NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

***

Keheningan malam di perbukitan Joglo melingkupi selasar kamar utama dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Setelah diusir secara dingin oleh Larasati, Raden Mas Baskoro tidak melangkahkan kakinya menuju kamar lain atau pendopo besar. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu menolak tidur di atas kasur empuk mana pun. Ia memilih duduk bersandarkan daun pintu kayu jati kamar utama dari luar.

Di samping tubuh tegapnya yang beralaskan kain sarung tipis, tergeletak sebilah keris pusaka berluk sembilan. Baskoro duduk memangku kedua tangannya, matanya yang memerah menatap kegelapan lorong selasar. Setiap kali mendengar derak halus dari dalam kamar, dada sang juragan Joglo seketika berdesir cemas. Ia tidak berani memutar gerendel pintu, takut kehadirannya justru kembali mengguncang batin permaisuri remajanya yang sedang hamil tua.

Hari-hari berikutnya berganti dalam pola penyesalan yang sunyi namun amat tulus.

Setiap fajar menyingsing, Baskoro sendiri yang turun ke dapur belakang. Tanpa memedulikan tatapan heran para abdi dalem, tangan besarnya yang berurat telaten menumbuk jahe merah, kunyit tua, dan daun sirih untuk meracik jamu penenang rahim. Ia memastikan piring Mangkuk porselen berisi sup hangat dan nasi pulen tersaji sempurna, lalu menyerahkannya pada Mbok Sum di depan pintu.

"Mbok..." bisik Baskoro pelan saat menyerahkan nampan kayu di pagi ketiga. Suaranya bariton rendah, terdengar parau dan sangat lelah. "Pastikan Laras meminum jamu ini sampai habis. Kalau supnya dingin, bersihkan dan minta aku menghangatkannya lagi. Jangan biarkan dia kekurangan asupan sedikit pun."

Mbok Sum menatap juragannya dengan rasa iba yang mendalam. Wajah tegap Baskoro yang biasanya memancarkan aura penguasa dingin kini tampak kusam, dihiasi janggut tipis yang mboten terurus dan lingkaran hitam pekat di bawah matanya.

"Inggih, Raden Mas," sahut Mbok Sum lembut. "Gusti Nyai memakan supnya sedikit-sedikit. Tapi... beliau masih belum mau menanyakan keberadaan penjenengan."

Baskoro tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang penuh duka. Ia mengangguk kaku. "Tidak apa-apa, Mbok. Asal dia dan anakku sehat, itu sudah lebih dari cukup untuk membayarkan dosa-dosaku."

Malam kembali turun membungkus kompleks Joglo dengan kabut tebal. Udara malam itu terasa jauh lebih membekukan. Angin pegunungan berembus kencang, menepuk-nepuk jendela kayu kamar utama.

Di dalam kamar, Larasati berbaring miring di atas kasur kapuk yang tebal. Raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun terbungkus selimut jarik hingga ke dada. Usia kandungannya yang berada di penghujung bulan kedelapan membuat perut besarnya terasa kian memberat dan menegang.

Rasa mual susulan yang hebat mendadak menyergap lambung Larasati. Posisi janin yang membuncit tinggi menekan dada dan tenggorokannya, membuat napasnya mengalun pendek dan tersengal-sengal.

"Ugh... hhh..." rintih Larasati lirih, memegangi dadanya yang terasa terhimpit.

Ia mencoba menegakkan tubuhnya untuk meraih cangkir air hangat di atas meja rias. Namun, punggung bagian bawahnya terasa sangat kaku bagai ditimpa batu raksasa. Kaki kecilnya yang membengkak lemas sulit digerakkan. Larasati tersengal-sengal, bergerak gelisah di atas kasur sembari memegangi perut besarnya yang mendadak menegang halus.

Srett...

Derak halus kasur dan desahan napas tersengal Larasati seketika menembus tebalnya daun pintu kayu jati.

Di luar selasar, Baskoro yang sedang tersandar kaku seketika membuka matanya lebar-lebar. Naluri seorang suami dan bapak seketika membakar seluruh kesadarannya. Pria itu langsung berlutut di depan pintu, menempelkan telinganya pada kayu jati yang dingin.

"Laras...? Larasati, Nduk?" panggil Baskoro dengan suara lirih yang sarat akan kecemasan mendalam. Tangannya yang besar gemetar, tertahan tepat beberapa senti di depan gerendel pintu. "Kamu kenapa, sayang? Perutmu mules lagi? Mual?"

Tidak ada jawaban dari dalam, hanya suara helaan napas pendek dan rintihan pelan Larasati yang menahan ketidaknyamanan.

Baskoro menelan ludah, dadanya sesak luar biasa karena tidak bisa merengkuh dan memeluk istrinya seperti biasa. Dengan dahi yang ditempelkan rapat pada ukiran pintu jati, Baskoro mulai berbicara. Suara baritonnya yang berat dan dalam mengalun bagai bisikan angin malam, bergetar oleh kepedihan jiwa.

"Maafkan suamimu yang bodoh ini, Laras..." bisik Baskoro parau. "Maafkan bapakmu yang jahat ini, Nduk... Pria tua ini begitu dungu, begitu mudah dibutakan oleh cemburu murah sampai tega melukai raga suci yang membawa darah dagingnya sendiri..."

Larasati di dalam kamar membeku. Rintihan pelannya terhenti. Dari tempatnya berbaring miring, matanya yang redup menatap lurus ke arah pintu jati yang tertutup rapat.

Suara Baskoro dari luar terdengar begitu dekat, begitu jujur, dan pecah oleh penyesalan murni yang tidak pernah ia dengar selama hidupnya bersanding dengan sang juragan tanah.

"Setiap detik aku melihat pintu ini, Laras..." lanjut Baskoro, air mata bening menetes melewati rahang tegapnya yang kasar. "Rasanya dadaku seperti ditikam keris berkali-kali. Aku tidak takut kehilangan harta atau kekuasaanku di atas perbukitan ini... Tapi membayangkan mata indahmu menatapku dengan dingin... itu membunuh jiwaku seutuhnya, Nduk."

Baskoro mengusap matanya yang basah dengan punggung tangannya yang kasar, lalu menghembuskan napas panjang. Pria perkasa itu kemudian mulai melantunkan bait-bait doa keselamatan dalam nada tembang macapat Jawa yang sangat mendalam dan puitis.

"Duh Gusti Ingkang Maha Asih... reksanen garwa kula... reksanen jabang bayi ing rahimipun... paringana kasarasan, paringana katentreman..."

Suara gema tembang doa Baskoro mengalun rendah, bergema lembut menembus celah-celah kayu kamar utama. Nada suaranya sarat akan kepasrahan seorang laki-laki yang telah menanggalkan seluruh keangkuhan egonya demi keselamatan wanita dan anak yang dicintainya.

Di balik pintu, Larasati memejamkan kelopak matanya rapat-rapat. Jemari tangannya yang gemetar perlahan merayap turun, mengelus lembut permukaan perut besarnya.

Tepat saat suara doa Baskoro bergetar di bait terakhir, sebuah sentakan halus terjadi di dalam rahim Larasati. Janin berusia delapan bulan akhir itu bergerak aktif, menendang pelan telapak tangan Larasati—seolah-olah sang anak turut mendengarkan lantunan doa bapaknya dan merespons penyesalan yang membakar di luar kamar.

Larasati tersentak halus. Binar hangat yang sempat membeku di dalam dadanya mendadak meleleh perlahan. Air mata bening yang sejak kemarin tertahan akhirnya menetes pelan menyapu pipinya yang pucat.

Anakku... kamu pun bisa merasakan ketulusan penyesalan bapakmu, Nduk...? batin Larasati merintih.

Perasaan iba yang teramat sangat seketika merayapi dada wanita berusia sembilan belas tahun itu. Larasati tahu betapa tingginya harga diri seorang Raden Mas Baskoro—pria perkasa yang ditakuti seluruh juragan desa. Namun selama tiga hari tiga malam ini, pria itu rela tidur di atas lantai kayu yang dingin, meracik jamunya sendiri, dan berlutut memohon ampun di balik pintu hanya demi menjaga tidur lelapnya.

Larasati menarik napas panjang, menenangkan gejolak mual di lambungnya. Ketegangan keras di rahimnya perlahan melunak kembali, tergantikan oleh kehangatan yang mengalir pelan dari doa suaminya.

Di luar pintu, Baskoro menyandarkan kepalanya kembali di kayu jati setelah menuntaskan doanya. Ia mengusap napasnya yang berat, berbisik lirih untuk terakhir kalinya sebelum kembali berjaga.

"Tidurlah yang lelap, permaisuriku... Suamimu akan tetap di sini, menjaga tiap detik napasmu dalam keheningan malam."

Larasati memeluk perut membuncitnya rapat-rapat dalam selimut jarik. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir, napas sang Nyai muda mengalun teratur dan tenang. Dengan bayang-bayang tembang doa suaminya yang masih bergaung lembut di dalam kamar, Larasati akhirnya memejamkan mata, menyambut tidur lelapnya dalam kehangatan malam perbukitan Joglo.

Bersambung

1
partini
👍👍👍
Maya Audina
di awal baca juga 35 kak,Larasati 19...
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄
falea sezi
kapok😒 makanya uda tua sadar diri jangan cemburuan nuduh g jelas
Fauziah Daud
rasakan
Maya Audina
waah bikin masalah ini namanya nduk🤣
falea sezi
🤣🤣 tua bangka
partini
mampus Luh pak tua
Maya Audina
like&vote buatmu thor
Maya Audina
maaf Thor di awal Baskoro berusia 35, kok sekarang 40th
Maya Audina
Larasati gak jadi bersih2 dong yah, td katanya mau hapus riasan,eh nangis dan tau2 juragan masuk🤭
falea sezi
cerai aja laki tololl uda tua bangka g tau diri
Neni Abu Triana
udah dong jgn terus konflik please cape ,keren novel tp trs ajh konflik
partini
Laras maklum aja lah dia kan udah otw tuir jadi begitu
partini
randen mas kamu kan yg jebol tuh gawang apa ga ngerasain seyeeet busettt dah gitu aja udah kalap kata orang Jawa ngapak ada ini reden mas ledhoooooooooo 😂😂😂🤭
imel
masa gak bisa ngerasain waktu pertama kali main😏
partini
perasaan kemarin 40 th ko jadi 35 th Raden Baskoro
Fauziah Daud
trusemangattt
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!