"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Saat aku melangkahkan kaki menembus pintu kaca ruang IGD, suasana sibuk langsung menyambutku. Aroma antiseptik bercampur dengan bau darah yang samar. Suara sirene, langkah kaki, dan roda brankar yang bergerak cepat terdengar bersahutan. Pasca-kecelakaan beruntun itu, para petugas medis terlihat sibuk menangani pasien. Beberapa orang sedang mendapat perawatan, sementara yang lain duduk atau terbaring lemah di bangku yang tersedia.
Namun, semua kesibukan itu terasa seperti suara latar yang samar. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal. Pandanganku bergerak menyusuri ruangan, mencari sosok Dinda di antara pasien, keluarga korban, dan para petugas medis yang berlalu-lalang.
"Ke mana dia?" gumamku lirih. Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirku yang mendadak kering, disusul pacuan jantung yang makin menghantam dada.
"Awas, minggir!"
Pekikan tegas itu membuat tubuhku refleks bergeming sebelum aku memutar tubuh. Seorang perawat melintas cepat membawa baki logam berisi instrumen bedah. Penglihatanku terkunci pada wajahnya. Garis-garis tegas di dahinya, helai rambut yang berantakan tertutup kap medis... Aku mengenalnya. Siska, sahabat Dinda.
"Siska, kamu..."
"Tolong minggir dulu! Pasien lebih penting," potongnya tajam tanpa menghentikan langkah sedikit pun.
Aku menahan gejolak di dada dan melangkah mundur hingga punggungku menempel pada dinding lorong yang dingin, membiarkannya lewat. Pandanganku kembali menyapu ruangan, memperhatikan satu per satu wajah asing di sana. Entah sudah berapa lama aku mematung, tetapi rasanya detik demi detik merambat begitu lambat. Di tengah kepungan manusia yang sibuk berpacu dengan waktu, aku merasa remuk dan tak berguna karena hanya bisa berdiri mengepalkan tangan, mencemaskan satu nama.
Aku memilih menunggu. Hingga akhirnya, suasana kacau di ruang IGD mulai mereda. Siska yang sebelumnya terlihat sibuk menyapu keringat di pelipis kini menyandarkan pinggul di meja perawat, menarik napas panjang.
Tanpa membuang waktu, aku memangkas jarak di antara kami. "Kamu Siska, kan? Di mana Dinda?" tanyaku tanpa basa-basi.
Siska menghentikan gerak tangannya yang sedang merapikan lembaran rekam medis. Matanya menyipit, memindai penampilanku dari ujung rambut hingga sepatu dengan pandangan menilai yang sarat cemooh. Bukannya menjawab, dia malah bertanya dengan nada sinis yang menyentil harga diriku.
"Baru sekarang sibuk nyariin Dinda?"
Alisku bertaut, dahi melipat menahan jengkel. "Maksud kamu?"
Siska justru menegakkan punggung, menantang tatapanku tanpa berkedip. "Memangnya selama ini kamu pernah benar-benar peduli dia ada di mana?"
Aku tidak langsung menjawab. Rahangku mengatup rapat hingga otot-otot di pipiku menegang. Tatapanku mengunci matanya sebelum akhirnya aku berkata dengan suara rendah penuh penekanan, "Aku tanya, di mana Dinda."
Bukannya terintimidasi, tawa sumbang justru lolos dari tenggorokan Siska, sebuah tawa remeh yang memancing emosiku. "Setelah Dinda menyerah dan pergi, baru kamu datang berakting jadi suami cemas di sini. Hebat juga."
Aku menarik napas panjang dan berat melalui hidung, berusaha keras menahan diri. Aku tidak datang ke rumah sakit untuk meladeni sindiran tajamnya. "Dia ada di sini atau tidak?"
Pertanyaan itu membuat Siska terdiam beberapa saat. Sorot matanya mendingin, lalu dia menjawab dengan nada enteng yang terkesan tak peduli, "Dinda nggak ada di sini."
Mataku membelalak pelan, menatapnya intens. "Sejak kapan?"
"Dia sudah nggak masuk sejak dua hari lalu."
Jawaban itu membuat kepalaku terasa penuh. Pikiranku langsung berputar hebat. Dua hari. Kata-kata itu menegaskan bahwa Dinda sudah menghilang dari tempat ini.
