NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12. Keputusasaan

Dunia Alya mendadak sunyi, jenis kesunyian yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang baru saja kehilangan segala-galanya. Raungannya yang histeris beberapa menit lalu telah berubah menjadi isak kecil yang tersendat, seperti mesin yang kehabisan bahan bakar. Ia meringkuk di atas lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya erat-erat. Kepalanya berdenyut, bukan lagi karena demam, tapi karena hantaman kenyataan bahwa Arka—satu-satunya orang yang memegang kunci keselamatan ibunya—baru saja menjatuhkan hukuman mati.

"Ibu..." bisik Alya. Suaranya hilang di antara celah-celah kemewahan kamar yang kini terasa seperti peti mati.

Ia tidak tahu tentang uang 500 juta itu. Ia tidak memegang ponsel, tidak memiliki akses internet, bahkan untuk sekadar memegang gagang telepon rumah pun ia harus mencuri waktu. Bagaimana mungkin Arka bisa menuduhnya selicik itu? Namun, Alya menyadari bahwa di mata Arka, dirinya bukanlah seorang manusia, melainkan perpanjangan tangan dari dosa ayahnya.

Alya bangkit dengan susah payah. Kakinya gemetar hebat. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan ibunya meninggal hanya karena fitnah yang entah dari mana asalnya. Dengan tangan yang masih memar, ia mulai memukul-mukul pintu kayu yang terkunci.

"Arka! Buka pintunya! Aku berani bersumpah aku tidak tahu soal uang itu!" teriaknya. Namun, yang menjawab hanyalah gema suaranya sendiri di lorong mansion yang sunyi.

Di lantai bawah, Arka duduk di balik kemudi mobilnya yang masih terparkir di garasi. Tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Amarahnya sedang berada di puncak, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa sakit yang aneh—rasa sakit karena merasa dikhianati oleh seseorang yang mulai ia percayai.

"Kenapa kau harus bersamanya, Alya?" desis Arka.

Ia mengambil ponselnya, hendak menghubungi direktur rumah sakit untuk benar-benar membatalkan jadwal operasi ibu Alya. Jari jemarinya sudah berada di atas layar. Namun, bayangan Alya yang bersimpuh di kakinya tadi, dengan wajah lebam yang ia buat sendiri, terus membayang.

Jangan pukul lagi... maafkan Aku...

Kata-kata igauan Alya semalam kembali terngiang. Arka melemparkan ponselnya ke kursi penumpang. Ia tidak sanggup menekan tombol panggilan itu sekarang. Ia benci dirinya sendiri karena masih memiliki keraguan dan menjadi lemah.

Tanpa ia sadari, Sisil sedang memperhatikan dari balik jendela lantai dua. Wanita itu tersenyum puas melihat keraguan Arka. Ia tahu, ia harus memberikan dorongan terakhir agar Arka benar-benar membenci Alya selamanya.

Jam demi jam berlalu. Alya terjebak di dalam kamar tanpa makanan dan air. Pelayan-pelayan di rumah itu tampaknya sudah diperingatkan oleh Nyonya Ratna untuk tidak mendekati kamar utama.

Pukul dua siang, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Alya yang sedang duduk lemas di pojok ruangan segera mendongak. Ia berharap itu Arka, namun yang masuk adalah Sisil.

Sisil masuk dengan langkah anggun, membawa sebuah tablet di tangannya. Ia menutup pintu di belakangnya dan menatap Alya dengan senyum mengejek.

"Masih hidup, rupanya?" tanya Sisil ringan.

"Di mana Arka? Aku ingin bicara dengannya," suara Alya sangat lemah, nyaris tak terdengar.

"Arka sedang sibuk mengurus pembatalan dana rumah sakit ibumu. Oh, dan dia juga sedang menyiapkan dokumen gugatan cerai sekaligus laporan penipuan untuk ayahmu," bohong Sisil dengan lancar. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap Alya yang berantakan. "Kau benar-benar bodoh, Alya. Kau pikir kau bisa bermain-main dengan uang Arka?"

"Aku tidak melakukannya! Kau yang melakukannya, kan? Kau yang memfitnahku!" Alya mencoba bangkit, namun ia terjatuh kembali karena pusing yang luar biasa.

Sisil tertawa kecil. "Kalaupun aku yang melakukannya, siapa yang akan percaya padamu? Kau adalah putri seorang pencuri. Arka sudah punya bukti transfernya. Dan kau tahu apa yang paling lucu? Ayahmu sudah menggunakan separuh dari uang itu untuk berjudi semalam."

Alya membelalak. "Ayah tidak mungkin berjudi! Dia... dia ingin menyelamatkan Ibu!"

"Ayahmu adalah pria yang putus asa, Alya. Dan pria putus asa melakukan hal-hal bodoh." Sisil menunjukkan layar tabletnya. Di sana terlihat foto (yang sudah diedit sedemikian rupa) yang menunjukkan Prasetyo sedang berada di sebuah tempat remang-remang dengan tumpukan uang di depannya.

Hati Alya hancur berkeping-keping. Dunia yang ia kenal runtuh seketika. Jika ayahnya benar-benar melakukan itu, maka semua pengorbanannya selama ini sia-sia. Semua rasa sakit yang ia tanggung dari tangan Arka tidak ada gunanya.

