Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Bisikan di Balik Deru Mesin
Aroma oli, bensin beroktan tinggi, dan karet ban yang terbakar menyengat indra penciuman Elleanor begitu ia melangkah masuk ke dalam garasi khusus faksi independen di pinggiran Jakarta Selatan. Waktu telah bergeser tiga minggu sejak insiden gelang biometrik di kelas XI-IPA 3, dan malam ini adalah malam Jumat—waktu di mana sirkuit Sentul dibuka secara eksklusif untuk sesi latihan tertutup menjelang Inter-School Championship.
Di tengah ruangan yang diterangi lampu neon putih terang, sebuah motor sport bertubuh kekar berdiri angkuh di atas standar pedok. Yamaha YZF-R1 spek superbike 1000cc milik Elle yang dikirim langsung dari Amerika akhirnya selesai dimodifikasi oleh tim mekanik Wolfangs. Seluruh bodinya dibalut warna hitam karbon matte tanpa logo tunggal, menyisakan satu grafis nama berukir perak di bagian tangki: VÈRUNE.
"Semua sensor traksi udah gua kalibrasi ulang, El," ujar Matthew dari balik laptopnya yang terhubung ke ECU motor melalui kabel data. "Gua juga udah buka limiter pasokan bahan bakarnya sesuai regulasi Open Class yang diminta Jayden. Motor ini sekarang punya tenaga murni 200 tenaga kuda. Sekali lo puntir gasnya di trek lurus, lo bakal berasa kayak mau terbang."
Elleanor mendekat, mengusap permukaan tangki motornya dengan senyuman liar yang perlahan terbit di wajah cantiknya. Sifat barbarnya yang selama tiga minggu ini ditekan habis-habisan di bawah pengawasan ketat Jayden di sekolah, kini mendadak bangkit dengan gelora yang jauh lebih dahsyat.
"Makasih, Matt. Ini lebih dari cukup buat merobek kesombongan si Muka Tembok," ucap Elle, suaranya sarat akan determinasi tinggi.
Alka yang sejak tadi berdiri di dekat pintu garasi sambil memperhatikan pergerakan Elle akhirnya melangkah mendekat. Cowok itu menyodorkan sebuah helm full-face berwarna hitam senada dengan motor Elle. Sorot matanya malam ini tampak begitu redup, dipenuhi rasa bersalah sekaligus kecemasan yang mendalam.
"El, gua tetep gak suka lo harus turun langsung di lintasan yang sama kayak Jayden," bisik Alka rendah, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elle. "Seminggu ini gua liat rekaman latihan Jayden di Sentul lewat mata-mata gua. Cara dia bawa motor... itu bukan lagi cara pembalap nyari piala, El. Dia bawa motor kayak orang yang siap mati di aspal asal bisa nahan lo."
Elle menerima helm dari tangan Alka, lalu melirik pergelangan tangan kirinya sendiri. Di sana, smartband hitam pemberian Jayden masih melingkar erat, menampilkan angka 74 BPM.
"Gua juga gak nyari piala, Alka," sahut Elle dingin, suaranya mengalun konstan tanpa keraguan. "Gua nyari kebebasan gua. Dan kalau satu-satunya cara buat dapet kebebasan itu adalah dengan taruhan nyawa di depan moncong Kawasaki H2 Carbon milik dia, gua gak bakal mundur satu senti pun."
Pukul 23.30 WIB, sirkuit internasional Sentul tampak begitu mistis di bawah siraman lampu sorot trek dan kabun tipis yang turun dari arah perbukitan Bogor. Aspal sirkuit yang masih sedikit lembap karena sisa gerimis sore tadi memantulkan cahaya lampu dengan kilauan yang tajam.
Deru mesin empat silinder dari Kawasaki H2 Carbon milik Jayden memecah keheningan malam saat cowok itu menyelesaikan putaran kelimanya. Jayden mengarahkan motor monsternya masuk ke dalam area pit stop VULTURES dengan gerakan yang kelewat mulus.
Begitu ia mematikan mesin dan membuka visor helmnya, Shaka langsung mendekat dengan memegang sebuah tablet digital yang menampilkan grafik bergelombang.
