Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANDI BERSAMA.
Pagi kembali datang, Arya terbangun duluan. Menatap Aluna yang masih tertidur di atas dadanya. Wajah mereka sangat dekat, Sehingga Arya mampu merasakan nafas tenang Aluna. Kedua matanya menatap bulu mata lentik Aluna, lalu turun menuju hidung, Dan terakhir. Ia menelan salivanya kasar.
Bahkan setelah menikah, Mereka belum pernah melakukan hubungan badan. Arya menahan diri, Karna berpikir bahwa Aluna tidak akan mengerti hal sedewasa itu.
"Emm!" Aluna terbangun, Matanya menyipit menatap Arya yang sedang menatapnya. "Pagi, Arya." Ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, Kau masih mengantuk?" Aluna menggeleng, senyuman manisnya terbit di sana. " Aku lapar, Ingin makan ayam. " Ucapnya, Arya menggeleng heran sambil tersenyum tipis.
"Ayo." Ajak Arya, Mereka bangun dan pergi untuk mengambil air dari sumur, Untuk minum, Masak dan mandi.
Setelah selesai mengambil air, Arya mengajak Aluna berjalan menuju sebuah papan kayu kotak yang mereka gunakan untuk mandi. Tanpa malu, Aluna membuka baju luarnya hingga menyisakan pakaian putih tipis. Arya dapat melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat.
Ia menatap polos Arya yang hanya diam. "Arya, Tidak mau mandi?" Tanyanya, Arya tersadar dari lamunan kotornya. Ia segera ikut melepas jubah tipis dan baju dalamannya hingga menyisakan celana saja.
Keduanya masuk ke dalam ruangan tertutup itu, Cukup sempit dengan beberapa wadah air. Mereka duduk berhadapan. Biasanya Arya bisa menahan diri, Tetapi kali ini...Arya tak bisa fokus.
"Aluna, Aku mandi nanti saja." Arya berdiri, Namun Aluna menahannya. "Jika tidak mandi, Arya bisa bau badan." Celetuknya, Wajah Arya memerah. Bagaimana bisa ia mulai berpikiran kotor tentang tubuh istrinya. Apa karna kesehatannya yang mulai kembali membaik?
"Biar aku mandikan, Aku biasa mandikan ayam." Ucap Aluna, Arya menghela nafasnya dalam. Bagaimana bisa ia di samakan dengan ayam.
Arya di paksa duduk oleh Aluna, Gadis itu benar-benar berpikir ingin memandikan suaminya tanpa tahu apa yang sedang ia lakukan. "Yang mulia, Kenapa celana yang mulia tidak di buka? Apa biasanya yang mulia mandi tanpa membuka celana?" Tanya Aluna dengan polos.
Arya menatap Aluna, Biasanya mereka mandi dalam satu ruangan, Tetapi tak berpikir akan saling berbicara. Karna Arya gampang terserang penyakit. Itu sebabnya, Ia tak pernah berpikir hal lain selain mandi. Tetapi, Kali ini berbeda. Seolah hasratnya telah kembali seperti sedia kala.
"Akan aku buka." Ucap Arya, Aluna mengangguk polos. "Yang mulia sakit, Kok wajahnya merah?" Khawatir Aluna, Arya menggeleng dan berusaha membuka pengikat celana miliknya.
Kedua mata Arya tak fokus, Baju Aluna menerawang sehingga ia dapat melihat pucuk pink milik istrinya. Pandangannya jadi tak fokus. "Aluna, Kau tidak membuka baju dalaman milik-mu dan celana-mu. Aku saja membuka celana-ku." Ucap Arya tak mau kalah.
Aluna menatap hanfu tipis yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia mengangguk. "Benar juga."Pikirnya. Akhirnya ia ikut melepas pakaiannya. Arya tak percaya dengan kepolosan Aluna. Pantas saja gadis itu di sebut gadis terbodoh di kerajaan Dariyan. Dia sangatlah gampang mempercayai orang.
Hingga kini keduanya tak memakai apapun, Arya menelan salivanya kasar. "Glek!"
Arya menatap 2 gundukan bulat milik istrinya, Terlihat menggemaskan. Punya Aluna tidak terlalu besar, Namun tidak terlalu kecil juga. Sedangkan aluna, Gadis itu terlihat bingung menatap belalai milik Arya.
"Ini apa?" Gadis itu berjongkok dengan polos, Menyentuh ujung daging panjang itu. Arya merasakan sentuhan tipis Aluna, Wajahnya memerah. "Jangan...Jangan lakukan itu." Arya menahan tangan Aluna.
"Yang mulia, Itu apa?" Bingung Aluna, "Adik-ku." Jawab Arya. Aluna memiringkan kepalanya bingung. "Adik?" Bingung Aluna. "Ya, bagi laki-laki. Dia adalah adik. Yang mana jika dia terluka, Aku juga ikut terluka." Ucap Arya dengan gugup. Aluna mengangguk.
