Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sinar matahari pagi New York menerobos masuk melalui celah-celah tirai sutra di kamar Kaetos Ashford, melukis garis-garis keemasan di atas sprei yang berantakan.
Parrie terbangun dengan tubuh yang terasa remuk, terutama di area pinggul dan selangkangannya yang masih menyisakan rasa pegal luar biasa akibat pergulatan panas semalam.
Ia mengusap matanya yang masih sepet, lalu tersentak saat menyadari Kaetos sudah tidak ada di sampingnya.
Pria itu baru saja keluar dari walk-in closet, sudah rapi mengenakan kemeja kasual yang tergulung hingga siku, menebarkan aroma citrus dan sandalwood yang menyegarkan.
"Bangunlah, Honey," bisik Kaetos lembut, mendaratkan kecupan singkat di bibir Parrie yang sedikit bengkak. "Keluargaku sudah menunggu untuk sarapan di bawah."
Detik itu juga, jantung Parrie berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Rasa kantuknya sirna seketika, digantikan oleh gelombang kecanggungan dan ketakutan yang luar biasa.
Keluarga Ashford... sarapan bersama?!
...****************...
Parrie memaksakan dirinya bangkit dan memoles wajahnya seadanya dengan pakaian bersih yang disediakan di kamar tamu. Setiap langkah turun menuju ruang makan utama Mansion Ashford terasa seperti hukuman mati baginya.
Langkah kakinya bergetar di atas lantai marmer yang dingin.
Ketika memasuki ruang makan yang sangat megah—dengan meja kayu mahoni panjang yang dipenuhi hidangan sarapan mewah gaya kontinental—mata Parrie menangkap tiga sosok yang selama ini hanya ia dengar dari desas-desus atau berita media.
Di ujung meja, duduk Giovanni Ashford, sang kepala keluarga Ashford yang legendaris, memegang koran pagi dengan aura kepemimpinan yang dingin dan intimidatif.
Di sampingnya, Nyonya Tessa Ashford tampak begitu anggun dan berkelas dalam balutan gaun sutra lembut.
Dan di sebelah kanan, duduk Leander Ashford, kakak kandung Kaetos.
Parrie mendadak teringat ucapan Irysh tempo hari yang bersumpah bahwa Leander adalah pria tampan di keluarga Ashford. Namun, saat Parrie melihat Leander secara langsung—pria dengan rahang tegas dan tatapan dingin itu—mata Parrie perlahan beralih pada Kaetos yang berdiri di sampingnya.
Ah... dilihat dari sudut mana pun, Kaetos jauh lebih tampan di mana-mana, batin Parrie dalam hati, meneliti garis rahang tajam dan tatapan tajam milik kekasihnya itu.
Penny tidak akan pernah menyesal dilahirkan di dunia ini jika pria ini adalah ayahnya...
Parrie tersentak kaget dengan pemikirannya sendiri.
Ah! Pikiran gila apa ini?! Kenapa aku malah memikirkan anak bernama Penny lagi?!
"Parrie, sayang... mari duduk di sini," sapa Tessa dengan senyuman hangat yang luar biasa ramah, memecah kecanggungan yang membeku di udara.
Diluar bayangan ketakutan dan imajinasi liar Parrie tentang keluarga kaya raya yang arogan dan dingin, Nyonya Tessa justru menarikkan kursi untuknya tepat di sebelah Kaetos. Giovanni meletakkan korannya, menatap Parrie dengan sepasang mata tajam namun penuh perhatian hangat seorang ayah, sementara Leander hanya menyapa dengan anggukan kepala yang sopan.
"Bagaimana tidurmu semalam, Parrie? Apa kamar Kaetos cukup nyaman?" tanya Nyonya Tessa lembut seraya menuangkan teh hangat ke cangkir Parrie.
"S-saya tidur dengan sangat nyenyak... terima kasih banyak," jawab Parrie gugup, jemarinya meremas kain serbet di pangkuannya.
"Kau suka sarapan gaya Inggris atau Amerika? Kaetos bilang kau sangat menyukai waffle dengan sirup maple, jadi koki kami menyiapkannya khusus untukmu," timpal Giovanni dengan suara beratnya yang berwibawa, membuat Parrie terkejut karena sang kepala keluarga mengetahui detail kecil tentang kesukaannya.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Apakah tugas-tugas di semester ini sangat memberatkanmu, Parrie?" tanya Leander membuka suara, tatapannya ramah tanpa sedikit pun nada merendahkan.
Satu per satu pertanyaan terlontar dari mereka. Mereka menanyakan kabarnya, menanyakan apakah ia merasa baik-baik saja, dan memastikan Parrie merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.
Tidak ada tatapan selidik, tidak ada pertanyaan bernada menghakimi tentang latar belakang keluarganya, dan tidak ada keangkuhan status sosial.
Sensasi asing yang hangat mendadak mengaliri dada Parrie. Namun, semakin hangat perhatian yang ia terima, semakin sesak dadanya.
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, sebutir air mata bening menetes jatuh dari pelupuk mata Parrie, mendarat tepat di atas piring kosong di hadapannya.
Tetes.
Parrie menunduk dalam-dalam, berusaha menahan napasnya. Namun air mata berikutnya menyusul dengan begitu cepat. Parrie bukanlah gadis cengeng yang suka menjual air mata untuk mendapatkan simpati orang lain.
Selama ini, ia adalah sosok yang tangguh dan selalu menelan kepahitannya sendiri.
