NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfrontasi Zara 35.

Suara getar di ujung kalimat Zara bagai hantaman palu yang meruntuhkan keheningan koridor. Keheningan yang sedari tadi mati-matian dijaga oleh Langit dan Ulfa.

Zara berdiri kaku beberapa meter di depan mereka. Tas ransel kulit hitamnya yang mahal masih menggantung longgar di satu bahu. Matanya bergerak cepat, menyapu detail demi detail yang tersaji di depannya seperti seorang detektif yang menemukan TKP pembunuhan. Baju putih Langit yang kusut masai di bagian belakang, rambut Ulfa yang biasanya dikuncir kuda dengan rapi kini agak berantakan dengan beberapa anak rambut yang mencuat, dan yang paling krusial cara mereka keluar bersamaan dari arah ruang seni yang letaknya terisolasi.

"Langit? Ulfa?" Suara Zara meninggi satu oktav, bergetar menahan badai yang siap meledak. "Kalian… ngapain berdua di sini? Pagi-pagi buta. Jalan merindik-rindik kayak maling. Dan penampilan kalian…?"

Ulfa merasakan tenggorokannya kering kerontang. Sebagai Ketua OSIS yang dikenal tertib dan perfeksionis, berada di situasi ambigu seperti ini adalah mimpi buruk.

Lebih dari itu, rahasia besar yang mereka sembunyikan selama sebulan terakhir terasa seperti bom waktu yang siap meledak di detik ini juga.

Sesuai perjanjian pranikah yang mereka sepakati demi kelangsungan sekolah, tidak boleh ada satu orang pun di SMA Bhineka yang tahu kalau sang Ketos dan Kapten Basket adalah sepasang suami istri remaja.

Langit berdeham. Cowok itu dengan cepat menguasai kendali tubuhnya, meski Ulfa bisa melihat urat di leher Langit menegang kencang. Langit melangkah satu tapak ke depan, secara insting memosisikan dirinya di antara Zara dan Ulfa sebuah gerakan protektif yang sebenarnya masuk akal untuk menenangkan pacarnya, tapi justru membuat ulu hati Ulfa sedikit tercubit.

"Ra, tenang dulu. Jangan mikir yang aneh-aneh," kata Langit. Suaranya diusahakan se-kasual mungkin, khas cowok santai yang mencoba mencairkan suasana.

"Gimana aku nggak mikir aneh, Lang?!" potong Zara cepat. Matanya mulai berkaca-kaca, kombinasi antara rasa terkejut, cemburu, dan ego yang terluka. "Kamu nggak balas chat aku dari semalam. Katanya langsung tidur karena capek habis tanding. Tapi sekarang kamu di sini, jam enam pagi, sama Ulfa. Kusut begini. Maksut nya apa, Langit!"

Langit memutar otak secepat dia membaca taktik lawan di lapangan basket. Dia tahu dia harus berbohong. Bukan cuma demi dirinya, tapi demi melindungi Ulfa dan komitmen pernikahan rahasia mereka.

"Gue emang tidur cepat semalam, tapi subuh tadi gue ke sekolah karena ada barang yang ketinggalan di loker ruang olahraga. Pas gue lewat koridor tengah, gue ketemu Ulfa," bohong Langit lancar, matanya menatap langsung ke manik mata Zara tanpa berkedip—trik klasik penipu ulung. "Ulfa ini dari jam lima lewat udah di sekolah karena ada berkas proposal karnaval yang harus dia beresin di ruang OSIS. Terus, tadi pas kita papasan, kunci ruang seni macet dari luar. Kita berdua nyoba benerin silinder kuncinya biar anak-anak ekskul lukis nanti siang nggak repot. Makanya seragam gue agak lecek karena sempat jongkok-jongkok dan keringetan benerin pintu."

Langit menoleh ke arah Ulfa, memberikan kode mata yang sangat tipis. "Iya kan, Fa? Lo tadi minta tolong gue karena pintu ruang seni seret banget?"

Ulfa menelan ludah. Lidahnya terasa kelu, namun otaknya langsung mengejar sandiwara Langit. Dia menarik napas dalam-dalam, mengembalikan pembawaan tenang dan tegas khas Ketua OSIS.

