Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA SISI SEBUAH RUMAH.
Melihat semua mata mengarah kepadanya, Pasya yang tidak tahu malu itu melangkah maju tanpa canggung sedikit pun, menyangka mereka berada di perkarangan rumah sedang menyambut dirinya. Bahkan ia menyunggingkan Senyuman penuh percaya dirinya begitu melihat tenda megah dan dekorasi pelaminan keemasan yang sudah berdiri kokoh.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Pasya penuh kepedean. "Wah, Ibu Royani memang paling mengerti keadaan Pasya. Terima kasih ya, Bu, sudah menyiapkan dekorasi sebagus ini buat pernikahan Pasya dan Inayah nanti."
Inayah yang mendengar penuturan itu seketika membelalakkan mata. "Eh, ape lu kate, pria parasit?! Lu kesambet petir di mana, hah?! Datang-datang kagak punya malu ngaku-ngaku ini pesta lu!" dampratnya penuh emosi yang tinggi.
Ibu Royani yang sejak tadi sudah menahan gemas, tidak bisa lagi membendung emosinya. Ia maju beberapa langkah seraya menunjuk wajah Pasya. "Iya! Huh! Dasar muka tembok banget sih lu! Dulu gua emang sempat berharap sama lu, tapi ternyata lu cuma memoroti anak gua, seenak jidat lu aja! Kembalikan semua uang anak gua yang udah lu pakai!"
"Tapi, Bu..." pasya mencoba menyela.
"Kagak ada tapi-tapian!" potong Royani melengking. "Orang miskin kagak tahu diuntung lu! Udah dikasih hati, malah minta jantung! Dasar pria kagak bermodal tapi sok mau kaya! Sono lu pergi ke neraka aja!"
Abiyan yang menyaksikan adegan itu dari kursi rodanya hanya bisa mengelus dada. Kini ia paham dari mana asal sifat ceplas-ceplos, galak, dan cerewet milik Inayah. Semuanya murni warisan genetik dari sang ibu. Sementara Pak Pirman hanya melongo pasrah melihat anak dan istrinya mendamprat pria itu habis-habisan.
Pasya yang panik tetap memasang raut memelas. "Bu, tolong mengertilah. Kan nanti kalau kami menikah, rumah dan mobil itu bakal jadi milik Inayah juga. Saya benar-benar mencintai Inayah, Bu. Tolong restui kami."
"Cinta mata lu soak!" cerca Ibu Royani makin geram. "Asal lu tau ya, Inayah tuh udah menikah sama lelaki yang jauh lebih baik dari lu! Bukan kayak lu yang mau nikah tapi kagak modal! Lihat semua dekorasi ini, semuanya suami Inayah yang menyiapkan! Boro-boro lu mau nyiapin semua ini. Rumah lu aja hasil keringat anak gua sendiri, pergi sono lu! Bikin empet mata gua aja!"
Pasya menggeleng keras, menatap tak percaya. "Itu bohong! Kagak mungkin Inayah mau nikah sama orang cacat, seperti dia Bu!" katanya sambil menunjuk Abiyan dengan tatapan menghina. "Naya cuma mencintai saya!"
Mendengar ucapan Pasya, Inayah memperagakan gerakan mual secara dramatis. "Huekkk! Dasar parasit tak tahu malu!"
Inayah merenggangkan kakinya, mengambil posisi kuda-kuda pencak silat yang mantap seraya mengepalkan kedua tangannya. "Pergi kagak lu?! Gua bogem juga nih muka lu ya!"
Melihat kepalan tangan Inayah dan tatapan matanya yang siap menerkam, keberanian Pasya seketika ciut. "Eh... eh, iya Nayah, jangan main fisik dong!"
Abiyan yang jemu melihat drama tersebut memberikan kodeisik halus berupa gerakan lirikan mata kepada Bara. Memahami instruksi sang majikan, Bara melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah baju Pasya dari belakang.
"Aduh! Apa-apaan ini?!" teriak Pasya kaget saat tubuhnya diseret paksa menjauh dari pekarangan.
