Di Kekaisaran Tianming, Pangeran Ke-14 bernama Mu Xuanyuan dikenal oleh seluruh penjuru istana sebagai pangeran yang "cacat": bodoh, tidak bisa bertarung, gila, dan selalu tersenyum ceria tanpa peduli situasi. Ia menjadi bahan tertawaan para pejabat dan target perundungan utama dari Pangeran Ke-3 (Lu Cangqiong) yang arogan. Dari 21 bersaudara (8 kakak laki-laki, 5 kakak perempuan, 4 adik laki-laki, dan 3 adik perempuan), hampir tidak ada yang menganggap Xuanyuan sebagai ancaman.
Namun, di balik topeng ceria dan tingkah konyolnya, Mu Xuanyuan adalah entitas paling berbahaya di seluruh benua. Ia secara rahasia telah mencapai ranah Immortal Emperor Puncak (Ranah Kaisar Abadi). Tak hanya itu, ia adalah pemilik sah dari Paviliun Lelang Xingzhou (balai lelang terbesar di benua) dan raja di balik Pasukan Bayaran Po Jun (tentara bayaran paling menakutkan). Ia juga memiliki Ruang Dimensi Portabel yang berisi ladang tanaman obat langka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15: Acting Crazy to Save Trouble
Malam semakin larut, menyelimuti Kota Kekaisaran Tianming dalam keheningan dingin yang menusuk tulang. Di Kediaman Pangeran Ke-14 yang sengaja dibiarkan tampak reyot dan tidak terurus dengan bambu-bambu kering yang dibiarkan patah dan jalur batu taman yang ditumbuhi lumut tebal suasana di dalam kamar utama justru sangat kontras.
Di atas meja kayu jati tua, sebotol teh yang diseduh dari daun Giok Langit mengepulkan aroma harum yang langsung menenangkan jiwa siapa pun yang menghirupnya. Mu Xuanyuan duduk bersila dengan santai, sementara di hadapannya, Feng Wuchen dan Gu Juechen berdiri siaga mengawasi pintu luar.
"Pangeran," bisik Gu Juechen dengan nada rendah namun penuh rasa ingin tahu, "setelah kejadian di perjamuan tadi, Pangeran Ke-3 pasti sedang mengamuk di istananya. Ia tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan di hadapan Kaisar dan para pejabat tinggi."
Xuanyuan terkekeh pelan. Ia melemparkan sebuah buah persik spiritual yang berkilau ke udara, lalu menangkapnya kembali dengan sigap. "Biarkan saja dia marah, Gu Juechen. Kemarahan adalah jalan pintas tercepat bagi seseorang untuk membuat kesalahan bodoh. Semakin dia bernafsu menjatuhkanku, semakin mudah bagiku untuk menikmati teh ini dengan tenang."
Di istana terpisah yang megah dan diterangi ratusan lilin permata, kemarahan memang sedang membakar dada Lu Cangqiong.
Brak!
Sebuah meja porselen berharga mahal hancur berkeping-keping akibat hantaman telapak tangan Lu Cangqiong yang diselimuti energi Qi merah. Wajah pangeran ketiga itu pucat pasi karena amarah dan rasa malu yang mendalam.
"Sialan! Sialan! Sialan!" teriak Lu Cangqiong kalap, membuat para pelayan di sekitarnya bersujud ketakutan di lantai dingin. "Bagaimana mungkin si idiot itu memiliki Akar Ginseng Darah Surgawi?! Seekor sampah yang kerjanya hanya bermain burung kayu mendadak mengeluarkan harta legendaris yang bahkan dicari oleh para tetua sekte besar!"
Kepala pengawalnya merangkak maju dengan gemetar. "P-Pangeran Ke-3, ada kemungkinan... ada orang kuat misterius yang sengaja melindungi Pangeran Ke-14 di balik layar. Atau mungkin Paviliun Xingzhou sedang mempermainkan kita."
"Paviliun Xingzhou..." mata Lu Cangqiong menyipit tajam penuh kebencian. "Balai lelang terkutuk itu memang selalu misterius. Tapi tunggu saja perburuan lelang minggu depan. Ayahanda sudah mulai melirik pencapaian itu, dan aku akan membuktikan di hadapan seluruh benua bahwa Mu Xuanyuan hanyalah benalu yang harus disingkirkan dari takhta!"
Kembali ke kediaman Xuanyuan, angin malam berembus lembut membawa aroma harum bunga peony dan melati yang khas.
Wusss...
Tanpa suara, dua sosok bayangan melompati dinding halaman yang reyot dan mendarat mulus di beranda. Sosok pertama berbalut jubah merah menyala dengan kipas emas di tangan, sementara sosok kedua mengenakan pakaian tempur praktis berwarna gelap dengan ekspresi wajah kesal. Siapa lagi kalau bukan Leng Yan dan Leng Shuang.
Feng Wuchen dan Gu Juechen langsung merespons dengan meletakkan tangan di hulu pedang, namun begitu mengenali kedua tamu tersebut, mereka mengendurkan kewaspadaan dan kembali berdiri kaku.
Pintu kamar terbuka perlahan tanpa diketuk. Leng Yan melangkah masuk dengan gaya yang begitu anggun, mengibaskan kipasnya perlahan sementara matanya langsung mengunci sosok Mu Xuanyuan dengan tatapan penuh puja-puji.
"Oho~ Malam yang indah untuk bertamu ke istana pangeran tercinta!" sapa Leng Yan dengan suara mendayu-dayu yang memikat. "Maafkan kedatangan kami yang diam-diam ini, Yang Mulia. Tapi berita tentang aksi pamer ginseng jutaan tahun milikmu di perjamuan tadi sudah menyebar luas ke seluruh penjuru ibu kota seperti api di padang rumput."
Leng Shuang yang mengekor di belakang kakaknya langsung menjitak kepala Leng Yan dengan gulungan kertas tebal. "Berhenti merayu, Kakak Bodoh! Kita datang kesini untuk urusan penting, bukan untuk pamer lidah manismu!"
"Aduh, Shuang'er! Kekejamanmu pada kakak sendiri sungguh membuat hatiku terkoyak!" keluh Leng Yan sambil mengusap kepalanya, meski senyum menggoda di bibirnya tidak pernah luntur.
Xuanyuan tertawa renyah, meletakkan buah persik di piring giok, lalu menunjuk dua bangku kosong di hadapannya. "Silakan duduk, kalian berdua. Sepertinya kabar angin di ibu kota bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan terbang pedang spiritual."
Leng Shuang langsung melangkah maju dan membentangkan gulungan kertas di atas meja Xuanyuan. Wajahnya yang biasanya tegas kini menyuratkan guratan kecemasan yang nyata.
"Yang Mulia, informasi yang dibawa oleh jaringan Paviliun Redup kami sangat mengkhawatirkan," kata Leng Shuang dengan nada serius. "Kotak giok bersegel Immortal Emperor yang masuk ke Balai Lelang Xingzhou telah memicu pergerakan besar-besaran dari faksi-faksi bayangan di benua tengah. Sekte Pedang Langit, Lembah Racun Seribu, hingga utusan khusus dari Kekaisaran Utara telah memasuki ibu kota."
Leng Yan menutup kipasnya, ekspresi flamboyannya meredup digantikan oleh aura seorang penguasa informasi dunia bawah yang berbahaya. "Lebih dari itu, Han Xingzhou mengirim pesan rahasia bahwa segel di kotak giok tersebut mulai berdenyut tidak stabil sejak sore tadi. Ada kemungkinan besar artefak itu bukan sekadar peninggalan kuno, melainkan sebuah kunci menuju reruntuhan dimensi terlarang—atau perangkap maut."
Mendengar penjelasan itu, Mu Xuanyuan tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, mengambil secangkir teh Giok Langit, dan menyeruputnya perlahan.
"Perangkap atau kunci, semuanya akan terjawab saat lelang dimulai," ujar Xuanyuan tenang. Ia mengangkat pandangannya, menatap Leng Yan dan Leng Shuang secara bergantian. "Bagaimana dengan pengamanan di balai lelang? Apakah faksi kerajaan sudah mencium keterlibatan langsung Paviliun Xingzhou dengan pihak lain?"
"Pangeran Ke-3 dan Putra Mahkota Long Wuji sedang mengerahkan mata-mata terbaik mereka untuk menyelidiki siapa pemilik asli di balik kotak giok tersebut," jawab Leng Shuang. "Mereka menduga ada kekuatan besar yang mencoba menyaingi dominasi keluarga kekaisaran."
Xuanyuan tersenyum lebar, kembali memasang ekspresi ceria dan konyol khasnya—seolah-olah seluruh pembicaraan serius barusan hanyalah obrolan tentang cuaca sore hari.
"Baguslah kalau begitu!" seru Xuanyuan dengan nada cempreng yang riang. "Biarkan mereka pusing mencuri bayangan! Aku justru ingin melihat seberapa jauh Pangeran Ke-3 akan mempermalukan dirinya sendiri saat mencoba menawar barang di balai lelang milikku sendiri!"
Leng Yan terkekeh pelan, menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil menatap Xuanyuan penuh kekaguman. "Ah... betapa menyenangkannya melihat Yang Mulia begitu santai di tengah badai besar yang akan melanda benua. Apapun yang terjadi di lelang nanti, Paviliun Redup dan seluruh pasukan bayanganku akan berdiri di belakangmu, Pangeran."
"Dan aku akan memastikan Kakakku tidak melakukan hal bodoh yang merusak rencana kita," tambah Leng Shuang dengan helaan napas pasrah.
Xuanyuan mengangguk puas. Ia tahu bahwa badai yang sebenarnya baru akan dimulai pada hari lelang akbar nanti. Namun selama ia masih bisa menikmati tehnya, memakan buah ajaib dari dimensi portabelnya, dan berpura-pura menjadi pangeran bodoh yang tidak berbahaya, seluruh intrik di Kekaisaran Tianming ini tidak lebih dari sebuah pertunjukan wayang yang sangat menghibur.