NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Arka menghela napas panjang, matanya menatap deretan mika kue yang masih tertata rapi, belum tersentuh pembeli.

Sudah hampir satu jam berlalu, namun suasana di depan lapaknya terasa seperti kuburan.

"Arka, kenapa sepi sekali tidak ada yang beli ya?" tanya Sari heran, menatap orang-orang yang lebih memilih melipir jauh dari lapak mereka, seolah-olah ada pagar gaib yang menghalangi.

Arka terdiam, ia sama sekali tidak menyadari bahwa Baron telah menebar fitnah di seluruh penjuru pasar.

"Entahlah, Mbak. Mungkin hari ini memang sedang tidak ramai."

Sari merasa tidak tega melihat gurat kekecewaan di wajah Arka. Ia pun bangkit dari duduknya.

"Arka, aku ke kamar mandi umum sebentar, ya."

"Aku antar?" tawar Arka sigap.

"Tidak usah, Arka. Aku bisa sendiri," tolak Sari halus sambil melangkah pergi.

Namun, saat hendak melewati lorong dekat los ayam untuk menuju kamar mandi, langkah Sari terhenti.

Telinganya menangkap suara tawa terbahak-bahak yang sangat familiar.

Itu suara Baron, yang sedang bercengkerama dengan beberapa orang di lapaknya.

"Lihat saja si miskin itu! Tidak akan ada yang berani mendekat ke lapaknya hari ini. Aku sudah pastikan semua pelanggan tahu kalau kuenya beracun dan kotor! Rasakan itu, Arka!"

Sari mengepalkan tangannya di balik balik saku jaketnya. Matanya berkilat marah.

"Jadi ini ulah pria gempal tak tahu diri itu?"

Dengan tenang, Sari masuk ke dalam bilik kamar mandi, mengeluarkan ponselnya, dan langsung menghubungi Nanda, asisten pribadinya yang paling bisa diandalkan.

"Iya, Bu Sari? Ada yang bisa saya bantu?" suara Nanda terdengar di seberang telepon.

"Nanda, dengarkan aku. Cari seratus orang untuk datang ke pasar induk sekarang juga. Beli semua dagangan di lapak Arka sampai habis! Dan ingat, ini rahasia kita. Jangan sampai dia tahu siapa yang menyuruh kalian!" perintah Sari dengan nada dingin dan otoriter.

"Baik, Bu! Segera saya laksanakan!"

Setelah menutup telepon, Sari menarik napas panjang, menata rambutnya, dan kembali ke lapak dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Ia kembali duduk di samping Arka yang masih tampak gelisah.

"Arka, tenanglah. Sebentar lagi pasti ramai," ucap Sari pelan.

Baru saja kalimat itu keluar dari bibirnya, sebuah keajaiban terjadi.

Dalam hitungan detik, kerumunan orang berpakaian rapi namun menyamar seolah-olah warga lokal mulai berdatangan.

"Mbak, saya beli sepuluh mika klepon!"

"Saya ambil semua bolu gulungnya!"

"Mas, ini buat saya semua ya, sisanya berapa?"

Hanya dalam sekejap, lapak Arka yang tadinya sunyi mendadak diserbu puluhan orang.

Tangan Arka sampai kewalahan melayani pembeli yang datang silih berganti.

Baron yang melihat kejadian itu dari seberang pun terbelalak kaget, mulutnya terbuka lebar tak percaya melihat "kutukannya" justru berakhir dengan dagangan Arka yang ludes dalam sekejap.

Hanya dalam waktu setengah jam, keajaiban di pagi buta itu benar-benar tuntas.

Meja kayu yang tadinya dipenuhi tumpukan kotak mika kini bersih melompong, bahkan remah-remah kelapa parut pun nyaris tak tersisa.

Kantong plastik besar tempat Arka menyimpan uang modal kini justru menggembung penuh dengan lembaran uang kertas.

Arka berdiri terpaku sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

Ia menatap meja kosong itu, lalu beralih menatap Sari yang sedang duduk tenang sambil melipat kedua tangannya di dada—menampilkan senyum tipis misterius khas seorang CEO yang baru saja memenangkan tender besar.

Arka menyipitkan matanya penuh selidik. "Mbak, jujur sama saya. Apakah ini semua ulah kamu?"

Sari menaikkan sebelah alisnya, berusaha menahan tawa agar aktingnya tidak terbongkar.

"Aku? Jangan bercanda, Arka. Dari tadi aku terus bersamamu di sini, kan? Bagaimana mungkin aku menyuruh orang-orang itu?"

Arka terdiam sesaat, memikirkan ucapan Sari yang ada benarnya.

Ia tidak tahu saja bahwa dengan satu perintah singkat dari bilik toilet tadi, kekuatan uang Maheswara Group bisa menggerakkan seratus orang dalam sekejap.

Arka akhirnya menganggukkan kepalanya, memilih untuk percaya dan menganggap ini sebagai berkah dari Tuhan atas kesabarannya menghadapi fitnah.

"Ya sudah kalau begitu," Arka tersenyum lega, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

"Ayo, Mbak, lekas kita pulang. Tapi sebelum itu, kita cari sarapan dulu ya? Perut saya sudah keroncongan."

Sari langsung berdiri dari bangkunya dengan semangat.

"Ok, tapi kali ini aku yang membayar sarapannya. Jangan membantah," ucap Sari tegas, memberikan tatapan absolut yang tidak bisa diganggu gugat.

Arka hanya terkekeh pelan dan mengalah, lalu mulai mengemas wadah-wadah kosong ke atas motor bebeknya.

Sementara itu, dari kejauhan di balik los ayam yang bau, sepasang mata Baron dan Niken menatap pemandangan itu dengan urat-urat leher yang menegang.

Rencana sabotase mereka hancur lebur dalam hitungan menit. Bukannya bangkrut, Arka justru mendapat untung besar hari ini.

Baron mencengkeram erat pinggiran keranjang ayam hingga jemarinya memutih, sementara Niken menghentakkan kakinya ke tanah dengan penuh kekesalan.

"Sialan! Bagaimana bisa dagangannya malah habis secepat itu?!" geram Baron dengan napas memburu.

Matanya menatap tajam punggung Arka yang mulai menghidupkan motor.

"Awas kamu, Arka. Ini belum selesai!"

Setelah semua wadah kosong tertata rapi di bagasi belakang motor, Arka segera melajukan motor bebeknya membelah jalanan yang kini mulai diterangi semburat fajar.

Ia membawa Sari menuju sebuah warung sederhana di pinggir jalan yang tampak bersih dengan kepulan asap harum masakan pagi.

Mereka mengambil tempat duduk di sudut warung.

Tanpa menunggu lama, Arka memesan menu sarapan mereka.

"Bu, nasi pecel satu pakai rempeyek, ya."

Sementara itu, Sari melihat-lihat jajaran lauk di etalase kaca dengan mata berbinar—efek sukses mengerjai Baron tadi membuatnya lapar luar biasa.

"Saya nasi campur, Bu. Lauknya pakai sate usus yang itu," tunjuk Sari penuh semangat.

Sambil menunggu makanan dihidangkan, Sari menopang dagunya dengan kedua tangan yang masih terbalut kasa.

Ia menatap Arka yang tampak kelelahan dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.

"Arka, apa nanti malam kita belanja bahan-bahan kue lagi?" tanya Sari membuka obrolan.

Arka mendongak, menatap Sari lurus-lurus dengan sebelah alis terangkat.

"Iya, Mbak. Kenapa? Apa Mbak Sari sudah mau menyerah sekarang?" tanya Arka dengan nada sedikit menantang, mengira wanita itu mulai kapok dengan ritme hidupnya.

Sari mendengus pelan, memutar kedua bola matanya.

"Bukan begitu, Arka. Kenapa kita tidak belanja sekarang saja setelah sarapan? Kan mumpung kita sudah di luar."

Arka tersenyum tipis, lalu mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi plastik.

"Mbak, kalau belanja sekarang... saya lelah," jawab Arka jujur, nadanya terdengar sangat letih.

"Saya butuh istirahat. Rencananya setelah makan ini, saya mau tidur sampai nanti jam tiga sore."

Sari terdiam, baru menyadari bahwa pria di depannya ini hanya tidur selama dua jam tadi malam.

"Lagipula," lanjut Arka lagi, "kalau kita belanja malam nanti ke pasar induk, harganya jauh lebih murah daripada siang begini. Barang-barangnya juga baru datang dari petani, jadi masih sangat segar. Kalau beli sekarang, selain harganya sudah naik, bahannya sudah sisa-sisa."

Sari mengangguk-angguk paham. Logika bisnis Arka dalam mengelola modal kecil ternyata sangat masuk akal, bahkan bagi seorang CEO seperti dirinya.

Bersamaan dengan itu, dua piring nasi hangat pesanan mereka datang, memotong pembicaraan dan siap untuk disantap.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!