NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Brak!

Tas bermerek puluhan juta rupiah itu terlempar kasar hingga menghantam dinding sebelum mendarat di atas ranjang apartemen. Gea berdiri di tengah ruangan dengan napas memburu, rahangnya mengetat hebat menahan amarah yang meledak-ledak.

"Istri sah?! Menantu?!" desis Gea dengan suara gemetar oleh rasa benci. "Perempuan udik seperti itu jadi nyonya di rumah Bratadikara?!"

Gea berjalan mondar-mandir di atas karpet. Bayangan wajah dingin Gendis dan senyum sinis Bu Sonya seolah terus mengejeknya. Bertahun-tahun ia mendekati Arya, melayani ego pria itu, dan berusaha menyenangkan keluarga Bratadikara, tapi dengan mudahnya posisi yang ia impikan direbut oleh wanita yang bahkan tidak punya nama di dunia hiburan.

Ia mencengkeram rambutnya kasar, lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar.

"Nggak... aku nggak akan biarkan ini terjadi," gumam Gea dengan mata berbinar penuh ambisi licik. "Arya itu milikku. Hanya aku yang pantas jadi Nyonya Bratadikara!"

Gea mengambil ponselnya, jemarinya menari lincah mengetik sebuah nomor. Tatapannya berubah dingin saat panggilan itu terhubung dengan seorang kenalannya di media hiburan.

"Halo? Aku mau kalian memuat berita skandal eksklusif malam ini di Restoran Grand Velvet VIP room. Siapkan tim paparazimu, pastikan kamera kalian merekam semuanya dari angle terbaik saat aku kasih sinyal."

Setelah menutup panggilan, Gea mengukir senyum miring yang penuh kepuasan. Ia tahu Arya saat ini sedang bingung dan tidak tenang. Arya masih merasa berutang perasaan padanya, dan memanfaatkan kelengahan pria itu adalah perkara mudah.

 

Dua jam kemudian, di Restoran Grand Velvet.

Arya duduk di salah satu meja area VIP yang agak tersudut. Pikirannya sejujurnya sangat kacau. Di satu sisi, ia merasa masih mencintai Gea dan ingin menyelesaikan kesalahpahaman di rumah tadi. Namun di sisi lain, bayangan sikap dingin Gendis dan isi pesan dari anak buahnya soal rahasia GBTV terus membayangi kepalanya.

Tadinya dia ingin melihat dulu email apa itu sebenarnya, tapi Gea memaksa nya untuk segera datang.

"Arya... makasih ya kamu masih mau datang, aku pikir setelah kejadian tadi kamu... Nggak mau ketemu aku lagi." ucap Gea lembut. Wajahnya dipasang raut sangat sedih dan rapuh, membuat Arya mendadak merasa bersalah.

"Maafkan sikap Mamaku tadi siang, aku dan Gendis memang sudah menikah, tapi kami di jebak. Dan Gendis juga korban disini. Aku dan dia hanya menikah siri, itupun status kami hanya di atas kertas. Kalau tidak menikah waktu itu, reputasi keluarga ku bisa hancur." ujar Arya pelan, mengusap wajahnya yang lelah. "Aku cuma... situasinya sedang rumit. Jadi ku mohon mengertilah. Aku masih mencintai kamu."

"Aku tahu, Arya. Aku cuma mau kejelasan," bisik Gea sambil mengusap air mata buatan di sudut matanya. "Aku sangat mencintai kamu. Kalau memang kamu harus bertanggung jawab atas pernikahan itu, setidaknya jangan buang aku begitu saja..."

Arya hendak membalas dan meraih tangan Gea untuk menenangkannya, rencana licik itu pun tiba di puncaknya.

Seorang pelayan yang sudah disuap mahal oleh Gea mendadak berjalan tergesa-gesa membawa nampan berisi pisau steak dan hidangan panas. Saat melintas tepat di samping Gea, pelayan itu sengaja berpura-pura tersandung secara dramatis!

PRANG!

Nampan menghantam meja, dan ujung pisau daging yang tajam secara tidak sengaja tergores keras menyabet bagian belakang gaun backless milik Gea. Kain gaun yang tipis itu tersobek lebar hingga bagian atas busananya merosot parah, memperlihatkan tubuh bagian atas Gea secara terbuka di area publik!

"AAAAAHHH!" Gea menjerit histeris, langsung menutupi dadanya dengan tangan sambil merosot ke lantai, menangis ketakutan.

"Gea!"

Melihat wanita yang masih ia anggap kekasihnya terluka dan terekspos di tempat umum, naluri perlindungan Arya langsung bangkit secara refleks. Tanpa berpikir panjang, Arya merangsek maju, merengkuh tubuh Gea dan melepas jas kantornya untuk menutupi tubuh Gea yang terbuka.

