Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15# Maunya di suapi kamu
Aiden baru saja menyelesaikan meeting bersama klien, tentu tidak mudah untuknya membuat percaya begitu saja para klien. Karena biasanya papa Harun yang menemui mereka, beruntung sekertaris dan asisten papa Harun menemani. Aiden sedikit terbantu dengan adanya mereka berdua, tentu para klien sudah hapal sekertaris dan asisten papa Harun. Ke duanya menjelaskan kalau untuk sementara Setyadarma di bantu Aiden, hal tersebut karena papa Harun yang harus fokus pada putranya yang saat ini koma.
Aiden menghempaskan tubuhnya di sofa ruangannya, sejenak memejamkan mata untuk mengusir lelah yang mendera. Namun saat itu juga dia ingat Karin, Aiden langsung mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. Aiden mengirim pesan pada Karin.
“Sudah makan siang?”
“Sudah, mie ayam sama es jeruk. Kalau kak Aiden?”
“Belum. Maunya di suapi kamu,”
“☺️🍜”
“Besok aku antar ke dokter kandungan! Kita lihat perkembangan adek,”
“Oke.”
Aiden geli sendiri saat membaca pesan yang dia kirim pada Karin, sejak kapan dirinya jadi bisa ngegombal seperti itu. Namun tidak Aiden pungkiri kalau dia suka, Karin membangkitkan sisi lain yang ada dalam dirinya.
Berkirim pesan dengan Karin seperti sedang mengisi ulang energi, dia memang belum sepenuhnya mengenal Karin. Namun entah kenapa Aiden merasakan sesuatu saat berada di dekat Karin, ataukah karena mereka terhubung dan terikat karena janin yang saat ini tumbuh di dalam rahim Karin? Aiden juga tak paham akan hal tersebut.
Aiden kemudian beranjak dari sofa, dia lebih dulu merapikan berkas miliknya dan memastikan semua sudah beres. Siang itu dia langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi terbaru Rega, Aiden berharap Rega sudah membaik. Malam nanti rencananya dia yang akan berjaga di rumah sakit menggantikan mama dan papa Rega.
Tiga puluh menit kemudian Aiden sampai di rumah sakit Hasafa, rumah sakit yang ternyata adalah milik Rena kakak ipar Rhea. Aiden langsung menuju ke tempat papa Harun dan mama Indah menunggui Rega, dia juga membawakan mereka berdua makan siang.
“Om. Di mana tante Indah?” Aiden tidak melihat keberadaan mama Indah di sana.
“Dia di dalam, ngobrol dengan Rega. Siapa tahu dia bangun begitu mendengar suara mamanya,"
Aiden kemudian duduk di samping papa Harun, dia menaruh makan siang di sampingnya.
“Aiden bawakan makan siang untuk om dan tante,”
Papa Harun mengangguk, dia menoleh dan menatap keponakannya tersebut penuh haru. Aiden merasa aneh saat kakak dari papanya tersebut menatapnya seperti itu, ada tatapan haru, bingung, sedih, bahagia dari sorot mata papa Harun. Aiden tidak tahu harus bagaimana membantu pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah tersebut.
“Bagaimana urusanmu dengan Andi dan Karin, Aiden?”
Aiden kira papa Harun akan bertanya tentang Setyadarma, nyatanya pria paruh baya tersebut menyakan tentang masalahnya dengan keluarga Darmawan.
“Semuanya baik, om. Itu juga salah satu hal yang ingin Aiden bicarakan dengan om dan tante,” jawab Aiden.
“Mengenai kamu dan Karin?” tebak papa Harun diangguki Aiden.
Tidak berselang lama mama Indah keluar dari ruangan ICU, dia menghampiri suami dan keponakannya tersebut.
“Kamu sudah lama, Aiden?” mama Indah duduk di samping kiri suaminya.
“Belum lama, tante. Aiden bawa makan siang, tante dan om makan dulu! Mumpung masih hangat,” Aiden mengambil bungkusan berisi makanan yang tadi dia beli. “Ini makanan favorit om dan tante juga Rega,” lanjut Aiden memberikan bungkusan itu pada tante.
Kali ini baik mama Indah maupun papa Harun tidak menolak saat Aiden membawakan mereka makan siang, mereka menyadari kalau saat ini butuh asupan energi dan juga tubuh yang sehat untuk menghadapi ujian hidup yang saat ini sedang mereka jalani.
"Terimakasih, Aiden. Kebetulan kami juga belum makan siang,” ucap mama Indah.
Mereka bertiga lantas pergi ke taman di dekat ruang ICU untuk makan sambil ngobrol di sana, sebelumnya mama Indah sudah mengatakan pada perawat kalau dia dan sang suami makan siang di area taman dan menitipkan Rega.
Mama Indah menikmati setiap suap makanan yang masuk kedalam mulutnya, begitu juga dengan papa Harun. Meskipun sesekali mama Indah mengusap ke dua sudut matanya yang berair, namun wanita paruh baya tersebut tetap menghabiskan makanannya.
Aiden cukup merasa lega, setidaknya om dan tantenya dalam kondisi sehat dan sudah lebih bisa menerima kenyataan tentang kondisi Rega.
“Kamu tadi bilang ingin bicara tentang masalahmu, Aiden. Sekarang Indah sudah ada di sini,” papa harun memulai pembicaraan.
Sebelum mengutarakan keinginannya, Aiden mengambil napas dan menghembuskannya perlahan. Dia tidak tahu apakah papa Harun dan mama Indah setuju dengan rencananya, tapi dia berharap mereka berdua akan merestui dirinya dengan Karin.