"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
khilap cahaya camera
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan restoran berjalan tergesa-gesa menghampiri meja mereka dengan nampan kecil, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya membungkuk sopan di samping Elio.
"Maaf mengganggu waktu santai Anda, Tuan Elio," ucap sang pelayan dengan suara bergetar tertahan, sambil menyerahkan sebuah ponsel milik hotel atau mungkin miliknya sendiri. "Um... di luar, di area depan gerbang pantai privat ini, beberapa wartawan hiburan sepertinya baru saja tiba setelah melacak sinyal dan lokasi dari unggahan media sosial. Mereka... mereka meminta konfirmasi."
Wajah Elio langsung mengeras dalam sepersekian detik. Rahangnya terkatup rapat.
Di sisi lain, Aratala yang mendengar kata wartawan langsung menoleh cepat, keningnya berkerut dalam. "Wartawan? Dari mana mereka tahu kita di sini? Kita bahkan baru sampai beberapa menit lalu!"
Aratala menatap sang pelayan, lalu beralih menatap Elio penuh curiga.
Sebelum Elio sempat merangkai alasan atau menyangkal, suara derap langkah kaki dan kilatan blitz kamera tiba-tiba tertangkap dari balik pagar pembatas tanaman tropis di batas area privat tersebut. Keheningan pantai sore itu mendadak pecah oleh suara kerumunan orang yang memanggil-manggil nama Elio dan meneriakkan pertanyaan seputar "gadis misterius" di sebelah sang CEO.
Aratala terbelalak, buru-buru merogoh tas kecilnya dan menyalakan ponselnya sendiri yang sejak tadi ia abaikan. Dan seketika itu juga, napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat melihat rentetan notifikasi dan sebuah unggahan akun bercentang biru milik Elio Lerian Raymond muncul di berandanya.
Belum sempat Aratala merespons keterkejutannya—melihat bagaimana foto candid dirinya diunggah oleh seorang Elio yang biasanya paling anti mengumbar privasi—suara bising blitz kamera dan teriakan wartawan dari balik pagar semakin mendekat.
Refleks, tangan Elio langsung bergerak cepat. Tanpa berpikir dua kali, pria itu melepaskan jaket yang dipakainya dan langsung membentangkannya untuk menutupi area wajah serta tubuh Aratala dari sorotan kamera luar.
Gerakan itu membuat Elio harus menarik tubuh gadis itu mendekat ke arahnya. Dalam sekejap, jarak di antara mereka terkikis habis. Aratala, yang tertutup di balik jaket hangat beraroma khas maskulin milik Elio, bisa merasakan debaran jantung pria itu bergemuruh tepat di balik dadanya. Di balik kepanikan dan rasa kesalnya karena merasa "dijebak", Aratala terperangkap dalam dekapan posesif sang CEO yang berusaha melindunginya dari serbuan mata publik.
Kilatan cahaya dari kamera para wartawan yang berhasil menyusup mendekati area privat itu semakin beringas. Suara desakan dan teriakan pertanyaan tumpang tindih memecah ketenangan deburan ombak pantai.
"Tuan Elio! Siapa wanita yang Anda unggah di Instagram? Apakah itu kekasih baru Anda?" teriak salah seorang wartawan dengan suara melengking di balik pagar tanaman.
"pa Elio! Bagaimana tanggapan Anda soal rumor kedekatan Anda dengan Angelica si model papan atas yang selama ini santer dikabarkan dekat dengan Anda? Apakah wanita di balik jaket itu adalah Angelica?" seru wartawan lainnya, mendesak lebih dekat.
Di balik dekapan jaket tebal Elio, Aratala terpaku. Nama "Angelica" yang disebut-sebut oleh para wartawan itu berdengung jelas di telinganya. Meskipun ia tahu hubungannya dengan Elio hanyalah sebatas kontrak dan sandiwara privat, mendengar nama model terkenal itu disandingkan dengan Elio—tepat saat dirinya sendiri sedang disembunyikan di dalam jaket sang CEO—membuat dadanya mendadak terasa sesak oleh sesuatu yang sulit diartikan.
Elio sendiri merasaka rahangnya mengetat hebat. Pandangannya menajam ke arah kerumunan wartawan di luar batas pagar. Alih-alih menjawab atau melepaskan penutup kepala Aratala untuk meredakan rumor, tangan Elio justru semakin erat mendekatkan gadis itu ke dadanya, seolah menegaskan gestur posesif tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata pun.
Tanpa menjawab sepatah kata pun atau memedulikan teriakan para wartawan yang semakin ricuh, Elio langsung merangkul erat tubuh Aratala yang masih tersembunyi di balik jaketnya. Pria itu bergerak cepat, membimbing langkah sang gadis menerobos jalan setapak menuju area parkiran privat mobilnya.
🌴🌴🌴
Begitu sampai di dekat mobil, Elio segera membukakan pintu dan membiarkan Aratala masuk ke dalam kabin yang aman dari sorotan kamera dan kilatan blitz. Setelah memastikan gadis itu duduk di dalam, Elio bergegas memutari bagian depan mobil, masuk ke kursi pengemudi, lalu tancap gas meninggalkan area pantai tersebut dalam keheningan yang tegang.
Mobil berjalan tenang, Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu pekat dan senyap, hanya menyisakan suara deru mesin dan AC yang berembus lembut. Aratala duduk terpaku, menatap lurus ke arah dashboard dengan pikiran yang berkecamuk. Ia bingung harus memulai topik dari mana atau bagaimana cara menanggapi kehebohan yang baru saja terjadi.
Namun, dengan cepat ia menarik napas dalam-dalam, menepis ekspresi bingung di wajahnya, lalu mengubahnya menjadi seulas senyum ringan yang terdengar santai—meski sedikit dipaksakan.
"Aduh, Pa Elio bisa aja," ucap Aratala sambil menoleh pelan ke arah sang CEO yang masih fokus menyetir dengan rahang mengeras. "Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau fotoin aku? Kalau tahu begitu, kan, aku bisa minta foto selfie bareng atau pasang gaya yang lebih bagus tadi."
Elio, yang sejak tadi terdiam dengan emosi yang bergejolak di kepalanya, menoleh sekilas mendengar perkataan itu. Alisnya bertaut tajam, merasa heran sekaligus jengkel dengan reaksi gadis di sebelah kanannya yang justru tampak santai menanggapi situasi genting tersebut.
Alis Elio semakin bertaut tajam mendengar nada bicara Aratala yang seolah mengejek atau sengaja memancing emosinya. Belum sempat pria itu merespons, Aratala sudah bergerak mendekat.
Dengan santai, tangan gadis itu terulur dan melingkar lembut menggelayuti leher Elio, sementara pria itu masih fokus memegang kemudi di tengah jalanan yang mulai sepi. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat, membuat aroma parfum manis Aratala seketika menguar memenuhi ruang kemudi yang sempit, menguji sisa-sisa pertahanan diri sang CEO.
" Ouh iya kan aku istri simpanan "
Elio langsung menginjak rem secara mendadak hingga mobil menepi sempurna di bahu jalan yang sepi. Rahangnya mengeras hebat, tangannya yang mencengkeram kemudi mendadak memutih.
Ia menoleh cepat, menatap tajam ke arah Aratala yang ucapannya barusan sukses menghancurkan topeng ketenangannya.
"Jangan pernah bicara seperti itu," desis Elio dengan suara rendah yang sarat akan emosi tertahan, matanya menyorot tajam tepat ke dalam manik mata gadis di depannya. "Wanita simpanan? Kamu pikir aku memperlakukanmu seperti itu?"
Aratala mengangguk pelan, menyetujui kilah yang terlontar dari bibir pria itu sekaligus menghentikan perdebatan agar tidak semakin panjang. jauh di lubuk hatinya, ada suatu perasaan aneh yang sulit diartikan—campuran antara rasa tidak nyaman, kebingungan, dan debaran asing yang enggan ia akui.
Elio menatap lurus ke arah Aratala, mencoba membaca ekspresi wajah gadis itu,
tatapan tersebut justru membuatnya semakin salah tingkah. Suasana di dalam mobil kembali diliputi keheningan yang sarat akan makna, membuat debar di dada mereka berdua berdengung lebih keras daripada suara mesin mobil yang menyala.
Aratala mendengus kecil, tatapannya menerawang ke luar jendela mobil sebelum kembali menatap Elio dengan senyum miring yang menyebalkan.
"Ya ampun, Pak CEO, baper banget mukanya," ujar Aratala santai, jarinya yang tadi menggelayut di leher Elio kini turun untuk mencolek dagu pria itu dengan gaya tanpa dosa. "Kan emang bener kita cuma kontrak. Kalau bapak risih dibilang punya wanita simpanan, ya tinggal publish aja status aslinya. Berani nggak?" tantangnya dengan mata berbinar nakal, sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang sedang tersinggung.
🌴🌴🌴
Up nih heheh, jangan lupa like
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu