Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Arya masib belum pergi, dia berada tak jauh dari rumah Alya. Mesin dalam keadaan idle, lampu dimatikan agar tidak mencolok. Matanya tidak lepas dari rumah Alya. Ia tidak tahu pasti kenapa dirinya masih di sini, mungkin karena firasat, mungkin karena rasa penasaran yang sejak tadi mengganjal.
Tak lama kemudian, pintu rumah iti terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah yang agak terburu-buru. Dari jarak ini, Arya bisa melihat sosok itu cukup jelas. Tinggi, berpakaian rapi, tapi wajahnya terlihat kesal.
Di ambang pintu, Alya berdiri tegak dengan ekspresi marah yang tidak disembunyikan. Ia menatap pria itu tajam, seolah baru saja mengusirnya.
Arya menyipitkan matanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Siapa laki-laki itu…?” gumamnya pelan di dalam mobil yang sunyi. “Apa dia mantan suaminya?”
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Reaksi Alya yang panik saat melihat mobil hitam tadi, telepon yang tidak diangkat, dan sekarang pemandangan pengusiran ini… semuanya mengarah ke satu kesimpulan. Pria itu kemungkinan mantan suaminya yang pernah di ceritakan Alya.
Arya mengenggam setir lebih erat. Ada rasa tidak nyaman yang menyebar di dadanya, bukan hanya rasa penasaran, tapi sesuatu yang lebih dalam, hampir seperti rasa cemburu yang belum sempat ia akui. Ia menatap punggung pria itu yang berjalan menuju mobil hitam terparkir, lalu melihat Alya yang masih berdiri di ambang pintu sampai mobil itu pergi.
“Sudahlah… biarin. Bukan urusanku,” ucap Arya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia menyalakan mesin, memasukkan gigi, dan pelan-pelan menjalankan mobil meninggalkan rumah Alya.
Namun di dalam hati, rasa penasaran itu belum hilang. Bahkan semakin dalam. Siapa sebenarnya pria itu? Apakah dia masih mencoba kembali? Dan yang lebih mengganggu kenapa Alya terlihat begitu marah?.
Mobil Arya menjauh di kegelapan jalan. Tapi pikirannya masih tertinggal di depan rumah mungil itu, bersama wanita yang semakin sulit ia lepaskan dari kepalanya.
Alya masih berdiri di ambang pintu beberapa saat, napasnya memburu, tangan mengepal di sisi tubuh. Baru setelah suara mobil hitam itu benar-benar menjauh, ia membalikkan badan dan berjalan masuk ke ruang tamu dengan langkah berat.
Tanpa banyak kata, Alya menghempaskan tubuhnya ke sofa. Punggungnya membentur sandaran dengan keras, lalu ia menengadahkan kepala ke atas, menatap langit-langit rumahnya. Matanya terpejam, tapi air muka tetap tegang. Keheningan rumah tiba-tiba terasa sangat ramai oleh pikiran-pikirannya sendiri.
Jujur saja, ia masih mencintai Yoga. Pengakuan itu terasa pahit di lidah, bahkan meski hanya diucapkan dalam hati. Cinta yang dulu pernah membuatnya rela menafkahi, rela bertahan, rela mengalah berkali-kali, ternyata belum sepenuhnya mati. Ada bagian kecil di hatinya yang masih mengingat versi Yoga yang dulu, saat mereka baru menikah, saat masih ada tawa, saat masih ada harapan.
Tapi di sisi lain, luka yang ditinggalkan pria itu jauh lebih dalam. Luka karena tidak pernah diberi nafkah. Luka karena campur tangan mertua yang menyesakkan. Luka karena diabaikan, disepelekan, dan akhirnya ditinggalkan begitu saja ketika ia sudah kehabisan tenaga. Semua itu menumpuk menjadi kebencian yang sulit dilepaskan.
Alya membuka mata, menatap kosong ke langit-langit. “Aku benci kamu…” bisiknya pelan, suaranya serak. “Tapi kenapa… masih sakit juga?”
Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir rasa campur aduk itu. Cinta dan benci berkelindan di dadanya, membuat napasnya terasa sesak. Ia tidak mau kembali. Ia sudah memutuskan itu dengan tegas barusan. Tapi menyadari bahwa perasaan lama masih tersisa membuatnya marah pada dirinya sendiri.
