Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH LIMA
Uang terakhir yang ditransfer Bayu memang cukup besar, namun setelah dipotong biaya kontrakan bulan ini dan kebutuhan pokok Raka, sisanya jauh dari cukup untuk menopang hidup Wulan sendiri. Dan kini, dengan Bayu benar-benar berhenti membalas pesan personalnya, harapan untuk mendapatkan tambahan dari jalur yang selama ini ia andalkan pun ikut kandas.
"Uang ini cuma cukup buat susu sama popok Raka doang. Aku sendiri gimana?" gumamnya, menghitung ulang sisa tabungan yang semakin menipis, sementara tidak ada satu pun pekerjaan tetap yang bisa ia andalkan mengingat ia harus mengurus Raka sepanjang hari tanpa bantuan siapa pun.
Kekecewaan itu perlahan berubah menjadi kemarahan yang terpendam. Dua tahun ia berkorban, menanggung status sebagai istri simpanan, menanggung rasa malu di depan tetangga, membesarkan Raka dalam ketidakpastian—dan semua itu kini berakhir dengan begitu saja, hanya karena Bayu memutuskan untuk kembali sepenuhnya pada Ayu.
*Nggak semudah itu, Bang,* batinnya, sebuah tekad mulai terbentuk dengan jelas dalam pikirannya. *Kamu nggak bisa seenaknya ninggalin aku setelah semua yang aku korbankan.*
---
Wulan mulai memikirkan berbagai cara untuk membuat Bayu kembali datang ke kontrakannya, meski hanya sekali lagi—cukup untuk memberinya kesempatan berbicara empat mata, jauh dari pengawasan Ayu, jauh dari kemungkinan diketahui pihak lain. Ia tahu, pendekatan lembut lewat pesan sudah tidak lagi mempan sejak Bayu bertekad memutus komunikasi personal.
Ia teringat pada Bu Marlina, tetangga satu kontrakan yang dulu pernah bercerita tentang cara-cara "melunakkan hati" suami yang mulai menjauh, cerita yang dulu hanya ia dengar sambil lalu tanpa pernah benar-benar ia pikirkan untuk digunakan. Namun kini, di tengah keputusasaan yang semakin menghimpit, cerita itu kembali terngiang, membuka celah pikiran yang, jika saja ia masih waras sepenuhnya, seharusnya ia tolak mentah-mentah sejak awal.
Malam itu, Wulan mengirim pesan pada Bayu, kali ini dengan nada yang berbeda dari biasanya—bukan lagi berisi foto atau cerita emosional tentang Raka, melainkan kalimat yang jauh lebih mendesak.
*Bang, aku beneran butuh ngomong langsung sama kamu. Bukan soal kita, tapi soal surat-surat penting yang kamu titipin di sini waktu itu. Aku takut ada yang salah taruh. Tolong dateng sekali ini aja, abis itu aku janji nggak akan ganggu-ganggu kamu lagi.*
Pesan itu, meski sebagian besar bohong, dirancang khusus untuk membangkitkan kekhawatiran Bayu soal dokumen penting yang memang pernah ia titipkan di kontrakan itu—salinan surat nikah siri dan beberapa dokumen lain yang, jika sampai jatuh ke tangan yang salah, bisa menjadi bukti konkret yang memperburuk situasinya dengan Ayu.
---
Bayu, yang memang teringat pernah menitipkan beberapa dokumen penting di kontrakan Wulan, merasa sedikit panik membaca pesan itu. Ia tahu, jika dokumen-dokumen itu sampai hilang atau, lebih buruk lagi, ditemukan oleh orang yang salah, bisa menambah masalah baru yang tidak ia inginkan di tengah usahanya memperbaiki rumah tangga bersama Ayu.
*Oke, aku dateng sebentar aja buat ambil dokumennya. Tapi cuma itu doang, Lan. Nggak ada obrolan lain,* balas Bayu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa kunjungan ini murni untuk urusan penting, bukan untuk kembali membuka komunikasi personal yang sudah ia putuskan untuk hentikan.
Wulan tersenyum tipis membaca balasan itu, sebuah senyum yang jauh dari ketulusan, melainkan lebih menyerupai kepuasan seorang pemburu yang berhasil memasang jebakan dengan sempurna. Ia segera mempersiapkan segalanya—membersihkan rumah agar terlihat rapi, menyiapkan secangkir kopi kesukaan Bayu, dan diam-diam mencampurkan sesuatu ke dalam minuman itu, sesuatu yang ia dapatkan dari apotek kecil dengan alasan "susah tidur", sebuah obat yang, dalam dosis tertentu, bisa membuat seseorang menjadi mengantuk berat dan kehilangan kewaspadaan penuh.
Tangannya sedikit gemetar saat mencampurkan cairan itu ke dalam cangkir kopi, sebuah keraguan kecil sempat muncul di benaknya—*apa aku udah kelewatan?*—namun keputusasaan yang sudah terlalu dalam mengakar membuatnya dengan cepat menepis keraguan itu, meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah satu-satunya cara agar Bayu mau mendengarkannya tanpa gangguan, tanpa alasan untuk buru-buru pulang seperti biasanya.
---
Sore harinya, Bayu benar-benar datang ke kontrakan itu, wajahnya tampak waspada dan terburu-buru, jauh dari kesan santai seperti kunjungan-kunjungannya dulu. "Mana dokumennya, Lan? Aku nggak bisa lama-lama."
"Sabar, Bang. Duduk dulu, aku ambilin. Sambil nunggu, minum kopi dulu, aku bikinin khusus," kata Wulan, tersenyum manis, menyodorkan cangkir kopi yang sudah tercampur dengan niat tersembunyi yang jauh dari sekadar keramahan seorang tuan rumah.
Bayu, yang tidak menaruh curiga sedikit pun, mengingat Wulan memang terbiasa menyuguhkan kopi setiap kali ia berkunjung sejak dulu, menerima cangkir itu dan menyesapnya beberapa kali sambil menunggu Wulan kembali dari kamar dengan dokumen yang dijanjikan.
Tidak lama setelah itu, Bayu mulai merasakan kepalanya sedikit pusing, matanya terasa berat, tubuhnya lemas tanpa sebab yang jelas. "Lan, aku kok... tiba-tiba ngantuk banget ya," katanya, suaranya mulai melemah, tidak menyadari bahwa kondisi itu bukan disebabkan oleh kelelahan biasa, melainkan oleh sesuatu yang sengaja dicampurkan ke dalam minumannya.
Wulan, yang sudah kembali dari kamar dengan map berisi dokumen asli yang memang pernah dititipkan Bayu, menatap suaminya yang mulai limbung itu dengan perasaan campur aduk—antara rasa bersalah yang samar dan tekad yang sudah terlanjur bulat untuk memastikan Bayu tidak bisa dengan mudah meninggalkan kontrakan itu malam ini, apa pun risikonya nanti ketika semuanya harus dipertanggungjawabkan.
---