Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Ting! Ting! Ting! Ting!
Rentetan bunyi notifikasi pesan masuk bertubi-tubi memecahkan keheningan kamar tidur utama yang remang.
Suara getaran ponsel yang mengejang di atas meja nakas itu bagai deretan tembakan peringatan yang siap meruntuhkan wibawa seorang Jameson Baxter Ashford.
JB yang masih terduduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size dengan tubuh setengah polos perlahan meraih ponselnya.
Pendar cahaya layar menyinari rahang tegasnya yang memucat kaku.
Pesan pertama yang paling atas berasal dari Louis:
[Louis]: HOLY SHIT BROTHER! Aku tidak menyangka kau bisa seberhasrat itu!
[Louis]: Apakah wanita di sudut foyer tadi adalah pelaku yang akhirnya mengambil keperjakaanmu?!
[Louis]: Demi Tuhan, seluruh jajaran direksi dan pemegang saham senior hampir jantungan menontonnya secara live! Kau benar-benar gila, Jameson!
"Oh, shit!"
JB mengutuk kasar, melontarkan ponsel pintarnya dengan dongkol ke atas karpet tebal hingga terpelanting di dekat meja rias.
Pria itu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri, menghembuskan napas berat yang dipenuhi kekesalan tiada tara.
Syukur luar biasa, sudut pengambilan gambar kamera laptopnya berada di jarak yang cukup jauh dari area foyer utama.
Yang tertangkap di layar rapat daring direksi hanyalah siluet remang, lekuk tubuh bagian belakang, serta pencahayaan temaram yang membiaskan detail wajah sang wanita.
Namun, tanpa perlu penjelasan panjang lebar, seluruh peserta rapat yang berisi puluhan orang penting Ashford Enterprises tentu sudah menebak dengan sangat akurat apa yang baru saja terjadi.
Awalnya, para direksi mengira sang Big Boss hanya akan membukakan pintu untuk tamu biasa atau menerima pengiriman dokumen seperti malam-malam sebelumnya.
Siapa yang bisa menduga bahwa adegan adu gairah dalam ritme lambat yang begitu intim, panas, dan intens itu malah ditonton secara langsung oleh seluruh jajaran eksekutif perusahaan?
Aww!
JB mendesis kencang saat sebuah rasa sakit yang menusuk tajam menghantam dada kirinya.
Di atas ranjang bernuansa kelam itu, Hazel yang baru saja mengenakan kemeja putih oversized milik JB menancapkan giginya kencang-kencang tepat di atas otot dada sang dosen.
Wajah porselen mahasiswi itu memerah padam, menyiratkan kombinasi amarah, rasa malu yang membakar, dan kekesalan luar biasa atas keteledoran pria di hadapannya.
"Kau sengaja, kan?!" desis Hazel dengan suara serak yang mematikan, melepaskan gigitannya yang menyisakan jejak kemerahan berbekas di kulit JB.
JB meringis pelan, meraba bekas gigitan di dadanya sembari menatap Hazel dengan pandangan bersalah yang jarang sekali ia perlihatkan pada siapa pun.
Meskipun ia sudah melayangkan pesan ancaman pemecatan dan tuntutan hukum tingkat tinggi kepada seluruh jajaran direksi agar memblokir serta menghapus ingatan tentang insiden tersebut, JB tahu betul bahwa keteledorannya malam ini pasti akan sampai ke telinga keluarga besarnya dalam hitungan jam.
Belum sempat JB membalas tuduhan Hazel, ponsel pintar milik Hazel yang tergeletak di atas meja kecil dekat sofa mendadak ikut meledak oleh ratusan notifikasi yang masuk tanpa henti.
Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!
Hazel mengernyitkan dahi, melangkah turun dari ranjang dan meraih ponselnya.
Sepasang matanya membelalak lebar saat melihat nama grup perpesanan resmi mahasiwa jurusan Manajemen Bisnis Internasional angkatannya dipenuhi oleh ribuan pesan baru yang meluncur secepat kilat.
Kabar skandal tersebut menyebar di lingkungan kampus bagai wabah berbahaya.
Entah bagaimana ceritanya, salah satu anak dari direksi muda yang ikut dalam rapat daring tersebut membocorkan rekaman suara serta detail cerita tentang apa yang terjadi di penthouse sang dosen muda.
Seluruh anggota grup kelas heboh luar biasa.
Mereka membicarakan durasi penyatuan yang luar biasa panjang dan panas yang dilakukan oleh Profesor Jameson Baxter Ashford bersama seorang wanita misterius di atas karpet foyer apartemennya.
Semua mahasiswa dan mahasiswi benar-benar penasaran setengah mati tentang siapa sosok wanita beruntung—atau bernasib malang—yang sanggup menaklukkan pria es keluarga Ashford tersebut.
