NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Bayangan Sunyi

​"Bagaimana situasi di sekitar gubuk Ogen, Tanba?" tanya Hattori Hanzo datar tanpa membalikkan badannya.

​Enam bulan telah berlalu sejak badai mistis mengguncang puncak Gunung Kurama. Di bawah megahnya langit Kyoto, Toyotomi Hideyoshi kian mengukuhkan posisinya sebagai penguasa baru yang tak tertandingi, sementara di wilayah Mikawa, Tokugawa Ieyasu memilih untuk menahan diri dan memperkuat internal klannya dalam diam. Namun, di bawah rimbunnya hutan-hutan kuno yang memagari Gunung Kurama, kedamaian hanyalah ilusi yang tampak di permukaan. Sebuah perang dingin yang mematikan sedang berkecamuk di dalam kegelapan.

​Di sebuah air terjun tersembunyi di perbatasan Provinsi Iga, Hattori Hanzo berdiri tegak di atas batu cadas yang basah. Pakaian shinobi shozoku-nya berkibar pelan ditiup angin lembah. Di hadapannya, sesosok bayangan melompat turun dari rimbunnya pohon cedar dan langsung berlutut dengan satu kaki.

​Tanba Momochi mengangkat kepalanya, memperlihatkan sorot mata yang dipenuhi keletihan namun tetap waspada. "Restu spiritual dari Sojobo masih melindungi area terdalam hutan, Tuan Hanzo. Hawa keberadaan Ogen dan bayi perempuan itu sama sekali tak bisa diendus dari luar. Namun... tekanan dari Kyoto kian menjepit kita. Ninja-ninja bawahan Takenaka Hanbei tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah."

​Tanba kemudian merosotkan tangan ke balik jubahnya, mengeluarkan beberapa gulungan kecil berisi laporan intelijen berkala.

​"Selama beberapa bulan terakhir, aktivitas para pencari kayu, biksu keliling, dan pedagang di desa-desa kaki Gunung Kurama meningkat tiga kali lipat. Kami telah mengidentifikasi setidaknya dua puluh mata-mata Toyotomi yang menyamar dengan sangat rapi. Hanbei tampaknya sangat yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di gunung tersebut setelah fenomena malam badai itu," jelas Tanba.

​Hanzo menerima gulungan surat tersebut, membukanya, dan membaca baris demi baris laporan taktis dengan teliti. Alisnya bertaut ketika melihat catatan tentang bentrokan fisik yang mulai terjadi.

​"Kau membiarkan darah tertumpah, Tanba?" tanya Hanzo, nadanya sedingin es.

​"Kami tidak punya pilihan, Tuan," jawab Tanba dengan nada mendesak. "Dua minggu lalu, sekelompok ninja Hanbei yang menyamar sebagai pemburu liar berhasil menembus batas perimeter luar hutan Kurama. Mereka hampir saja menemukan jalur setapak rahasia yang menuju ke arah tempat pengasingan Ogen. Pasukan Iga terpaksa melakukan penyergapan cepat di kegelapan malam."

​Bentrokan di dalam kegelapan hutan Kurama itu berlangsung brutal namun senyap. Tanba menceritakan bagaimana senjata rahasia, kunai, dan bilah ninjato beradu di balik kabut tebal gunung. Ninja Iga berhasil menyapu bersih kelompok penyusup tersebut tanpa menyisakan satu pun korban hidup yang bisa membawa informasi kembali ke Kyoto. Namun, Hanbei bukanlah orang bodoh. Kehilangan satu tim pengintai justru menjadi konfirmasi bagi sang ahli strategi Toyotomi bahwa memang ada "sesuatu" yang sangat berharga yang sedang dijaga mati-matian di sana.

​Beberapa hari setelah insiden itu, konflik kembali pecah di sebuah desa kecil di kaki gunung. Kali ini, ninja Iga terpaksa menggunakan racun pelumpuh saraf untuk membungkam seorang mata-mata Toyotomi yang kedapatan sedang menginterogasi penduduk desa mengenai keberadaan "wanita hamil yang mengasingkan diri."