"Sekarang, aku punya penawaran untukmu," Sisil mencondongkan tubuhnya. "Pergilah dari sini. Tinggalkan Arka. Aku akan memberimu uang untuk membawa ibumu pergi ke luar negeri dan melakukan operasi di sana secara diam-diam. Jika kau pergi, Arka tidak akan mengejar ayahmu lagi. Dia akan menganggap ini sebagai kerugian bisnis dan melupakannya."

Alya menatap Sisil dengan curiga. "Kenapa kau membantuku?"

"Karena aku ingin kau hilang dari pandangan Arka. Selamanya. Aku ingin dia kembali padaku tanpa ada bayang-bayang wanita menyedihkan sepertimu," jawab Sisil jujur.

Alya terdiam. Ia memikirkan ibunya yang sedang sekarat. Ia memikirkan ayahnya yang mungkin memang sudah hancur moralnya. Dan ia memikirkan Arka... pria yang mencintainya dengan kekerasan, pria yang baru saja ia sadari telah menanamkan luka yang sangat dalam di jiwanya.

"Jika aku pergi... kau janji akan menyelamatkan Ibuku?" tanya Alya dengan suara tercekik.

"Aku janji. Mobil sudah menunggu di gerbang belakang. Para pelayan sudah kusuruh pergi ke area depan. Ini kesempatanmu satu-satunya, Alya. Sebelum Arka pulang dan menjebloskanmu ke penjara."

Alya memejamkan mata. Air mata terakhirnya jatuh. Ia tidak punya pilihan lain. Di rumah ini, ia hanya akan mati perlahan. Jika ia pergi, setidaknya ada harapan untuk ibunya.

Dengan langkah gontai dan tubuh yang masih dipenuhi luka, Alya keluar dari kamar itu. Ia melewati lorong-lorong mansion yang dingin tanpa membawa apa pun kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia tidak membawa perhiasan, tidak membawa uang, bahkan tidak membawa alas kaki yang layak.

Ia menuruni tangga belakang, melewati dapur yang sepi. Saat kakinya menyentuh rumput taman belakang, angin dingin menusuk kulitnya. Ia menoleh sekali lagi ke arah balkon kamar utama—kamar di mana ia sempat merasakan kelembutan Arka yang singkat, sekaligus tempat di mana ia mendapatkan luka permanen.

"Selamat tinggal, Arka," bisiknya. "Terima kasih telah mengajarkanku bahwa cinta terkadang lebih mematikan daripada kebencian."

Alya berlari menuju gerbang kecil di sudut taman. Di sana, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Tanpa ragu, ia masuk ke dalamnya, tidak menyadari bahwa ia sedang masuk ke dalam perangkap lain yang jauh lebih berbahaya.

Satu jam kemudian, Arka pulang. Ia merasa gelisah sepanjang hari. Ia memutuskan untuk bicara baik-baik pada Alya, ingin menanyakan sekali lagi tentang uang itu tanpa amarah. Ia membawa sekotak makanan favorit Alya sebagai bentuk permintaan maaf yang terselubung.

Saat ia membuka pintu kamar utama, hatinya seketika mencelos.

Kamar itu kosong.

Jendela besar terbuka lebar, membiarkan angin masuk dan mengibaskan gorden putih. Di lantai, tergeletak plester kain yang tadi pagi menutupi luka di jari Alya.

"Alya?" panggil Arka, suaranya bergetar.

Ia mencari ke kamar mandi, ke lemari, namun tidak ada siapa-siapa. Ia berlari keluar, berteriak memanggil para pelayan.

"DI MANA ISTRIKU?!" suaranya menggelegar di seluruh mansion.

Nyonya Ratna dan Sisil muncul dengan wajah yang pura-pura terkejut.

"Arka, ada apa? Tadi aku lihat Alya membawa tas kecil dan pergi lewat pintu belakang," ucap Sisil dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Aku mencoba menghentikannya, tapi dia bilang dia ingin kembali pada ayahnya membawa uang yang dia curi darimu."

Arka mematung. Wajahnya memerah, lalu perlahan memucat. Rasa sakit dikhianati kini berganti dengan amarah yang dingin dan mematikan.

"Dia pergi?" tanya Arka pelan, namun nadanya sangat mengerikan.

"Ya, Arka. Dia benar-benar menggunakanmu," tambah Ratna.

Arka mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia melihat ke arah jendela yang terbuka. Di matanya, Alya bukan lagi wanita rapuh yang harus dilindungi, melainkan seorang kriminal yang telah mempermainkan hatinya yang paling rapuh.

"Cari dia," perintah Arka pada kepala keamanannya melalui telepon. "Cari dia sampai ke lubang semut sekalipun. Jika dia ingin bermain kucing-kucingan, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara berburu yang sebenarnya."

Arka membanting kotak makanan yang ia bawa ke lantai. Isinya berhamburan, hancur sama seperti harapan kecil yang sempat tumbuh di hatinya. Di luar, langit mulai mendung, seolah bersiap menyambut badai besar yang akan segera datang menghancurkan apa pun yang tersisa dari hubungan mereka yang berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!