"Jay, grafik detak jantung Elleanor mendadak naik tajam dari sepuluh menit lalu," ujar Shaka serius, memperlihatkan layar tablet ke hadapan ketuanya.
Di atas layar, angka digital milik Elle bergerak konstan di angka 110 BPM. Bukan hanya itu, koordinat GPS yang tertanam di dalam gelang tersebut menunjukkan bahwa posisi Elle saat ini sedang bergerak memasuki area parkir belakang sirkuit Sentul.
Jayden menatap layar tersebut dengan sepasang netra hitamnya yang seketika menggelap sempurna. Sisi obsesifnya yang pekat bergejolak hebat, mengirimkan pasokan adrenalin yang membuat rahang tegasnya menegang. Gadis barbarnya benar-benar nekat mendatangi wilayah latihannya malam ini.
"Erlan, siapkan motor cadangan dan pasang ban spek wet-race sekarang," perintah Jayden, suaranya sangat rendah, parau, dan dingin menembus keheningan pit.
"Hah? Tapi kan treknya udah mulai mengering, Bos? Kenapa pakai ban basah?" tanya Erlan heran.
"Gua gak butuh ban buat nyari kecepatan malam ini, Erlan," desis Jayden lambat, berbalik menuju motornya dengan aura kegilaan posesif yang kian membakar dadanya. "Gua cuma butuh cengkeraman maksimal buat mengunci pergerakan VÈRUNE begitu dia berani turun ke atas aspal gua."
Sepuluh menit kemudian, raungan mesin Yamaha YZF-R1 milik Elle menggema dari arah pintu keluar pit faksi independen. Elleanor memuntur gasnya dalam-dalam, membuat motor hitam karbonnya melesat membelah lintasan lurus Sentul dengan kecepatan yang mencengangkan. Angin malam yang dingin menghantam baju balap kulitnya, namun fokus matanya terkunci sepenuhnya pada tikungan pertama di depan.
Vroooammm!
Elle melakukan late braking yang ekstrem, menurunkan dua gigi sekaligus, lalu merebahkan tubuh mungilnya ke arah kanan hingga lututnya bergesekan dengan pembatas sirkuit. Gerakannya begitu liar namun presisi—sebuah pembuktian nyata atas gelar Queen Racer yang ia sandang di Amerika.
Namun, baru saja Elle keluar dari tikungan pertama dan hendak memacu kembali tenaganya di trek lurus berikutnya, sebuah raungan mesin supercharger yang kelewat melengking tiba-tiba terdengar dari arah belakang kiri.
Sebuah siluet motor hitam pekat dengan sayap karbon aerodinamis melesat memotong jalurnya secara ekstrem, memaksa Elle untuk menegakkan motornya secara mendadak agar tidak terjadi tabrakan fatal.
Kawasaki H2 Carbon. Jayden Frederick.
Jayden tidak melewati Elle untuk menjauh. Setelah memotong jalur, cowok itu justru menurunkan kecepatannya secara sengaja, menyejajarkan posisi motornya tepat di samping kanan motor Elle dalam kecepatan 180 km/jam.
Melalui visor helm mereka yang sama-sama transparan, sepasang netra hitam pekat milik Jayden mengunci tatapan mata indah Elleanor. Di tengah deru mesin yang memekakkan telinga dan kecepatan yang sanggup mencabut nyawa, Jayden melepaskan tangan kirinya dari setir motor, lalu mengulurkan tangannya ke arah Elle—sebuah isyarat dominasi yang begitu gila di atas aspal maut.
Melalui interkom helm nirkabel yang frekuensinya entah bagaimana berhasil diretas oleh Haikal, suara berat, parau, dan dingin milik Jayden terdengar menggema tepat di dalam telinga Elleanor.
"Keliaran lo di atas motor ini bener-bener bikin gua makin gila, Elle," bisik Jayden dengan nada tenang yang mengerikan. "Silakan pacu mesin lo sampai batas tertinggi. Tapi inget satu hal... sejauh apa pun lo mencoba mendahului gua malam ini, takdir lo udah terkunci di pergelangan tangan lo. Lo tetap gak bakal bisa keluar dari dunia gua."