"Anda bisa saya laporkan ke polisi detik ini juga atas tuduhan pemerasan dan penipuan," bisik Bara dingin di samping telinga Pasya. "Hukumannya minimal tiga tahun penjara. Mau coba?"
Kata penjara sukses membuat wajah Pasya pucat pasi. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung terbirit-birit berlari meninggalkan pekarangan rumah tanpa menoleh lagi.
Kakek Sudirja yang menyaksikan keributan itu dari awal mengusap janggutnya bingung. "Siapa sebenarnya pria tadi itu, Bu Royani?"
Ibu Royani menepuk bajunya, menetralkan napasnya yang masih tersengal-sengal. "Bukan siapa-siapa, Pak. Cuma orang gila bermuka tembok yang salah jalan!"
Pak Pirman menghela napas panjang lalu mendekati Kakek Sudirja. "Sebenarnya dia itu mantan kekasih Naya, Pak. Tapi ternyata anak saya cuma dimanfaatkan saja untuk mendapatkan tempat tinggal dan kendaraan."
"Kurang ajar sekali pria itu," gumam Kakek Sudirja menggeleng-gelengkan kepala.
"Sudah-sudah, mari kita masuk ke dalam rumah dulu, Pak, Bu," ajak Pak Pirman ramah.
Sesampainya di ruang tamu yang sejuk, mereka duduk melingkar di atas karpet tebal. Setelah beberapa saat mengobrol hangat, Pak Pirman menatap Kakek Sudirja dengan pandangan tulus.
"Oh iya, Pak Sudirja... kalau boleh tahu, di mana keberadaan Abraham sekarang?" tanya Pak Pirman penasaran.
"Ah, Abraham!" Kakek Sudirja merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. "Sebentar, saya telepon anak itu sekarang."
Kakek Sudirja menempelkan ponsel ke telinganya. Begitu panggilan terhubung, suara Kakek melengking tegas. "Halo, Bram! Kamu sekarang ke alamat yang Papa kirimkan via pesan. Datang sore ini juga!"
Dari seberang saluran, suara Abraham terdengar ragu. "Ada acara apa di sana, Pah? Baiklah, saya akan bersiap-siap berangkat bersama istri saya."
"Tidak usah membawa istri dan anakmu yang di sana!" potong Kakek Sudirja cepat.
"Loh, kenapa tidak boleh membawa mereka, Pah?" tanya Abraham makin bingung.
"Pokoknya jangan! Ini kejutan khusus untukmu. Jangan libatkan mereka!" tegas Kakek Sudirja tanpa memberi ruang bantahan.
"Baiklah kalau begitu, Pah. Sore ini saya meluncur ke lokasi," jawab Abraham mengalah sebelum menutup telepon.
Mendengar percakapan itu, Abiyan yang duduk di kursi rodanya seketika menepuk jidatnya sendiri. "Haaah... kenapa Kakek malah mengundang anak yang agak tulalit itu sih?" gumam Abiyan hampir berbisik.
Rupanya, Inayah yang duduk di sampingnya mendengar gumaman tersebut. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Abiyan lalu berbisik tajam. "Heh! Mau bagaimanapun dia agak tulalit, dia itu tetap Ayah kamu, Mas!"
Abiyan melirik istrinya dengan sudut mata, bibirnya terkatup rapat tanpa bisa membalas. Kehangatan dan tawa riuk kembali memenuhi ruang tamu rumah kayu itu, menyambut sore yang membawa harapan baru bagi mereka semua.
Bersambung...
Dear reader, terimakasih telah menyukai karya terbarunya Author Ramanda. Oh iya, Author selalu membaca setiap komentar, ada yang meminta update dobel. Oke akan Author lakukan, tapi sebelumnya, berikan dong Bintangnya serta ulasannya mengapa kalian menyukai karya ini. Karena ulasan tersebut bisa mempengaruhi karya ini menjadi yang terbaik, dan itu juga bisa menjadi pemicu Author semangat untuk update loh. jadi cus berikan dukungannya ya guys terimakasih 🙏🏻
thank thort 💪💪