Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Tujuh
Dia datang bukan sebagai orang asing, tapi sebagai masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Langkah kaki Arsaka tak pernah melambat sejak ia meninggalkan rumahnya.
Perjalanan menuju desa itu cukup jauh, melewati jalanan kota yang padat, lalu berlanjut ke jalan-jalan kecil yang semakin sepi. Aspal mulus perlahan berubah menjadi jalanan yang sedikit kasar, diapit sawah dan pepohonan.
Namun, semua itu tidak mengurangi fokusnya sedikit pun. Di kepalanya hanya ada satu nama—Hana.
Nama yang selama ini terus berputar, menghantui, sekaligus menjadi alasan kenapa ia tidak pernah benar-benar tenang.
Setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarainya memasuki area desa. Suasananya berbeda. Lebih tenang. Lebih sederhana. Bahkan udara terasa lebih segar dibandingkan kota.
Arsaka memperlambat laju mobilnya. Matanya menyapu sekitar dengan tajam, memperhatikan setiap sudut yang ia lewati. Rumah-rumah sederhana berdiri berjajar, beberapa warga tampak beraktivitas seperti biasa. Semua terlihat normal. Dan justru itu yang membuatnya semakin yakin. Ia sudah dekat.
Mobilnya berhenti tidak jauh dari lokasi yang sebelumnya dikirimkan oleh Han. Ia tidak langsung turun. Tangannya masih menggenggam setir, matanya mengarah lurus ke depan. Napasnya sedikit tertahan.
Setelah berada di desa justru ia merasa ragu. Bagaimana kalau salah orang? Bagaimana kalau semua ini hanya kebetulan? Bagaimana kalau wanita itu bukan Hana yang ia cari?
Rahangnya mengeras. Ia tidak ingin gegabah.
Dengan gerakan pelan, ia mematikan mesin mobil. Namun, ia tetap berada di dalam. Memilih menunggu. Mengamati.
Beberapa menit berlalu. Hingga akhirnya, pintu sebuah rumah sederhana terbuka. Dan di sanalah ia melihatnya. Hana.
Langkahnya terhenti. Untuk beberapa detik, dunia seolah diam.
Wanita itu keluar rumah dengan langkah santai, mengenakan pakaian sederhana. Tidak ada yang mencolok. Tidak ada yang istimewa dari luar.
Namun bagi Arsaka, ia mengenalinya. Wajah itu. Cara ia berjalan. Ekspresi tenang yang menyimpan sesuatu di dalamnya. Semua sama.
Tatapan Arsaka langsung menajam. Jantungnya berdetak lebih keras, bahkan ia sendiri bisa merasakannya.
“Hana,” gumamnya pelan.
Kini ia mengerti. Kenapa ia tidak pernah bisa melupakan. Kenapa satu malam itu terus menghantuinya. Karena wanita itu berbeda. Dan sekarang, ia ada di depan matanya.
Namun, Arsaka tidak langsung turun dari mobil. Ia tetap diam. Mengamati dari jauh. Han berada di penginapan saat ini. Arsaka tak mau mengundang perhatian warga jika mobil keduanya berada di desa itu dalam bersamaan.
Arsaka ingin memastikan. Tidak boleh ada kesalahan.
Sementara itu, Hana yang baru saja keluar rumah sebenarnya berniat pergi ke warung kecil di ujung jalan. Ia butuh beberapa bahan dapur yang habis.
Langkahnya terlihat biasa saja. Namun, belum beberapa langkah berjalan, ia tiba-tiba berhenti.
Alisnya mengernyit. Perasaan itu muncul lagi. Perasaan seperti sedang diawasi.
Hana menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ia lalu menoleh ke kiri.
Beberapa warga terlihat beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang aneh.
Namun, saat pandangannya bergeser sedikit lebih jauh, ia melihat sebuah mobil.
Mobil itu terlihat berbeda dari yang lain. Lebih mewah. Lebih mencolok dibandingkan kendaraan yang biasa ada di desa itu.
Hana langsung terdiam. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Kemarin, ada mobil lain. Hari ini, ada lagi.
Kebetulan? Atau memang ada sesuatu?
Perasaan tidak nyaman mulai menjalar di dalam dirinya. Ia menggigit bibir pelan, mencoba berpikir.
“Kenapa ada mobil seperti itu di sini …?” tanyanya dalam hati.
Hana menatap mobil itu beberapa detik lebih lama. Meski kaca mobilnya gelap, entah kenapa ia merasa ada seseorang di dalam sana sedang mengawasinya.
Refleks, tubuhnya menegang. Tanpa sadar, ia memeluk dirinya sendiri sebentar. Instingnya berkata jangan lanjut.
Dengan cepat, Hana membatalkan niatnya pergi ke warung. Ia berbalik arah, langkahnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Masuk kembali ke dalam rumah. Dari dalam mobil, Arsaka melihat semuanya. Ia melihat bagaimana Hana berhenti.
Bagaimana ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Bagaimana ekspresi wajahnya berubah. Dan bagaimana akhirnya ia memilih kembali ke dalam rumah.
Arsaka menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya masih menatap ke arah rumah itu.
“Dia sadar diawasi …,” gumamnya pelan.
Arsaka memutuskan membuka pintu mobil dan turun. Sepatu kulitnya menyentuh tanah desa yang sedikit berdebu. Kontras dengan penampilannya yang rapi dan elegan.
Namun, ia tidak peduli. Langkahnya langsung mengarah ke rumah Hana. Setiap langkah terasa berat, tapi juga pasti.
Hingga akhirnya, ia berdiri tepat di depan pintu rumah itu. Beberapa detik, ia hanya diam. Menatap pintu kayu sederhana itu. Seolah sedang menenangkan sesuatu di dalam dirinya.
Lalu, tanpa menunggu lebih lama, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.
Di dalam rumah, Hana yang baru saja masuk masih berdiri tidak jauh dari pintu. Ia belum sempat benar-benar menjauh.
Ketukan itu membuat tubuhnya langsung menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia menelan ludah. “Siapa …?” tanyanya pelan, meski suaranya hampir tidak terdengar.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan di luar. Hana ragu. Namun, rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya.
Dengan langkah hati-hati, ia mendekat ke pintu. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh gagang pintu.
Perlahan ia membuka pintu itu. Dan saat pintu terbuka Hana langsung terkejut. Di depannya berdiri seorang pria. Tinggi dan berpenampilan rapi. Setelan jas mahal yang jelas tidak biasa terlihat di desa itu.
Wajahnya tegas. Tatapannya tajam. Dan entah kenapa ia merasa pernah bertemu, walau belum ingat dimana dan kapan.
Hana menatapnya beberapa detik tanpa bicara. Masih mencoba memahami situasi.
“Ada perlu apa, Pak?” tanya Hana akhirnya, suaranya terdengar hati-hati.
Arsaka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Hana. Seolah ingin memastikan sesuatu sekali lagi.
Lalu, perlahan, ia berkata, “Apa kamu nggak mengenali saya?”
Kalimat itu membuat Hana sedikit terdiam. Alisnya mengernyit. Ia kembali menatap wajah pria itu lebih saksama.
Dari mata. Hidung. Bibir. Sesuatu di dalam dirinya mulai bergerak. Seperti potongan ingatan yang perlahan muncul ke permukaan.
Dan dalam hitungan detik Hana membeku. Matanya sedikit melebar. Napasnya tertahan. Ia ingat malam itu. Sosok pria ini.
Perasaan campur aduk langsung memenuhi dirinya. Kaget dan tidak percaya kenapa pria itu tahu keberadaannya.
Arsaka memperhatikan perubahan ekspresi itu dengan jelas. Ia tahu Hana sudah ingat.
Perlahan, ia melangkah sedikit lebih dekat. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Hana.
“Sekarang …,” ucapnya pelan, suaranya rendah tapi tegas, “kamu sudah ingat?”
Hana tidak langsung menjawab. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya masih terpaku pada pria di depannya.
Pikirannya kacau. Semua yang selama ini ia coba lupakan kembali dalam sekejap. Dan di hadapannya sekarang, berdiri sosok yang menjadi awal dari kehidupan barunya.
Dalam hati Hana berkata, "Apakah pria ini tau kalau saat ini ada benih darinya di rahimku?"
**
Selamat Pagi. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....