NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 13 : Sebuah Peta

Selesai ngisi perut masing-masing, kelimanya istirahat dan mencoba memejamkan mata untuk tidur.

Di dalam lubang akar itu suasananya pengap, lembab, tapi setidaknya lebih hangat daripada di luar. Cahaya dari jamur-jamur biru yang menempel di dinding akar berkelip pelan seperti lampu tidur yang mau mati. Bau tanah basah bercampur bau lumut.

Elina sudah tertidur pulas di pangkuan Maira setelah roti coklat dari Maira. Napasnya masih sesekali sesak, tapi wajahnya tidak sepucat tadi. Darah di kakinya sudah berhenti, tapi perbannya sudah kecoklatan dan bau anyir darahnya masih menyengat di ruangan sempit itu. Bau anyir itu... bau asing.

Maira bersandar di dinding akar sambil memeluk Elina, matanya setengah terpejam tapi tangannya masih mengusap rambut Elina pelan. Gilang yang dari tadi menahan pipis akhirnya nyerah dan tertidur dengan posisi meringkuk, ngoroknya pelan tapi teratur. Bima duduk di dekat pintu masuk lubang, punggungnya bersandar, matanya terpejam tapi telinganya tidak pernah berhenti mendengarkan suara dari luar. Suara hutan di malam hari, suara angin yang menggerakkan akar-akar di atas mereka.

Hanya Arga yang tidak bisa tidur sama sekali.

Entah kenapa punggungnya tidak nyaman dari tadi. Saat Arga mencari posisi nyaman untuk tidur, punggungnya mengganjal sesuatu. Ia geser ke kiri, masih mengganjal. Geser ke kanan, masih ada. Keras. Bukan akar yang empuk berlumut, tapi sesuatu yang kaku dan kering.

Ia menggerutu pelan, lalu merogoh ke sela akar yang rapat di belakang punggungnya. Tangannya meraba sesuatu yang kasar. Ia tarik pelan, susah, karena terjepit oleh lilitan akar yang sudah tumbuh bertahun-tahun.

Srek... srek...

Arga tak sengaja nemuin sebuah gulungan terselip diantara akar yang rapat. Bukan akar, tapi gulungan kulit kayu yang sudah sangat kering, warnanya coklat kehitaman, diikat dengan serat akar yang hampir putus.

Jantung Arga berdegup sedikit kencang. Penasaran.

Lalu Arga ambil gulungan itu dan saat dibuka terpampang peta sederhana. Ia buka pelan-pelan di bawah cahaya jamur biru, takut kulitnya robek. Peta itu hanya garis berupa rute, gambar sederhana dan 1 keterangan tiap gambar dan 1 tanda X diakhir rute. Tulisannya bukan pakai tinta, tapi seperti digores pakai arang dan getah, sudah agak pudar.

Bima yang tak bisa tidur menegur Arga yang tampak kebingungan.

Bima dari tadi matanya terpejam tapi ia melihat dari celah matanya Arga bergerak-gerak gelisah sambil memegang sesuatu yang bercahaya samar kena jamur biru. Ia langsung bergeser mendekat, tanpa suara, hanya merangkak pelan.

"Apaan tuh, Ga?" bisik Bima, suaranya hampir tidak terdengar, hanya gerakan bibir.

Arga menoleh, lalu menyodorkan peta kulit kayu itu ke Bima. Mereka berdua menunduk bersama, membaca di bawah cahaya biru.

Gambar pertama: Sketsa lubang akar yang mirip sekali dengan tempat mereka bersembunyi sekarang. Lubang kecil dengan akar-akar melingkar. Keterangannya: "Lubang aman sementara. Bhayavedin tidak bisa masuk. Tapi ingat: Dia buta, tapi peka suara, peka takut, peka bau asing. Jangan bersuara. Jangan takut. Tutup baumu."

Bima mengerutkan dahi. "Bhayavedin? Jadi nama monsternya Bhayavedin?"

Arga mengangguk, melanjutkan baca gambar kedua.

Gambar kedua. Gambar sungai yang airnya digambar hitam pekat, bukan biru. Di pinggir sungai digambar banyak bunga-bunga aneh yang menunduk. Keterangannya: "Sungai Pelupa. Satu-satunya tempat aman. Air hitamnya akan menghapus bau asing di tubuhmu dan menenangkan degup takutmu. Rendam dirimu. Bhayavedin akan kehilangan jejakmu. Tapi jangan lama-lama, airnya sangat dingin."

Gambar ketiga: Pohon raksasa dengan satu mata besar di batangnya, mata itu melotot. Sekeliling pohon itu digambar banyak jejak kaki raksasa. Keterangannya membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"Bhayavedin. Dia buta. Matanya bukan untuk melihat. Matanya adalah sarang. Dia mendengarkan setiap suara sekecil apapun. Dia merasakan getar rasa takutmu di dada. Dia mencium bau asing seperti bau darah, keringat manusia, makanan manusia. Kalau kau menatap mata sarangnya, rasa takutmu akan tersedot dan dia akan tahu kau di mana."

Bima langsung merinding dan tanpa sadar menahan napas. Ia teringat tadi sore, saat mereka pertama kali dikejar, mereka berteriak-teriak panik. Pantas saja monster itu datang begitu cepat.

"Dia buta..." gumam Bima pelan, "dia nggak lihat kita lari tadi. Dia denger teriakan kita,dia ngerasa kita takut dan dia nyium bau kita."

