Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Luna inginkan
Di sebuah kediaman megah berarsitektur modern di kawasan elit ibu kota, suasana pagi itu terasa begitu mencekam. Rumah seluas ribuan meter persegi milik Adrian Wijaya itu sangat sunyi, hanya dihiasi gemercik air kolam dan ketukan sepatu para pekerja yang melangkah serba hati-hati.
Di lantai dua, pintu kamar berukir indah mendadak diketuk, Seorang wanita berseragam rapi dengan rambut tersanggul sempurna muncul dari balik pintu dengan wajah pucat pasi.
"Tuan... maafkan saya," bisik wanita itu gemetar seraya menunduk dalam-dalam di hadapan Adrian.
Adrian Wijaya, pria yang baru saja mengenakan jam tangan mewahnya, menghentikan gerakannya. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak dingin tanpa ekspresi. "Ada apa lagi, Siska? kamu pengasuh ketiga bulan ini."
"Nona Luna... beliau tidak mau disentuh sama sekali, Tuan. Makanan dari saya dijatuhkan, dan beliau melarang saya mendekati meja belajarnya. Saya... saya takut salah bertindak dan membuat Nona Luna trauma," terang Siska, pengasuh bertaraf internasional dengan sertifikat pendidikan anak yang disewa Adrian dengan gaji puluhan juta rupiah.
Adrian menghela napas berat. Tanpa bersuara lagi, ia melangkah masuk ke dalam kamar putrinya.
Di sudut ruangan yang luas dan penuh mainan mahal itu, seorang bocah perempuan berusia enam tahun duduk meringkuk di atas karpet bulu. Tangannya yang mungil memeluk erat sebuah boneka kelinci kusam, pemberian almarhum ibunya.
"Luna," panggil Adrian lembut, menurunkan sudut matanya yang biasa menatap tajam para direktur perusahaan. Pria itu berlutut di hadapan putrinya. "Kenapa Sus Siska disuruh keluar? Dia kan cuma mau bantu Luna sarapan dan bersiap-siap."
Luna tidak mendongak. Jemari kecilnya meremas telinga boneka kelinci itu makin erat. "Luna tidak mau Sus Siska. Luna tidak mau siapa-siapa."
"Luna, Sus Siska itu pengasuh profesional. Dia di sini buat bantu Luna," tutur Adrian seraya mencoba mengusap rambut putrinya. Namun, Luna seketika menghindar, membuat tangan Adrian mengambang di udara.
"Mereka semua jahat, Papa! Mereka cuma pura-pura senyum kalau ada Papa! Kalau Papa pergi, mereka cuma berdiri di sana, seperti patung!" jerit Luna kecil, matanya yang bulat mulai berkaca-kaca.
Adrian memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Di mata Adrian, seorang pengusaha sukses yang terbiasa dengan logika dan aturan, semua pengasuh yang ia sewa sudah melalui seleksi ketat. Mereka sangat sopan, menjaga jarak profesional, dan tidak pernah berani membentak Luna.
Adrian tidak menyadari bahwa justru "jarak profesional" dan ketakutan para pengasuh itulah yang membuat Luna merasa terasing. Bagi Luna, para pengasuh mahal itu hanya memandangnya sebagai "pekerjaan yang harus diselesaikan tanpa cela demi gaji besar", bukan sebagai bocah kecil yang lapar akan kasih sayang tulus. Tidak ada pelukan hangat tanpa canggung, tidak ada tawa lepas, dan tidak ada rasa aman.
Adrian mengira, sikap keras kepala putrinya belakangan ini hanyalah bentuk fase memberontak dan emosi yang belum stabil pasca ditinggal almarhum ibunya.
"Sudah, jangan menangis lagi," ucap Adrian akhirnya, mencoba bersabar meski dadanya terasa sesak. "Papa ada rapat penting pagi ini. Luna sarapan di kamar ya? Papa suruh bibi dapur yang antar."
Luna hanya bungkam, membenamkan wajahnya ke dalam boneka.
Adrian berdiri, menatap putrinya sejenak dengan tatapan penuh rasa bersalah dan kebingungan yang tak terobati. Pria yang memegang kendali atas gurita bisnis bernilai ratusan triliun rupiah itu merasa sangat tak berdaya di hadapan putri kecilnya sendiri. Uang melimpah yang ia miliki nyatanya tak mampu membeli kehangatan sejati yang sangat dibutuhkan Luna.
"Sus, awasi dari luar jika dia tidak mau didekati," perintah Adrian dingin saat keluar kamar, lalu melangkah turun menuju mobil mewahnya yang sudah menunggu.
Ia harus pergi ke rapat direksi untuk persiapan proyek pembangunan infrastruktur ekowisata besar di sebuah desa.