​Hanzo meremas gulungan surat di tangannya hingga hancur menjadi serpihan kecil. "Hanbei adalah pria yang teramat jeli. Semakin kita memotong tangannya, semakin besar rasa penasarannya. Jika ini terus berlanjut, dia akan meminta Hideyoshi mengirimkan sepasukan tentara resmi untuk menggeledah seluruh wilayah Kurama atas nama hukum kaisar. Dan itu akan menjadi akhir dari penyamaran kita."

​"Lalu, apa perintahmu, Tuan Hanzo?" tanya Tanba, siap menerima instruksi terburuk.

​Hanzo membalikkan badannya, menatap ke arah utara di mana Kyoto dan Gunung Kurama berada. Bekas luka di pelipis mata kirinya tampak menegang.

​"Ubah taktik kalian," perintah Hanzo dengan suara rendah namun penuh otoritas. "Jangan lagi melakukan konfrontasi langsung di sekitar area kaki gunung. Biarkan beberapa area luar terlihat kosong seolah-olah tidak ada yang dijaga. Alihkan perhatian mata-mata Hanbei dengan membuat rumor palsu di tempat lain—katakan bahwa gejolak malam itu adalah ritual terlarang dari para biksu sesat di Gunung Hiei."

​Hanzo terdiam sejenak, membayangkan wajah mungil bayi perempuan tanpa nama, Mumei, yang kini tumbuh dalam dekapan mistis para Tengu.

​"Aku sendiri yang akan pergi ke Kyoto untuk memantau pergerakan Hanbei dari dekat. Sementara itu, pastikan Ogen tidak meninggalkan gubuknya sedikit pun. Darah terakhir Oda Nobunaga sedang dipertaruhkan di atas pundak kita, Tanba. Jangan kecewakan aku."

​"Hamba laksanakan dengan taruhan nyawa, Tuan!" ucap Tanba dengan penuh tekad, sebelum akhirnya melebur kembali ke dalam rimbunnya dedaunan hutan, meninggalkan Hanzo yang berdiri sendirian di bawah gemuruh air terjun. Perang dalam bayangan telah dimulai, dan setiap langkah keliru akan menyulut api yang bisa membakar seluruh daratan Jepang sekali lagi.

​*

​Sementara wilayah tengah Jepang bergolak dalam perang intelijen yang senyap, di wilayah timur, sebuah arogansi batu karang berdiri kokoh menantang zaman.

​Jauh di Provinsi Sagami, di dalam aula utama Kastil Odawara—benteng raksasa yang terkenal tak tertembuskan dan dikelilingi oleh parit-parit pertahanan terdalam di seluruh daratan Jepang—duduk penguasa klan Hojo, Ujimasa Hojo. Ia mengenakan jubah kebesaran yang kaku dengan lambang tiga segitiga bertumpuk (Mitsuroko), lambang kejayaan klan Hojo yang telah mengakar kuat di tanah Kanto selama beberapa generasi.

​Di hadapannya, tergeletak sebuah gulungan sutra putih berhiaskan tinta emas dengan segel resmi klan Toyotomi. Surat itu dibawa langsung oleh utusan dari Kyoto beberapa hari yang lalu. Isinya adalah ajakan diplomatis—atau lebih tepatnya, sebuah ultimatum halus—dari Hideyoshi Toyotomi yang menawarkan aliansi antarklan demi mewujudkan perdamaian abadi di seluruh Jepang.

​Ujimasa membaca surat itu untuk yang kesekian kalinya. Alih-alih merasa terhormat atau khawatir, seulas senyum sinis justru terukir di wajahnya yang mulai menua namun dipenuhi keangkuhan. Dengan gerakan kasar, ia melemparkan gulungan surat berharga itu ke atas lantai tatami, membiarkannya tercampak seperti sampah tak berguna.

