut sebagai ibunya. " Anak tidak tahu diri, kau mirip dengan ibumu, wanita murahan " . " Setidaknya ibuku mendapatkan kasih sayang dari ayahku " Ucap Aster. . " Berani kau mengeluarkan suara lagi aku tidak segan-segan mengambil semua jatah bulananmu " Teriak Maria keras. Tetapi Ester tak perduli dengan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu. . Ester Castello putri dari Amir Castello dengan istri keduanya, ibu Ester awalnya selingkuhan dari ayahnya karena sedang hamil terpaksa harus menikah dan menjadi istri kedua ayahnya. Tentu hidupnya benar-benar seperti dalam neraka setelah kematian ibunya, karena sudah tidak ada lagi yang melindunginya dari kekejaman istri pertama ayahnya. Takdir mempertemukan dirinya dengan seorang pewaris dari keluarga Moretti, hingga membuat dirinya bisa melihat dunia yang selama ini belum pernah ia lihat sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mylavender, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Ester terdiam di sebuah sofa sambil melihat ke arah para model yang sedang melakukan peragaan busana di sebuah acara mewah yang dilakukan selama 3 hari berturut-turut.
" Mereka terlihat sangat elegan Ester " ucap Ansel sambil menatap para model yang sedang berjalan menunjukkan pakaian yang mereka pakai.
" Tentu.., sayang sekali bahwa aku tidak bisa ikut serta dalam acara tersebut " Ester mendengus.
Ansel berdiri dan merapikan pakaiannya.
" aku akan ke backstage, itu karena siapa suruh kamu terlalu populer dan terlalu mahal " goda Ansel pada Ester.
" Sana cepat kamu akan terlambat jika lama-lama berada di sini menemaniku " usir Ester.
" Aku akan pergi kamu harus melihat penampilanku"
" Oke nanti aku akan menilaimu dari sini senyum Ester "
Ansel menuju ke arah belakang panggung sedangkan Ester tetap menikmati acara tersebut dengan minuman yang disediakan dengan santai.
" Hai Ester bagaimana acara yang sedang berjalan? " Devano datang dan duduk disamping Ester.
" Sejauh ini tetaplah terbaik, kamu memang tidak bisa diragukan Devano " senyum Ester memuji Devano.
" hahaha memang di sini aja aku lah pemilik agency model terbaik " senyum Devano membanggakan dirinya sendiri.
Ester hanya tersenyum melihat tingkah Devano. Mereka memperhatikan beberapa model yang keluar untuk memperagakan busana tersebut.
" aku dengar kemarin kamu makan bersama dengan Mr Moretti "
" Iya sayang sekali ada sedikit perbedaan pendapat di antara kami "
" Perbedaan pendapat bagaimana maksudmu? "
" Misalnya kita ada pertengkaran kecil di antara kami mengenai hal yang tidak penting "
" Astaga Ester kenapa kamu melakukan hal itu? kenapa kamu tidak mengalah saja ? Apa karena kamu terpancing dengan emosi, kamu tahu sendiri juga jika Mr Tommy adalah orang yang tidak pernah bisa disinggung "
" Emangnya kenapa jika begitu? dia sendiri yang membuat masalah menjadi besar dan ada pertengkaran setelah itu"
" Aku tahu tapi aku takut jika akan buruk kebelakangnya.... Astaga kenapa kamu melakukan hal itu, pasti dia penilaiannya akan buruk tentang karakter para modelku, "
" Aku tidak peduli Devano,"
" Tapi aku peduli Ester, aku ingin sekali bekerja sama terus menerus dengan perusahaan itu, perusahaan itu adalah perusahaan ternama.., jika mereka memakai agensi model dari agensi milikku maka nama besarku akan semakin melambung tinggi kamu tahu tandanya agensiku berhasil menaiki level." jelas Devano.
" Hehehe tenanglah pasti dia hanya tidak menyukaiku bukan berarti dia tidak mau bekerja sama denganmu, "
" Sama saja Ester, awas aja jika dia sampai membatalkan atau tidak menyukai agensi ku berarti itu semua karenamu, "
Ester hanya terkekeh mendengar ucapan Devano.
Tak lama seorang pria datang memasuki gedung tersebut, tatapannya menyeluruh seperti mencari keberadaan seseorang hingga bola matanya menangkap sosok wanita yang ia cari, ia berjalan dengan membawa rangkaian bunga di tangannya.
" Hai Ester" sapa David menatap Ester.
Devano kaget saat kedatangan David.
Ester berdiri menyambut Devano dan berpelukan sejenak.
" Sudah lama kita tidak pernah bertemu." Antusias Devano.
" Aku sibuk akhir-akhir ini "
" Disela kesibukanmu, kamu masih sempat menemui Ester.., bahkan sampai datang ke sini " geleng Devano menepuk pundak David.
" Seperti tidak paham saja " tawa David.
" Bagaimana keadaanmu? " tanya David pada Devano.
" Aku baik-baik saja, datang ke sini tentu saja ingin bertemu dengan seseorang yang spesial untukmu kan? kalau bukan bidadarimu yaitu Ester siapa lagi " goda Devano.
" Benar sekali... " tawa David.
" Duduklah yang dekat dengan Ester, " Devano bergeser.
" Devano " cicit Ester, Devano hanya tersenyum.
David mengangguk dan duduk di samping Ester.
" Ansel akan tampil sebentar lagi "
" Oh ya ? ".
" Dia bilang bahwa penampilannya akan sangat cantik hari ini "
David tersenyum dan terkait hal itu.
" Ester kapan kamu akan kembali ke London? " Ester diam lalu menetap ke arah David.
" Mungkin setelah semua pekerjaanku selesai David, "
" Jangan lama-lama disini, entahlah aku akan semakin rindu padamu, " lirih David.
" Aku juga tidak bisa berlama-lama di sini karena ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan " tambah David.
" Begitukah ? tidak perlu kamu menunggu sampai aku selesai, kamu bisa pulang dulu " ucap Ester.
" Tetapi aku hanya ingin bersamamu Ester, rasanya berbeda ada yang hilang jika kamu pergi dari sisiku "
" Kau selalu memang paling bisa untuk merayu David "
Mereka berbincang dengan hangat, tanpa mereka sadari seorang pria bertubuh tinggi dan tegap sedang menyamar menatap ke arah mereka, pria itu memakai topi dan kacamata hitam serta pakaiannya serba hitam. Ia duduk tampak menyendiri dan menatap ke arah Ester yang sedang asyik berbicara, tatapan pria itu seperti sedang memantau dengan intens.
Dia adalah Tommy Moretti.
" Dia hanya pengusaha sukses biasa Bos, sukses karena warisan orang tuanya, jauh di bawah Bos yang membuat perusahaan keluarga semakin meluas"
" Ckkkk... " Decak Tommy saat mendengar apa yang diucapkan Peter.
Tommy melirik ke arah Peter yang duduk disampingnya.
" Kenapa kau duduk di sini bodoh ?? " omel Tommy.
" Saya sedang mengawal Bos, " ucap Peter santai.
" Percuma aku menyamar jika kau berada di sampingku. Semua orang pasti tahu jika itu aku.. Menyingkir " Usir Tommy pada Peter.
Peter hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu memberi jarak tempat duduk pada Tommy.
Tommy tetap memandang Ester dari jauh, ia melihat bagaimana wanita itu mengobrol dengan pria di sampingnya, mereka terlihat begitu ramah dan begitu dekat. Entah kenapa Tommy tidak suka melihat pemandangan hal itu, ia mengibaskan jaketnya karena merasa gerah secara mendadak.
" Ada yang bisa dibantu Bos ? " tanya Peter saat melihat Tuannya gelisah.
Tommy langsung menoleh dan melotot dengan tajam, Peter hanya diam dan menggaruk kepadanya lagi karena ia merasa dirinya sedang serba salah saat ini.
Tommy memperhatikan bagaimana tangan pria itu mengelus pucuk kepala Ester, ia begitu tidak suka melihat hal itu, Tommy lalu berdiri berjalan dengan cepat menuju kursi yang berada di belakang mereka, Peter berjalan mengikuit bosnya.
Saat berada di belakang tubuh Ester, Tommy diam dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Ester menegang saat ia mencium aroma parfum yang ia kenal, lalu ia menoleh ke samping dan ke belakang.
Ia terdiam menatap ke arah pria berkacamata hitam dan bertopi. Lalu pandangannya jatuh pada Peter di belakang pria itu.
Peter tersenyum masam saat melihat Ester, Tommy membuang muka seperti tak mau ketahuan.
Ester berbalik menatap ke arah panggung lagi, ia tersenyum licik karena melihat bagaimana seorang Tommy menjadi penguntit saat ini, sungguh Ester merasa puas dengan apa yang dilakukan pria itu.
" Davviidd " Ucap Ester manja di buat-buat lalu meletakkan kepalanya di pundak David dengan nyaman.
David yang sedang minum langsung terbatuk saat melihat hal itu,
" Khukk Khukk "
" Pelan-pelan sayang " ucap Ester semakin membuat David sumringah.