Dalam posisi canggung di mana Arya mendekap erat Gea yang menangis di lantai dengan baju tersobek...

Tiba-tiba kilatan lampu kamera mendadak menyambar dari berbagai sudut! Puluhan wartawan dan paparazzi yang sudah mengintai mendadak menyeruak dari balik tirai area VIP!

"Pak Arya Bratadikara! Apa yang anda lakukan disini? Sedang berbuat tidak senonoh ya?" Ucap salah seorang wartawan.

"Jangan mentang-mentang pacaran terus bisa mesra-mesraan dimana aja, Pak. Nikahi dulu dong!" Ucap yang lainnya, entah kenapa momen tersebut mengingatkannya pada situasi dimana dia dan Gendis malam itu.

"Pak Arya! Foto dan video ini sudah tersebar, bagaimana tanggapan Anda mengenai skandal moral ini? Apa pihak BRTV akan membungkam kami para wartawan?"

Suasana restoran mendadak riuh dan kacau balau. Arya terbelalak sempurna, berusaha menutupi wajahnya dan wajah Gea dari jepretan kamera yang membabi buta.

Di balik tangisan histeris dan tubuhnya yang bergetar di dalam dekapan Arya, Gea menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis.

Sekarang, kamu nggak punya alasan lagi buat nggak menikahi aku, Arya.

Arya segera memasang tubuhnya untuk memblokir sorotan kamera para wartawan. Tanpa memedulikan kejaran pertanyaan tajam dari para paparazzi yang makin menjadi-jadi, ia membungkus rapat tubuh Gea dengan jas tebalnya, lalu merangkul wanita itu setengah membopongnya menembus kerumunan menuju area parkir VIP.

"Kalian minggir, awas lah!" bentak Arya dingin seraya membuka pintu mobilnya. Ia mendorong Gea masuk ke kursi penumpang depan, lalu menyusul masuk ke kursi pengemudi dan menekan pedal gas dalam-dalam, meninggalkan area restoran yang riuh.

Di dalam mobil yang melaju kencang membelah jalanan malam, suasana terasa mencekam.

Gea langsung menyudutkan tubuhnya ke pintu mobil, meringkuk dengan lutut ditarik ke dada. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya memburu cepat dan patah-patah seolah-olah ia sedang kehabisan udara. Sebagai seorang aktris papan atas, memerankan gejala panic attack dan anxiety hebat hal yang sangat mudah baginya. Air matanya menetes deras membasahi pipi, bibirnya gemetar, dan matanya menatap kosong ke depan dengan sorot ketakutan yang begitu meyakinkan.

"Wartawan itu..." bisik Gea histeris dengan suara yang nyaris habis, jemarinya meremas kain jas Arya hingga kusut. "Arya... Bagaimana kalau mereka membuat berita yang tidak benar? Karir ku akan hancur... nama baik ku... aku malu, Arya! Aku nggak mau hidup lagi kalau foto-foto itu tersebar!"

Melihat kondisi Gea yang tampak sangat terguncang dan hancur, rasa panik dan bersalah menghantam dada Arya. Ia mencengkeram kemudi erat-erat, berusaha menenangkan wanita di sampingnya.

"Gea, tenang... relaks, okay," ujar Arya dengan suara memelan, menatap Gea dengan raut khawatir. Ia tidak menyangka insiden itu akan berdampak sedemikian hebat pada mental Gea. "Aku ada di sini. Aku nggak akan biarkan nama kamu hancur, aku yang akan urus semuanya."

Namun di saat yang bersamaan, layar ponsel Arya yang diletakkan di dasbor mobil menyala tanpa henti. Berbagai notifikasi masuk secara beruntun bagaikan gelombang pasang. Panggilan telepon dari tim humas perusahaan, pesan WhatsApp dari jajaran direksi BRTV, hingga kabar dari rekan-rekan bisnisnya terus bermunculan. Berita mengenai 'Skandal Asusila Arya Bratadikara dan Aktris Gea di Tempat Umum' rupanya sudah meledak di media sosial hanya dalam hitungan menit.

Di tengah bunyi dengung ponsel yang tak henti-hentinya berguncang dan tangisan histeris Gea yang memecah konsentrasinya, kepala Arya terasa mau pecah. Ia terjepit di antara rasa tanggung jawab moral atas kepanikan Gea, ketakutan akan hancurnya reputasi keluarga Bratadikara, dan kenyataan bahwa di rumah ada Gendis istrinya yang bahkan belum mengetahui kekacauan besar ini.

Bagaimana ini...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!