​"Aliansi?" cemooh Ujimasa, suaranya yang berat menggema di langit-langit aula yang tinggi. "Si 'Monyet Bijak' dari Aichi itu rupanya benar-benar sudah lupa daratan setelah memakai jubah Kampaku. Beraninya seorang mantan petani ingusan yang kebetulan beruntung memegang tampuk kekuasaan, mencoba mendikte klan Hojo?!"

​Di sekeliling aula, beberapa jenderal senior klan Hojo duduk membungkuk, mendengarkan amarah tuannya dengan saksama. Salah satu penasihat tua mencoba menyela dengan hati-hati. "Namun, Tuan Ujimasa... Hideyoshi saat ini telah menguasai Kyoto, Osaka, dan mendapat restu penuh dari Kaisar. Pasukannya berjumlah ratusan ribu dan dia telah menundukkan banyak klan besar di barat. Apakah bijak jika kita menolak mentah-mentah tawarannya?"

​Ujimasa langsung menggebrak meja kayu di hadapannya dengan keras, membuat penasihat itu refleks menundukkan kepala lebih dalam.

​"Tunduk pada Toyotomi? Jangan konyol!" tukas Ujimasa dengan nada sombong yang meluap-luap. "Klan Hojo tidak akan pernah menjalin aliansi dengan pihak mana pun, apalagi menyerahkan leher kami pada seorang oportunis seperti Hideyoshi! Kanto adalah milik kami, dan akan tetap menjadi milik kami."

​Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah parit luar Kastil Odawara dan Samudra Pasifik di kejauhan. Matanya berkilat penuh kebanggaan saat memandang wilayah kekuasaannya.

​"Ingatlah sejarah kita!" seru Ujimasa membanggakan pencapaian klan Hojo di masa lalu. "Klan Hojo telah menguasai wilayah Kanto ini dengan pedang dan kebijaksanaan selama hampir satu abad. Leluhur kita, Hojo Soun, membangun kejayaan ini dari ketiadaan. Kita telah menghadapi gempuran dari klan-klan terkuat di Jepang! Apakah kau lupa ketika Takeda Shingen yang agung mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengepung kastil ini? Kastil Odawara tetap tegak berdiri! Apakah kau lupa ketika Uesugi Kenshin, 'Dewa Perang' dari Echigo, membawa puluhan ribu samurainya menembus dinding luar kita? Mereka semua pulang dengan tangan kosong dan kekalahan!"

​Ujimasa membalikkan badannya, menatap para bawahannya dengan tatapan intimidatif. "Kastil Odawara adalah benteng yang mustahil ditembus oleh manusia. Kita memiliki persediaan logistik yang cukup untuk bertahan selama bertahun-tahun di dalam sini. Jika si monyet Toyotomi itu berani membawa pasukannya ke timur, maka Kanto akan menjadi kuburan massal bagi mereka."

​Arogansi Ujimasa Hojo telah menutup matanya dari kenyataan bahwa dunia di luar Kanto telah berubah drastis setelah runtuhnya Kuil Honnoji. Baginya, tembok raksasa Odawara dan sejarah kejayaan masa lalu klan Hojo adalah perisai absolut yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun—termasuk oleh sang penguasa baru Jepang, Hideyoshi Toyotomi.

​Dengan penolakan keras ini, benih-benih konflik besar di masa depan telah tertanam. Sementara perang dalam bayangan memperebutkan Mumei berkecamuk di Kurama, genderang perang terbuka antara barat dan timur kini mulai berbisik dari balik dinding-dinding angkuh Kastil Odawara.

​*

​Jauh di utara yang dingin, melintasi pegunungan terjal yang membatasi wilayah Kanto, angin salju tipis mulai turun menyelimuti Provinsi Oshu. Di sinilah klan Date bertakhta di bawah kepemimpinan seorang pemuda yang dijuluki Dokuganryu—si Naga Mata Satu.

