NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KUTUKAN KELUARGA PAK KARIM

Aku masih gemetar hebat di pelukan Arga di bawah pohon beringin besar itu. Lampu teplok di tanganku sudah padam karena angin, membuat kami hanya diterangi cahaya bulan purnama yang menembus celah-celah daun beringin yang rimbun.

Batu nisan berlumut di depan kami itu terlihat semakin menyeramkan di bawah sinar bulan. MIRAH BINTI KROMO - WAFAT 1950 - MATI MELAHIRKAN.

Ibu kandung Arga sendiri.

"Pak, kita pulang, Pak. Saya takut, Pak," bisikku sambil memeluk Arga erat. Salsa di gendongan Arga sudah menangis pelan karena kedinginan dan ketakutan.

Arga mengangguk. Dia menggendong Salsa dengan satu tangan, dan merangkulku dengan tangan satunya, membawa kami keluar dari kebun karet angker itu dengan langkah cepat.

Sesampainya di rumah, Arga langsung mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Dia mengambil air wudhu dan sholat tahajud di ruang tamu, lama sekali. Aku mendengar dia berdoa dengan suara bergetar.

Aku di dalam kamar, memeluk Salsa yang sudah kembali tertidur, tapi aku tidak bisa tidur sama sekali. Kata-kata Arga tadi masih terngiang.

Keluarga kami dikutuk.

Kutukan apa? Kenapa keluarga Pak Karim dikutuk?

Keesokan paginya, Arga tidak ke kebun. Dia bilang dia mau mengajakku ke rumah induk, rumah besar Pak Karim di ujung Desa Wonorejo. Rumah mantan Kepala Desa yang paling besar dan paling megah di desa ini.

"Kita harus bicara sama Bapak. Bapak yang tahu semua cerita tentang kutukan itu," kata Arga sambil menyiapkan motor trailnya.

Aku menggendong Salsa, kami bertiga naik motor trail melewati jalan desa yang masih becek. Sepanjang jalan, orang-orang desa melihat kami dengan tatapan aneh. Mungkin karena mereka melihat Arga membawa istri baru yang hamil dan anaknya.

Rumah Pak Karim sangat besar, berdinding tembok, berpagar tinggi, berbeda jauh dengan rumah bocor Arga di tengah kebun. Di halaman rumah itu ada dua mobil kijang dan beberapa motor.

Seorang wanita paruh baya berkerudung mewah membukakan pintu. Itu pasti Bu Lastri, ibu tiri Arga, ibu kandung Rendo. Wajahnya mirip Rendo, putih dan cantik, tapi tatapannya sinis saat melihatku.

"Arga, ngapain kamu bawa dia ke sini?" tanya Bu Lastri ketus, melihat ke arahku dan Salsa.

"Bu, Bapak ada? Aku mau bicara penting soal kebun belakang dan soal Mirah," jawab Arga dingin.

Mendengar nama Mirah, wajah Bu Lastri langsung berubah pucat. "Mirah? Ngapain kamu bahas dia lagi?"

Dari dalam rumah, keluar seorang kakek tua berumur sekitar 70 tahunan, memakai sarung dan peci hitam, jalannya sudah agak bongkok tapi masih tegap. Itu Pak Karim.

"Arga, Kirana, Salsa, masuk. Ibu, buatkan teh," kata Pak Karim dengan suara berat dan berwibawa, khas mantan Kades.

Kami duduk di ruang tamu yang luas dan mewah, dengan foto-foto keluarga besar terpajang di dinding. Aku melihat foto Arga muda, foto Rendo muda, dan foto seorang wanita muda yang sangat cantik mirip Arga, pasti Mirah, ibu kandung Arga.

Pak Karim menatapku dan Salsa lama, lalu menghela napas panjang.

"Jadi kamu Kirana ya? Yang diceritakan Mbah Sarti? Yang hamil sama Rendo?" tanya Pak Karim langsung to the point.

Aku menunduk malu dan mengangguk pelan.

"Rendo memang anak nakal. Saya yang salah didik dia terlalu manja. Saya minta maaf ya, Nduk, atas kelakuan anak saya. Saya sudah suruh dia tanggung jawab, tapi dia malah kabur lagi dari Kalimantan," kata Pak Karim.

"Pak, bukan itu yang mau saya bicarakan. Tadi malam, Kirana menemukan bungkusan Kembang Kantil lagi di kebun belakang. Di bawah pohon beringin, di dekat nisan Mirah," potong Arga cepat.

Mendengar itu, Pak Karim yang tadinya tenang langsung terkejut, cangkir teh di tangannya sampai tumpah.

"Apa? Kembang Kantil muncul lagi? Di dekat nisan Mirah?"

Bu Lastri yang baru datang membawa teh juga kaget. "Ya Allah, Pak, kutukan itu muncul lagi?"

Pak Karim berdiri dan berjalan mondar-mandir cemas.

"Arga, Kirana, ini memang kutukan keluarga kita. Kutukan yang sudah ada sejak tahun 1950, sejak ibumu, Mirah, meninggal."

Pak Karim lalu bercerita dengan suara berat.

"Tahun 1950, ibumu Mirah, ibu kandungmu Arga, itu hamil tua. Dia gadis paling cantik di Wonorejo. Banyak yang suka sama dia, termasuk... termasuk kakaknya sendiri, kakak sepupunya yang bernama Wiryo. Wiryo itu cinta mati sama Mirah, tapi Mirah memilih menikah sama saya. Wiryo sakit hati, dendam."

"Wiryo itu dukun, Nduk. Dukun santet paling sakti di Wonorejo zaman dulu. Saat Mirah hamil 9 bulan dan mau melahirkan kamu, Arga, Wiryo mengirim Santet Kembang Kantil. Santet itu membuat Mirah pendarahan hebat tidak berhenti. Dukun bayi tidak bisa hentikan. Mirah meninggal setelah melahirkan kamu, Arga. Kamu lahir selamat, tapi ibumu meninggal."

Aku merinding mendengar cerita itu.

"Sebelum meninggal, Mirah sempat bilang, 'Kang Karim, jangan tinggal di rumah dekat kebun itu lagi. Kebun itu sudah dikutuk Wiryo. Setiap perempuan yang hamil di rumah itu akan mati melahirkan seperti aku'."

"Tapi saya tidak percaya, Ga. Saya pikir itu hanya omongan orang sakit. Saya tetap tinggal di rumah itu. Saya nikah lagi sama Lastri, ibu tirimu, dan punya Rendo. Lastri tidak pernah hamil lagi setelah Rendo karena saya suruh KB, karena saya takut kutukan itu benar."

"Terus Mira, Ga? Mira itu istri pertama kamu. Dia juga hamil di rumah itu. Dan dia juga mati pendarahan, sama persis seperti ibumu. Padahal Mira bukan keturunan Mirah. Tapi dia mati dengan cara yang sama. Di rumah yang sama. Di kamar yang sama."

Arga terdiam. Tangannya mengepal.

"Jadi kutukan itu benar, Pak? Setiap perempuan hamil di rumah itu akan mati?"

Pak Karim mengangguk dengan wajah sedih dan penuh rasa bersalah. "Iya, Ga. Itu kutukan Wiryo. Wiryo dulu pernah sumpah, 'Anak cucu Karim, setiap istrinya yang hamil di tanah bekas pemakaman itu akan mati melahirkan. Biar dia rasakan sakitnya kehilangan seperti aku kehilangan Mirah'."

"Wiryo sekarang di mana, Pak?" tanya Arga.

"Wiryo sudah mati tahun 1980, Ga. Tapi santetnya masih hidup. Santet Kembang Kantil itu tidak akan hilang sampai ada yang memutusnya. Sampai ada perempuan yang hamil di rumah itu dan berhasil melahirkan dengan selamat, melawan kutukan itu."

Semua mata di ruangan itu langsung tertuju padaku. Pada perutku yang masih rata berisi janin 8 minggu.

Aku adalah perempuan hamil yang sekarang tinggal di rumah kutukan itu.

Aku adalah yang harus memutus kutukan itu. Jika tidak, aku akan mati seperti Mirah dan Mira.

"Kirana, Nduk," Pak Karim menatapku dengan tatapan memohon. "Maafkan keluarga kami yang membawa kamu ke dalam kutukan ini. Tapi hanya kamu yang bisa memutusnya sekarang. Kamu harus kuat. Kamu harus selamat. Kamu harus melahirkan anakmu dengan selamat di rumah sakit besar, jangan di puskesmas, jangan di rumah itu."

Bu Lastri yang tadinya sinis, kini menatapku dengan iba. "Nduk, kamu yang sabar ya. Ini memang nasib keluarga kami. Arga itu anak baik, dia akan jaga kamu."

Dalam perjalanan pulang dari rumah Pak Karim, Arga diam sepanjang jalan. Salsa tertidur di gendonganku.

Sesampainya di rumah bocor itu, Arga berkata pelan, "Kir, kita pindah. Besok kita pindah ke kontrakan di kota. Aku tidak mau kamu mati seperti Ibu dan Mira."

Aku menggeleng. "Tidak, Pak. Kalau kita pindah, kutukan itu akan terus ada. Salsa nanti kalau besar dan hamil juga akan mati. Anak perempuan saya nanti juga akan mati. Kita harus lawan di sini. Kita harus putus kutukannya di sini."

Arga menatapku kaget. Tidak menyangka aku yang terlihat lemah dan manja bisa berkata seberani itu.

"Kamu yakin, Kir?"

Aku mengangguk sambil mengelus perutku dan mengelus kepala Salsa yang tertidur. "Saya yakin, Pak. Saya tidak mau anak saya, entah laki-laki atau perempuan, hidup dengan kutukan ini. Saya mau anak saya lahir selamat. Dan saya juga mau Salsa nanti bisa hamil dan melahirkan dengan selamat tanpa takut mati. Kita harus lawan, Pak. Bersama."

Arga memelukku erat. Untuk pertama kalinya, pelukannya bukan pelukan dingin karena kewajiban kontrak, tapi pelukan hangat karena cinta dan harapan.

Malam itu, kami berdua sepakat. Kami tidak akan lari dari kutukan keluarga Pak Karim. Kami akan melawannya. Kami akan memutus kutukan Santet Kembang Kantil yang sudah membunuh ibu kandung Arga dan istri pertama Arga.

Caranya? Pak Karim bilang, kami harus mencari kuburan Wiryo, dukun santet itu, dan meminta maaf di sana, serta mengembalikan tanah pemakaman yang digusur itu menjadi pemakaman lagi.

Tugas yang mustahil. Tapi harus kami lakukan. Demi aku, demi Salsa, dan demi anak yang ada di dalam perutku.

Di luar, angin kebun karet berhembus kencang, membawa suara tangisan perempuan dari arah pohon beringin besar itu.

Tapi malam itu, aku tidak takut lagi. Karena aku tahu, aku harus kuat. Demi memutus kutukan.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!