Syukur yang teramat sangat, identitas Hazel sama sekali tidak terdeteksi.
Dalam rekaman siluet yang beredar secara samar, wajah sang wanita tertutup sempurna oleh sudut dinding dan rambut panjangnya.
Sementara JB sendiri hanya terlihat dari bagian dada ke atas, serta momen di mana ia menggendong sang wanita secara bridal style masuk ke lorong dalam.
Obrolan di grup kelas makin liar dan tak terkontrol:
[Mahasiswa A]: Gila! Pria dingin seperti Profesor Ashford ternyata bisa seganas itu di luar kampus?!
[Mahasiswi B]: Bisa-bisanya bagian 'aset' wanita itu tidak terlihat sama sekali! Kamera laptopnya benar-benar menutupi angle terbaik!
[Mahasiswa C]: Siapa wanita itu?! Apakah salah satu model internasional?!
[Mahasiswi D]: Aku iri setengah mati! Bayangkan digendong ala bridal style oleh Profesor Jameson setelah ronde sepanjang itu!
Hazel membaca satu per satu seluruh obrolan heboh teman-teman sekelasnya dengan napas yang makin memburu.
Bahkan Seraphina—sahabatnya sendiri—ikut menjadi salah satu kompor utama di dalam grup dengan mengirimkan belasan stiker terkejut dan teori konspirasi liar.
Di tengah keheningan kamar yang tegang, sebuah bayangan tinggi besar mendadak menyelimuti tubuh Hazel dari arah belakang.
"Kalian sedang membicarakanku?" tanya JB spontan dengan suara berat yang santai, menyandarkan dagunya di bahu halus Hazel sembari melirik layar ponsel sang mahasiswi.
Hazel tersentak kaget, menyikut perut keras JB dengan sikunya lalu melangkah mundur dua langkah penuh kepanikan yang teratur.
"Menyingkir dariku, Jameson!" tembak Hazel dengan rahang mengetat kaku dan mata yang menyipit tajam.
"Aku benar-benar membencimu!"
JB tertawa rendah—sebuah terkekeh geli yang belum pernah didengar oleh siapa pun di dunia ini.
Pria itu menegakkan tubuh tegapnya, menatap Hazel dengan pendar mata hazel yang memancarkan kombinasi antara rasa bersalah, kepuasan terselubung, dan rasa kepemilikan yang makin kuat.
"Kau tidak bisa membenciku atas ketidaksengajaan ini, Hazel," ujar JB tenang, melangkah santai menuju lemari pakaiannya untuk mengambil celana kain hitam.
"Lagipula... tidak ada satu orang pun di grup kelasmu yang tahu bahwa wanita beruntung dalam obrolan itu adalah kau."
"Beruntung?" ulang Hazel dengan nada sarkasme yang begitu pekat.
Ia melempar ponselnya ke atas sofa, meresleting kembali blazer hitamnya dengan jemari yang gemetar oleh amarah.
"Reputasiku bisa hancur jika ada satu saja orang yang mengenali suaraku atau jam tanganku di dalam video itu!"
"Aku sudah memerintahkan tim Ashford untuk menghapus seluruh salinan digital dan memblokir rekaman suara yang sempat tersebar," balas JB dengan artikulasi bahasa yang mantap dan mendominasi.
"Dalam sepuluh menit ke depan, seluruh jejak digital insiden malam ini akan bersih tanpa sisa. Tidak ada yang akan menyentuhmu, Hazel."
Hazel memutar bola matanya malas, menghembuskan napas tajam melalui hidungnya.
Meskipun amarahnya membumbung tinggi, keahlian Hazel dalam mengendalikan emosi dengan cepat menariknya kembali pada rasionalitas.
Permainan ini baru saja dimulai, dan keteledoran konyol JB malam ini justru memberikan Hazel satu kartu kartu baru untuk menekan balik sang penguasa Ashford.
"Tiga malam," bisik Hazel dingin, menatap lurus ke dalam mata JB.
"Malam ini dihitung sebagai malam pertama. Kau masih punya dua malam lagi sebelum janji penghapusan seluruh berkas penyelidikan New York itu dipenuhi secara mutlak."
JB menyunggingkan senyum miring yang teramat sangat berbahaya, melangkah mendekati Hazel hingga jarak mereka terhapus.
Ia meraih jemari halus Hazel, mengusap bekas ruam di pergelangan tangan sang wanita dengan sentuhan yang lembut namun mengikat.
"Dua malam lagi, Miss Brooks..." desis JB pelan di depan wajah Hazel. "Dan aku pastikan setiap detiknya tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu."
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