"Iya, Zara. Maaf kalau bikin salah paham," ujar Ulfa, nadanya datar namun penuh keyakinan. "Pihak sarpras semalam laporan ke gue kalau engsel pintu ruang seni agak turun. Gue niatnya mau ngecek sekalian nunggu jam masuk. Kebetulan Langit lewat, jadi gue minta tolong tenaga dia buat ngangkat pintunya sedikit biar kuncinya bisa pas. Seragam kita kusut karena area sana agak berdebu dan kita sempat ribet nyoba beberapa kali."

Zara diam. Dia memandang Langit, lalu beralih menatap Ulfa secara bergantian.

Sebagai perempuan yang sudah pacaran dengan Langit, Zara tahu cowoknya itu pintar bicara. Namun, penjelasan yang sinkron antara Langit dan Ulfa membuat kecurigaannya tidak punya landasan bukti yang kuat untuk langsung meledak.

Keheningan kembali merayap, mencekik atmosfer di antara mereka bertiga.

Perlahan, ketegangan di wajah Zara tampak mengendur. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.

"Oh… gitu," ucap Zara. Nada suaranya mendadak berubah manis, terlalu manis bahkan sampai terkesan artifisial. "Bikin kaget aja. Lagian kalian ada-ada aja sih, subuh-subuh udah jadi kuli dadakan."

Zara melangkah mendekati Langit. Dengan gerakan manja yang sengaja diperlihatkan di depan Ulfa, Zara merapihkan lengan kaos putih Langit yang agak melipat. "Lain kali kalau ada apa-apa telepon pak satpam aja, Lang. Jangan bikin aku jantungan kayak gini. Aku kan pacar kamu, wajar dong kalau aku sensitif?"

"Iya, Ra. Maaf ya," balas Langit sambil mengacak rambut Zara pelan, mencoba bersikap semanis biasanya.

Ulfa yang menyaksikan interaksi itu hanya bisa mengepalkan tangannya tersembunyi di balik rok seragamnya. Pastinya ada rasa tidak nyaman yang mendesak di dadanya. Cemburu? Ulfa menolak mengakuinya. Ini hanya rasa bersalah karena harus membohongi orang lain, pikirnya mencoba rasional.

"Ya udah, gue duluan ke ruang OSIS. Masih banyak berkas yang harus ditanda tangan," pamit Ulfa formal. Dia mengangguk kecil pada Zara dan Langit, lalu berjalan melewati mereka dengan langkah tegap tanpa menoleh lagi.

Setelah punggung Ulfa menghilang di belokan koridor, Zara masih menggelayut di lengan Langit. Namun, begitu Langit berpamitan untuk pergi ke toilet demi mencuci muka, senyuman di wajah Zara langsung lenyap seketika.

Zara berdiri sendiri di koridor yang mulai redup disiram cahaya matahari pagi.

Dia menunduk, melihat ke lantai semen di dekat pintu ruang seni tempat Langit dan Ulfa keluar tadi. Matanya yang tajam menangkap sesuatu. Di dekat pembatas pintu, ada sepotong kecil bungkus roti sobek yang terselip— merek yang sangat sering dibeli Ulfa di kantin belakang.

Otak Zara berputar tajam. Benerin pintu subuh-subuh? Sampai bawa makanan? Dan kenapa Langit nggak balas chat-ku dari jam delapan malam kalau dia cuma ke sekolah subuh ini?

Lebih dari itu, Zara ingat betul. Langit adalah cowok yang paling malas bergerak jika bukan urusan basket. Membantu Ketua OSIS benerin pintu macet di jam lima subuh? Itu sangat bukan Langit yang dia kenal.

Ada sesuatu yang tidak sinkron, dan insting perempuannya mencium bau busuk dari kebohongan yang dirangkai terlalu rapi oleh mereka berdua.

Zara melipat kedua tangannya di dada. Matanya menyipit menatap koridor kosong tempat Ulfa pergi tadi.

"Kalian pikir aku bodoh?" gumam Zara lirih, suaranya sedingin es pagi itu. "Kalian berdua punya rahasia. Dan aku bersumpah bakal cari tahu sendiri apa yang sebenarnya kalian sembunyiin di belakang aku."

Dengan langkah anggun namun penuh tekad baru, Zara berbalik menuju kelasnya. Pagi itu, sebuah retakan kecil telah tercipta dalam hubungan mereka, dan Zara tidak akan berhenti sampai dia berhasil membongkar seluruh kebenaran yang ada.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!