NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 Kaca yang Menghadap Meja Lia

Rabu pagi, ruang rapat kecil B di lantai tiga sudah berubah menjadi kantor sementara CEO Sundara Group.

Staf lantai tiga yang tiba pagi itu berhenti di depan dinding kaca yang baru terbuka, seperti orang melihat monster yang dipindahkan dari gua ke etalase. Percakapan berubah menjadi bisik-bisik, tawa mati, dan Rangga mengetik dengan dua jari saja seolah suara keyboard bisa membangunkan sesuatu. Navin tahu, tanpa perlu diberi tahu, bahwa seluruh lantai membicarakannya, dan untuk pertama kalinya ia tidak peduli.

Dua tukang dari bagian umum bekerja sejak pukul enam, memindahkan meja besar dari ruang arsip, memasang kursi kulit hitam, dan membongkar panel yang dulu menutupi dinding kaca yang menghadap area kerja terbuka. Navin berdiri di tengah ruangan dengan tangan terlipat, mengamati.

"Mejanya geser sedikit ke kiri," katanya.

"Ke kiri, Pak? Tapi dari sana sinar jendela mengenai layar."

"Geser."

Tukang itu menggeser. Navin melangkah mundur, mengukur sudut dengan mata. Dari kursi di balik meja itu, ia bisa melihat seluruh lantai tiga melalui dinding kaca: deretan kubikel, pantry di ujung, mesin fotokopi, dan meja kelima dari kiri, tempat seorang perempuan berblazer abu-abu sedang membuka laptopnya.

"Sempurna," gumamnya, lalu menyadari ia mengatakannya keras-keras.

Dimas, yang berdiri di pintu dengan tablet, menatap satu titik di langit-langit dengan gigih.

"Ini untuk pengawasan," tambah Navin cepat. "Saya perlu melihat kinerja seluruh lantai."

"Tentu, Pak. Pengawasan."

"Jangan mengulang kata-kata saya."

"Baik, Pak."

"Dan singkirkan tatapan itu."

"Tatapan apa, Pak?"

"Yang sedang kamu lakukan."

Dimas dengan susah payah mengembalikan wajahnya menjadi datar.

Setelah tukang pergi dan pintu ditutup, Navin duduk di kursinya dan menghela napas. Ruangan itu berbau cat baru dan kayu, jauh dari kemewahan kantor pusatnya. Tapi entah kenapa ia tidak keberatan. Dari balik kaca, dunia luar tampak seperti panggung, dan ia sadar, dengan sedikit malu, bahwa hanya ada satu pemain yang ia tonton.

Ia mengamati pekerjaan Ophelia, ia berkata pada dirinya sendiri, untuk keperluan kerja.

Lia datang pukul tujuh tiga puluh setiap hari, lebih awal dari yang lain. Ia menaruh tasnya di laci, menyalakan laptop, lalu mengambil cangkir dan berjalan ke pantry. Navin tanpa sengaja memperhatikan bahwa ia membuat kopi dengan cara yang aneh: satu sendok bubuk instan, air panas, tanpa gula, tanpa krimer. Ia meneguknya seperti menelan obat, berdiri di pojok pantry dengan bahu sedikit membungkuk, seolah takut ada yang melihat betapa lelahnya ia.

Tepat pukul sembilan, seperti jam, ia menerima laporan dari Lia sesuai perintahnya sendiri. Lia masuk dengan map, menutup pintu, berdiri tegak di depan meja, dan melapor dengan suara yang bisa dipakai untuk membacakan berita.

"Progres hari ini: dua pemasok alternatif sudah dihubungi. Satu merespons, satu belum. Draf surat balasan untuk Mitra Nusantara sedang dikonsultasikan dengan divisi hukum."

"Ada hambatan?"

"Belum ada, Pak."

"Kamu tidur cukup?"

Lia berhenti. Matanya bergeser dari map ke wajah Navin, hanya sekilas, sebelum kembali lurus. "Saya tidak melihat relevansi pertanyaan itu terhadap kontrak, Pak."

"Tidak ada," jawab Navin jujur. Ia sendiri terkejut dengan kejujuran itu.

"Kalau begitu, apakah ada yang perlu saya tambahkan?"

"Tidak. Boleh keluar."

