NovelToon NovelToon
Dewi Angin Utara

Dewi Angin Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:649
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.

Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.

Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.

Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.

Sementara Utara tetap mengingatnya.

Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — LANGIT YANG BERGEMURUH

BAB 3 — LANGIT YANG BERGEMURUH

Langit semakin bergemuruh. Kilat keemasan mulai menampakkan cahayanya.

Seperti tarian pedang di langit yang gelap. Saat itu bukan pagi atau malam, tapi langit benar-benar gelap.

Master Yao berdiri tegak di balkon utama. Terlihat tegar, tapi dia menanggung beban berat.

Kehancuran bangsanya.

Ia menghela napas.

“Kejayaan ini akan segera berakhir... dan zaman pun berganti.”

Di tempat lain, di sekitar halaman paviliun, Zhuin menemui Feng Yao yang sedang membaca buku tebal.

“Utara,” panggil Zhuin dengan senyuman khas.

Meski hatinya ciut menghadapi badai perang.

“Zhuin...” Utara menghampiri Zhuin lalu menariknya untuk duduk.

“Syukurlah kau masih bisa menemuiku.”

Zhuin menatap ragu.

“Kenapa kau takut?”

“Takut. Lebih takut karena kita menghadapi dua bencana. Atlantis dan Pasukan Langit.”

“Tapi Azazil... juga bagian dari kita,” ucap Utara ragu.

“Tidak ada yang bisa memastikan itu, Utara.”

Feng Yao menundukkan kepala. Zhuin mengangkat kepala Feng Yao.

“Jangan takut, Utara. Ini sudah menjadi bagian hidup kita sebagai penjaga.”

“Aku tahu... Tadinya aku sempat berpikir Azazil akan membawa bala bantuan, untuk menghadapi kesombongan Atlantis.”

Zhuin tersenyum.

“Aku harus kembali, Utara. Sampai jumpa lagi.”

Zhuin meninggalkan paviliun itu.

Langkahnya perlahan, tapi beban perasaannya semakin berat.

Pikirannya terbelah antara tugasnya sebagai penjaga Agharta menghadapi serangan pasukan Atlantis...

Lalu Azazil dengan Pasukan Langit.

“Benar-benar bencana.”

Feng Yao menutup bukunya. Ia memandang langit gelap dan kilat-kilat yang menyambar-nyambar.

Ia menghela napas berat.

“Aku juga harus membantu para Penjaga. Ayah, Zhuin... Aku bukan dewi lemah yang setiap hari harus diawasi dan dijaga.”

Utara berjalan ke halaman.

Ia memasang kuda-kuda, lalu kembali berlatih kemampuan bertarung yang diam-diam ia pelajari dari Zhuin.

Gerakannya tegas dan presisi.Lalu ia memejamkan mata,

Dalam sekejap, tubuhnya berpindah tempat.

Di tengah hutan, Utara kembali bebas menggerakkan pedangnya.

Gerakannya semakin cepat.

Hingga akhirnya

Jurus Seribu Pedang.

Pedang itu berputar membentuk spiral, menjadi benteng segel pertahanan sekaligus penyerangan.

Utara memutar tubuhnya. Pedang itu ikut berputar semakin cepat, lalu ia menembakkannya.

DAARRR! BLAMMMM!

Beberapa pohon tumbang, Feng Yao tersenyum tipis.“Bagus... cukup lumayan.”

Namun suara ledakan itu terdengar hingga ke camp Zhuin.

Beberapa anggota Penjaga langsung panik.

Mereka mengira itu serangan dari pihak musuh.

Salah satu Penjaga segera berlari menemui Zhuin. “Komandan!” Zhuin menoleh.

“Ada ledakan besar di sekitar hutan dekat danau!”

“Ledakan di hutan dekat danau...” pikir Zhuin.

“Ayo kita periksa.”

Zhuin mengajak beberapa Penjaga untuk memeriksa.

Sementara itu, Utara masih serius berlatih.

Kultivasinya meningkat pesat. Kemarin masih berada di level enam, sekarang sudah mencapai level delapan.

BLAMMM!

WOSHHHH!

Angin menyapu begitu kuat hingga beberapa pohon patah.

“Komandan, lihat! Pohon-pohonnya tumbang,” ucap bawahannya.

Zhuin melirik sesaat.

“Siapa yang membuat kerusakan seperti ini?” bisiknya dalam hati.

Mereka semakin mendekati tempat Utara berlatih.

“Komandan, lihat... Tuan Putri.”

Zhuin menatap sebentar.

Lalu ia mengangkat satu jari di depan bibir.

“Ssst... diam. Jangan ganggu Tuan Putri berlatih.”

Feng Yao masih fokus dengan latihannya.

“Sedikit lagi... tinggal sedikit lagi. Gerbang delapan cakra terbuka.”

Beberapa saat kemudian, energi biru kehijau-hijauan mulai mengelilingi tubuh Feng Yao.

Zhuin dan anak buahnya masih memperhatikan dari kejauhan.

Tiba-tiba..

DUAAAAARRRR!

Energi itu meledak.

Zhuin langsung memasang kuda-kuda agar tidak terlempar.

Pedangnya ditancapkan ke tanah dan ia memegangnya dengan kekuatan penuh.

WUSSSHHH!

Pohon-pohon di sekitar mereka rata dengan tanah.

Yang tersisa hanya sebuah kawah besar.

Beberapa Penjaga langsung pingsan.

Namun Zhuin masih bertahan.

Ia mengangkat wajahnya, menatap ke arah Feng Yao.

“...Utara.”

1
Aralum
ikuti terus yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!