NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Suara gemericik air shower dari balik pintu kamar mandi akhirnya berhenti, menyisakan keheningan yang tebal dan canggung di dalam kamar utama yang luas itu.

Aurelia yang masih meringkuk di balik selimut tebal mendengar suara pergerakan langkah kaki berat mendekat. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dengan gerakan sangat pelan, gadis itu mengintip dari balik selimut. Grayson keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang disampirkan di bahunya, sementara rambut hitamnya yang basah tampak sedikit berantakan menutupi dahi. Pemuda itu kini telah mengenakan celana piyama panjang berbahan katun lembut dan kaus longgar berwarna hitam polos.

Tidak ada sisa-sisa amarah atau ekspresi frustrasi yang terlihat di wajah Grayson. Pemuda itu tampak begitu tenang, seolah insiden penuh air mata dan ketegangan hebat beberapa menit lalu tidak pernah terjadi sama sekali. Ia berjalan santai menuju lemari pakaian besar di sudut kamar, mengambil ponselnya di atas nakas, lalu melangkah keluar kamar begitu saja tanpa melirik ke arah tempat tidur, membiarkan pintu tertutup rapat kembali.

Begitu derap langkah Grayson menghilang menuruni tangga, Aurelia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Bahunya yang tegang perlahan mengendur. Namun, kecanggungan dan rasa gelisah masih menguasai sekujur tubuhnya.

Ia melirik gaun putih pernikahannya yang robek dan tergeletak mengenaskan di lantai kamar. Pakaian itu tidak mungkin bisa dipakai lagi. Di dalam kamar asing ini, tidak ada satu pun pakaian wanita yang miliknya.

Dengan ragu-ragu dan rasa waswas yang masih merayap di dadanya, Aurelia memberanikan diri keluar dari balik selimut. Ia melangkah mendekati lemari pakaian besar milik Grayson yang tidak dikunci. Saat ia membukanya, deretan pakaian pria berukuran besar berjejer rapi di sana. Tanpa banyak pilihan, Aurelia mengambil sebuah kaus putih polos berukuran sangat longgar—milik Grayson—yang cukup panjang hingga menutupi paha atasnya, lalu mengenakannya untuk menggantikan pakaiannya yang rusak.

Aurelia merapikan letak kaus tersebut di tubuhnya, merasakan aroma parfum maskulin yang masih melekat kuat di kain tersebut—aroma yang mengingatkannya pada sosok pemuda pemilik rumah ini. Karena perutnya mulai terasa keroncongan akibat seharian belum makan dan energi terkuras habis karena ketakutan, Aurelia memutuskan untuk turun ke lantai bawah guna mencari dapur dan menyiapkan makan malam sederhana.

Ia melangkah pelan menuruni anak tangga kayu menuju lantai dasar vila yang tampak remang-remang karena hari sudah malam dan hujan di luar masih turun dengan derasnya, menderu menghantam atap dan kaca jendela besar.

Di lantai bawah, suasana tampak sunyi. Aurelia menelusuri koridor hingga menemukan area dapur terbuka yang modern dan bersih. Kulkas dua pintu berukuran besar berdiri di sana, berisi berbagai macam bahan makanan segar yang rupanya sudah disiapkan oleh orang kepercayaan Grayson sebelumnya.

Aurelia memutuskan untuk memasak sesuatu yang praktis: dua mangkuk sup hangat dengan mi dan potongan sayuran segar yang ia temukan di dalam kulkas. Gerakannya cekatan, berusaha mengalihkan pikirannya dari ketegangan yang baru saja terjadi.

Tanpa Aurelia sadari, di balik tembok pembatas ruang makan yang mengarah langsung ke dapur, sepasang bola mata amber terang sedang memperhatikannya dalam diam.

Grayson, yang sejak tadi duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan ponselnya, bangkit begitu mendengar suara aktivitas di dapur. Namun, langkahnya terhenti kaku begitu ia melihat sosok Aurelia berdiri di dekat kompor.

Pemandangan di hadapannya mendadak membuat tenggorokan Grayson terasa kering.

Aurelia berdiri membelakanginya, mengenakan kaus hitam miliknya yang berukuran sangat longgar. Kaus itu jatuh longgar di tubuh mungil sang gadis, memperlihatkan sepasang kaki jenjang yang putih bersih, mulus, tanpa cela, yang terekspos sempurna karena kaus tersebut hanya berhenti di pertengahan paha.

Seketika itu juga, ingatan bawah sadar Grayson menghantam kepalanya dengan keras. Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya langsung berputar kembali pada kejadian beberapa menit lalu di atas tempat tidur—bagaimana lekuk tubuh itu berada dalam kurungannya, bagaimana kulit halus tersebut merespons sentuhannya, dan ya, Grayson masih mengingat dengan sangat jelas bentuk serta kelembutan dada Aurelia yang sempat ia pegang dan ia hisap di ambang batas kesadarannya.

Sensasi panas yang membakar langsung menjalar dari dada hingga ke ujung jemarinya. Gairah yang tadinya ia redam dengan air dingin di kamar mandi mendadak kembali bergejolak hebat, menuntut untuk dilepaskan.

Napas Grayson berubah sedikit memburu. Tangannya yang memegang tepi dinding mencengkeram kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Menyadari reaksi tubuhnya yang mulai kehilangan kendali, Grayson segera memejamkan mata rapat-rapat. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debaran jantungnya yang menggila.

"Kendalikan dirimu, Grayson..." ucapnya berbisik tajam pada dirinya sendiri, mencoba membuang jauh-jauh pikiran kotor yang menyerang akal sehatnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memberi waktu pada gadis itu; ia tidak boleh merusak kepercayaan tipis yang baru saja mulai terbentuk dengan kembali menakut-nakuti Aurelia malam ini.