"Kalau begitu, dia di mana?" tanyaku, kali ini ada getar panik yang merayap di tenggorokan.
Siska menggelengkan kepala perlahan, menatapku dingin. "Aku nggak tahu."
Aku menatapnya lekat-lekat, mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Kamu sahabatnya."
"Terus? Apa semua napas dan langkah yang diambil Dinda harus dia ceritakan ke aku?" balasnya ketus, melipat tangan di dada. "Lagi pula, kalau kamu benar-benar ingin tahu dia di mana, bukankah seharusnya kamu pakai jemarimu untuk bertanya langsung padanya?"
Aku terbungkam seketika. Lidahku mendadak kelu. Perkataan itu memang menampar realita, hanya saja ada gengsi dan rasa malu yang mencekik dada, membuatku terlalu kaku sekadar untuk meneleponnya. Aku hanya ingin memastikan dengan mataku sendiri bahwa dia masih berada dalam jangkauanku.
Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas untuk menekan ego. "Siska, aku serius. Aku harus tahu dia di mana."
Kali ini Siska memperhatikanku lebih lama. Iris matanya menelisik nada desakan yang tak biasa dari suaraku. Namun, sebelum mulutnya sempat terbuka untuk menjawab, seorang petugas medis mendadak memanggil namanya dari balik pintu ruang tindakan.
"Dokter Siska!"
"Iya!" sahutnya menoleh sebentar, lalu kembali memutar tubuh menghadapku. Sorot matanya kini dipenuhi penegasan yang tajam. "Aku memang tahu di mana Dinda. Tapi sampai kapan pun aku nggak akan sudi memberitahumu. Jadi, tolong, Pak Danu yang terhormat... sekarang jangan pernah ganggu Dinda lagi."
Setelah melemparkan kalimat yang menghantam dadaku itu, Siska memutar tumit, memfokuskan diri kembali pada pasien dan mengabaikanku sepenuhnya. Aku berdiri mematung di tengah lorong, tertunduk dalam kekalahan. Rasanya semua hal dalam hidupku mendadak lepas dari kendali.
Aku mengangkat pergelangan tangan, melirik jam yang berdetak, lalu mengalihkan pandangan ke balik pintu kaca IGD.
Rupanya langit di luar sudah mulai memancarkan cahaya keemasan. Pagi telah menyapa, dan sepanjang malam ini aku terjaga hanya karena satu nama, Dinda. Dengan jemari yang kaku, aku merogoh saku celana dan menarik ponsel yang sengaja kubisukan sejak kemarin.
Saat layarnya menyala, kilatan cahaya menyambutku dengan rentetan panggilan tak terjawab dari Belinda, disusul puluhan pesan yang membanjiri layar. Aku menatap nama itu dengan pandangan kosong. Saat itulah sebuah kenyataan pahit menyengat kesadaranku, wanita yang selama ini kuanggap paling berharga dan selalu kuutamakan bisa dengan mudahnya terlupakan hanya karena sosok Dinda menghilang dari sisiku.
"Kamu benar-benar sudah gila, Danu," ucapku sambil mengutuki diri sendiri.
Aku diam sejenak, menarik napas dalam, lalu berniat melangkah pergi dari rumah sakit itu. Namun, saat berada di area parkir, aku bertemu dengan manajer rumah sakit.
"Pak Danu, Anda di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya.
"Pak Riyo, tidak ada yang sakit. Aku hanya..." Aku terdiam sejenak untuk mencari alasan kenapa aku berada di sini. Namun, Pak Riyo sepertinya bisa menebak apa yang sedang kupikirkan.
"Pak Danu kangen sama Dokter Dinda, ya? Sabar, Pak. Memang lama waktunya."
"Maksudnya?"
"Iya, saya paham. Bapak pasti sedang rindu dengan Dokter Dinda sampai menginap di sini. Memang sepuluh tahun itu lama," ucapnya lagi.
Aku sungguh tidak sabar dengan penjelasannya yang berbelit-belit. Aku langsung bertanya, "Dinda, dia...?"
"Pasti Dokter Dinda baik-baik saja di Ujung Kulon. Saat pergi, dia begitu siap dan sehat."
"Apa Dinda ke Ujung Kulon?"
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...