​Di dalam ruang pertemuan pribadi Kastil Yonezawa yang temaram, Masamune Date duduk bersandar pada bantalan sutra hitam. Penutup mata berbahan kulit hitam menutupi mata kanannya yang buta, sementara mata kirinya yang tersisa berkilat tajam bagai belati, menatap sosok pria yang duduk berlutut di hadapannya.

​Pria yang berlutut itu bukan menggunakan pakaian samurai, melainkan jubah pedagang keliling yang tebal guna menembus dinginnya udara utara. Namun, Masamune tahu betul bahwa pria ini adalah utusan rahasia tingkat tinggi yang dikirim langsung oleh Tokugawa Ieyasu dari Provinsi Mikawa.

​Di atas meja kecil di antara mereka, terletak sebuah surat rahasia berkode khusus dengan segel klan Tokugawa yang telah dibuka.

​"Jadi... tuanmu yang bijaksana itu menyarankanku untuk segera menyerahkan sumpah setia kepada si 'Monyet' Toyotomi di Kyoto?" tanya Masamune, nadanya terdengar santai namun menyimpan getaran bahaya yang pekat. Pemuda berusia belasan tahun itu memainkan gagang katananya dengan ibu jari.

​"Bukan sekadar bersumpah setia, Tuan Date," jawab sang utusan dengan suara rendah dan penuh takzim. "Tuan Ieyasu mengirim hamba untuk menyampaikan pesan bahwa dunia telah berubah setelah Yamazaki. Hideyoshi Toyotomi kini memegang mandat kaisar. Menentangnya secara terbuka saat ini adalah bentuk tindakan bunuh diri yang sia-sia."

​Sang utusan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Tuan Ieyasu menyarankan agar klan Date menjalin hubungan diplomatik dan secara formal masuk ke dalam lingkaran pasukan Toyotomi. Dengan berlindung di bawah payung Toyotomi untuk sementara waktu, Tuan Date dapat terus memperkuat pengaruh di wilayah Oshu tanpa perlu khawatir akan gempuran dari barat."

​Masamune Date terdiam. Ia bangkit berdiri dan melangkah ke sudut ruangan tempat zirahnya dipajang—sebuah zirah hitam pekat dengan hiasan kepala (kabuto) berbentuk bulan sabit emas yang besar dan ikonik.

​Berbeda dengan Ujimasa Hojo di Odawara yang terbuai oleh arogansi masa lalu, Masamune adalah seorang realis yang berpandangan jauh ke depan. Ia tahu klan Date memiliki pasukan berkuda dan penembak sundut yang tangguh, namun menghadapi gelombang ratusan ribu pasukan Toyotomi yang telah menyatukan wilayah barat dan tengah adalah hal yang berbeda.

​"Ieyasu Tokugawa memang rubah tua yang teramat cerdik," gumam Masamune, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dia sendiri memilih untuk menahan diri di Mikawa dan mengikuti arus Hideyoshi, sambil membangun kekuatannya sendiri dalam bayangan."

​Masamune membalikkan badan, menatap utusan rahasia tersebut dengan mata kirinya yang menembus kegelapan.

​"Katakan pada tuanmu, aku menerima saran diplomasinya. Klan Date tidak akan bertindak bodoh dengan menjadi tameng bagi keangkuhan Hojo di Kanto. Aku akan mengirimkan utusan resmi ke Kyoto untuk menyatakan dukunganku pada pasukan Toyotomi," ucap Masamune tegas.

​Namun, sebelum utusan itu sempat bernapas lega, Masamune menambahkan dengan nada dingin yang menusuk tulang, "Namun ingat ini... aku tunduk pada momentum, bukan pada Hideyoshi. Hari ini klan Date masuk ke dalam lingkarannya, tetapi jika suatu saat sang 'Monyet' itu tergelincir dari takhtanya, Naga Mata Satu dari Oshu ini yang akan pertama kali terbang untuk mencabik lehernya."

​Sang utusan menundukkan kepala dalam-dalam, mengerti bahwa aliansi rahasia ini telah mengamankan posisi Tokugawa dan Date dalam papan catur politik Jepang.

1
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!