Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Laila menganggukkan kepalanya pelan, menyandarkan keningnya yang dingin di dada bidang Musa.
Air matanya menetes tanpa henti, membasahi kain baju suaminya.
"Aku tidak mengenal mereka, Musa. Tapi, mereka menyiksaku," bisik Laila dengan suara parau yang sarat akan rasa sakit dan trauma masa lalu.
"Mereka menyiksaku tanpa ampun, sampai tubuhku rusak seperti ini."
Setiap kata yang keluar dari bibir Laila terasa seperti belati yang menghunjam tepat di jantung Musa.
Penguasa kegelapan yang biasanya berdarah dingin, tegap, dan tak pernah menunjukkan kelemahan itu kini hancur berkeping-keping.
Dada Musa bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya, pertahanan dirinya runtuh sepenuhnya.
Air mata menetes membasahi pipi tegas Musa, berjatuhan di bahu Laila.
Musa menangis sesenggukan, meratapi betapa kejam penderitaan yang harus ditanggung wanita yang teramat dicintainya itu—penderitaan yang ditanggung Laila demi menyelamatkan nyawa Musa satu tahun lalu.
Musa merengkuh tubuh Laila makin erat, seolah ingin menyerap seluruh rasa sakit dan ketakutan yang tersisa dari masa lalu istrinya.
Dengan jemari tegapnya yang gemetar, ia menangkup wajah Laila, lalu mengecupi setiap gurat luka di bahu dan punggung istrinya dengan rasa takzim dan kasih sayang yang teramat dalam.
"Cukup, Sayang. Cukup," bisik Musa di sela isak tangisnya, suaranya berat dan dalam.
"Demi Allah, Laila. Kamu tidak hina. Kamu sangat mulia di mata aku. Kamu adalah penyelamat ku."
Musa menatap lurus iris mata Laila yang berkaca-kaca.
Di balik air mata yang mengalir di pipinya, pendar mata Musa bertransformasi—menjadi pendar dendam yang begitu pekat dan mematikan.
"Siapa pun lelaki bertato kalajengking itu, dan siapa pun organisasi yang berdiri di belakangnya, aku bersumpah akan meratakan mereka dengan tanah. Aku akan membalas setiap tetes darah dan air mata yang pernah keluar dari tubuhmu, Laila," janji Musa dengan nada penuh penekanan tak terbantahkan.
Laila yang masih terisak perlahan memejamkan matanya.
Tubuhnya yang teramat lelah, ditambah sisa efek obat bius dan tekanan emosional yang hebat, tak lagi mampu bertahan.
Kesadarannya runtuh begitu saja, dan tubuhnya ambruk lemas dalam pelukan Musa.
"Laila!" seru Musa panik saat merasakan bobot tubuh istrinya terkulai sepenuhnya.
Musa membaringkan Laila dengan sangat berhati-hati di atas tempat tidur, lalu merapikan kembali pakaian dan membalutkan selimut hingga menutupi dada istrinya.
Dengan langkah cepat dan penuh kecemasan, ia berjalan ke pintu kamar dan membukanya lebar-lebar.
"Yusuf! Panggil Dokter Arga sekarang juga! Bawa dia ke kamar ini!" perintah Musa tegas, suaranya menggelegar di sepanjang koridor.
Yusuf yang bersiap di luar segera menghubungi Dokter Arga—dokter pribadi kepercayaan Musa yang selalu bersiap di markas bawah tanah mereka.
Tak butuh waktu lama, Dokter Arga tiba dengan membawa tas medis lengkap.
Dokter Arga bergegas masuk dan meriksa kondisi Laila.
Dengan sigap dan profesional, ia memasang selang infus ke pergelangan tangan Laila untuk memberikan nutrisi dan cairan penenang.
"Suhu tubuhnya drop dan fisiknya mengalami kelelahan yang luar biasa akibat trauma emosional, Bos. Tapi kondisinya stabil, beliau hanya pingsan karena kelelahan berat," papar Dokter Arga setelah memastikan jarum infus terpasang dengan rapi.
Musa mengangguk pelan, napasnya berembus lega meski gurat cemas belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.
"Biarkan dia istirahat."
Setelah Dokter Arga melangkah keluar untuk memantau dari luar room, Yusuf mendekat dengan raut wajah penuh tanda tanya dan rasa bersalah karena sempat mencurigai Laila.
"Bos, sebenarnya ada apa? Siapa Umi sebenarnya?" tanya Yusuf pelan, tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya.
Musa menyandarkan tubuhnya pada dinding, menatap lurus ke arah Laila yang terlelap di atas ranjang dengan selang infus melingkar di tangannya.
Dengan suara berat dan ketegangan yang tertahan, Musa menceritakan seluruh kebenaran—tentang penyiksaan kejam yang dialami Laila setahun lalu, luka-luka bakar dan cambukan di tubuhnya, serta pengorbanannya menahan rasa sakit luar biasa demi menyelamatkan nyawa Musa dari ancaman kelompok bertato kalajengking.
Yusuf yang mendengarkan penjelasan itu seketika membelalakkan mata.
Wajahnya pucat pasi, dipenuhi rasa syok dan penyesalan yang teramat dalam.
"Astaghfirullah," ucap Yusuf bergetar, meremas kedua tangannya sendiri.
"Jadi, Umi bukan musuh kita, melainkan pelindung Bos yang disiksa habis-habisan oleh mereka."
Yusuf menundukkan kepalanya dalam-dalam, dihinggapi rasa penyesalan yang membakar dada.
Bayangan saat ia membekap Laila dengan kain berbius tadi malam kini terasa seperti dosa besar yang menghantui pikirannya.
"Maafkan saya, Bos." suara Yusuf bergetar, sarat akan penyesalan tulus.
"Saya, sudah lancang mencurigai dan menyakiti Umi Laila. Saya siap menerima hukuman apa pun dari Bos."
Musa menghembuskan napas panjang. Sorot mata tajamnya menatap Yusuf, lalu mengibas-ibaskan tangannya pelan.
"Bukan salahmu, Yusuf. Kamu hanya menjalankan tugasku," ucap Musa rendah dengan gurat dingin yang kembali menguasai wajahnya.
"Tapi, mulai detik ini, pandanganmu dan seluruh orang kita harus berubah. Laila adalah nyawaku. Siapa pun yang menyentuhnya, artinya menantang maut denganku."
"Baik, Bos! Saya paham!" jawab Yusuf tegas, menyilangkan tangan di dada dengan penuh rasa hormat.
"Sekarang, alihkan seluruh sumber daya intelijen kita," perintah Musa, suaranya mendingin hingga membuat atmosfer ruangan terasa mencekam.
"Cari tahu siapa pemilik tato kalajengking itu. Lacak seluruh jaringan mereka, tempat persembunyian mereka, dan siapa yang memberi mereka perintah setahun lalu. Aku ingin nama, lokasi, dan struktur organisasi mereka ada di mejaku sebelum matahari terbit."
"Siap, Bos! Segera saya laksanakan!" Yusuf membungkuk hormat, lalu berbalik cepat meninggalkan kamar untuk mengeksekusi perintah sang penguasa.
Setelah pintu jati itu kembali tertutup rapat, suasana kamar berangsur hening.
Musa melangkah pelan mendekati ranjang, menarik kursi kayu, dan kembali duduk di samping Laila.
Ia memandangi wajah polos istrinya yang masih terlelap di bawah pengaruh cairan infus.
Jemari tegap Musa terulur, mengusap lembut helai rambut Laila yang menyebar di atas bantal, lalu menggenggam jemari lentur istrinya yang bebas dari jarum infus.
Musa membawa jemari dingin itu ke bibirnya, mengecupnya lama dengan pendar kasih yang begitu mendalam.
"Istirahatlah, Bidadariku." bisik Musa penuh kehangatan di tengah kegelapan malam.
"Mulai malam ini, tidak ada lagi ketakutan yang bisa menyentuhmu. Aku yang akan menjadi perisai dan pedangmu."
Musa memandangi wajah Laila yang tampak begitu lelah dalam lelapnya.
Rasa bersalah, penyesalan, dan rasa cinta yang teramat besar berbaur menjadi satu, memenuhi rongga dadanya.
Dengan gerakan yang sangat perlahan dan berhati-hati agar tidak mengganggu selang infus di tangan Laila, Musa naik ke atas tempat tidur.
Ia merebahkan tubuh tegapnya di samping sang istri, lalu merengkuh tubuh lembut Laila ke dalam pelukannya.
Musa menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, menyalurkan kehangatan dari dadanya ke tubuh Laila yang masih agak dingin.
Ia mendaratkan kecupan lembut yang lama di kening Laila, lalu menyandarkan dagunya di atas kepala istrinya.
Laila yang merasakan kehangatan familiar itu sedikit menggeser posisinya dalam tidur, makin menceruk masuk ke dalam dada bidang Musa, seolah menemukan tempat paling aman di seluruh dunia.
Musa memejamkan matanya, mengusap perlahan punggung Laila dengan ritme konstan yang menenangkan.
Di dalam keheningan malam itu, sang penguasa kegelapan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan wanita dalam pelukannya ini berjalan sendirian menghadapi bahaya.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii