"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi berikutnya tiba terlalu cepat. Udara gang sempit yang biasanya riuh oleh suara penjual sayur, mendadak sepi.
Di ujung gang, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce Phantom hitam sudah terparkir, membelah genangan air sisa hujan semalam. Beberapa tetangga mengintip dari balik gorden dengan wajah melongo.
Aira melangkah keluar dari kontrakan dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan gamis terbaiknya, yang sebenarnya sudah agak pudar di bagian siku dan jilbab senada.
Di sampingnya, Dewa berjalan dengan kaus polo polos dan celana jins. Tidak ada baju kuli penuh semen, tidak ada motor bebek tuanya yang mogokan.
Sepanjang perjalanan dari pinggiran kota menuju pusat Jakarta, kabin mobil mewah itu terasa sangat sunyi.
Hanya ada suara desis halus AC dan alunan musik instrumental klasik yang mengalun rendah. Sopir pribadi di depan menyetir dengan sangat hati-hati, sesekali melirik dari spion tengah dengan penuh hormat.
Aira hanya diam, menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi mulai menggantikan deretan rumah petak. Pikirannya berputar liar. Otaknya terus mencoba menolak sebuah kenyataan yang terlalu gila untuk diterima akal sehat.
Ia baru tahu siapa suaminya selama ini, setelah kejadian di rumah Orang tuanya, tapi Aira memilih diam.
Ia tidak mau bertanya bukan karena bodoh, melainkan karena ia ingin Dewa yang mengatakannya sendiri. Ia ingin kejujuran itu lahir dari bibir pria yang ia cintai, bukan karena terdesak situasi.
Dewa melirik Aira yang terus memandang ke luar kaca. Perlahan, Dewa menggeser duduknya mendekat. Tangan kanannya yang besar dan hangat bergerak meraih jemari mungil Aira.
Dewa menggenggamnya erat. Sangat erat. Seolah jika ia melepaskannya sedikit saja, Aira akan menguap seperti embun pagi.
Aira tidak menolak genggaman itu, tapi ia juga tidak membalasnya dengan kehangatan seperti biasanya.
Ia hanya menoleh sekilas, menatap mata Dewa yang dipenuhi kecemasan, lalu kembali menatap jalanan. Dewa mengepalkan rahangnya, hatinya perih melihat benteng tak kasat mata yang mulai dibangun istrinya.
Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi tempa raksasa yang menjulang tinggi dengan logo emas keluarga Pradipta. Begitu gerbang terbuka, pemandangan di dalam membuat napas Aira tercekat.
Itu bukan sekadar rumah. Itu adalah sebuah istana modern yang dikelilingi halaman rumput seluas lapangan sepak bola.
Air mancur kristal bertingkat tiga berdenting mewah di bagian tengah, dan belasan pelayan berseragam rapi sudah berdiri berbaris di sepanjang koridor utama, membungkuk serentak saat mobil berhenti.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Dewa," ucap kepala pelayan tua dengan suara bariton yang berwibawa.
Dewa turun terlebih dahulu, lalu berputar untuk membukakan pintu untuk Aira. Sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam mansion, Aira sempat ragu. Kakinya yang hanya dibalut sandal flat-shoes murah terasa terlalu kotor untuk menginjak lantai marmer Italia yang berkilau seperti cermin itu.
Menyadari keraguan istrinya, Dewa langsung menyelipkan jemarinya ke sela-sela jari Aira, mengunci genggaman mereka.
"Jangan takut. Ada aku," bisik Dewa pelan di telinga Aira. Suaranya masih sama, masih suara Mas Dewa kulinya, namun aura di sekeliling pria itu kini telah berubah total menjadi sangat otoriter dan dominan.
Aira menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya, dan membiarkan suaminya menuntunnya masuk ke dalam dunia yang sama sekali asing baginya.
Sambil berjalan melewati koridor yang dipenuhi lukisan-lukisan mahal seharga miliaran rupiah, Aira mencoba mencerna segalanya. Di tengah situasi yang menegangkan itu, isi kepala Aira yang polos malah memikirkan hal-hal yang tidak terduga.