Arga menunjuk bungkus plastik roti coklat yang tergeletak di pojok, sisa roti yang dimakan Elina. Plastiknya masih terbuka, aroma coklat manisnya masih keluar samar, bercampur bau darah Elina. Di hutan yang hanya bau tanah dan kayu lapuk, bau itu sangat asing.

"Roti ini... darah Elina... ini semua bau asing buat Bhayavedin." bisik Arga.

Gambar keempat: Gunung tinggi dengan lubang cahaya di puncaknya, cahaya itu digambar seperti matahari kecil. Keterangannya: "Pintu Keluar. Ikuti cahaya di atas gunung."

Dan di akhir rute, tanda X besar yang dilingkari, dengan keterangan terakhir yang ditulis dengan goresan paling dalam, seperti orang yang menulis sambil gemetaran: "Pulang. Kalau masih bisa."

Kemudian Bima membangunkan Maira dan Gilang kecuali Elina.

Bima menepuk bahu Maira pelan sekali, lalu menempelkan jari di bibirnya, isyarat jangan bersuara. Maira membuka mata, bingung, tapi Bima langsung menyodorkan peta itu. Maira membaca, matanya membelalak.

Lalu Bima membangunkan Gilang dengan cara yang sama, menepuk pelan lututnya. Gilang terbangun dengan kaget, hampir mau berteriak "ada apa?!" tapi Bima langsung membekap mulutnya pelan.

Ssshhh...

Ke-4 remaja itu mengamati peta tersebut bersama-sama, merapat di bawah cahaya jamur biru. Tidak ada yang berani bersuara keras. Mereka sekarang paham aturan mainnya. Bhayavedin buta. Kuncinya adalah diam, jangan takut, dan hilangkan bau.

Maira langsung melipat sisa bungkus plastik roti dan memasukkannya dalam-dalam ke dalam tas, mencoba menutup baunya. Bima menarik Elina yang tertidur sedikit lebih ke dalam agar bau darahnya tidak keluar lewat celah.

Mereka mulai sedikit tenang, merasa punya harapan karena punya peta dan tahu kelemahan Bhayavedin.

Namun sesuatu terjadi menit berikutnya. Tanah diatas mereka bergetar.

Awalnya hanya getaran pelan,

Dug... dug... seperti langkah kaki jauh. Jamur-jamur biru yang menempel di dinding berkedip tidak teratur, cahayanya naik turun.

Gilang yang masih setengah ngantuk dan grogi setelah baca keterangan Bhayavedin itu, kakinya kesemutan karena posisi meringkuk tadi. Ia mencoba meluruskan kakinya pelan-pelan di ruangan sempit itu.

Tapi lantai lubang akar itu penuh dengan jamur-jamur biru kecil yang rapuh.

PLAK!!

Kakinya menginjak satu jamur yang cukup besar. Jamur itu pecah, cairannya muncrat, dan suaranya... nyaring. Memantul di dalam ruangan akar yang bergema.

Suara itu... untuk hutan yang super sepi... terdengar seperti petasan.

Suara. Aturan pertama dilanggar.

Gilang langsung panik. Mukanya pucat pasi. Jantungnya yang tadi pelan langsung berdegup kencang tak terkendali,

DEG... DEG... DEG... saking kencangnya sampai Bima yang di sebelahnya bisa merasakan getarannya.

Rasa takut Gilang meledak. Ia membayangkan Bhayavedin yang buta dengan telinga lebarnya mendengar suara jamur pecah itu, lalu merasakan rasa takutnya.

Rasa takut. Aturan kedua dilanggar.

Dan dari jamur yang pecah itu, keluar bau spora yang aneh bercampur dengan bau keringat dingin Gilang yang tiba-tiba mengucur deras, plus bau roti coklat dan bau darah Elina yang tadi tidak tertutup sempurna.

Semua bau asing itu bercampur dan keluar melalui celah akar di pintu masuk, terbawa angin malam.

Bau asing. Aturan ketiga dilanggar.

Tiga pemicu sekaligus dalam satu detik.

Tanah diatas mereka bergetar keras sekarang. Bukan pelan lagi.

DUK... DUK... DUK... Langkah kaki raksasa mendekat cepat.

Debu dan tanah berjatuhan dari atap akar. Cahaya dari luar yang tadinya masuk lewat celah pintu, tiba-tiba tertutup total.

Sesuatu yang sangat besar berdiri tepat di depan pintu masuk lubang mereka.

Tidak ada geraman. Tidak ada suara. Bhayavedin yang buta itu hanya berdiri diam di depan pintu, kepalanya yang tanpa mata menunduk. Dari celah akar, mereka bisa melihat kulitnya yang seperti kulit kayu lapuk, telinganya yang lebar dan sobek-sobek bergerak-gerak ke kiri dan kanan, menangkap suara napas mereka yang tertahan.

Hidungnya yang tidak berbentuk, hanya dua lubang besar di tengah wajahnya yang rata, mengendus-endus keras. _Srrrk... srrrk..._ Mencium bau asing, bau roti, bau darah, bau takut.

Dia tidak melihat mereka. Tapi dia mendengar. Dia merasakan. Dia mencium.

Dan dia tahu persis, mangsanya ada di dalam lubang itu.

Bima menatap ketiga temannya, wajahnya pucat, keringat dinginnya sendiri mulai keluar. Ia berbisik dengan bibir bergetar, berusaha sekuat tenaga menahan rasa takutnya agar tidak terdeteksi juga,

"Bhayavedin... dia di depan... dia denger kita..."

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!