Lia menunduk sopan dan keluar. Ketika pintu tertutup, Navin menyadari bahwa dalam lima menit tadi, ia tidak sekali pun melihat Lia menatapnya lebih dari dua detik.

* * *

Siang harinya, ia menyaksikan sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak tanpa alasan. Semua staf lantai tiga turun ke kantin atau berkelompok di pantry. Hanya Lia yang tinggal di mejanya, makan nasi kotak dengan satu tangan sambil membaca dokumen di tangan lain. Beberapa menit kemudian, Sinta datang membawa sepiring gorengan hangat dan meletakkannya di sudut meja Lia tanpa berkata apa-apa. Lia mendongak, tersenyum, senyum yang sama seperti yang ia berikan di lobi dulu, lalu mengambil satu. Navin memperhatikan senyum itu dari balik kaca seperti orang yang mengintip harta karun di balik pagar.

Sore harinya, Pak Harto mengetuk pintu dengan wajah setengah memohon. "Pak, untuk laporan harian tim kontrak, apakah boleh saya yang membawakan? Lia sudah kewalahan dengan negosiasi pemasok."

"Tidak."

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Pak Harto mengerjap. Navin berdeham. "Ophelia yang paling paham detailnya. Akan lebih efisien kalau dia sendiri."

"Baik, Pak," kata Pak Harto, lalu mundur dengan tatapan yang mengatakan bahwa ia baru menyaksikan sesuatu yang tak akan ia ceritakan pada siapa pun, terutama karena ia tidak yakin apa itu.

Di sela rapat panjang dengan divisi hukum, ia membuka laci meja dan menemukan lembar kertas terlipat yang ia bawa sejak Jumat. Draf surat permintaan maaf, versi kedua puluh empat. Kali ini ia menulisnya dengan tangan, dengan tulisan yang lebih rapi dari biasanya.

Ibu Ophelia, ucapan saya hari Kamis melampaui batas. Saya tidak pantas berkata demikian, dan saya menyesal.

Ia membacanya sekali, lalu meremasnya menjadi bola kecil. Bukan karena isinya salah. Ia hanya membayangkan Ophelia membacanya dengan wajah datar itu, mengangguk sopan, dan berkata terima kasih, Pak, seperti pada segalanya. Dan ia tahu, kalau itu terjadi, ia tidak akan tahan.

Ia membuang bola kertas itu ke tempat sampah dan menatap ke luar kaca. Lia sedang berdiri di depan mesin fotokopi, mengerutkan kening ke arah kertas yang tersangkut. Ia menendang pelan mesin itu dengan ujung sepatu, dan Navin, tanpa alasan, hampir tersenyum.

Ia buru-buru menekan senyum itu. Di kursi seberang, Dimas menatapnya dengan mata membesar.

"Pak, tadi Bapak..."

"Tidak."

"Saya belum bilang apa-apa."

"Tidak."

Dimas berdeham. "Pak, izin bertanya soal anggaran. Pantry lantai tiga belum punya mesin kopi yang layak. Staf sering mengeluh."

Navin tidak menoleh. "Tambahkan ke anggaran. Yang bagus, yang bisa membuat kopi hitam yang benar."

"Kopi hitam, Pak?"

"Kopi hitam yang benar, Dimas."

"Baik, Pak." Dimas mencatat di tablet dengan wajah sepolos bayi. "Anggaran cabang biasanya tidak mencakup peralatan seperti itu, Pak. Tapi saya rasa ini prioritas."

"Prioritas apa?"

"Prioritas pengawasan, Pak."

Navin menatapnya lama. Dimas menatap balik dengan ketulusan yang begitu berlebihan sampai hampir sempurna.

"Kamu mau gaji naik atau mau dipindah ke logistik?"

"Naik, Pak."

"Kalau begitu, pergi."

Dimas pergi dengan langkah yang hampir seperti menari. Navin menoleh lagi ke kaca dan menemukan meja kelima dari kiri kosong. Perutnya mengencang tanpa alasan. Lalu ia melihat Lia berjalan kembali dari pantry membawa cangkir putih dengan uap tipis, dan mengerutkan alis ketika mencicipinya.

Pahit, pikir Navin, dan ia meminumnya seperti hukuman.

Untuk pertama kalinya sejak Kamis, sesuatu di dadanya bergeser. Bukan penyesalan lagi. Sesuatu yang lebih berbahaya: keinginan untuk memperbaiki keadaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!