"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Kenan panik, Elang tiba-tiba melempar mic padanya tanpa aba-aba dulu. Untung gerakannya cepat, karena kalau tidak, pasti sudah jatuh.
"Mama." Elang membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Mamanya.
Aida melangkah keluar. Menggunakan gaun midi warna navy. Tas branded, serta kacamata hitam. Tak lupa, kalung berlian bertengger anggun di lehernya yang putih. Rambut disanggul rapi. Aura old money nya sangat kuat.
"Aku senang Mama datang." Elang tersenyum.
Aida membuka kacamata hitamnya, tatapannya lurus ke arah toko bunga. Ia membaca tulisan blossom florist yang ada di depan toko, juga banner grand opening yang dibentangkan di bawahnya.
"Jadi ini, usaha baru kamu?"
"Iya."
"Dan kamu bilang siap keluar dari rumah dan perusahaan, hanya dengan ini." Aida tersenyum kecut, mirip sebuah ejekan. Ia tahu Elang, anaknya itu sudah terbiasa dengan kemewahan sejak lahir. Yakin sekali, Elang tak akan bisa hidup susah. Jangankan hidup susah, hidup sederhana saja, belum tentu bisa.
Ilham yang kepanasan dari tadi, langsung ngajak cabut. "Udah yuk, kita ngopi di warkop pojok aja." Tapi yang diajak malah bengong, Kenan fokus menatap Elang dan Mamanya, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ikut tegang.
"Eh, malah bengong nih anak." Ilham berdecak, memukul pelan lengan Kenan. "Lo ngeliatin apa sih? Itu Mamanya Elang, kayak gak pernah ketemu aja."
"Dia mau ngapain ya kesini?" Kenan memperhatikan Elang dan Mamanya yang berjalan ke arah pintu masuk.
"Nanem cabe!" Ilham nyolot. "Ya mau apa lagi, ngasih support anaknya lah. Pernyataan lo gak mutu banget. Udah, ayo ke warkop." Ia menarik lengan Kenan menuju warkop. "Gue traktir sampai kembung, jangan khawatir."
"Halah lagu lo pakai traktir. Tiap hari lo ngopi gratis di kafe gue."
"Males bayar di kafe lo, mahal. Di kafe lo secangkir 35 ribu, disini segitu dapat 5 cangkir." Keduanya berjalan menuju warkop yang ada di pojokan.
"Beda kelas woii!"
"Lo jauh-jauh kuliah sampai Jerman, ujung-ujungnya jualan kopi." Ledek Ilham. "Itu Mas Abdul yang punya warkop pojok, cuma lulusan SD," ia tertawa ngakak.
"Gue kuliah jauh-jauh ke Jerman, hasilnya bisa jualan kopi secangkir 35, lah dia cuma bisa jual 7 ribu. Ngerti kan lo sekarang bedanya!" Kenan tersenyum bangga, puas bisa balikin kalimat Ilham. "Menurut lo, gue atau dia yang bakalan cepet kaya?"
Merasa kalah, Ilham cuma nyengir.
Ilona duduk di belakang meja kasir, tangannya begitu terampil membuat buket pesanan. Sementara Eliana sedang melayani dua orang pembeli yang sedang asyik melihat-lihat. Bu Ella duduk di samping Ilona, binar bahagia terlihat di matanya. Setelah 8 tahun lebih, akhirnya ia kembali melihat Ilona yang ceria seperti dulu. Ilona yang full semangat menjalani hidup.
Mendengar suara pintu ditarik, Ilona mengangkat kepala. "Selamat datang di blossom florist." Ujarnya ramah sambil tersenyum pada pelanggan yang masuk. Wajahnya seketika berubah tegang melihat yang masuk ternyata Elang dan seorang wanita paruh baya. Wajah mereka sekilas terlihat mirip. Ia meremat gaun, mungkinkah itu...