Namun entah kenapa, saat berada di meja makan ini—dikelilingi oleh sebuah keluarga yang utuh, sempurna, dan memberikan perhatian tulus—benteng pertahanan Parrie runtuh seketika.
Teringat kembali betapa sepinya hidup yang ia jalani selama ini.
Sejak ia masih kecil, ibunya sudah sering sakit-sakitan, bertarung dengan rasa sakit hingga akhirnya Meninggal.
Masa remaja Parrie dihabiskan dengan cucuran air mata, berjuang sendirian menghadapi kerasnya dunia yang kerap kali merendahkan statusnya.
Menerima perlakuan buruk, tatapan sinis, dan rasa diabaikan sudah menjadi makanan sehari-hari yang biasa baginya. Ia tidak pernah merasakan hangatnya meja makan keluarga tempat seseorang bertanya, "Apakah kau baik-baik saja hari ini?"
"Parrie? Astaga, sayang... ada apa?" Tessa langsung panik saat melihat bahu gadis itu gemetaran. Tessa bangkit dari kursinya dan menghampiri Parrie.
"Kenapa kau menangis? Apa ada yang menyakitimu?"
Parrie menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menyapu air matanya. "T-tidak, Nyonya... maafkan aku... aku tidak apa-apa..."
Namun kata-kata itu justru membuat air matanya menetes semakin deras, tak mampu dibendung lagi. Kehangatan Tessa yang mengelus punggungnya justru membuat kerinduan akan sosok ibu yang teramat sangat membuncah di dalam dadanya.
Nyonya Tessa mendadak menoleh tajam ke arah putra bungsunya, Kaetos. Tatapan ibunya berubah menjadi kemarahan hebat.
"Kaetos Ashford! Apa yang sudah kau lakukan pada gadis manis ini, hah?! Kau menyakitinya?!" tegur Nyonya Tessa galak.
Kaetos yang sejak tadi menatap Parrie dengan cemas, bukannya membela diri atau mengatakan 'tidak', ia justru membungkukkan tubuhnya ke arah Parrie dan membisikkan sebuah pertanyaan gila tepat di samping telinga gadis itu.
"Apa bagian itu benar-benar sangat sakit, Honey? Maafkan aku... aku terlalu merindukanmu semalam..." bisik Kaetos pelan, mengira rasa sakit dari pergulatan panas semalamlah yang membuat Parrie menangis.
Namun karena ruang makan yang begitu hening dan sepi, bisikan polos milik Kaetos itu terdengar jelas oleh seluruh anggota keluarga di meja makan!
UHUK!
Leander yang sedang meminum kopi hitamnya seketika tersedak hebat.
Nyonya Tessa membeku dengan mata membelalak tak percaya, sementara Giovanni menutup matanya sambil mengelus pelipisnya, merasa kepalanya mendadak pening akibat tingkah tidak sopan putra bungsunya di depan meja makan.
"Kaetos! Kau pria mesum tidak tahu tempat!" omel sang Mommy sambil menepuk lengan Kaetos gemas.
Giovanni meletakkan cangkirnya dengan bunyi klak yang tegas, menatap Kaetos dengan aura ketegasan seorang kepala keluarga.
"Daddy bisa pergi melamar Parrie pada Tuan Ford besok pagi, Kae..." tegas Giovanni dengan suara berat tanpa kompromi. "Daddy tidak suka kau menjadi pria bajingan yang tidak menyahkan kepemilikanmu dan memperlakukan putri orang lain sesukamu!"
Parrie yang masih terisak seketika mengangkat kepalanya, membelalak kaget. Ia menggelengkan kepalanya secara refleks ke arah Kaetos dengan raut wajah panik.
Kaetos yang membaca isyarat mata Parrie sangat paham.
Parrie belum bisa dan tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Parrie sudah berulang kali menegaskan impian besarnya: ia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, berdiri di atas kakinya sendiri dengan beasiswa hasil dari kerja kerasnya sendiri tanpa embel-embel nama besar keluarga Ford maupun Ashford.
Parrie benar-benar belum siap untuk menyandang status sebagai nyonya besar di usianya yang masih sangat muda.
Kaetos mengusap jemari Parrie yang gemetar, lalu menatap sang ayah dengan tenang. "Secepatnya, Dad. Kami akan melakukannya secepatnya setelah Parrie siap."
Giovanni menatap putranya sejenak, lalu mengangguk paham tanpa memaksakan kehendak. Nyonya Tessa mengusap lembut air mata di pipi Parrie dengan tisu, tersenyum begitu hangat dan penuh kasih sayang.
"Tidak usah terburu-buru, sayang. Yang terpenting, kau tahu bahwa rumah ini selalu terbuka untukmu kapan saja," bisik Nyonya Tessa lembut.
Parrie mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman paling tulus di balik sisa-sisa air mata bahagianya.
Di bawah meja makan mahoni yang megah itu, jemari lentik Parrie bergerak pelan, menyusup dan menggenggam erat tangan kokoh Kaetos yang hangat.
Genggaman itu dibalas oleh Kaetos dengan cengkeraman erat yang protektif.
Parrie menatap profil wajah tampan Kaetos dari samping, merasakan degup jantungnya yang bergelombang penuh rasa syukur.
Aku sungguh beruntung memilikimu, Kae... batin Parrie dengan pendar cinta yang membuncah di dalam dadanya.
Aku yang selama ini benar-benar menyesal dilahirkan di dunia ini... kini merasa bahwa semua penderitaanku ada artinya. Rencana Tuhan menciptakanku... rupanya hanya untuk menatapmu seperti ini, dan mencintaimu selamanya.