Riyan Sadewa, seorang kuli bangunan di Bandung, hidup pas-pasan hingga sebuah kecelakaan di lokasi kerja mengubah segalanya. Sebuah sistem misterius muncul, memaksanya menghabiskan uang dengan syarat tidak boleh mendapatkan keuntungan sedikit pun. Jika ia untung, nominal uang yang harus dibuang justru berlipat ganda. Riyan terjebak dalam permainan ekonomi yang absurd, membeli aset besar hanya untuk merusak harganya demi memuaskan sistem. Di tengah tekanan ini, ia harus belajar bahwa membuang uang ternyata jauh lebih sulit daripada mencari nafkah, dan ia harus menemukan cara untuk menghentikan siklus ini sebelum hidupnya hancur.
"Sistem gila. Bukannya berkurang, duit gua sekarang malah bertambah."
"Gua cuma mau miskin, Ya Tuhan! Kenapa susah banget buat bangkrut di dunia ini?!"
Bagaimana kelanjutannya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Riyan Sadewa menelan ludah dengan susah payah. Di bawah terik matahari siang yang membakar trotoar depan pasar Dago, dia merasa atmosfer di sekitarnya mendadak turun hingga minus nol derajat.
Penyebabnya bukan karena hembusan angin gunung, melainkan tatapan mata sepasang manik hitam milik wanita di depannya. Wanita dengan blazer navy yang potongan kainnya terlihat sangat mahal itu masih berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Riyan dari ujung rambut yang penuh debu semen sampai ujung jempol kakinya yang mencuat dari sandal jepit tipis.
Kezia Zevan.
Nama itu tentu saja asing di telinga seorang kuli bangunan seperti Riyan. Namun, melihat mobil sedan hitam mewah yang terparkir di belakangnya, lengkap dengan dua pria berbadan tegap berjas hitam yang berjaga di sisi pintu, Riyan tahu kalau wanita ini bukan tipe orang yang bisa diajak bercanda sambil makan gorengan di pos ronda.
"Maaf, Mbak... eh, Nona," Riyan berdeham, mencoba mengembalikan fungsi pita suaranya yang sempat macet.
"Maksudnya mengacaukan harga pasar itu gimana ya? Saya ini cuma beli ayam sama jengkol buat dibagiin ke emak-emak. Kagak ada niat tawuran, sumpah. Kalau soal wartawan ini, mereka sendiri yang dateng ngerubutin saya kayak lalat."
Kezia tidak langsung menjawab. Dia memberikan isyarat tangan kecil kepada dua pengawalnya. Dengan sigap, kedua pria berbadan besar itu melangkah maju, menghalangi kamera wartawan televisi lokal yang sejak tadi mencoba mengambil gambar.
"Bubar. Ini urusan pribadi Keluarga Zevan," kata salah satu pengawal dengan suara berat yang mutlak.
Si reporter wanita dan krunya langsung pucat, buru-buru mematikan kamera dan mundur teratur tanpa berani membantah sepatah kata pun.
Setelah area di sekitar mereka agak sepi, Kezia kembali mengarahkan pandangannya pada Riyan. Senyum tipis yang terlihat sangat dingin terukir di bibirnya yang dilapisi lipstik merah elegan.
"Jangan berlagak bodoh di depanku, Riyan Sadewa," ucap Kezia, suaranya pelan namun terdengar seperti vonis hakim.
"Tiga jam yang lalu kamu hanyalah seorang kuli bangunan dengan sisa saldo seratus lima puluh ribu rupiah di rekeningmu."
"Lalu, kamu mengalami kecelakaan kecil, keluar dari rumah sakit, dan tiba-tiba membeli angkot rongsok seharga setengah miliar secara tunai. Tidak berhenti di situ, kamu datang ke pasar ini dan membuang ratusan juta rupiah dalam waktu lima belas menit dengan kedok 'gabut'."
Riyan membelalak. Gila ini cewek! batinnya berteriak panik.
'Dia intel apa gimana? Kok bisa tahu isi rekening gua sebelum ketiban semen?! Jangan-jangan dia agen pajak yang mau nagih duit jin ini?!
"Kamu pikir tindakanmu itu tidak terlihat mencurigakan?"
Kezia melangkah satu depak lebih dekat, membuat Riyan bisa mencium aroma parfum mewah perpaduan kayu cendana dan bunga mawar yang sangat menenangkan tapi sekaligus intimidatif.
"Di dunia bisnis tingkat atas, tidak ada orang yang membuang uang tanpa rencana tersembunyi. Dengan menaikkan harga angkot dan memborong isi pasar, kamu sengaja memicu fluktuasi modal mikro di daerah Dago untuk menarik perhatian konglomerat lokal, kan? Katakan, konsorsium mana yang berada di belakangmu? Siapa yang menyuruhmu memprovokasi wilayah bisnis Keluarga Zevan?"
Riyan rasanya ingin menjedotkan kepalanya ke tiang listrik di sebelahnya.
