NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Surat Rekomendasi

Matahari pagi menyinari persimpangan plaza utama ketika Yang Chan berdiri tegak di tengah kerumunan murid baru.

Di sebelah kirinya, gerbang Jurusan Tempur dipadati lautan pemuda beraura meledak-ledak dengan suara sangat bising.

Sementara di sebelah kanan, gerbang Jurusan Pendukung berlambang daun tampak sunyi senyap bagaikan pemakaman tua.

Tanpa ragu sedikit pun, Yang Chan memutar tumitnya dengan gerakan luwes, menjauh dari kerumunan ramai itu.

Ia berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku pakaian. Bagi Yang Chan, tentu Jurusan Pendukung adalah pilihan terbaik untuk jaminan hidup santainya.

Langkah kakinya mengarah lurus menyusuri jalan setapak berbatu sepi menuju gerbang bersimbol daun hijau.

Beberapa murid di barisan antrean sebelah kiri menghentikan obrolan mereka demi menatap kepergiannya dengan heran.

"Bukankah pemuda itu yang dapat nilai tinggi kemarin?" bisik seorang remaja jangkung dengan sangat keras.

"Apa ia sudah gila memilih masuk ke dalam kuburan Jurusan Pendukung?" sahut temannya tidak percaya.

Mendengar selentingan itu, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus justru mengembang di wajah polos Yang Chan.

'Kuburan bagi kalian yang haus pertarungan, tetapi ladang emas yang paling damai untukku,' batinnya gembira.

'Aku TIDAK akan mau hidup di tengah perhatian dan masalah seperti itu, tidak akan!'

Ia terus melangkah santai, meninggalkan pandangan heran para murid yang masih sibuk membicarakan keputusan anehnya.

Aroma tanah basah langsung menyergap indra penciuman begitu ia melangkah melewati pintu kaca tebal rumah kaca.

Udara hangat dan lembap di dalam ruangan raksasa itu dipenuhi kabut tipis sisa penguapan sore hari.

Di sudut ruangan, sepasang tangan lentik yang berlumuran tanah liat cokelat sedang bekerja dengan sangat teliti.

Tangan cekatan itu memotong akar bercahaya hijau dari sebuah tanaman obat di dalam pot kristal kecil.

"Letakkan saja surat rekomendasimu di atas meja kayu di sebelah kiri itu," ucap suara wanita agak serak.

Pemilik suara ketus itu adalah Profesor Li Yingpei, kepala botani yang bertanggung jawab penuh atas tempat ini.

Ia mengusap dahi berkeringat dengan punggung tangan kotor, meninggalkan coretan tanah liat hitam di pipi kirinya.

Kacamatanya sangat berembun akibat uap hangat tanaman obat yang terperangkap di dalam bangunan kaca tersebut.

Sambil merapikan ikatan rambutnya yang acak-acakan, ia meraih surat rekomendasi usang yang diletakkan Yang Chan.

Li Yingpei membaca baris demi baris tulisan di kertas itu dengan sepasang alis berkerut sangat dalam.

Ia membolak-balik kertas kekuningan itu di bawah cahaya, seolah mencari pesan rahasia yang sengaja disembunyikan.

Sambil mendengus pelan, ia menurunkan surat itu lalu menatap tajam langsung ke dalam mata jernih murid barunya.

"Dia memberiku tugas yang sulit, anak seberbakat ini dibiarkan padaku," tutur Li Yingpei dengan nada agak sinis.

"Dan satu-satunya alasan yang ia tulis hanyalah: Anakku sangat suka mencangkul. Apa kau sedang mengejekku?"

Yang Chan tidak takut menghadapi pandangan menyelidik dari sang profesor berwajah dingin yang terkenal ketus itu.

Ia justru tersenyum dengan sangat sopan, lalu menatap hamparan pot tanaman yang tertata rapi di sekeliling mereka.

"Saya sungguh-sungguh, Profesor Li. Saya lebih suka merawat tanah dan pupuk daripada harus memegang pedang tajam."

Li Yingpei terdiam, mencari celah kebohongan atau kesombongan dari raut wajah pemuda berambut hitam di depannya.

Namun, ia hanya menemukan sorot mata jernih dan ketulusan murni yang tidak masuk akal bagi seorang jenius.

Sambil mendesah pasrah, Profesor Li akhirnya meraih stempel kayu beralaskan giok hijau dari laci meja kerjanya.

TUK!

Suara hantaman stempel menggema pelan, meresmikan lembar formulir pendaftaran milik Yang Chan di atas meja tersebut.

Sebuah seragam berwarna hijau muda beraksen daun terbang melayang, mendarat tepat di dalam dekapan tangan Yang Chan.

Detik berikutnya, pintu kayu rumah kaca yang tebal itu langsung dibanting tutup sangat keras dari arah dalam.

Yang Chan berdiri diam di koridor sunyi sambil memandangi daun pintu yang kini telah tertutup rapat kembali.

Ia merapikan lipatan kain seragam barunya yang terasa sangat sejuk saat bersentuhan dengan permukaan kulit tangannya.

Dengan gerakan perlahan, ia menyematkan selembar lencana perak mengilap di Bagian dada kiri pakaian barunya itu.

Lencana kecil itu bertuliskan nama jurusannya dengan sangat jelas: Botani - Jurusan Pendukung.

Sebuah helaan napas lega keluar dari bibirnya seiring rasa puas yang kini mengalir hangat di dalam dada.

Ia kemudian memasukkan tangan kanan ke dalam saku pakaian hangatnya untuk meraba sebuah benda sangat berharga.

Jemarinya menyentuh permukaan bulat dingin dari bola hitam kecil, yaitu alat Cangkul Serbaguna miliknya yang setia.

Yang Chan berjalan santai mendekati jendela kaca besar yang membentang di sepanjang dinding koridor sepi sore hari.

Dari balik kaca bening itu, ia memandangi hamparan ladang percobaan milik akademi yang terletak di bawah sana.

Ladang luas itu tampak sangat terbengkalai, dipenuhi rumput liar dan tanah kering yang sudah sangat lama diabaikan.

Meskipun berantakan, mata jernih Yang Chan justru terlihat berbinar sangat cerah saat menatap ladang kosong tersebut.

"Bakat tinggi untuk menopang statusku, tetapi berada di kelas pendukung yang selalu diabaikan murid lain," gumamnya.

"Sempurna, melempar dua burung dengan satu batu, bukan hanya mendapat ketenangan di kampus, tapi aku juga bisa bertani dan belajar tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan itu."

Ia merapikan kembali kerah seragamnya, lalu menikmati keindahan langit sore yang mulai dihiasi cahaya keemasan.

Langkah kakinya terdengar teratur, membimbing ia berjalan pelan menyusuri koridor sepi untuk menuju ke arah area asrama.

Impian untuk hidup santai sambil bercocok tanam tampaknya akan segera menjadi kenyataan dalam waktu dekat ini.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!