"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 29 : Siapa Kau
"Demi Sang Bulan Hitam!"
Glekgek
"Grroooarrrr!''
Boss dari perampok itu berubah menjadi monster. Tubuhnya membengkak, taring dan kuku tajam mulai tumbuh di tubuhnya.
"Grrrrrooooaarrrr!"
Boom!
Sebuah siluet kucing raksasa muncul dari bayangan debu.
Slash
boom!
Sebuah cakar melayang menuju kereta kuda Xiangran.
"Tidak!"
Wuuunggg
Xiangran masuk dan menghalau cakar itu, lalu ia membanting kucing besar itu ke tanah.
Boom!
Seolah mengetahui bantingan itu, kucing raksasa itu segera mendarat dengan posisi khusus.
"Graorrrr!"
Kucing itu meraung marah, matanya merah.
Sedikit demi sedikit, kucing itu memancarkan aura membunuh yang sangat kental.
"Sshhiiiik!"
Kucing itu melompat mengarahkan kukunya ke arah Lucy.
"Aaah!" Lengan Lucy tergores kuku kucing itu. Namun anehnya, kucing itu tiba-tiba diam tidak bergerak.
"Kamu berani melukaiku? Nggak apa-apa kok, bentar ya." Lucy mengambil sesuatu dari tas nya.
Sebuah botol kaca dengan cairan berwarna hijau bening.
"Aduh!" Lucy melemparkan botol itu ke arah kucing hitam yang dipenuhi oleh daging tumbuh itu.
Groaaang!
Kucing raksasa itu meronta-ronta, seakan setiap gerakannya akan memicu gempa bumi.
Bum! Bum! Bum!
"Gila, bagaimana bisa?" Theo melihat cairan hijau yang dikeluarkan oleh Lucy seolah melelehkan dan melahap monster kucing itu.
Perlahan, wujud monster itu menyusut dan berubah menjadi manusia normal.
Theo segera memandang Lucy, tapi ia baru menyadari bahwa luka goresan di tubuh Lucy sudah hilang.
"Kita sudah aman?"
Bruk
Xiangran seketika ambruk, mukanya merah dan badannya terasa sangat panas.
"Ugh... Jantung... Jantungku rasanya mau meledak," ucap Xiangran lemah.
"Hei!" Theo mengguncangkan tubuh Xiangran, berharap kesadarannya kembali.
"Dia kelelahan, tubuhnya tidak mampu menahan kekuatannya tadi!" Lucy mendekati Xiangran dan menekan lehernya.
"Hei! Theo, nadinya terlalu cepat!"
"Argh!! Bagaimana bisa, aku... Membiarkan seorang bocah mati dihadapanku."
Sebuah portal kecil terbentuk. Dari dalam portal itu, keluar seekor lebah yang ukurannya seperti anak sapi.
"Tolong! Bawakan aku madu, dan jus buah. White!"
"Iya kak?"
"Buat racun pelumpuh otot, buat sebanyak mungkin dan masukan perlahan! Sekarang!'
Beberapa lebah keluar, lalu mereka memuntahkan jus buah dan madu ke mulut Xiangran.
Gulp, gulp, gulp
Setelah itu, Theo segera mendekatkan telinganya ke dada Xiangran.
Dug...
Dug...
"Jantungnya melambat! Sialan!"
"Kak... Kakak..."
"Ugh... Linlin?" Xiangran memanggil adiknya dengan suara lemah.
"Kakak?" Linlin mendekati Xiangran, lalu memeluk tangannya.
"Sepertinya... Kakak nggak bisa nemenin Linlin lagi deh. Hehehe," ucap Xiangran dengan senyum yang dipaksakan.
"Kakak... Hiks... Kakak." Linlin agaknya paham dengan maksud Xiangran. Ia mulai menangis keras.
"Hua! Kakak!" Linlin menangis di samping Xiangran yang kian melemah.
Tiba-tiba, Theo terjatuh lemas.
Bruk
"Apa? Theo!" Lucy segera menghampiri Theo.
"Rupanya dia lambat menguasainya. Tenang saja semuanya, sebentar lagi anak itu akan... Selamat," ucap Theo sambil terbangun dengan seringai yang tajam.
"Theo! Kau... Kau bukan Theo!" Lucy meneriaki Theo yang berdiri, lalu mulai maju menyerang Theo.
Buk!
Tangan Theo mengangkat ke udara, seketika itu membuat udara di sekitar mereka menjadi sangat berat.
"Hugh!" Silas yang tadi berdiri tiba-tiba terduduk.
"Hormati aku! Wahai para pengecut!" Theo menengadahkan tangannya ke langit, matanya merah menyala darah.
"Zi ankia kanpa! Udug hul, edin na zu... KI-GAL, AN-KI, UD-ME-DA-AS!" Theo berteriak dengan lantang.
Gruduk
Tiba-tiba langit bergemuruh, kilat menyambar ke mana-mana. Angin bertiup kencang, debu berterbangan.
Swush!
Grrrr!
Terdengar suara raungan monster yang sangat kencang.
Tubuh Theo dan tubuh Xiangran mulai bersinar terang.
Dari dalam tubuh mereka, keluar suatu siluet organ yang berkedut.
Deg, deg, deg
"Itu..." Lucy menatap Theo dengan muka ketakutan.
"Jantung, pasti itu jantung," potong Silas yang juga takut melihat pemandangan itu.
'Theo... Apa yang mau kamu lakuin?'
"Mu an-ki-bi-da-she, nam-mu nam-zu-da ba-an-ku. I-gi-bi-na dili-me-en, dili-me-en shar-ra-she!"
Suara nyaring Theo kembali terdengar, kini kian mengerikan.
"Wahai para penguasa kegelapan! Patuhilah perintah langit! Bangkitlah wahai jiwa yang pelik!"
Kratak!
Dari dalam bumi, sesosok jiwa terlihat sedang diangkat oleh para jerangkong.
"Hu hu hu hu... Pujilah Sang dewa yang menguasai langit!"
Tentara jerangkong itu serentak melafalkan pujian kepada Theo. Mereka datang, lalu mengembalikan jiwa Xiangran ke dalam tubuhnya.
Sebelum jiwa Xiangran masuk, terpancar sebuah benang merah dari jantung Theo.
Benang itu melesat ke jantung Xiangran, lalu mengikat jantung Xiangran dan jiwanya.
"Sekarang! Aku kembalikan anak yang melawan takdir ini!"
Wrrrrr
Bruk!
Theo pingsan.
"Hei! Theo! Sayang!" Theo bangun di atas pangkuan Silas.
"Hi!" Theo reflek melompat, memandang Silas dengan tatapan jijik.
"Apa sih? Kalo itu Lucy pasti, 'Cayang... Makacih udah menyelamatkan acu.' Ututututu."
Buak! Buk! Buk!
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Lucy membanting Silas dan memukulinya.
"Aduh! Au! Sakit!"
"Lagian, ngapain aku yang dipukulin sih?"
"White, tolong tembak tangan kanannya dan kaki kirinya."
Syut
Jleb
"Au, hei! Kenapa tanganku nggak mau gerak?! Hei! Kakiku!"
"Kali ini aku setuju dengan Lucy," kata Theo dengan wajah datar.
Silas akhirnya berjalan dengan pincang, bahkan dia makan dengan sangat kesusahan.
"Aduh! Kenapa!"
"Pfft... Hahahahaha, rasakan itu dasar gorila bodoh!"
Kebetulan, Theo melihat ke arah Xiangran.
"Kak Theo! Sekarang Xiao Ran akan mengikut kakak." Xiangran berlutut di depan Theo, diikuti Linlin.
"Kak... Theo, Cekarang... Lin mau ikut kakak."
"Hei sudah sudah." Theo merasa tidak enak dengan perlakuan itu.
"Tidak, kakak adalah penyelamatku. Aku berhutang padamu," ucap Xiangran dengan penuh hormat.
"Berdiri!" Theo berteriak, ia merasa bahwa ia tidak suka dengan hubungan tuan dan bawahan.
"I..iya kak."
Drap
Xiangran dan Linlin bangun dengan kompak.
"Mmm... Gini aja, gimana kalo kamu ikut kita aja?" tanya Theo dengan suara agak lembut.
"Tentu, Xiao Ran akan mengikuti kakak."
Xiangran berlutut tiga kali, lalu ia meneteskan darahnya.
"Aku, Xiangran aku mengikuti kak Theo sebagai saudara sumpah."
"Gila!" Theo langsung mengambil kain dan membalut telapak tangan Xiangran.
"Hei dasar gila! Udah mau mati, malah ngeluarin darah!" Theo menggenggam erat lengan Xiangran, tanpa sadar genggamannya terlalu kuat.
"Kak..." Xiangran terlihat agak kesakitan, "Maaf! Maafkan aku!"
Buk!
Theo memukul wajahnya sendiri.
"Ini untuk melukai anak kecil"
Buk!
"Aku membiarkan anak kecil bekerja sendiri."
Buk!
"Aku, ketakutan."
Hup!
Lucy segera memeluk Theo dengan erat. Dirinya meniupkan sebuah serbuk aneh berwarna merah muda ke muka Theo.
Fuh
"Sayang?'' Muka Theo seketika berubah merah, nafasnya menderu dan matanya menjadi sayu.
"Hei! Ingat! Anggota kuil tidak boleh—"
"Sshh! Aku keluar dari kuil."
Lucy membuka jubahnya, lalu membuangnya.
Hal itu dilihat baik oleh Silas, Xiangran, dan Linlin.
"Apa? Hei bagaimana bisa?" Silas segera mengambil jubah yang dibuang Lucy.
"Atas nama Dewi Solina yang Agung..."
Tiba-tiba, tubuh Lucy...
...****************...
End Ch. 29 : Siapa Kau
Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favoritnya.