Otak orang kaya ini benar-benar sudah keracunan film konspirasi. Dia membuang uang karena diancam mati oleh sistem supranatural di otaknya, bukan karena mau menjatuhkan dinasti bisnis pasar tradisional!
"Aduh, Nona... sumpah demi adonan semen yang gua aduk tiap hari, kagak ada konsorsium-konsorsiuman!"
Riyan mengangkat kedua tangannya, membentuk huruf V dengan jarinya.
"Gua beneran cuma pengen buang duit! Gua pengen rugi! Lu tau gak rasanya stres punya duit banyak tapi gak boleh untung? Kagak tau kan? Makanya jangan sotoy!"
Kezia mengernyitkan alisnya yang tertata rapi. Di matanya, kilatan kepanikan dan kejujuran di wajah Riyan justru terlihat seperti akting tingkat tinggi dari seorang agen profesional yang sudah terlatih mentalnya.
Kezia terbiasa menghadapi negosiator ulung yang bermuka dua, dan baginya, pria yang berpenampilan seperti kuli di depannya ini adalah lawan yang sangat berbahaya karena berani menggunakan taktik "pura-pura gila".
"Menarik," gumam Kezia dingin.
"Kamu menolak berbicara di sini? Bagus. Kalau begitu, ikut aku. Kita lanjutkan pembicaraan ini di tempat yang lebih pantas."
[Denting Sistem! Misi Sampingan Terdeteksi!]
[Deskripsi: Hindari interogasi lebih lanjut dari Keluarga Zevan yang dapat meningkatkan reputasi sosial atau memicu aliansi bisnis pasif. Inang wajib mengalihkan perhatian dengan melakukan transaksi merugikan berikutnya dalam waktu 2 jam!]
[Sisa Waktu Misi Utama: 18 Jam : 40 Menit]
Mendengar suara Sistem yang tiba-tiba berbunyi kembali, ditambah jam digital merah yang berkedip di sudut matanya, Riyan langsung tersadar dari kepanikannya. Benar! Dia tidak punya waktu untuk meladeni obrolan penuh konspirasi dengan nona besar ini. Dia harus segera membuang uangnya lagi, dan kali ini harus dalam nominal yang jauh lebih gede agar misi pertamanya beres.
"Maaf ya, Nona Cantik yang terhormat," kata Riyan sambil melangkah mundur dengan cepat, memposisikan dirinya di belakang tiang listrik.
"Gua gak ada waktu buat ikut lu naik mobil mewah. Gua lagi sibuk nyari cara buat bangkrut. Bye!"
Tanpa menunggu reaksi dari Kezia ataupun kedua pengawalnya, Riyan langsung berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya menyusuri gang sempit di samping pasar tradisional. Tubuhnya yang terbiasa bekerja berat di proyek bangunan membuatnya mampu bergerak lincah di antara tumpukan krat kayu dan jemuran warga, meninggalkan Kezia yang hanya bisa berdiri mematung di pinggir jalan dengan wajah yang mendadak menggelap karena tidak percaya ada seorang pria yang berani melarikan diri darinya.
"Nona Kezia, apakah perlu kami kejar dan tangkap pria itu?" tanya salah satu pengawal dengan nada waswas.
Kezia mengangkat satu tangannya, menghentikan langkah pengawalnya. Dia menatap ujung gang tempat Riyan menghilang dengan sepasang mata yang menyipit tajam. Rasa penasaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya kini mulai merayap di dadanya.
"Tidak perlu," jawab Kezia dengan suara rendah yang penuh tekad.
"Awasi saja setiap pergerakan rekening dan transaksi atas nama Riyan Sadewa. Aku ingin tahu, sedalam apa lubang kelinci yang sedang dia gali di kota Bandung ini."
Sementara itu, Riyan yang berhasil keluar dari ujung gang lain langsung membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. Napasnya terengah-engah, keringat dingin bercucuran dari dahinya. Dia melihat ke sekeliling jalan raya yang asing baginya. Saat matanya menyusuri deretan ruko, dia melihat sebuah papan nama agen properti kelas menengah yang terpasang di sebuah bangunan ruko berlantai dua.
Tanah! Properti! Otak Riyan langsung berputar.
'Tadi si Sistem bilang kalau gua beli mobil rongsok dihitung investasi karena bisa dijual lagi. Tapi gimana kalau gua beli tanah yang legalitasnya hancur? Tanah sengketa yang sertifikatnya tumpang tindih dan gak bisa dibangun apa-apa? Itu kan otomatis bakal jadi modal mati yang gak bisa menghasilkan duit sepeser pun sampai kiamat!
Riyan tersenyum lebar dengan sisa-sisa napasnya yang memburu. Dia menegakkan tubuhnya, mengelap debu semen di kaus oblongnya dengan asal, lalu melangkah masuk ke dalam kantor agen properti tersebut dengan satu tujuan pasti: membeli tanah paling bermasalah yang ada di seluruh tanah Pasundan.