Ia melirik ke arah langit-langit koridor yang dihiasi lampu gantung kristal raksasa. "Kalau lampu sebesar itu berdebu, bagaimana cara mengelapnya? Apa pelayannya harus pakai tangga pemadam kebakaran ?" pikir Aira dalam hati.
"Mas..." bisik Aira tiba-tiba, memecah keheningan koridor.
Dewa menoleh dengan cepat, wajahnya yang tadinya tegang langsung melembut. "Ya, Sayang? Ada apa? Kamu pusing?"
Aira menggeleng, lalu menunjuk sebuah vas bunga porselen raksasa di sudut ruangan dengan dagunya. "Itu... kalau tidak sengaja tersenggol sampai pecah, kira-kira harganya gaji kuli berapa tahun, Mas?"
Dewa sempat terpaku mendengar pertanyaan itu, sebelum akhirnya sedetik kemudian tawa renyahnya pecah.
Tawa yang membuat beberapa pelayan yang lewat langsung menunduk kaget, karena mereka belum pernah mendengar Tuan Muda mereka yang berdarah dingin itu tertawa lepas di dalam rumah ini.
"Ai, jangankan satu vas," Dewa mencubit hidung Aira gemas dengan tangan kirinya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, "kalau kamu mau tendang semua vas di rumah ini sampai pecah juga tidak apa-apa. Nanti biar Hans yang bersihkan."
Hans, asisten pribadi Dewa yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka, seketika berdehem pelan sambil membetulkan letak kacamatanya.
Aira menahan senyumnya, rasa tegang di dadanya sedikit berkurang. Namun, candaan itu berakhir ketika mereka sampai di depan sebuah pintu ganda besar berbahan kayu jati berukir murni di lantai dua. Kamar utama Nyonya Besar Widya Pradipta.
Begitu pintu dibuka, aroma terapi esensial lavender langsung menyeruak. Kamar itu sangat luas, dengan ranjang berukuran king-size di tengahnya.
Di atas ranjang itu, terbaring seorang wanita paruh baya yang meskipun pucat tanpa riasan wajah, sisa-sisa keanggunan dan keangkuhan seorang sosialita kelas atas masih terlihat jelas. Itbu Dewa, Nyonya Widya.
Mendengar suara pintu terbuka, Nyonya Widya membuka matanya yang sayu. Begitu melihat sosok putra tunggalnya masuk, matanya berkaca-kaca. Namun, pandangannya langsung beralih pada tangan Dewa yang menggenggam erat tangan seorang gadis asing berpakaian sederhana.
Dewa melangkah mendekat ke sisi ranjang. Wajahnya kembali berubah menjadi topeng yang angkuh dan dingin. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kepanikan seorang anak yang melihat ibunya sakit.
Dewa berdiri tegak seperti dinding batu, dan tangannya tetap mengunci jemari Aira dengan erat, seolah ingin menunjukkan pada ibunya bahwa wanita ini adalah bagian dari hidupnya yang tidak bisa diganggu gugat.
"Dewa..." suara Nyonya Widya serak, terdengar lemah. "Kamu... akhirnya pulang."
"Jika Mama memanggilku hanya untuk memisahkan aku dan Aira, aku akan keluar dari pintu itu sekarang juga," ucap Dewa tanpa basa-basi, nadanya sedingin es.
Aira tersentak mendengar ucapan ketat suaminya, ia mencoba menarik tangannya karena merasa tidak enak, namun Dewa justru mempererat genggamannya hingga tak ada celah bagi Aira untuk lepas.
Nyonya Widya memejamkan mata sesaat, setetes air mata murni mengalir di pelipisnya yang mulai berkerut. Ia menggeleng lemah. "Tidak, Dewa... Mama tidak memanggilmu untuk itu."
Wanita tua itu perlahan mengubah posisinya menjadi bersandar pada bantal. Ia menatap Aira dengan pandangan yang tidak lagi tajam seperti beberapa hari yang lalu saat ia datang mengancam Dewa.