Setelah berhasil menenangkan gejolak di dadanya, Grayson merapikan raut wajahnya menjadi datar seperti biasa, lalu melangkah masuk ke area dapur dengan suara langkah kaki yang sengaja ia buat agar terdengar.

"Bau apa ini?" suara bariton Grayson yang tenang memecah keheningan dapur.

Aurelia terperanjat kaget, hampir menjatuhkan sendok pengaduk di tangannya. Ia berbalik dengan cepat, merapatkan tubuhnya ke tepi meja dapur karena refleks pertahanan diri, sementara manik matanya menatap Grayson dengan waspada.

Namun, yang ia lihat justru membuat Aurelia kebingungan. Grayson berdiri di hadapannya dengan ekspresi wajah yang sangat biasa, mengenakan piyama hitam, tidak ada sorot mata liar seperti tadi, seolah pria itu lupa dengan apa yang baru saja hampir terjadi di kamar atas.

"A-aku... aku masak sup," jawab Aurelia terbata-bata, suaranya terdengar gugup. Ia menunjuk dua mangkuk sup yang baru saja selesai ia sajikan di atas meja makan kecil dekat dapur. "Kalau kamu lapar, makanlah... aku cuma pakai bahan yang ada di kulkas."

Grayson menatap dua mangkuk sup beruap itu sekilas, lalu beralih menatap wajah Aurelia yang tampak canggung, mengenakan kaus kebesarannya yang membuat gadis itu terlihat jauh lebih kecil dan rapuh.

Tanpa berkata apa-apa, Grayson menarik kursi kayu di meja makan lalu duduk di salah satu sisinya. Ia menatap mangkuk sup tersebut, lalu mendongak menatap Aurelia yang masih berdiri kaku di tempatnya.

"Kenapa diam saja? Duduklah dan makan," titah Grayson tenang, menepuk kursi kosong di sebelah kanannya. "Kamu juga belum makan apa pun sejak sore, Aurelia."

Aurelia menelan ludah kelat. Dengan rasa canggung yang teramat sangat, ia berjalan pelan dan mengambil duduk di kursi yang ditunjuk, menjaga jarak sejauh mungkin dari pemuda itu. Suasana di meja makan terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh suara deru hujan deras yang menimpa kaca jendela luar.

Grayson mengambil sendoknya, mencicipi kuah sup buatan Aurelia sesaat. Rasanya pas, hangat, dan sangat sederhana.

Bagi Aurelia, situasi ini terasa sangat sureal. Duduk berhadapan—atau lebih tepatnya berdampingan—di meja makan dengan pria yang baru saja merenggut kebebasannya, pria yang menjadi dalang di balik kecelakaan ayahnya, dan pria yang hampir merudapaksanya beberapa menit lalu. Namun di sini mereka berada, duduk dalam satu meja di malam yang dingin.

Tanpa disadari, bagi Grayson, momen ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari apa yang tampak di permukaan.

Sepanjang hidupnya setelah perceraian orang tuanya sepuluh tahun lalu, meja makan di rumah besar keluarga Balindra selalu menjadi tempat yang paling dibencinya. Meja panjang berlapis marmer hitam itu selalu kosong, atau jika ada orang di sana, hanya diisi oleh keheningan dingin atau suara pertengkaran tajam antarpengasuh dan pelayan. Grayson tidak pernah tahu rasanya makan malam bersama seseorang dalam suasana rumah yang nyata—bukan sekadar formalitas bisnis atau kesunyian yang mencekam.

Dan sekarang, di vila terpencil ini, di tengah hujan badai yang menderu, ia duduk berdua menyantap mangkuk sup sederhana yang dimasak oleh tangan gadis yang paling ia cintai dan ia inginkan di dunia ini.

Meskipun Aurelia duduk dengan tubuh kaku, wajah tegang, dan mata menghindari tatapannya, bagi Grayson, pemandangan ini adalah bentuk kemenangan mutlak. Ini adalah awal dari keluarga kecil yang ia bangun dengan caranya sendiri—keluarga yang tidak akan pernah bisa direbut atau dihancurkan oleh siapa pun.

"Enak," ucap Grayson tiba-tiba, memecah keheningan malam itu. Suaranya terdengar lembut, jauh dari nada ancaman yang biasa ia gunakan.

Aurelia yang sedang menyeruput air putihnya tertegun. Ia melirik Grayson dengan sudut matanya, mendapati pemuda itu sedang menatapnya lekat-lekat dengan manik mata amber yang tampak redup dan hangat di bawah cahaya lampu kuning temaram meja makan.

"Kalau kamu mau, kamu bisa masak sendiri besok-besok," lanjut Grayson tenang, mengambil suapan kedua supnya. "Semua bahan di kulkas bebas kamu pakai. Rumah ini... sekarang adalah rumahmu juga, Aurelia."

Kata-kata rumahmu juga terdengar sangat ironis di telinga Aurelia. Rumah di mana pintunya dikunci dari luar, rumah yang dibangun di atas penderitaan dan pemerasan, rumah yang menjadi sangkar emas tempat ia dikurung. Namun, di hadapan sorot mata Grayson yang serius, Aurelia memilih untuk mengangguk kecil, menundukkan kepalanya kembali ke mangkuk supnya tanpa berani membantah.

Makan malam berdua itu berlanjut dalam keheningan yang panjang, diiringi suara rintik hujan yang tak kunjung reda di luar sana. Sebuah malam yang menjadi lembaran baru dalam hidup mereka—dimulai dari rasa takut, dipenuhi oleh obsesi yang gelap, dan disatukan oleh ikatan terlarang yang selamanya tidak akan bisa diputus oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!