Alya tergeletak di sofa, membiarkan diri tenggelam dalam konflik batin yang sudah lama ia kubur.
Malam itu, di rumah yang sepi, Alya berjuang melawan perasaan yang seharusnya sudah lama mati tapi nyatanya masih hidup, meski hanya dalam bentuk luka yang belum sembuh.
Dari dapur, Fitri keluar dengan langkah pelan sambil membawa secangkir teh hangat. Aroma jahe dan madu samar tercium, khas ramuan yang biasa dibuatnya setiap kali putrinya sedang gelisah. Ia mendekati sofa, lalu menyodorkan cangkir itu dengan lembut.
“Diminum dulu,” ucap Fitri pelan sambil mengusap kepala Alya penuh perhatian. Gerakan tangannya kelembutan, penuh kasih sayang seorang ibu yang sudah terlalu sering melihat putrinya terluka.
Alya menoleh. Matanya masih sedikit sembab, tapi ia menegakkan tubuhnya di sofa. Ia menerima cangkir itu dengan kedua tangan, lalu meneguk teh hangatnya pelan-pelan. Kehangatan cairan itu sedikit meredakan ketegangan di dadanya. Setelah selesai, ia meletakkan kembali cangkir kosong ke atas meja.
Fitri duduk di samping putrinya. Ia tidak langsung bicara, hanya mengamati wajah Alya yang masih tegang. Setelah beberapa saat, ia membuka suara dengan nada hati-hati namun tegas.
“Kamu masih mencintainya?” tanya Fitri. “Ingat, Alya… dulu dia sangat jahat padamu. Kamu jangan mau balikan dengannya. Mama tidak mau melihat kamu menderita lagi seperti dulu.”
Alya menunduk, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Ia terdiam cukup lama sebelum menjawab dengan suara pelan, hampir berbisik. “Aku tidak tahu, Ma…”
Fitri menghela napas. Ia memegang tangan putrinya, mengusapnya lembut. “Kamu harus tahu apa yang kamu mau. Sekarang kamu dekat dengan Arya. Mama bisa lihat itu. Cara dia menjemputmu, cara dia memperlakukanmu, Keysa sudah sangat melekat padamu. Tapi di sisi lain, kamu juga belum menyelesaikan masalahmu dengan Yoga. Kamu tidak bisa terus berdiri di tengah seperti ini, Nak.”
Alya mengatupkan bibir. Kata-kata ibunya terasa menusuk karena terlalu jujur. Ia memang belum selesai. Perasaan residual untuk Yoga masih ada, meski sudah bercampur dengan kebencian. Sementara Arya… perlahan tapi pasti mulai memenuhi ruang di hatinya yang lama kosong. Kehadiran Keysa membuat segalanya semakin rumit dan semakin nyata.
“Aku takut, Ma,” akui Alya akhirnya, suaranya bergetar. “Aku takut mengulang kesalahan yang sama. Aku takut menyakiti Keysa. Aku juga takut, jika suatu hari Arya tahu aku masih belum sepenuhnya selesai dengan masa lalu, dia akan menjauh.”
Fitri mengusap punggung putrinya pelan. “Makanya, selesaikan dulu. Jangan biarkan Yoga terus datang dan mengacaukan pikiranmu. Dan jangan juga mendekati Arya jika hatimu masih goyah. Kamu harus jujur pada diri sendiri, Alya. Kalau tidak, kamu yang akan paling menderita.”
Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Alya menatap cangkir kosong di meja, pikirannya kacau. Di hadapan ibunya, ia dipaksa menghadapi kenyataan yang sejak tadi ia hindari, hatinya masih terbagi, dan ia harus segera memilih sebelum semuanya menjadi lebih rumit.
jangan zelia sudah biasa dengan banyak lelaki... 🤦♀️🤦🏻♀️🤦♀️🤦🏻♀️😡😡😡😡
semoga Keysa baik- baik saja... 😥😥😥
Semangat melebihi Pejuang 45 Keeyy... 🥰🥰🥰👍🏻👍👍🏻💙💛💙😘😘😘