NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Ruang Tamu dan Peringatan Keras Lidia

Sebuah mobil berwarna biru tua memasuki pekarangan luas kediaman Wijaya. Beberapa pekerja yang sedang sibuk berlalu-lalang menoleh sekilas. Dari masing-masing pintu, pemilik mobil itu keluar.

BLAM!!

Suara pintu dibanting keras. Sang wanita, Bu Effi, menatap rendah para pekerja yang kebetulan sedang memandangnya.

"Cih," decaknya, penuh penghinaan.

Dengan gaya penuh keangkuhan, wanita paruh baya itu melenggang menuju pintu utama, ditemani suaminya, Pak Tyo. Pintu kayu jati rumah keluarga Wijaya tertutup rapat di depan mereka.

TOK! TOK! TOK!

Tiga ketukan tegas membuahkan hasil. Terdengar sahutan dari dalam rumah.

DEG!

"Hai Saras, selamat pagi," sapa Bu Effi. Istri Pak Wijaya itu, Bu Sarasvati, membulatkan matanya, terkejut melihat siapa yang datang berkunjung sepagi itu.

╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗

🌸 Serangan di Toko Bunga

"Apa benar ini tempatnya?"

Kacamata hitamnya ia turunkan sedikit untuk mengamati toko bunga yang cukup besar di hadapannya. Diam-diam, Lidia telah menyelidiki tempat kerja gadis yang waktu itu digandeng oleh pujaan hatinya.

"Cih, ternyata cuma karyawan biasa toh?" ucap Lidia, nada suaranya begitu merendahkan.

"Aku jelas unggul jauh dibandingkan gadis itu," senyum sinis terukir di bibirnya yang tipis.

Tangan kurusnya terulur, membuka pintu mobil. Tubuh tinggi semampai Lidia, yang tampak proporsional, melangkah bak seorang model masuk ke dalam toko bunga yang cukup ramai pembeli itu.

Hari ini, Lidia bertekad akan memberi sedikit pelajaran kepada 'gadis kampungan' yang dimaksudnya.

"Lihat saja, akan kurebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."

KLINTING!

Lonceng toko berbunyi nyaring saat pintu kaca dibuka.

"Selamat datang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" sambut ramah salah satu karyawan di bagian kasir.

Dengan gaya congkak, Lidia menjawab ketus, "Saya ingin bertemu Kinanti. Di mana dia?"

"Eh?!" Salah satu teman kerja Kinanti menelan ludah gugup. Pembelinya kali ini terlihat sangat arogan dan galak.

"Cepat katakan di mana dia!" gertak Lidia, tak sabar.

Suara Lidia yang keras membuat para pengunjung menolehkan perhatian mereka.

Si kasir gelagapan, buru-buru pergi mencari Kinanti. "Sebentar, Kak, saya panggilkan."

"Cih, lama," gerutu Lidia.

╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗

💥 Adu Argumen di Ruang Tamu

Kini, di ruang tamu, terdapat dua pasang suami istri paruh baya.

"Silakan diminum," ujar Bu Sarasvati, yang baru saja kembali dari dapur membawakan suguhan untuk tamunya. Pak Wijaya memandang lekat teman karibnya. Terlihat jelas ada kemarahan yang terpendam di raut wajah Pak Tyo dan Bu Effi. Bu Effi telah duduk di samping suaminya.

"Aku ke sini mau membicarakan hal penting padamu dan juga istrimu, Jaya," suara Pak Tyo terdengar menahan kekesalan yang sangat kentara. Bu Effi menatap wajah Bu Sarasvati dengan helaan napas kasar.

"Ada apa?" Pak Wijaya masih mempertahankan sikap berwibawa dan tenang.

"Apa begini cara kamu memperlakukan sahabatmu, Jaya?" ujar Pak Tyo. Bu Sarasvati yang sudah menduga apa yang akan terjadi, memilih diam menantikan kelanjutan ucapan Pak Tyo.

"Lidia bilang padaku, kemarin dia datang ke sini berbaik hati membawakan rawon masakannya, tetapi Aditya tidak mau dan malah menyuruh Lidia makan siang bersama Saras. Padahal putriku ingin makan siang bersama Aditya, tetapi mengapa putramu itu malah bicara ketus, bahkan mengusirnya?!" Suara Pak Tyo meninggi beberapa oktaf. Bu Sarasvati diam-diam menyentuh paha suaminya karena terkejut.

Pak Wijaya dan Bu Sarasvati hanya bisa menyaksikan kemarahan yang membara di depan mereka. Hal yang mereka khawatirkan akhirnya benar-benar terjadi.

"Tyo..." Pak Wijaya mencoba menengahi.

"Apa kalian tidak melihat kebaikan putriku? Lalu mengapa Aditya mengabaikan dan membuat putriku menangis?!" kini Bu Effi ikut menyahut, tatapannya menyala.

Bu Sarasvati hanya bisa menghela napas panjang.

"Tyo, Effi, biarkan aku jelaskan dahulu perkaranya," suara Pak Wijaya terdengar tenang, tidak tersulut emosi serupa. Bu Sarasvati diam-diam menahan rasa takut, menahan kekhawatiran yang menusuk pikirannya.

╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗

💔 Penghinaan dan Tamparan Kinanti

"Kinanti, ada yang mau bertemu denganmu," Kinanti yang sedang beristirahat bergegas keluar dari ruang istirahat. Gadis cantik itu sempat ke kamar kecil terlebih dahulu.

"Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu, Ndah," ujarnya kepada rekan kerjanya yang mengangguk.

Perhatian Kinanti kini tertuju pada seorang wanita muda yang berdiri di depannya dengan tangan terlipat di dada dan tatapan menyala penuh amarah.

"Ada apa ke sini? Mau beli bunga?" tanya Kinanti sopan.

Lidia berdecak keras. Tatapan tajamnya memandangi Kinanti.

"Jauhi Mas Adi!" tekannya tiba-tiba.

DEG!

*Apa maksudnya ini?* batin Kinanti, bertanya-tanya.

"Apa?"

Lidia maju selangkah, mendekati Kinanti, hingga jarak keduanya sangat dekat. Kinanti harus mendongak untuk menatap Lidia yang lebih tinggi darinya, apalagi wanita itu memakai heels tinggi.

"Kurang jelas?! Jauhi Mas Adi! Aku yang lebih dulu dijodohkan dengan Mas Aditya, bukan kamu! Jadi, dengan sangat aku perjelas JAUHI MAS ADI!" Suara Lidia meninggi.

Kinanti menelan ludah. Hal yang selama ini ia hindari kini terjadi, terlebih lagi ia dilabrak di tempat kerjanya sendiri. Beberapa pasang mata pekerja dan pengunjung melihat ke arah mereka dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Kenapa diam?! Kamu tidak mau menjauhi Mas Adi?! Kalau kamu tidak mau menjauhi Mas Aditya, maka aku sendirilah yang akan menjauhkan Mas Adi darimu!" gertak Lidia.

"Mbak, saya tidak merebut siapa pun. Mas Adi sendiri yang datang melamar karena... karena dia bilang dia mencintai saya," ujar Kinanti, berusaha membela diri.

Lidia dibuat naik pitam mendengar perkataan Kinanti barusan.

PLAK!!!

Semua orang di sana sontak menahan napas. Salah satu teman kerja Kinanti ingin mendekat, tetapi dicegah oleh yang lain. Mereka merasa ini bukan ranah mereka, biarkan mereka menyelesaikan masalah pribadi ini, meskipun hati mereka ingin sekali membela Kinanti.

"Percaya diri sekali!"

Sisi pipi Kinanti memerah. Kepalanya menoleh ke samping karena tamparan tadi. Manik matanya menatap Lidia dengan genangan air mata yang sebentar lagi tumpah.

"Mana mungkin Mas Aditya, seorang bos kelapa sawit dan putra sulung juragan besar, mau denganmu sukarela? DASAR GADIS KAMPUNG LUSUH!" bentak Lidia.

DEG!!

"Lagipula, tipe pria dewasa dan mapan seperti Mas Adi membutuhkan perempuan yang bisa mengimbangi gaya hidup dan pemikiran matangnya! Kamu? Bocah kemarin sore bisa apa, hah?! Mengimbangi pemikirannya atau bahkan mengimbangi gaya hidupnya yang tidak setara?!" Lidia terkekeh sinis, penuh cemooh dan merendahkan Kinanti.

"Mustahil! Jangan terlalu percaya diri, Kinanti! Sekali jentikan jari pun, Mas Adi akan beralih kepadaku karena aku yang lebih pantas bersanding dengannya, bukan kamu!" Lidia menunjuk Kinanti, suaranya dipenuhi ancaman.

"Cukup! Kalau Anda tidak ingin membeli bunga di toko kami, lebih baik pergi dari sini!"

"Siapa kamu berani mengusir saya, hah?!"

"Saya pemilik toko bunga ini. Anda mau apa?" jawab seorang wanita paruh baya dengan sanggul rapi di kepalanya, tampil dengan aura otoritas.

"Anda keluar sendiri atau saya panggil satpam untuk menyeret Anda keluar!" gertaknya, jelas mengusir.

Mendengar itu, Lidia memilih keluar sendiri, tetapi matanya masih melirik Kinanti dengan sinis sebelum benar-benar pergi.

"Urusan kita belum tuntas. Awas kamu, Kinanti," ancamnya sebelum beranjak.

Melihat kepergian Lidia, air mata Kinanti pun tumpah.

Sang pemilik toko langsung mendekap bahu Kinanti yang bergetar. Air mata gadis itu berjatuhan tanpa henti.

"Jangan diambil hati omongan dia, Nak. Sekarang kamu sudah aman, Kinan," Pemilik toko menenangkan Kinanti yang masih terisak-isak. Tak tega, pemilik toko memanggil salah satu pekerjanya.

"Wulan, bawa dan temani Kinanti ke ruang istirahat."

"Baik, Bu." Tubuh Kinanti digiring masuk. Kondisi toko pun kembali kondusif setelah diarahkan oleh pemilik toko.

╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗╔══ஓ๑♡๑ஓ══╗

😡 Kemarahan Aditya yang Memuncak

Sementara itu, di tempat lain, seorang pria tampan tengah tersulut emosi setelah mendapat panggilan telepon dari ibunya.

"Sial!! Berani sekali mereka?!" Mendengar suara ibunya yang serak seperti habis menangis membuatnya emosi seketika. Ia segera meninggalkan pekerjaannya yang belum rampung.

"Edo, kamu pantau perkebunan kelapa. Sekalian cek kebun buah dan sawah, sudah waktunya panen dan akan dikirim. Saya ada urusan mendadak," perintahnya tegas.

"Baik, Juragan."

Kaki Aditya melangkah cepat menuju mobilnya, membuat para pekerja menatapnya dengan bingung.

"Awas kalian!!" geramnya, kemarahannya terasa tak main-main.

Mobil hitamnya melesat kencang menuju kediaman orang tuanya.

Bersambung__

____

NB: MOHON MAAF YAA TELAT NT NYA LAGI ERROR JADI SEKARANG AKU KASIH DOUBLE UP YAA🤗

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!