Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Lagi Mimpi
Malam itu, kamar Yeza terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Detik jarum jam dinding terdengar seperti suara hitung mundur yang memekakkan telinga. Berkali-kali ia membalikkan tubuh ke kiri dan ke kanan, menatap langit-langit kamar, lalu mengecek ponselnya hanya untuk memastikan bahwa pesan dari Maxemilian tidak hilang begitu saja. Yeza tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Max dan tulisan tangan di kertas putih itu langsung menari-nari di benaknya.
Antara rasa cemas, tidak percaya diri, dan letupan kegembiraan yang aneh, Yeza baru benar-benar bisa terpejam saat azan subuh mulai berkumandang.
"Yeza! Bangun, Nduk! Ada tamu di bawah nyariin kamu!"
Suara ketukan pintu kamar yang disusul teriakan ibunya seketika membuat Yeza terduduk tegak di kasur. Jantungnya langsung berpacu kencang. Ia melirik jam beker di meja riasnya. Pukul 09.30 pagi.
"Tamu, Bu?" tanya Yeza setengah berteriak sambil buru-buru menyibak selimut.
"Iya, laki-laki pakai kemeja rapi banget, bawa mobil hitam besar di depan rumah. Tetangga pada ngeliatin! Katanya mau jemput kamu kerja!" seru ibunya dari balik pintu dengan nada suara yang penuh rasa penasaran bercampur heran.
Yeza mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Untungnya, meski hanya tidur beberapa jam, instingnya semalam sudah bekerja dengan baik. Sebelum memejamkan mata subuh tadi, Yeza sudah mandi, merias wajahnya dengan gaya clean look yang segar untuk menyembunyikan lingkaran hitam di matanya, dan memilih pakaian terbaiknya—sebuah kemeja kasual berwarna bumi yang rapi namun tetap nyaman.
Koper kosmetik hitam kesayangannya—yang berisi kuas-kuas yang sudah dicuci bersih dan palet-palet andalannya—juga sudah berdiri tegak di dekat pintu, siap tempur.
"Ya, Bu! Yeza segera turun!"
Yeza meraih tas selempangnya, menjinjing koper kosmetiknya, dan menatap pantulan dirinya di cermin untuk terakhir kali. 'Ini nyata, Yeza. Jangan gemetar,' bisiknya pada diri sendiri.
Saat melangkah turun ke ruang tamu rumahnya yang sederhana, Yeza langsung menangkap sosok seorang pria berkacamata dengan setelan semi-formal sedang duduk tegak di sofa kayu. Di luar pagar, sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam dengan kaca super gelap terparkir anggun, kontras dengan jalanan gang rumahnya yang sempit.
Pria itu langsung berdiri begitu melihat Yeza turun. Ia tersenyum profesional namun ramah.
"Halo, Yeza. Saya Bram, manajer pribadi Maxemilian," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan. "Max sudah menceritakan banyak hal tentangmu. Apakah kamu sudah siap?"
Yeza menjabat tangan hangat itu, mencoba menutupi telapak tangannya yang sedikit dingin. "Sudah, Pak Bram. Saya siap."
Dengan langkah mantap namun hati yang berdegup kencang, Yeza berjalan keluar rumah. Bram dengan sigap membantu membawakan koper kosmetik hitamnya dan membukakan pintu penumpang mobil MPV mewah tersebut. Sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan dingin, Yeza berbalik arah.
Ia memeluk ibunya erat-erat.
Ibunya, seorang guru TK yang sehari-hari akrab dengan tawa anak-anak dan kesederhanaan, menatap Yeza dengan binar mata yang campur aduk antara cemas, bangga, dan tidak percaya. Sejak ayah Yeza meninggal dunia saat Yeza baru saja lulus SMP, mereka hanya hidup berdua. Sebagai anak tunggal, Yeza adalah seluruh dunia bagi ibunya, begitu pula sebaliknya. Sang ibu adalah saksi bisu bagaimana Yeza bertahan di dalam kamar sempitnya, melewati malam-malam panjang dengan wajah penuh coretan warna-warni demi mengejar mimpi yang sempat dianggap remeh orang lain.
"Hati-hati ya, Nduk. Jaga diri baik-baik," bisik ibunya lembut sambil mengusap lengan Yeza. "Jangan lupa berdoa."
"Iya, Bu. Yeza berangkat dulu. Ibu tidak usah khawatir, Yeza akan langsung kabari begitu sampai," jawab Yeza meyakinkan, meski sebenarnya ia sendiri masih merasa seperti sedang berjalan di atas awan.
Yeza mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. Setelah melambaikan tangan untuk terakhir kali, ia akhirnya masuk ke dalam mobil. Pintu mobil tertutup dengan suara debuman halus yang kedap, seketika memotong kebisingan gang rumahnya.
Bram memutari mobil, masuk ke kursi kemudi, dan mulai melajukan kendaraan besar itu membelah jalanan. Di dalam mobil yang melaju tenang, Yeza menatap keluar jendela kaca yang gelap. Ia melihat sosok ibunya yang berdiri di depan pagar rumah, perlahan mengecil dan menghilang di tikungan jalan.
Lembaran baru hidupnya resmi dimulai hari ini, dan tidak ada jalan untuk kembali lagi.
Melihat Yeza yang duduk tegang dengan punggung kaku, Bram terkekeh pelan. Ia melirik dari spion tengah, mencoba mencairkan suasana dingin di dalam mobil mewah tersebut.
"Santai saja, Yeza. Saya tidak sedang membawa tawanan kok," seloroh Bram ramah.
Pria itu kemudian merogoh kursi sebelah kemudi dan menyodorkan sebuah kantong kertas berlogo toko roti premium, lengkap dengan sebotol air mineral dingin.
"Ini, makan dulu. Max yang pesan khusus tadi sebelum saya berangkat. Katanya, dia tahu kamu pasti tidak sempat sarapan karena terlalu tegang semalam. Dia benar, kan?" tanya Bram sambil mengedipkan mata dari spion.
Yeza tersenyum canggung, pipinya mendadak bersemu merah. Tebakan Max seratus persen akurat. Perutnya memang terasa keroncongan karena ia melewatkan sarapan akibat rasa cemas yang menggebu-gebu.
"Terima kasih, Pak Bram... dan terima kasih untuk Max," ucap Yeza pelan sambil menerima kantong kertas itu. Aroma mentega dan cokelat hangat langsung menguar begitu ia membukanya, sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Sembari Yeza menikmati rotinya, Bram menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam yang tampak elegan.
"Sambil makan, kamu bisa pelajari ini. Ini adalah berkas jadwal Max untuk satu bulan ke depan," ujar Bram. "Ada jadwal syuting film barunya, beberapa sesi pemotretan majalah, hingga konferensi pers besar dua minggu lagi. Di situ juga ada draf kontrak kerja sama kita."
Yeza menerima map itu dengan satu tangan yang bebas. Ketika membukanya, matanya langsung tertuju pada deretan jadwal yang sangat padat. Hampir tidak ada hari libur untuk seorang Maxemilian. Namun, yang membuat jantung Yeza kembali berdegup kencang adalah tulisan tebal di bagian atas lembar kontrak kerja: "Penata Rias Eksklusif Maxemilian - Proyek Film 'The Shadow Behind'."
"Tugas pertamamu hari ini adalah test-makeup untuk karakter Max di film thriller tersebut. Sutradara dan produser akan ikut menilai," jelas Bram, nadanya kini terdengar lebih serius namun tetap suportif. "Max yang mengajukan namamu langsung ke mereka. Jadi, tunjukkan sihir yang biasa kamu pamerkan di Instagram itu, ya?"
Yeza menelan potongan roti terakhirnya dengan susah payah. Tantangan ini nyata, dan taruhannya sangat besar. Ia menutup map kulit tersebut, mendekapnya di dada, dan menatap lurus ke jalanan di depan. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran tekad yang kuat. Ia tidak boleh mengecewakan ibunya, dirinya sendiri, dan terutama... Max yang telah memercayainya.