Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Hadiah dari Pelajaran Pertama (Bagian 1)
Perjalanan kembali menuju Desa Aster berlangsung dalam keheningan.
Tidak seorang pun mengucapkan sepatah kata.
Belasan pemburu yang datang sebagai bala bantuan sesekali menoleh ke arah bekas jejak kaki Alpha Dire Wolf yang masih terlihat jelas di tanah. Ekspresi mereka dipenuhi rasa tidak percaya.
"Kalau bukan melihatnya sendiri..."
gumam salah seorang pemburu.
"...aku tidak akan percaya Alpha muncul di wilayah luar."
Daren berjalan di samping Rowan sambil sesekali mengamati Leon.
"Apa benar anak ini ikut menghadapi kawanan Dire Wolf?"
Rowan mengangguk singkat.
"Ya."
"Dan dia masih hidup?"
"Kau bisa melihatnya sendiri."
Daren menggeleng pelan.
"Keberuntungannya benar-benar luar biasa."
Leon hanya tersenyum tipis.
Ia tahu dirinya memang beruntung.
Namun ia juga sadar, jika Rowan tidak berada di sana, keberuntungan itu tidak akan mampu menyelamatkannya.
Beberapa puluh menit kemudian, gerbang Desa Aster akhirnya terlihat.
Dua penjaga yang berjaga di pintu masuk langsung membuka gerbang lebar-lebar.
"Kalian kembali!"
Salah satu penjaga segera menghampiri Rowan.
"Bagaimana situasinya?"
Rowan menjawab singkat.
"Kawanan Dire Wolf."
"Termasuk Alpha."
Kedua penjaga langsung membeku.
Salah satunya bahkan menjatuhkan tombak yang sedang dipegang.
"Alpha...?"
Kabar itu menyebar dengan sangat cepat.
Belum sampai lima menit, hampir seluruh penduduk desa sudah berkumpul di alun-alun.
Mereka tidak panik.
Namun wajah mereka menunjukkan kekhawatiran.
Garrick keluar dari bengkel pandai besinya dengan celemek yang masih dipenuhi jelaga hitam.
Tatapannya langsung tertuju kepada Rowan.
"Benarkah?"
"Ya."
"Apakah ada korban?"
"Tidak."
Garrick mengembuskan napas lega.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Ia kemudian memandang Leon.
Tatapan pria tua itu berbeda dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu.
Bukan rasa penasaran.
Melainkan penilaian.
"Leon."
"Ya, Pak Garrick?"
"Ceritakan apa yang kau pelajari hari ini."
Leon terdiam sejenak.
Ia mengingat kembali semua kejadian di hutan.
Forest Gob.
Jebakan.
Dire Wolf.
Alpha Dire Wolf.
Lalu ia menjawab perlahan.
"Monster tidak selalu lebih bodoh daripada manusia."
Garrick mengangguk.
"Lanjutkan."
"Kemenangan tidak selalu berarti membunuh semua musuh."
"Lagi."
"Medan adalah senjata."
"Lagi."
Leon menarik napas.
"Dan..."
"...bertahan hidup lebih penting daripada harga diri."
Senyum tipis muncul di wajah Garrick.
Rowan pun tampak puas.
"Itulah jawaban yang kuharapkan."
kata Garrick.
"Pendatang baru biasanya hanya mengingat seberapa kuat monster yang mereka temui."
"Tapi kau..."
"...mengingat pelajaran di balik setiap pertarungan."
Leon tidak menjawab.
Sebenarnya ia hanya mengulang semua nasihat Rowan.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia mulai memahami bahwa setiap pengalaman di dunia ini adalah pelajaran.
Bukan sekadar cara mendapatkan level.
Saat matahari mulai tenggelam, Garrick mengajak Leon memasuki bengkelnya.
Suara dentingan besi langsung memenuhi telinga.
Api tungku menyala terang.
Di dinding tergantung berbagai macam senjata.
Pedang.
Kapak.
Belati.
Busur.
Semuanya dibuat dengan sangat rapi.
Leon bahkan bisa merasakan aura tajam dari beberapa pedang yang dipajang.
"Indah..."
gumamnya.
Garrick tertawa kecil.
"Semua senjata di ruangan ini punya cerita."
Ia berjalan menuju sebuah peti kayu di sudut bengkel.
Perlahan peti itu dibuka.
Di dalamnya terdapat beberapa senjata latihan.
Tidak ada yang tampak istimewa.
Namun Garrick mengambil satu pedang pendek dengan sarung kulit berwarna cokelat.
"Pegang."
Leon menerimanya dengan kedua tangan.
Begitu pedang itu dicabut, cahaya logamnya memantulkan nyala api tungku.
Panjang bilahnya sekitar tujuh puluh sentimeter.
Tidak terlalu besar.
Namun terasa sangat seimbang saat digenggam.
Ding!
【Item Baru】
Pedang Besi Standar
Kualitas: Umum
Daya Tahan: 100/100
Serangan: +8
Leon menatap layar sistem itu dengan mata berbinar.
"Untukku?"
Garrick mengangguk.
"Pedang kayu hanya cocok untuk latihan."
"Mulai besok..."
"...kau membutuhkan senjata sungguhan."
Leon membungkukkan badan.
"Terima kasih."
Garrick tersenyum ramah.
"Jangan berterima kasih dulu."
"Pedang itu harus kau rawat sendiri."
"Kalau rusak karena kelalaianmu..."
"...aku akan menagih biaya perbaikannya."
Leon tertawa kecil.
"Baik."
Saat ia memasukkan pedang ke dalam sarungnya, suara sistem kembali terdengar.
Ding!
【Quest Selesai】
Langkah Pertama Seorang Petarung
Hadiah:
EXP +150
Profisiensi Pedang +5
Gelar Baru: Murid Rowan
Cahaya hangat menyelimuti tubuh Leon.
Rasa lelah yang sejak tadi memenuhi otot-ototnya perlahan menghilang.
【Level Naik!】
Level 3 → Level 4
Leon mengepalkan tangannya.
Ia bisa merasakan tubuhnya menjadi sedikit lebih kuat dibandingkan pagi tadi.
Namun sebelum sempat membuka layar statusnya...
Sebuah notifikasi merah muncul.
Berbeda dari notifikasi sistem sebelumnya.
Warnanya jauh lebih gelap.
Dan hanya muncul sepersekian detik.
【Peringatan】
Segel Kelas Unik merespons keberadaan "Alpha Dire Wolf".
Sinkronisasi: 3%
Notifikasi itu menghilang sebelum Leon sempat membacanya lebih lanjut.
"Apa itu tadi...?"
Ia bergumam pelan.
Tanpa disadarinya...
Rahasia terbesar yang tersembunyi di dalam dirinya mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangkit.