Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINDING YANG MULAI RETAK
Pagi hari berikutnya, suasana di Lantai 42 kembali seperti biasa. Dingin, kaku, dan penuh tekanan yang seolah bisa dipotong dengan pisau. Tidak ada satu pun karyawan yang berani bersuara lebih keras dari suara ketikan keyboard, apalagi membicarakan kejadian kemarin sore. Bagi mereka, Tuan Devan Arkananta tetaplah sosok yang tak tersentuh, sempurna, dan mengerikan. Dan Alana? Dia kembali menjadi sekretaris yang sempurna, berjalan tegak dengan wajah datar, seolah tak pernah ada momen di mana dia memeluk bosnya yang sedang hancur lebur.
Namun, di balik pintu ruangan kerja pribadi itu, ketegangan terasa begitu pekat hingga membuat napas terasa berat.
Devan duduk di kursi kebesarannya, punggungnya tegak kaku, matanya menatap tumpukan dokumen di meja tanpa benar-benar membacanya. Sejak Alana masuk dan meletakkan jadwal harian di ujung meja, dia belum bersuara satu kata pun. Dia juga belum menatap wajah Alana. Pandangannya terus tertuju ke luar jendela kaca raksasa yang menampakkan pemandangan atap-atap gedung tinggi Jakarta, seolah wanita yang berdiri tiga meter di depannya itu sama sekali tidak ada.
Bagi Devan, kemarin adalah hari yang paling memalukan dalam hidupnya. Selama sepuluh tahun ini, dia membangun citra sebagai pria yang tak punya hati, tak punya rasa takut, dan tak punya kelemahan. Dia menghancurkan siapa saja yang berani mencoba menyakiti atau mendekatinya. Dia menempatkan dirinya di puncak, di tempat yang begitu tinggi sehingga tak ada siapa pun yang sanggup menjangkaunya. Tapi dalam sekejap kemarin sore, semua pertahanan itu runtuh. Dan saksi satu-satunya adalah wanita ini. Wanita yang digajinya untuk melayani, bukan untuk melihat sisi paling kotor dan menyedihkan dirinya.
“Pak, agenda rapat dengan direksi Keuangan akan dimulai lima belas menit lagi. Dewan sudah berkumpul di ruang tengah,” suara Alana terdengar tenang, namun ada nada halus yang mencoba memecahkan tembok es yang dibangun Devan.
Devan menghela napas panjang, lalu perlahan memutar kursinya menghadap Alana. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh analisis, persis seperti saat dia menilai pesaing bisnisnya. Dia menatap wajah Alana dari atas ke bawah, mencari jejak penghinaan, rasa kasihan, atau setidaknya sedikit kemenangan karena tahu rahasia besar itu. Namun dia tidak menemukan apa-apa. Wajah Alana tetap datar, sopan, dan profesional, persis seperti ribuan hari sebelumnya.
“Kau tidak akan bicara, kan?” tanya Devan tiba-tiba. Suaranya rendah, penuh ancaman tersirat, namun juga menyembunyikan rasa cemas yang dalam. “Kau tahu apa konsekuensinya jika satu kata saja tentang apa yang kau lihat kemarin sampai keluar dari ruangan ini.”
Alana menatap balik, tidak menunduk, tidak juga menggigil ketakutan. Dia sudah terlalu lama mengenal pria ini untuk takut pada nada bicaranya yang mengancam.
“Saya tahu posisi saya, Pak. Saya sekretaris Anda. Tugas saya mengurus apa yang perlu diurus, dan mengubur apa yang perlu dikubur. Bagi saya, kemarin tidak pernah terjadi. Yang ada hanya hari ini dan pekerjaan yang menumpuk.”
Jawaban itu sederhana, namun entah kenapa membuat dada Devan terasa tersengat. Jawaban yang begitu dingin, begitu profesional. Dia seharusnya lega. Dia seharusnya senang karena wanitanya tahu tempatnya. Tapi kenapa rasanya dia justru ingin melihat sesuatu yang lain? Sesuatu yang lebih dari sekadar kewajiban?
Devan mendengus kasar, bangkit berdiri dan berjalan melewati sisi meja, berhenti tepat di depan Alana. Tinggi badannya yang menjulang membuat Alana harus mendongak sedikit. Aroma parfum mahal bercampur aroma khas tubuhnya kembali menyeruak, membuat jantung Alana yang biasanya stabil mulai berdetak lebih cepat tanpa alasan.
“Bagus. Jaga sikapmu tetap seperti itu. Jangan pernah berpikir karena kau melihatku lemah, kau bisa menjadi sesuatu yang lebih penting dari sekadar karyawan. Kau bekerja untukku, dibayar mahal olehku, dan hidupmu ada di bawah kendaliku. Jangan sampai kau salah mengartikan kebaikan atau toleransi yang kuberikan.”
Kata-kata itu tajam, seperti pisau yang melukai tanpa darah. Devan melontarkannya sengaja, berusaha membentengi dirinya sendiri. Dia takut. Dia takut jika dia memberi celah sedikit saja, Alana akan masuk terlalu dalam, dan saat dia terluka atau dikhianati—seperti yang selalu terjadi pada orang di hidupnya—rasa sakitnya akan berkali-kali lipat lebih parah. Lebih baik dia tetap menjadi bos yang kejam. Lebih baik dia tetap menjadi majikan yang menakutkan.
“Dimengerti, Pak,” jawab Alana singkat, lalu melangkah mundur untuk membukakan pintu. “Silakan, Pak. Semua orang menunggu.”
Sepanjang hari itu, Devan kembali menjadi sang Predator yang sesungguhnya. Di ruang rapat, dia berbicara dengan tegas, memotong pendapat direksi yang dianggapnya lemah, dan memaksa keputusan sesuai keinginannya. Dia tertawa sinis saat mendengar keraguan mereka. Dia mendominasi ruangan itu dengan aura kekuasaannya yang begitu kuat, membuat semua orang tunduk dan patuh. Namun, setiap kali dia membutuhkan berkas, atau segelas air, atau sekadar catatan kecil, matanya selalu mencari Alana. Dan wanita itu selalu ada. Selalu tepat waktu, selalu benar, selalu diam dan patuh.
Semakin Devan mengamatinya, semakin rasa penasaran itu tumbuh subur di dalam dadanya.
Setelah semua orang pulang, saat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan gedung kantor mulai sepi, Devan masih duduk di kursinya, membiarkan Alana menyelesaikan pekerjaannya di meja kecil di sudut ruangan. Dia memperhatikan cara Alana mengetik, cara dia mengerutkan kening sedikit saat membaca laporan, cara dia menggigit ujung pulpennya saat berpikir—kebiasaan kecil yang selama ini tidak pernah dia sadari ada.
Kenapa wanita ini begitu berbeda? Kenapa dia tidak pernah minta gaji lebih? Tidak pernah minta perlakuan istimewa? Tidak pernah mencoba memanfaatkan kedekatan mereka? Apa yang sebenarnya dia cari?
“Kenapa kau bertahan?” tanya Devan tiba-tiba, memecah keheningan malam.
Alana menghentikan gerakan tangannya, mengangkat wajah dengan sedikit kebingungan. “Apa maksud Bapak?”
Devan bangkit, berjalan perlahan mendekat, tangannya masuk ke saku celana bahan jasnya yang mahal. Tatapannya intens, menelusuri setiap inci wajah Alana seolah ingin membaca pikiran yang tersembunyi di balik bola mata cokelat jernih itu.
“Bekerja denganku bukan hal yang mudah, Alana. Bahkan sekretaris yang paling tangguh pun rata-rata bertahan hanya enam bulan. Aku kasar, aku menuntut, aku tak punya hati. Banyak perusahaan lain yang mau membayarmu dua kali lipat gajiku. Banyak pria di luar sana yang mau memanjakanmu. Kenapa kau masih di sini? Menjadi pelayan pribadi orang yang sering membuatmu menangis dalam hati?”
Pertanyaan itu begitu jujur, dan di saat yang sama begitu dalam hingga membuat napas Alana tercekat. Dia diam sejenak, merangkai kata-kata di kepalanya. Dia tidak bisa bilang karena dia peduli. Dia tidak bisa bilang karena dia tahu pria ini kesepian dan butuh seseorang. Dia tidak bisa bilang bahwa sejak lama, melihat Devan berdiri tegak dan sukses adalah satu-satunya kepuasannya.
“Karena saya orang yang menyelesaikan apa yang saya mulai, Pak. Saya terima tawaran ini dua tahun lalu, dan saya selesaikan sampai batas kemampuan saya. Selain itu... sejauh ini, Bapak memperlakukan saya dengan adil. Keras, ya. Tapi adil.”
Jawaban yang aman. Jawaban yang profesional. Namun Devan sepertinya tidak puas. Dia mencondongkan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat dekat. Alana bisa mencium aroma kopi dan tembakau halus yang melekat padanya.
“Adil?” gumam Devan pelan, matanya menatap bibir Alana sesaat sebelum kembali ke manik matanya. “Kau tahu, Alana... terkadang aku berharap kau meminta lebih. Berharap kau marah, berharap kau menuntut sesuatu. Sikapmu yang pasrah dan sempurna ini justru membuatku merasa... terganggu.”
“Mengapa, Pak?” tanya Alana pelan, jantungnya berdegup kencang, hampir meledak di dalam rongga dada.
“Karena rasanya seperti kau tidak butuh apa-apa dariku. Uangku, kekuasaanku, posisiku... seolah semuanya tidak berarti apa-apa bagimu. Dan itu membuatku merasa miskin.”
Suara itu sangat rendah, hampir seperti bisikan. Kalimat yang keluar dari mulut seorang Devan Arkananta—pria yang memiliki segalanya—adalah hal yang paling kontradiktif dan menyakitkan yang pernah didengar Alana.
Sebelum Alana sempat menjawab atau memproses apa yang baru saja diucapkan itu, Devan mundur tiba-tiba, seolah tersadar dia baru saja melanggar batas yang dia buat sendiri. Wajahnya kembali dingin dan tertutup. Dia berbalik badan dan berjalan kembali ke mejanya, mengambil jasnya.
“Sudah selesai. Kau boleh pulang. Besak datang seperti biasa. Dan... Alana?”
Alana masih diam di tempat, kakinya terasa berat. “Ya, Pak?”
Devan tidak menoleh, punggungnya tegak namun bahunya tampak sedikit rileks. “Terima kasih. Untuk kemarin. Dan untuk hari ini.”
Kalimat sederhana itu, diucapkan dengan nada yang begitu tulus, terasa lebih berharga daripada bonus gaji setahun sekalipun.
Malam itu, saat Alana melangkah keluar dari gedung Arkananta, langkahnya terasa berat namun hatinya penuh. Dia tahu, dinding setebal apa pun pada akhirnya pasti punya celah. Dan di balik tembok pertahanan Devan yang kokoh itu, dia mulai melihat retakan-retakan kecil yang perlahan makin melebar. Retakan tempat di mana cahaya perlahan mulai bisa masuk.
Sementara di dalam ruangan yang sunyi itu, Devan duduk sendirian di sofa kulitnya, menatap foto bingkai ayahnya di atas meja samping. Dia menyentuh bingkai itu perlahan.
“Kau benar, Yah... aku lemah. Tapi anehnya, saat dia ada di dekatku... rasanya aku bisa menjadi kuat lagi. Rasanya aku bisa melupakan rasa takut ini untuk sementara waktu.”
Di lantai 42 itu, sang Predator mulai menyadari satu hal yang mengerikan: bahwa dia mulai tidak lagi sanggup hidup tanpa perisainya.