Mata Aida menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada sosok gadis yang duduk di belakang meja kasir, Ilona. Ia sudah tahu seperti apa wajah gadis yang ditabrak Elang 8 tahun lalu.
Elang menggandeng tangan Mamanya, membawa ke arah meja kasir. "Kenalin, ini Mamaku."
Bu Ella langsung berdiri, tersenyum ramah dan mengulurkan tangan untuk menyalami Aida. "Saya ibunya Ilona, senang berkenalan dengan anda."
Aida menjabat tangan tersebut, tersenyum tipis.
Ilona bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Aida.
Mata Aida tak bisa lepas dari Ilona, menatap dari atas hingga bawah. Gadis itu berjalan, terlihat normal, meski jika diperhatikan lebih lama, jalannya agak beda.
"Saya Ilona, Tante." Ilona meraih tangan Aida, menciumnya.
Hening beberapa detik.
Aida terus ngeliatin Ilona, terutama bagian kaki di bawah gaun. Kedua kakinya memakai sepatu, seperti orang normal pada umumnya, tak terlihat sama sekali jika dia seorang disabilitas.
Ilona otomatis gugup, salah tingkah. Tangannya meremat gaun, sedikit gemetar.
"Lon, Mamaku mau beli bunga untuk di rumah, bisa bantu dia." Elang berusaha memecah kecanggungan.
"I, iya, bisa." Ilona tersenyum meski agak kaku. "Mari, Tante." Ilona mengajak Aida melihat-lihat bunga potong di tokonya. Bunga-bunga itu masih sangat segar karena baru datang kemarin, aroma wanginya menyebar ke seluruh ruangan. Warna warni kelopaknya, membuat mata cerah.
"Kalau mau yang tahan lama, bisa pilih krisan atau anggrek. Bisa sampai dua hingga 3 minggu tahanya, asal dirawat dengan benar. Tapi kalau Tante pengen yang harum, bisa pilih mawar." Ilona menjelaskan panjang lebar, bukan hanya tentang beberapa bunga tadi, juga karakter bunga lainya.
Aida hanya diam, bukan menyimak, melainkan sibuk dengan isi pikirannya sendiri.
"Tante pengen yang mana?"
Aida nggak langsung jawab, beberapa detik pikirannya ngelag, karena sebenarnya ia tak mendengarkan penjelasan Ilona sama sekali. "E... Berikan saya mawar putih saja, beberapa tangkai."
"Baik, Tante." Ilona tersenyum lebar. Ia membungkuk untuk mengambil mawar di dalam ember yang bagian bunganya masih dibungkus kertas.
"Biar aku aja." Elang buru-buru membantu. Ia mengambil sekitar sepuluh tangkai untuk Mamanya.
Sambil membungkus dengan kertas dan mengikat, Ilona menjelaskan secara singkat cara merawatnya agar tahan lama.
"Makasih Tante, mau datang kesini," Ilona menyodorkan bunga tersebut. "Saya akan senang kalau Tante mau sering-sering main kesini. Kalau kapan-kapan Tante butuh bunga, bisa bilang Elang, nanti saya bantu siapkan." Mulai gelisah, bunga yang ia sodorkan tak kunjung diterima.
"Mah!" Elang menyenggol lengan Mamanya. "Bunganya."
nangis bener-bener dengan ketulusan & cinta elang yang bukan sekedar mau bertanggung jawab...
beri kesempatan elang untuk menceritakan kejadian 8 Th lalu ILona.. apalagi silikonnya waktu dulu tidak sama dengan elang yang sekarang...
semoga Harimu Luluh dengan ketulusan Cintamu pad elang yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya ILona...
Semua tidak lepas dari takdir.. begitupun pertemuanmu dengan elang... 😭😭😭💙💛💙😘😘😘
prihatin dengan hubungan yang tulus tapai dinhancurkan hanya gara² masa lalu yang sebenarnya tidak mungkin akan bisa di ulang apalagi kembal... 😥😥😥
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