TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOXIC AND CONTROL`* *`BAB 4: TOPENG DI BALIK KEGELAPAN
*`TOXIC AND CONTROL`*
*`BAB 4: TOPENG DI BALIK KEGELAPAN`*
Malam telah sepenuhnya melarut, namun bagi kawasan elite kota, kehidupan baru saja dimulai. Dentuman bass musik berdegup kencang dari kejauhan, beradu dengan kerlip lampu neon warna-warni yang membelah atmosfer malam yang dingin.
Rian Pradifta duduk bersandar di jok mobil sport miliknya, menatap bosan ke luar jendela. Pipi kirinya sudah tidak merah lagi, tetapi rasa panas akibat tamparan Kinara Jose siang tadi seolah masih membekas di harga dirinya.
Sepanjang sore hingga malam, kepalanya terus dipenuhi oleh bayangan mata jernih dan berani milik gadis beasiswa itu. `Sialan. Bagaimana bisa seorang gadis cupu merusak ketenangannya sampai seperti ini?`
"Rian, kita ke tempat baru malam ini!" seru Rangga dari kursi kemudi, memecah lamunan sahabatnya seraya memutar kemudi dengan lihai.
"Gue dapet info ada kelab malam yang baru buka, namanya Aston Club. Katanya di sana ada satu pelayan baru yang cantiknya luar biasa. Tapi, belum ada satu pun cowok yang berhasil menaklukkan dia. Sombong banget, padahal cuma pelayan."
Rian mendengus pelan, memutar-mutar botol air mineral di tangannya dengan malas. "Gue enggak tertarik."
"Ah, ayolah, Rian! Anggap aja buat menjernihkan pikiran lu. Muka lu dari siang udah ditekuk terus kayak kertas loakan," timpal Rama yang duduk di kursi belakang, ikut memanasi.
Rian akhirnya menghela napas panjang dan mengangguk pelan. Rangga benar, dia memang sedang butuh hiburan untuk mengalihkan rasa kesal dan obsesi anehnya yang mendadak muncul akibat ulah siswi kelas dua tersebut.
---
Di tempat lain, di dalam ruang loker karyawan Aston Club yang sempit, suasana sangat kontras.
Kinara Jose berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Tidak ada lagi kacamata tebal yang membuat matanya terlihat kecil dan aneh. Tidak ada lagi seragam abu-abu longgar atau rambut hitam yang diikat asal-asalan.
Malam ini, Kinara memakai gaun beludru hitam berani yang melekat pas di tubuh rampingnya, menonjolkan lekuk badannya dengan anggun namun tetap berkelas. Wajahnya dipoles riasan tegas yang membuatnya terlihat beberapa tahun lebih dewasa.
Untuk menyempurnakan penyamarannya, sebuah rambut palsu (wig) bergelombang berwarna cokelat gelap kini terpasang rapi, membingkai wajahnya yang luar biasa cantik.
Kinara terpaksa melakukan ini semua. Dia dipaksa dewasa oleh keadaan. Biaya rumah sakit ibunya yang kian menumpuk dan ayahnya yang tidak bertanggung jawab membuatnya tidak punya pilihan selain membuang rasa malunya demi lembaran uang.
Di kelab malam seperti ini, gajinya lumayan besar dan cukup untuk menyambung hidup serta membayar biaya pengobatan ibunya.
"Nara! Tolong antar minuman ini ke ruangan VIP 107," perintah Tante Ratna, manajer kelab, sambil meletakkan sebuah nampan besi berisi beberapa botol minuman keras mahal dan gelas kristal.
"Siap, Tante," jawab Kinara ramah. Dia sengaja sedikit mengubah suaranya menjadi lebih berat agar tidak dikenali jika sewaktu-waktu ada orang sekolah yang berkunjung.
Kinara membawa nampan itu dengan hati-hati. Langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi berjalan menyusuri lorong VIP yang sedikit lebih tenang dibandingkan lantai dansa utama yang bising.
Tok! Tok! Tok!
Setelah mengetuk pintu tiga kali, Kinara mendorong pintu ruangan VIP 107 dan melangkah masuk. "Permisi, ini pesanannya..."
Deg!
Kalimat Kinara seketika terputus di tenggorokan. Jantungnya rasanya mau copot dari tempatnya saat matanya menangkap sosok pria yang duduk di tengah sofa mewah ruangan itu. `Rian Pradifta`. Di sebelahnya, ada Rama dan Rangga.