"Mama minta maaf, Dewa... Mama minta maaf pada kalian berdua," ucap Nyonya Widya dengan suara yang bergetar haru.
Nyonya Widya menatap Aira dengan mata yang dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam. "Mama tahu, Mama salah. Mama sekarang bisa melihat bagaimana kamu, Aira... tetaplah bertahan disamping putraku. Kamu... kamu sudah mencintai putraku apa adanya, sesuatu yang tidak pernah Mama dapatkan dari wanita-wanita kalangan atas yang sudah Mama jodohkan dengannya."
Suasana kamar mendadak menjadi sangat haru. Aira merasakan tenggorokannya tersumbat. Ia tidak menyangka bahwa penderitaan dan ketulusannya selama ini di dalam gang sempit, justru ketulusan itulah yang meruntuhkan keangkuhan sang Nyonya Besar.
Nyonya Widya mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah mereka. "Kembalilah ke perusahaan, Dewa. Pradipta Group membutuhkan pimpinannya kembali. Mama... Mama merestui pernikahan kalian."
Dewa tidak menjawab dengan kata-kata besar, namun ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia menunduk sedikit, memberikan penghormatan pada ibunya yang akhirnya menyerah pada cinta tulus mereka.
Namun, di samping Dewa, Aira masih mematung dengan otak yang seolah mengalami error massal.
Apakah dirinya saat ini telah menjadi Nyonya Besar Aira Pradipta ?
Setelah mereka keluar dari kamar Nyonya Widya untuk membiarkan wanita tua itu beristirahat, Dewa menuntun Aira ke sebuah balkon besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta di kejauhan.
Aira melepaskan genggaman tangan Dewa perlahan. Ia berjalan mendekati pagar pembatas balkon, menatap hamparan kota besar itu dengan pandangan kosong. Kepalanya berdenyut hebat.
Dewa berjalan mendekat dari belakang, lalu melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Aira, memeluk istrinya dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak Aira, persis seperti yang sering ia lakukan di dapur kontrakan mereka.
"Maafkan aku, Ai," bisik Dewa lembut di telinganya. "Maaf karena baru membawamu ke sini sekarang. Dan maaf... karena telah membohongimu terlalu lama."
Aira masih mencerna semuanya. Ia memutar tubuhnya di dalam pelukan Dewa, menatap lurus ke dalam manik mata hitam suaminya yang berkilau jernih.
"Mas..." suara Aira parau, hampir berbisik. "Jadi... semua ini benar? Istana ini... ini semua punyamu?"
Dewa mengangguk pelan. "Punya kita, Aira. Mulai hari ini, ini rumahmu juga."
Aira menelan ludah, matanya berkedip beberapa kali dengan polos. "Dan... foto di lobi bawah tadi yang bilang kamu CEO terkaya di Jakarta... itu juga benar?"
"Iya, Sayang. Itu suamimu."
Aira terdiam selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya ia menyentuh jidat Dewa dengan telapak tangannya, lalu beralih menyentuh jidatnya sendiri.
"Mas, sepertinya aku yang sedang sakit demam sekarang. Aku pasti sedang pingsan di kontrakan dan bermimpi," gumam Aira dengan wajah yang sangat serius, membuat Dewa lagi-lagi tidak bisa menahan tawa gemasnya.
Dewa meraih tangan Aira dari jidatnya, lalu mengecup telapak tangan kasar itu dengan penuh rasa hormat dan cinta yang mendalam. "Kamu tidak sedang bermimpi, Ratu-ku. Sandiwara kuli ini sudah selesai. Sekarang, biarkan aku membawamu masuk ke duniaku yang sesungguhnya."
Aira menatap mata Dewa, ada rasa haru yang membuncah, namun di sudut hatinya, sebuah pertanyaan besar baru saja lahir.
"Bagaimana cara seorang gadis dasteran dari gang sempit sepertinya, menghadapi kejamnya dunia high-society Jakarta yang penuh dengan intrik dan kepalsuan ?"
...----------------...
To Be Continue ...