Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Ini hari kesekian Rin libur kuliah. Rasanya kangen bangku kuliah, makanan di kantinnya dan canda tawa dengan teman sekelasnya. Tapi Roemah Roti masih sepi. Berita tentang Rin masih hangat di grup kampus. Tak banyak yang bisa Rin lakukan selain menenangkan diri.
Rin duduk di balik meja kasir, melamun. Masih mencari-cari jawaban. Tiba-tiba dia merindukan Al, merindukan duduk santai di bukit, tenang tanpa masalah. Masalahnya cuma satu, mengendalikan mood Al. Rin tersenyum tipis mengingat Al. Lalu...
Tring!
Pintu Roemah Roti terbuka, Vivian masuk dengan berpakaian serba mewah. Kemeja satin putih, rok pendek dan tak lupa tas mungil branded di tangannya. Di belakangnya dua wartawan mengikutinya dengan membawa kamera.
Tangan Rin bergetar di balik meja kasir, bukan karena takut melainkan menahan marah. Karyawan nenek menyambut Vivian dengan senyum ramah, tidak tahu siapa dia.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Vivian. Senyumnya manis tapi pandangan matanya menilai. Rin mengangguk.
Rin menarik napas, melepas apron dan menepuk celana kulot jeansnya yang sedikit terkena tepung. Rin melewati cermin dan melirik rambutnya yang diikat satu dan lepek kena keringat karena dari pagi dia di depan oven, memanggang roti.
Vivian sudah duduk di kursi menghadap etalase roti, menyilangkan kaki. Wartawan langsung stand by.
"Ada apa kak?" tanya Rin, berdiri. Tidak ikut duduk karena dia membatasi dirinya.
"Wah sambutan seperti apa ini? Bukankah tamu layaknya ditawari sesuatu?" ucap Vivian agak keras, sengaja biar wartawan mendengar. Mereka mengangguk dan terus memotret. Rin risih tapi dia tahan.
"Minum? Atau roti?" Rin menawarkan sesuatu demi kesopanan, suaranya datar.
Vivian tertawa kecil, "Nggak usah! Roti lo manis semua, itu bikin kalori gue nanti naik! Gue jaga badan Rin. Nggak kayak__" Dia menggantung kalimatnya sambil melirik Rin, lalu tertawa lagi.
Wartawan ikut tertawa canggung. Rin merasakan darahnya naik, tapi dia ingat pesan nenek : jangan meladeni orang nyebelin dengan marah!
"Lalu kakak mau ngomong apa? Kalau mau pesan roti dalam jumlah banyak, bisa chat ke admin Roemah Roti" ucap Rin dengan sopan.
Vivian mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu berbisik yang hanya bisa di dengar oleh Rin. "Gue mau nawarin sesuatu, jauhin Al dan gue bisa balikin pengunjung Roemah Roti ini,"
Rin tidak kaget, dia sudah menduga hal ini pasti berkaitan dengan Al yang sering mampir ke Roemah Roti. Rin tersenyum
"Oh soal Al?" jawab Rin, suaranya dibuat agak kencang biar wartawan dengar juga. Tidak ada rasa takut bagi Rin, "Pas banget kak! Kemarin Al juga cerita ke saya mau bikin film dokumenter, kalo nggak salah judulnya Cara Membongkar Kebohongan. Kakak pernah denger?"
Wajah Vivian langsung kaku, senyum khasnya hilang sedetik. Tangannya yang memegang tas mungil itu meremas keras.
Wartawan saling pandang, "Benarkah?"
"Apa itu film yang dimaksud? Bisa ceritain dikit?"
"Bareng Al anak T&T?"
"IYA! Bareng Al! Filmnya tentang cinta pertama yang belum selesai. Karena ada kemungkinan mereka balikan!" Vivian tersenyum ke arah kamera, sengaja melirik Rin.
"Iya kayaknya bareng Al anak T&T itu, karena selain memang kita jadi dekat lagi, juga biar chemistry-nya dapet. Soalnya ini mirip dengan kisah kami berdua. Film ini sebenernya udah lama kita rencanain semoga segera terealisasikan, biar nggak ada lagi yang ngerusak hubungan kedekatan kami, doain ya teman-teman semua!"
"Oh hubungan itu? Apa ada hubungannya dengan saudari Rin? Apa itu sebabnya Vivian ke sini?" tanya wartawan.
"Ohhh bisa iya, bisa tidak. Gue hanya nggak mau nanti film kami dibatalkan lagi karena ada yang nggak terima soal mantan yang balikan!" Vivian berkata dengan nada sinis. Setiap kata yang diucapkan Vivian seperti pisau yang menghujam Rin.
Nenek keluar dari dapur membawa seloyang roti yang masih panas dan menaruhnya di depan meja tepat di hadapan Vivian.
Brak!
"Coba dulu roti manis ini nona manis, supaya mulutnya tidak pahit lagi!" ucap nenek dengan senyuman tapi suaranya dingin menusuk.
Vivian kaget dan wartawan beralih memotret nenek.
Rin melihat nenek datang, keberaniannya bertambah. Akhirnya Rin duduk di hadapan Rin dengan santai.
"Selamat ya kak, semoga filmnya sukses. Nanti kalau udah selesai boleh dong dapat tiket nonton gratis? Saya dan Al pasti nonton di barisan depan" ucap Rin sambil tersenyum, membalas ucapan Vivian tadi.
"Tentu!" jawabnya sedikit canggung. Senyumnya tak karuan. Hilang sudah sifat ramah yang dibuat-buatnya sejak datang tadi.
Vivian berdiri, tas brandednya disampirkan dengan kasar. Konferensinya pers dadakannya gagal total. Dia tidak dapat reaksi cemburu yang dia mau dari Rin.
Sebelum keluar, Vivian menunduk pura-pura membetulkan sepatunya dan berbisik lagi. Kali ini lebih pelan dan lebih berbisa, hanya Rin yang bisa dengar:
"Gimana dengan berita kemarin? Ternyata lu nggak jera! Tunggu aja sampai lu bener-bener hancur!"
Rin membeku sesaat. Jantungnya berdebar keras ingin menampar wajah Vivian. Ternyata dia membuka kedoknya sendiri. Berita itu dari dia. Tapi bagaimana bisa dia leluasa keluar masuk kampus? Vivian tersenyum sinis, disangka berhasil memukul telak Rin
Hanya sesaat terlihat wajah kaget Rin, setelah itu Rin justru memberikan senyuman manis andalannya ketika melayani pengunjung Roemah Roti.
Vivian puas melihat wajah pias Rin sebelumnya. Meski sebentar harusnya ada efeknya. Dia melenggang keluar diikuti wartawan yang bingung dan bertanya-tanya ada apa dengan mereka berdua.
Tring!
Pintu tertutup. Nenek langsung memeluk Rin yang gemetar. Badan Rin luruh dan duduk kembali.
"Ada apa? Dia bisikin apa?" tanya nenek.
"Nek, dia... Dia yang bikin rumor gosip tentang aku, Roemah Roti juga Al. Dia yang buat skenario semuanya. Dia tadi..."
"Ssst... minum dulu, tenangin diri kamu. Cerita ke nenek pelan-pelan."
Setelah Rin agak tenang, dia menceritakan apa yang dibisikkan Vivian sebelum dia pulang.
"Itu artinya dia membuka kedoknya sendiri?" nenek tertawa mendengar cerita Rin.
"Tapi dia ngancam lagi nek,"
"Jangan takut! Kamu dipihak yang benar. Yang bisa dia lakuin hanya mengancam,"
"Tapi kalau nggak cuma ngancam gimana nek? Ini ulah dia juga bikin gosip yang jelekin nama Rin, Roemah Roti. Rin kaget dia sejahat itu! Rin nggak pernah ganggu dia nek,"
"Ssst... Itu pasti karena dia cemburu dengan kedekatan kamu dan Al, dia jadi semakin sulit dapatin Al lalu mencari cara supaya kalian nggak deket lagi," ucap nenek masuk akal.
"Benarkah?" tanya Rin. Belum sempat nenek menjawab...
Tring!
Pintu Roemah Roti terbuka lagi. Kali ini Al masuk dengan napas ngos-ngosan. Dia melihat Rin yang pucat di pelukan nenek, yang mengusap bahunya, menenangkan. Sesuatu pasti terjadi.
"Rin..!"
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok