perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rencana menikah
malam itu di kediaman wulan, aji datang hendak bertemu dengan kedua orang tua wulan.
"selamat malam om"
"selamat malam... masuk" ucap pak anton yang tengah ngopi santai di teras rumahnya. "nyari wulan?"
aji mengangguk
"wulan... ada aji" pak anton memanggil anaknya "dari kemarin dia sakit"
"iya om, kemarin saya antar ke dokter"
Tak lama kemudian wulan dan bu yuni datang menyapa aji
"aji... apa kabar" sapa bu yuni
"alhamdulillah kabar baik tante, bagaimana perjalanannya tante?"
"capek... besok harus ke Muntilan lagi, mbah Putri sakit"
"iya tante, semoga lekas sehat kembali" ucap aji datar
"masuk ji... jangan di luar" bu yuni mengajak aji untuk masuk kedalam rumahnya. tak lama kemudian pak anton dan bu yuni meninggalkan aji dan wulan di ruang tamu
"kamu benar-benar siap mau bilang ke ayah mas?"
"InsyaAllah"
Wulan memanggil lagi kedua orang tuanya
"yah... buk, aji mau bicara" wulan menghampiri kedua orang tuanya
di ruang tamu aji sudah merasakan panas dingin, gugup, takut, takut kalau pak anton sampai naik pitam.
Pak anton dan bu yuni mengambil posisi duduk menghadap ke arah aji.
"om... tante, saya berniat untuk menikahi wulan"
bu yuni terkejut "wulan belum selesai kuliahnya"
"boleh kalian lamaran, tapi untuk menikah bisa di tunda beberapa tahun lagi" ujar pak anton
suara aji tercekat "tapi kita harus segera menikah om"
Pak anton memandang curiga "tunggu sampai wulan menyelesaikan kuliahnya"
"wulan tinggal sidang skripsi yah" sela wulan
"tapi kamu kan ingin berkarir seperti yang kamu ucapkan dulu nak"
"wulan hamil yah" dengan suara pelan wulan menyampaikan dengan suara bergetar
kedua orang tuanya terkejut dengan apa yang mereka dengar
"maafkan wulan yah" wulan menangis
"kenapa kalian seperti ini?" ucap pak anton pelan dengan nada kecewa. bu yuni hanya bisa terisak pelan, membayangkan beban moral yang akan mereka tangung jika sampai orang lain mengetahuinya. dari balik dinding ada sepasang telinga yang mendengarkan tanpa dia sengaja
"bik... bibik dengar semuanya?" tegur bu yuni yang tiba-tiba menuju ruang tengah dan medapati pembantunya disana
"maafkan saya buk"
"ini aib keluarga saya bik, tolong jangan sampai orang lain mengetahui ya"
"baik bu" ucap bik asih patuh
bu yuni berlalu meninggalkan bik asih yang masih mematung disana. tak berapa lama bu yuni duduk di tempatnya semula.
"yah, semua sudah terjadi. jalan satu-satunya hanya menikahkan mereka" ucap bu yuni lirih, terdengar sangat kecewa
"ya... betul buk. aji... bawa orang tuamu kesini. kita bicarakan baik-baik" perintah pak anton
"baik om" jawab aji pelan "wulan nanti ada yang perlu aku bicarakan" tegas aji
"iya mas"
Pak anton dan bu yuni meninggalkan merdeka berdua dengan kekecewaan yang sangat besar.
"ada apa mas? apa yang mau kamu bicarakan?"
"jangan bicara disini, ayo kita ngobrol di luar"
"di teras?"
"ndak... kita cari tempat yang santai sambil menenangkan pikiran" pinta aji dan wulan menurutinya
Setelah berpamitan kepada kedua orang tua wulan, mereka berdua pergi kesalah satu caffe yang dirasa tidak terlalu ramai.
"bicara apa mas?"
"pernikahan kita"
"kan bisa kita bicarakan di rumah, kenapa harus disini"
Aji menyamankan posisi duduknya dengan wajah tegap menghadap ke arah wulan
"pernikahan kita seperti ini tidak sah secara agama lan, jika kita melakukan hubungan suami istri akan tetap zinah"
"lantas?"
"aku mau kita menikah secara sirih dulu"
Kata-kata aji tak bisa dicerna dengan benar oleh wulan
"maksud kamu kita nikah sirih? trus ketika anak ini lahir, kamu akan dengan bebas meninggalkan aku?" nada wulan meninggi
Sttttt.... "jangan keras-keras" ucap aji sambil menoleh kanan dan kiri "bukan begitu maksud ku, setelah anak ini lahir kita bisa menikah secara hukum"
"kenapa harus sampai anak ini lahir? kenapa ndak langsung menikah sah saja"
"perutmu akan semakin besar lan, mengurus surat ke KUA tidak sehari selesai, masih membutuhkan waktu 3 sampai 4 bulan, sedang KTP ku belum pindah ke alamat sekarang. prosesnya panjang"
Wulan diam
aji sengaja mengulur waktu sambil mencari tau siapa ayah biologis anak yang di kandung oleh wulan. aji tak mau membeli kucing dalam karung, karena dia tidak yakin jika anak itu adalah anaknya.
"lantas bagaimana jika ayah dan ibuku tanya"
"ya di jawab saja apa adanya, kita ndak bohong kan. sambil nunggu wisudamu"
jelas aji
"setelah anak ini lahir, kita menikah secara sah, secara hukum dan agama, kita tidak zinah"
"oke masuk akal, terus bagaimana dengan akta lahir anak ini? kalau kita tidak menikah secara sah"
"itu bisa di pikirkan wulan, bukan hal yang rumit masalah pencatatan sipil. bisa masuk di orang tuamu. kamu wisuda juga aman, mau cari kerja statusmu juga masih bujang. yang penting aku bertanggung jawab dengan kehamilanmu"
dalam hati wulan sangat senang bisa menikah dengan aji, tapi tidak dengan hati aji yang berat untuk bertanggung jawab dengan kehamilan wulan
Pembicaraan mereka berlanjut sampai hampir tengah malam, dan mereka memutuskan untuk pulang.
*****
pagi hari di rumah aji
"ma.... " sapa aji kepada mamanya yang menyiapkan sarapan pagi
"bicara nanti saja" tukas bu Lina datar
aji mengambil posisi duduk yang biasa dia tempati di meja makan, sesaat kemudian pak izam pun ikut bergabung bersama aji dan istrinya.
pak izam menikmati suap demi suap makanan yang ada di depannya, suasana hening, hanya suara sendok yang beradu dengan Piring
"tidak ada yang mau kamu bicarakan ji?" pak izam membuka percakapan pagi itu
nasi goreng yang dia telan mendadak berhenti di tenggorokannya, aji mengambil segelas air putih
"iya pa... apa mama sudah menceritakan tentang masalahku pa?"
"yah... dan papa kecewa. sangat kecewa" pak izam meletakkan sendoknya, yang semula duduknya tegak, kini bersandar di sandaran kursi makan "kenapa sih kamu ndak bisa nikah baik-baik seperti masmu? kenapa harus dengan cara seperti ini? mencoreng nama orang tua, mau di taruh mama muka kedua orang tuamu ini aji?"
"maafkan aku pa, bukan pernikahan seperti ini juga yang aku inginkan" bela aji
"lantas? kenapa? khilaf? jangan bersembunyi di balik kata-kata khilaf" tukas pak izam
"semua ini bukan seperti yang papa kira, sampai saat ini aku ndak yakin jika anak yang di kandung wulan itu adalah anakku pa... ma... tolong sekali ini saja dengarkan penjelasanku"
aji menceritakan kronologi kejadian malam itu tanpa dia lewati satu pun.
"jadi seperti ini kamu yakin jika itu bukan anakmu? tapi kamu juga sdh tidur dengan wulan, jadi sekarang kamu yang harus bertanggung jawab... kayak di sinetron aja ji... ji" ucap pak izam