Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilik
Rasanya tubuh Kinan benar-benar sangat lelah. Dia hanya ingin bisa segera istirahat ketika sampai di rumahnya. Persetan dengan yang namanya mandi. Intinya dia ingin cepat tidur.
Seperti biasa, lampu rumahnya gelap ketika dia pulang.
"Akhirnya..." Berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
Dia harus segera mandi dan tidur karena besok akan kembali bekerja dengan Baskara yang memiliki mood naik turun seperti perosotan anak TK.
"AHKKKK..."
Brugh...
Kinan berteriak bahkan sampai terjatuh saat hendak masuk kamar mandi.
Bagaimana tidak kaget saat dia melihat seseorang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Dan tau siapa yang baru saja keluar?
Baskara, ya laki-laki itu yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, bagaimana bisa dia berada di rumahnya?
Lihat, bahkan laki-laki itu hanya berdiri tegak di depan pintu kamar mandi tanpa ingin menolong dirinya sedikitpun.
"Bo-bos?" ucapnya terbata saat melihat Baskara.
"Kenapa? Kamu kaget?" tanya Baskara dengan begitu santai melangkah melewati Kinan begitu saja.
Kinan tidak tinggal diam. Dia bangkit dan mengikuti laki-laki itu dari belakang. Dia harus meminta penjelasan nya. Bagaimana dia bisa berada di rumahnya.
"Bos, bos ngapain di rumah saya? Terus gimana masuknya?" tanya Kinan penasaran.
Siapa yang tidak penasaran jika tiba-tiba saja di dalam rumahnya ada seorang laki-laki. Bahkan laki-laki itu terlihat begitu menikmati rumahnya. Bersikap seolah-olah dia adalah pemiliknya.
"Hah? Rumah kamu?" tanya Baskara tertawa remeh menatap Kinan.
"Maksudnya gimana ya, Bos? ini kan memang rumah saya." jawabnya mulai terbawa situasi saat ini.
"Baca dengan benar surat ini." tunjuknya pada berkas yang ada di meja makan tadi.
Dia sengaja melakukan hal itu, dan membiarkan Kinan membacanya dengan sendiri.
Di ambilnya berkas tadi dan dibacanya dengan teliti. Kata demi kata dibaca Kinan, dan dia yakin tidak ada satupun yang tertinggal di sana hingga membuatnya menatap kearah Baskara.
"Apa maksudnya ini, Bos? sejak kapan rumah ini jadi milik Bos? terus kalau Bos tinggal di sini Saya tinggal di mana dong?" tanya Kinan semakin tak percaya dengan semua ini.
Sungguh, Dia sedang tidak bermimpi saat ini bukan? mencoba melakukan sesuatu agar dia sadar. "Ah, sakit..." Kinan meringis kesakitan saat cubitan kecil di tangannya, yang dia lakukan sendiri.
"Ah, masa iya ini mimpi? tapi nggak mungkin dah." Baskara memutar bola matanya dengan jengah.
"Kamu sedang tidak bermimpi saat ini karena memang rumah ini adalah milik saya. Sesuai dengan apa Yang tertera di dalam surat tersebut, bahwa saya adalah pemilik sah dari tempat ini." jawabnya menekankan pada Kinan bahwa memang dia adalah pemilik dari tempat itu mulai saat ini.
"Bos, ini nggak bener kan? bos kaya raya nggak mungkin dong mau tinggal di tempat dek kayak begini. Oh iya, ini cuma gubuk dan-"
"Kamu terlalu banyak bicara! Jika ingin tetap tinggal disini cepat masak. Saya lapar!" potong Baskara cepat, karena dia memang sedang menunggu Kinan sejak tadi.
"Bos, kita benar-benar harus bicara. Bos, jelasin sama saya, apa maksud dari semua ini?" tanya Kinan memohon, dia benar-benar ingin mendengar penjelasan dari Baskara.
"Kamu tidak berhak untuk memaksa saya untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Terserah saya mau melakukan apapun, termasuk membeli tempat ini."
"Lah terus, kalau Bos tinggal di sini Saya tinggal di mana? Bos, tolong kasihani saya. Saya berjuang sendiri di kota ini, agar bisa membuktikan pada keluarga saya jika saya bisa hidup tanpa bantuan mereka. Tapi, kalau sudah begini di mana saya cari penginapan malam-malam?" jelas Kinan.
"Kamu bisa tetap tinggal di sini jika kamu mau. Lagi pula di tempat ini ada dua kamar bukan? jadi kamu tidak perlu takut. Lagi pula Saya tidak tertarik dengan kamu!" ujar Baskara menyakitkan.
"Bos, ini bukan masalah tertarik atau enggaknya. Ini masalah harga diri. Kenapa bos mau tinggal disini di saat Bos memiliki segalanya? Saya tahu saya ini orang yang memiliki kasta jauh di bawah, Bos. Tapi bukan berarti bos bisa berbuat sesuka hati bos." jelas Kinan, yang berusaha untuk menahan dirinya.
"Saya tidak membutuhkan persetujuan dari siapapun untuk melakukan apa yang ingin saya lakukan! Jadi jika kamu masih ingin tinggal disini, cepat masak karena saya lapar!" ucap Baskara meninggalkan Kinan begitu saja tanpa menunggu gadis itu bicara lagi.
***