"Baiklah." Aluna mulai membasahi tubuh Arya dengan air, Arya hanya menunduk. Jika mendongak, Ia tak yakin bisa menahan diri.
"Adik yang mulia, Sangat besar seperti ujung cangkul milik kakek Lin." Arya segera menutup mulut Aluna, Wajahnya sangat merah sekarang. "Jangan beritahu siapapun, Rahasiakan adik-ku dari siapapun." Perintahnya, Aluna mengangguk polos. "Baik."
Keduanya menyelesaikan mandi,dan mengganti pakaian, Setelah itu Aluna segera bersiap untuk membersihkan kandang ayam, Dan mengambil beberapa telur untuk menu makan siang. Sedangkan Arya, Ia bersiap menuju ladang bersama kakek Lin Dan beberapa warga desa.
Di tempat lain, Beberapa prajurit terlihat berpatroli di sekitar desa Qing, Mereka berpencar dan bertanya untuk mengorek beberapa informasi.
Arya dan kakek Lin yang hendak pergi ke ladang, Tiba-tiba terhenti. Beberapa prajurit berlambang Singa biru itu menghentikan mereka. "Tunggu!" Teriak salah satu prajurit. "Apa kalian pernah melihat seseorang yang mencurigakan? Berpakaian berbeda dengan kerajaan kita?" Tanya prajurit itu. Beberapa warga desa menggeleng. Kedua mata Arya menajam.
"Tidak ada orang aneh, Hanya saja. Kami mendapat tetangga baru. Tuan Arya dan istrinya nyonya Aluna. Mereka kerabat jauh kakek Lin." Ucap salah seorang tetangga dekat bernama Jainal, Suami sari.
Para prajurit itu mendekat, Menatap kakek Lin Dan Arya dengan wajah curiga. " Dari mana Anda berasal?." Tanya prajurit itu. " Aku berasal dari desa luar, Desa teratai. Salam pak!" Arya menunduk hormat, Meskipun kilatan matanya terlihat tajam.
Desa teratai? Bukankah desa itu berada di ujung perbukitan tinggi yang jarang sekali di tempati, Tempat itu, Di kenal dengan Sarang hewan buas.
Prajurit itu menatap tubuh tegap Arya, Tubuhnya terlalu bagus untuk seorang rakyat biasa, Wajahnya juga terlalu tampan untuk ukuran seorang petani. "Sebelumnya, Apa pekerjaan-mu?" Tanya prajurit itu.
"Aku pandai berburu, Di desa teratai, Aku sering menangkap seekor beruang madu." Ucap Arya, Prajurit itu terlihat berpikir, Menatap Arya dari atas hingga bawah.
"Sudahlah pak, Kami harus segera ke ladang. Jika tidak. Istri kami ingin makan apa?" Tanya salah seorang warga desa. Prajurit itu berhenti dari pikirannya. "Baiklah, Kalian boleh pergi." Ucapnya. Kakek Lin bernafas lega. Mereka berhasil lolos.
Arya ikut berjalan bersama para pria pekerja ladang itu, diam-diam ia tersenyum simpul. Lalu kembali fokus berjalan bersama kakek Lin.
***
"Nyonya Aluna, Anda cantik sekali." Puji para wanita di desa. Aluna berkumpul bersama para wanita untuk belajar menjahit. Gadis itu bahkan selalu tertusuk jarum. Ia sangat ceroboh.
"Anda juga cantik, Seperti Dewi." Puji Aluna, Para wanita itu langsung heboh." Nyonya Aluna, Suami anda tampan sekali. Selera anda memang sangat bagus." Puji Bu Lisa, Istri kepala desa.
"Em...Arya? Dia memang tampan." Angguk Aluna. "Kalian tidak berpikir untuk punya momongan?" Tanya Bu sari dengan penasaran. Aluna terlihat berpikir, Itu membuat beberapa orang merasa gemas. "Apa itu, Momongan?" Bingung Aluna. Bu Sari tertawa pelan.
"Momongan itu, Artinya seorang anak. Kapan kalian akan berpikir mempunyai anak?" Tanya Bu Lisa, Lagi-lagi Aluna terlihat berpikir. "Memangnya bagaimana cara membuat anak? Aku ingin buat untuk Arya." Ucapan Aluna semakin mengundang tawa para wanita tua itu.
"Astaga, Anda sangat menghibur nona Aluna, Perutku sakit sekali." Ucap Bu Lisa memegang perut gendutnya. Begitu pun Bu Sari yang mengusap ujung matanya yang mengeluarkan sedikit air mata karna terlalu kencang tertawa.
Aluna menggaruk kepalanya dengan bingung, Mengapa semua orang tertawa. Padahal ia serius. Sudahlah. Aluna akhirnya melanjutkan jahitannya. Meskipun masih terlihat berantakan, tetapi ia yang ingin belajar, Sudah lebih bagus.
"Aku akan membuatkan Arya baju, Jika jahitan-ku sudah rapih." Gumam gadis itu tersenyum lebar.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