Kinara mati-matian menahan tangannya agar nampan yang dia bawa tidak berguncang. Untungnya, Rian sama sekali tidak menoleh ke arahnya saat dia masuk. Cowok itu tampak asyik meneguk minumannya, mengabaikan dua wanita penghibur berpakaian ketat yang sejak tadi mencoba bergelayut manja di lengan kekarnya.
Kinara menarik napas lega dalam hati. `Dia tidak akan pernah mengenaliku.`
"Wah, nona... kamu cantik banget," suara Rangga tiba-tiba memecah keheningan, matanya berbinar menatap wajah Kinara. "Temani kami minum di sini, ya?"
Kinara memaksakan sebuah senyuman profesional yang kaku. "Maaf, Tuan. Saya hanya bertugas mengantarkan minuman."
Rangga terkekeh, mengeluarkan selembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja dengan angkuh. "Ayolah, jangan kaku begitu. Nanti aku berikan tip yang jauh lebih besar dari ini."
"Sekali lagi maaf, Tuan. Peraturan kelab melarang pelayan lantai untuk menemani tamu di dalam kamar," tolak Kinara tegas.
Penolakan itu rupanya memicu kekesalan dari salah satu wanita penghibur bernama Lala.
"Heh, pelayan! Jangan sombong ya hanya karena kamu merasa cantik!" semprot Lala kesal. "Kamu itu cuma pelayan rendahan di sini!"
Keributan kecil itu membuat Rian merasa terganggu. Dengan perasaan gusar, Rian mengangkat kepalanya, berniat memaki pelayan yang dianggapnya pembuat masalah itu.
Namun, begitu mata elang Rian menatap lurus ke arah sosok wanita cantik di depannya, gerakan Rian mendadak terkunci.
Deg!
Dunia di sekitar Rian seolah mendadak senyap. Rian menatap lekat-lekat struktur wajah, bentuk hidung, dan yang paling utama: `sepasang mata jernih itu`.
Rian langsung mengenalinya. Wanita seksi nan dewasa di kelab malam ini adalah `Kinara Jose`. Murid beasiswa cupu yang beberapa jam lalu menampar wajahnya.
Seketika, sudut bibir Rian terangkat, membentuk sebuah seringai dingin.
`Oh, jadi begini aslinya?` batin Rian sinis.
`Di sekolah berlagak suci. Tapi malamnya jadi pelayan kelab.`
Plak.
Sebuah kartu ATM berwarna hitam legam—`Black Card`—dilempar begitu saja ke atas meja kaca, tepat di depan nampan besi Kinara.
"Temani kami minum," ujar Rian, suaranya berat, dingin, dan mutlak tidak menerima bantahan. "Keluarkan semua minuman yang paling mahal di kelab ini. Pakai kartu itu."
Seluruh tubuh Kinara langsung menegang kaku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
" Sekali lagi saya mohon maaf, Tuan. Saya hanya pelayan pelataran, bukan wanita pendamping. Saya tidak bisa menemani Anda minum."
Mendengar penolakan itu, kilat amarah yang dingin melintas di mata elang Rian.
"Kalau begitu, panggilkan manajer kelab ini sekarang," perintah Rian tenang, namun nadanya sangat mengintimidasi.
Lala langsung menyambar kesempatan itu.
"Nara! Apa susahnya sih menerima permintaan Tuan Muda Rian?! Kamu mau kelab ini langsung ditutup malam ini juga cuma karena kesombonganmu?!"
Mendengar gertakan Lala, Kinara terpaku. Jika kelab ini tutup, Kinara akan kehilangan pekerjaan utamanya. Dia akan kehilangan sumber uang terbesar untuk biaya cuci darah ibunya besok pagi.
Kinara meremas jemarinya. Dia benar-benar terpojok di antara harga diri dan keselamatan ibunya.
Rian menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia melipat kaki, lalu menyunggingkan sebuah senyuman miring yang merendahkan.
"Jadi, bagaimana, Nona Nara?" tanya Rian meremehkan, menekankan nama samaran Kinara dengan nada sinis yang penuh kemenangan.
"Mau duduk di sini, atau melihat tempat kerjamu hancur?"
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk